MOBILITAS ANGKUTAN BARANG DAN PENUMPANG KAPAL Di PELABUHAN TRISAKTI BANJARMASIN

BAB I

PENDAHULUAN

 

  1. A.    Latar Belakang Masalah

Transportasi merupakan bagian dari kegiatan ekonomi yang berhubungan dengan pemenuhan kebutuhan manusia dengan cara mengubah letak geografis barang atau orang. Selain itu transportasi menjadi salah satu infrastruktur paling penting selain energi dan telekomonikasi. Transportasi perlu untuk mengatasi kesenjangan jarak dan komunikasi antara tempat asal dan tempat tujuan.

Untuk wilayah perkotaan, transportasi memegang peranan yang cukup menentukan. Suatu kota yang baik dapat ditandai, antara lain dengan melihat kondisi transportasinya. Transportasi yang baik, aman, dan lancar selain mencerminkan keteraturan kota, juga memperlihatkan memperlihatkan kelancaran kegiatan perekonomian kota.

Pelabuhan dalam aktifitasnya mempunyai peran penting dan strategis untuk pertumbuhan industri dan perdagangan serta merupakan segmen usaha yang dapat memberikan kontribusi bagi pembangunan nasional. Hal ini membawa konsekuensi terhadap pengelolaan segmen usaha pelabuhan tersebut agar pengoperasiannya dapat dilakukan secara efektif, efisien dan profesional sehingga pelayanan pelabuhan menjadi lancar, aman, dan cepat dengan biaya yang terjangkau.

Provinsi Kalimantan Selatan merupakan salah satu provinsi yang mengandalkan transportasi laut sebagai transportasi utama antar pulau dan antar negara baik untuk melayani lalu lintas penumpang maupun barang. Keberadaan pelabuhan laut menjadi sangat vital bagi pergerakan roda perekonomian wilayah ini, dimana kelancaran arus barang baik antar pulau maupun antar negara sangat ditentukan oleh tingkat pelayanan pelabuhan. Semakin besar tingkat pelayanan suatu pelabuhan, maka tingkat kelancaran arus lalu lintas barang akan semakin baik. Salah satu pelabuhan yang dimiliki Provinsi Kalimantan Selatan adalah Pelabuhan Trisakti Banjarmasin yang merupakan pelabuhan utama di wilayah ini.

Demikian dikemukakan Manager Peti Kemas Perum Pelabuhan III Cabang Banjarmasin, Jumadi kepada Abdi Persada FM kemarin di ruang kerjanya. Upaya yang mereka lakukan selama ini, ternyata dipancang berhasil, karena terbukti dengan masuknya kapal Cargo luar negeri seperti Serasi 3 yang mengangkut kendaraan bermotor langsung dari luar negeri, dan beberapa kapal Cargo barang lainnya yang telah mereka uji coba berandar di pelabuhan Trisakti.

Dijadikannya pelabuhan tri sakti banjarmasin sebagai pelabuhan berstandar internasional, bertujuan meningkatkan sektor perdagangan ekspor dan import barang luar negeri. Demikian dikemukakan Manager Peti Kemas Perum Pelabuhan III Cabang Banjarmasin, Jumadi. Upaya yang mereka lakukan selama ini, ternyata dipancang berhasil, karena terbukti dengan masuknya kapal Cargo luar negeri seperti Serasi 3 yang mengangkut kendaraan bermotor langsung dari luar negeri, dan beberapa kapal Cargo barang lainnya yang telah mereka uji coba berandar di pelabuhan Trisakti.

Pelabuhan Trisakti termasuk strategis, kepadatan aktivitas bongkar muat kontainer sangat tinggi hingga mengakibatkan antrean panjang di pelabuhan. Kondisi itu kian meningkat seiring terbukanya alur baru yang bisa dilayari seluruh jenis kapal selama 24 jam tanpa menunggu air pasang.

Saat ini, perusahaan kontainer di Pelabuhan Trisakti berjumlah sepuluh, namun tiga di antaranya menunggu kesiapan CY. Dalam satu tahun, kontainer yang keluar masuk CY Trisakti rata-rata 240 ribu. Diperlukan lahan sekitar 10 hektar untuk depot agar seimbang.

Diakui saat ini, kegiatan bongkar muat terjadi di area pelabuhan Trisakti sehingga terjadi penumpukan kontainer. Tempat lain seperti di Surabaya, hal tersebut tidak terjadi karena tersedia kawasan khusus. Tanggung jawab pembangunan fasilitas penampungan kontainer pada dasarnya ditujukan kepada pihak pelayaran. Namun karena sampai sekarang belum bisa, pihak Pelindo turut membantu.

Kepala Administrator Pelabuhan (Adpel) Banjarmasin, Sufrisman Djaffar menilai saatnya Pelindo memikirkan penyediaan fasilitas penumpukan khusus karena pertambahan kontainer yang semakin besar. Menurut Djumadi, Pelindo akan terus memaksimalkan pengoperasionalan pelabuhan peti kemas. Menyikapi keinginan pelindo memaksimalkan terminal pelabuhan peti kemas dan kegiatan bongkar muat, Ketua Federasi Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Serikat Pekerja Indonesia (SPI) Kalsel, Hamdani, mengatakan sangat mendukung. Menurut dia, hal itu tidak hanya mengatasi antrean kapal di pelabuhan, tetapi meningkatkan penghasilan tenaga kerja bongkar muat (TKBM) di pelabuhan. Otomatis pasti meningkatkan penghasilan buruh, selain penghasilan pokok tapi jam lembur bertambah. Karena aktivitas pelabuhan meningkat.

Direktur Duta Cargo, Madi, mengatakan rencana ke depan Pelindo memaksimalkan pelayanan di pelabuhan memberikan manfaat besar bagi pengguna pelabuhan. Lebih cepat lebih bagus, karena akan menekan biaya bongkar muat. Sebab kalau antrean terjadi, biaya operasional turut membengkak.

Kegiatan bongkar muat di pelabuhan seperti sekarang menurutnya melanggar aturan, sehingga hal itu tidak bisa terus berlangsung tanpa ada upaya membuat sarana baru yang memadai. Hal ini terkait dengan pelayanan pihak pelabuhan kepada pengguna jasa dan kelancaran arus barang yang masuk atau keluar. Pihak Pelindo dinilai lamban mengantisipasi pertambangan kontainer ini.

Terkait dengan pelayanan, Gubernur Kalsel, Rudy Ariffin meminta Pelindo  meningkatkan pelayanan ini seiring terbukanya alur Ambang Barito 24 jam pasca pengerukan tahun 2008 lalu.

Apabila fasilitas pelabuhan tidak dibenahi, akan terjadi hambatan proses bongkar muat barang yang pada gilirannya akan merugikan pengguna jasa pelabuhan seperti pedagang sayur dan sebagainya. Peningkatan pelayanan saat ini sangat mendesak karena upaya memfungsikan Ambang Alur Barito 24 jam akan percuma bila terkendala dengan kemampuan pelayanan pihak pelabuhan tidak sesuai jumlah kapal yang merapat.

Ke depan pihaknya akan terus berupaya malakukan perpanjangan dermaga sandar, yang dirasakan masih kurang untuk mengantisipasi bertambahnya volume kedatangan kapal Cargo luar negeri. Sedangkan dari segi perlatan bongkar muat, pihaknya sudah dapat menjamin pelabuhan Trisakti memiliki kualitas yang berstandar Internasional. (INDRA AP FM).

Trisakti kebanggaan Kota Banjarmasin mulai dahulu zaman sejarah. Pelabuhan yang ada ini, tinggal dikembangkan saja. Pelabuhan Trisakti, dengan fasilitas terminal container serta fasilitas penunjang lainnya hingga 2013 masih mampu mengatasi cargo flow yang tiba di daerah ini. Selain itu, tidak ada alasan lagi untuk mengalihkan pelabuhan ke lokasi lain. Saat wacana pemindahan muncul, karena alur mengalami pendangkalan sehingga alur tidak optimal dimanfaatkan selama 24 jam.

  1. B.       Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah diatas, maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

  1. Berapa Sebaran Volume angkut barang dan penumpang dari dan ke Banjarmasin (Jiwa/Ton/keberangkatan)?
  2. Apa saja faktor-faktor penggunaan waktu tertentu keberangkatan dari dan ke Banjarmasin?
  3. Bagaimana kondisi umum Pelabuhan Trisakti Banjarmasin?
  1. C.       Tujuan Penelitian

Adapun tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui:

Mobilitas Angkutan Barang dan Penumpang Kapal di Pelabuhan Trisakti Banjarmasin, yang mencakup :

1.      Sebaran Volume angkut barang dan penumpang dari dan ke Banjarmasin (Jiwa/Ton/keberangkatan).

2.      Faktor-faktor penggunaan waktu tertentu keberangkatan dari dan ke Banjarmasin.

3.      Kondisi umum Pelabuhan Trisakti Banjarmasin

 

BAB II

LANDASAN TEORI

  1. 1.      Pengertian Transportasi

Transportasi atau perangkutan adalah perpindahan dari suatu tempat ke tempat lain dengan menggunakan alat pengangkutan, baik yang digerakkan oleh tenaga manusia, hewan, atau mesin (Haryono Sukarto).

Selain itu transportasi juga merupakan pemindahan manusia atau barang dari satu tempat ke tempat lainnya dengan menggunakan sebuah wahana yang digerakkan oleh manusia atau mesin. Transportasi digunakan untuk memudahkan manusia dalam melakukan aktivitas sehari-hari. Di negara maju, mereka biasanya menggunakan kereta bawah tanah (subway) dan taksi. Penduduk disana jarang yang mempunyai kendaraan pribadi karena mereka sebagian besar menggunakan angkutan umum sebagai transportasi mereka. Transportasi sendiri dibagi 3 yaitu, transportasi darat, laut, dan udara. Transportasi udara merupakan transportasi yang membutuhkan banyak uang untuk memakainya. Selain karena memiliki teknologi yang lebih canggih, transportasi udara merupakan alat transportasi tercepat dibandingkan dengan alat transportasi lainnya.

  1. 2.      Moda Transportasi

Moda transportasi terbagi atas tiga jenis moda, yaitu:

  1. Transportasi Darat, meliputi: kendaraan bermotor, kereta api, gerobak yang ditarik oleh hewan atau manusia.

Moda transportasi darat dipilih berdasarkan faktor-faktor:

  • Jenis dan spesifikasi kendaraan.
  • Jarak perjalanan.
  • Tujuan perjalanan.
  • Ketersediaan moda.
  • Ukuran kota dan kerapatan permukiman.
  • Faktor sosial ekonomi.
  1. Transportasi air, meliputi: sungai, danau, laut: kapal, tongkang, perahu, rakit.
  2. Transportasi udara, meliputi: pesawat terbang.
  3. 3.      Peranan Transportasi

Sektor transportasi merupakan salah satu sektor yang sangat berperan dalam penbangunan ekonomi yang menyeluruh. Perkembangan sektor transportasi akan secara langsung mencerminkan pertumbuhan pembangunan ekonomi yang berjalan. Namun demikian sektor ini dikenal pula sebagai salah satu sektor yang dapat memberikan dampak terhadap lingkungan dalam cakupan spasial dan temporal yang besar. Perkotaan sebagai salah satu sektor kegiatan perkotaan, merupakan kegiatan yang potensial mengubah kualitas udara perkotaan.

  1. 4.      Pelabuhan

Pelabuhan merupakan terminal bagi angkutan laut yang mempunyai fungsi utama untuk menaikkan dan menurunkan penumpang, bongkar muat barang dan hewan serta merupakan daerah lingkungan kerja kegiatan ekonomi.

Pelabuhan adalah sebuah fasilitas di ujung samudera, sungai, atau danau untuk menerima kapal dan memindahkan barang kargo maupun penumpang ke dalamnya. Pelabuhan biasanya memiliki alat-alat yang dirancang khusus untuk memuat dan membongkar muatan kapal-kapal yang berlabuh. Crane dan gudang berpendingin juga disediakan oleh pihak pengelola maupun pihak swasta yang berkepentingan. Sering pula disekitarnya dibangun fasilitas penunjang seperti pengalengan dan pemprosesan barang.

Kata pelabuhan laut digunakan untuk pelabuhan yang menangani kapal-kapal laut. Pelabuhan perikanan adalah pelabuhan yang digunakan untuk berlabuhnya kapal-kapal penangkap ikan serta menjadi tempat distribusi maupun pasar ikan.

Klasifikasi pelabuhan perikanan ada 3, yaitu: Pelabuhan Perikanan Pantai, Pelabuhan Perikanan Nusantara, dan Pelabuhan Perikanan Samudera.

Di bawah ini hal-hal yang penting agar pelabuhan dapat berfungsi:

Ø  Adanya kanal-kanal laut yang cukup dalam (minimum 12 meter)

Ø  Perlindungan dari angin, ombak, dan petir

Ø  Akses ke transportasi penghubung seperti kereta api dan truk.

Kinerja pelabuhan dapat ditujukan oleh kualitas pelayanan terhadap kapal maupun barang disuatu pelabuhan. Variabel yang dapat mempengaruhi kualitas pelayanan atau kinerja operasional pelabuhan antara lain produktifitas bongkar muat yang antara lain diukur melalui variabel ship out, sedangkan kinerja operasional antara lain terdiri atas waiting time, berthing time, turn round time.

Ship out (TSHP) sendiri merupakan salah satu indikator yang digunakan untuk mengukur besarnya produktifitas bongkar muat kapal. Peralatan bongkar muat sangat mempengaruhi lamanya kapal di dermaga, apabila alat bongkar muat kurang memadai maka produktifitas bongkar muat rendah, sebaliknya peralatan bongkar muat memadai serta SDM yang profesional maka produktifitas bongkar muat akan tinggi, dengan sendirinya kapal akan cepat meninggalkan dermaga atau berthing time dapat diperkecil.

  1. 5.      Pelabuhan Trisakti

Pelabuhan Trisakti berada di wilayah Banjarmasin, Kalimantan Selatan terbagi atas pelabuhan penumpang dan pelabuhan barang (export, import, dan lokal). Pelabuhan Trisakti ini, mampu hingga 25 tahun ke depan menampung setiap cargo flow atau barang masuk serta keluar dari daerah ini.

Pelabuhan Trisakti Banjarmasin merupakan pintu gerbang ke wilayah Kalimantan Selatan , Kalimantan tengah dan Kalimantan Timur. Berbagai ekspor hasil Kalimantan Selatan antara lain, yaitu kayu, rotan, getah jelatung, kulit gemor, biji tengkawang, batubara dan lain sebagainya, dalam jumlah besar diekspor melalui pelabuhan Banjarmasin, maupun dikirim untuk tujuan ke berbagai daerah guna memenuhi kebutuhan bahan baku industri dalam negeri. Volume barang dan penumpang melalui pelabuhan ini terus meningkat setiap tahunnya, bahkan angkutan petikemas untuk tujuan ekspor mulai tampak dominan.

  1. 6.      Peranan Pelabuhan

Peranan pelabuhan adalah sebagai salah satu mata rantai dari sistem transportasi kelautan dan entitas bisnis kepelabuhanan, maka pelabuhan Banjarmasin akan dikembangkan secara bertahap dengan memperhatikan aspek aspek tatanan kepelabuhanan secara nasional, keamanan dan keselamatan pelayaran serta tata lahan dan tata ruang Provinsi Kalimantan Selatan.

Untuk mengimbangi arus perekonomian dan perdagangan yang semakin pesat dan modern saat ini. Pelabuhan Banjarmasin telah membangun terminal-terminal beserta prasarana prasarana penunjang lainnya dengan tujuan memberikan pelayanan prima kepada para pengguna jasa.

Pelayanan Kapal merupakan jasa yang kegiatan operasional kapal dari mulai masuk sampai dengan keluar, meliputi pelayanan jasa pandu, labuh. Pelayanan Barang merupakan pelayanan bongkar muat sejak dari kapal hingga penyerahan ke pemilik barang meliputi : jasa bongkar muat, penumpukan.

BAB III

METODE PENELITIAN

 

Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif kualitatif yang bertujuan untuk memberikan penjelasan tentang suatu hal sehingga dapat terbentuk suatu gambaran yang jelas mengenai situasi-situasi yang terjadi dilapangan secara apa adanya. Pengolahan data (analisis deskriptif) adalah usaha untuk menyederhanakan sekaligus untuk menjelaskan bagian-bagian keseluruhan data melalui langkah klasifikasi dan kategorisasi sehingga penelitian ini dapat tersusun menjadi suatu rangkaian deskripsi yang sistematis dan matang serta menyeluruh dalam menggambarkan rincian segala sesuatu yang terjadi pada suatu kegiatan atau situasi tertentu.

Data dalam penelitian ini mengacu pada semua materi yang dikumpulkan oleh peneliti di lapangan yang mencakup catatan yang dibuat oleh peneliti melalui wawancara dan observasi, serta dokumen lain yang telah tersedia. Jadi, sumber data dalam penelitian kualitatif dapat digolongkan menjadi tiga macam, yaitu : manusia, suasana yang diamati, dan studi dokumen. Tiga teknik dasar yang bisa digunakan dalam pengumpulan data yaitu :

Ø  Wawancara mendalam

Ø  Observasi berperan serta

Ø  Studi dokumentasi

Wawancara mendalam digunakan dalam penelitian ini dengan melakukan percakapan atau tanya jawab secara mendalam dengan para informan. Tujuan dari wawancara mendalam adalah untuk mendapatkan katerangan atau pernyataan lisan dari karyawan, pekerja, serta petugas yang ada di Pelabuhan Trisakti menyangkut bagaimana sebaran volume barang dan penumpang, bagaimana sektor impor dan ekspornya, serta meneliti bagaimana kondisi dari pelabuhan tersebut. Wawancara mendalam atau wawancara tidak terstruktur ini bercirikan bahwa formatnya tidak terstandar. Pewawancara tidak mencari respon yang bersifat normatif, tetapi lebih memperhatikan keunikan, keistimewaan, dan pandangan meneyeluruh dari setiap informan.

Observasi disini adalah dengan melakukan pengamatan langsung terhadap kegiatan Operasional Pelabuhan Trisakti. Analisis selama pengumpulan data merupakan analisis data yang dilakukan bersamaan dalam mengumpulkan data,setelah itu melakukan pemilahan dan informasi melalui tiga teknik pengumpulan data. Dalam kegiatan ini peneliti memilih informasi dengan memusatkan perhatian pada hal-hal yang ditemukan baik dalam fokus penelitian peneliti maupun yang menjadi temuan di luar hal tersebut. Setelah itu, peneliti menyajikan data tersebut dalam ringkasan penelitian yang merupakan ringkasan catatan lapangan yang berupa hasil wawancara, observasi dan dokumentasi.

Pemilihan daerah penelitian ini didasarkan pada tempat, objek dan subjek penelitian, yaitu sebagai berikut:

Ø  Tempat penelitian

Penelitian ini dilaksanakan di Barito Hilir Trisakti No. 6 Banjarmasin, Kalimantan Selatan.

Ø  Objek penelitian

Objek penelitian ini adalah Mobilitas Angkutan Barang dan Penumpang Kapal di

Pelabuhan Trisakti Banjarmasin, Kalimantan Selatan.

Ø  Subjek penelitian

Subjek penelitiannya adalah Pelabuhan Trisakti Banjarmasin Kalimantan Selatan.

BAB IV

KONDISI DAERAH PENELITIAN

 

Berdasarkan dari hasil penelitian maka dapat diketahui kondisii pelabuhan trisakti Banjarmasin, dalam hal ini seperti sarana dan prasarana. Pelabuhan Trisakti berada di wilayah Banjarmasin, Kalimantan Selatan. Pelabuhan tri sakti terbagi atas pelabuhan penumpang dan pelabuhan barang (export, import, dan lokal). Pelabuhan Trisakti termasuk strategis dan kepadatan aktivitas bongkar muat kontainer sangat tinggi sehingga mengakibatkan antrean panjang di pelabuhan. Kondisi itu kian meningkat seiring terbukanya alur baru yang bisa dilayari seluruh jenis kapal selama 24 jam tanpa menunggu air pasang.

Keadaan jalannya kurang memadai karena terdapat jalan yang sangat berlumpur yang sering digunakan untuk pemindahan barang. Selain itu daerahnya juga sangat berdebu, hal ini dikarenakan oleh keluar masuknya truck pengangkutan atau sejenisnya tiap harinya, sehingga menimbulkan debu dimana-mana. Oleh karena itu diperlukannya masker atau pelindung yang dapat membantu untuk menghindari debu akibat keluar masuknya truck atau sejenisnya.

Pengangkutan dan pemindahan muatan barang menggunakan Forklift dengan berat 28 Ton dari container ke truck untuk kemudian di distribusikan. Forklift digunakan untuk mempermudah pemindahan barang dari container ke truck.

Di area gudang tempat bongkar muat barang para pekerja kebanyakan dilakukan oleh para laki-laki, karena pekerjaan ini sangat beresiko dan berat sehingga  membutuhkan tenaga yang lebih dan teknologi disini sudah canggih dan modern sehingga dapat memudahkan para pekerja untuk melakukan bongkar muat barang dari kapal.

 

BAB V

HASIL DAN PEMBAHASAN

 

  1. A.    Volume/jumlah kapal antarkota dan antar wilayah
  1. B.     Faktor Pengguna Waktu Tertentu Keberangkatan Dari dan Ke Banjarmasin

Pelabuhan dahulu hanya merupakan suatu tepian dari lautan yang sangat luas di mana kapal-kapal dan perahu-perahu bersandar dan membuang jangkar untuk melakukan pekerjaan membongkar dan memuat barang-barang, serta pekerjaan-pekerjaan lainnya. Kemudian sejalan dengan perkembangan sosial ekonomi, pelabuhan yang pada jaman dahulu sederhana berkembang menjadi suatu daerah atau lingkungan yang cukup luas yang perlu perhatian dari pemerintah dimana pelabuhan itu berada. Pelabuhan yang telah dikelola terdapat berbagai fasilitas yang diperlukan guna menyelenggarakan pemuatan dan pembongkaran barang dari dan ke kapal sesuai dengan bentuk atau desain kapal untuk pelayanan kegiatan embarkasi dan debarkasi penumpang, barang dan hewan.

Jalur transportasi yang ada di Pelabuhan Trisakti Banjarmasin yaitu Jakarta-Banjarmasin,Surabaya-Banjarmasin dan Semarang-Banjarmasin.Kebanyakan masyarakat lebih cendrung memilih menggunakan transportasi laut ini karena dari segi biaya yang relatif murah apabila dibandingkan dengan menggunakan jasa transportasi udara untuk bepergian keluar daerah khususnya bagi kalangan menengah.Jalur transportasi ini juga dijadikan sebagai ekspor dan impor barang yang setiap bulannya terus terjadi peningkatan karena banyaknya permintaan.

  1. A.    Kondisi Umum Pelabuhan Trisakti Banjarmasin

Keadaan Pelabuhan Trisakti akhir-akhir ini cenderung menurun dan mengalami banyak hambatan. Sampai saat ini belum ada konsep yang dapat membawa pelabuhanan ke arah pertumbuhan yang lebih baik. Di sektor angkutan laut, operasional kapal dilakukan untuk mengejar keuntungan sesaat tanpa pernah berpikir bagaimana membangun jaringan kapal antar-pelabuhan. Padahal operasionalisasi kapal adalah untuk ketersediaan barang. Target untuk keuntungan sesaat ini berakibat tidak tumbuhnya sentra-sentra produksi di sepanjang alur laut. Semestinya, salah satu peran angkutan laut adalah sebagai pemicu pertumbuhan ekonomi regional, nasional, maupun internasional.

Hal itu diukur berdasarkan tingkat kepuasan pelanggan jasa pelabuhan (port users), yaitu menghitung waktu sejak kapal tiba hingga kapal meninggalkan pelabuhan.
Ada beberapa klasifikasi tingkat kepuasan pelanggan (customer satisfaction), yaitu:

  1. Sangat puas (exelence service), yakni apabila waktu kerja efektif mencapai 90 persen dan penggunaan waktu kerja selama 21 jam dengan waktu istirahat makan 3 jam. Dalam kondisi ini, pelayanan jasa pelabuhan diberikan sesuai jadwal sehingga kapal tidak dibebani biaya tambahan dan jadwal trayek dapat dipenuhi.
  2. Puas (good service), yakni apabila waktu kerja efektif mencapai 80 persen dengan penggunaan waktu kerja produktif 18 jam dan waktu istirahat makan dan pergantian shift 6 jam. Kondisi ini tidak terlalu berpengaruh terhadap extra-cost.
  3. Tidak puas (bad service), yakni apabila waktu kerja efektif mencapai 70 persen, penggunaan waktu kerja produktif hanya 14 jam. Ketidakpuasan pengguna jasa pelabuhan terjadi karena ada biaya tambahan dan jadwal kapal ke pelabuhan lain terganggu.
  4. Sangat tidak puas (poor service), yakni apabila waktu kerja efektif hanya 60 persen dan penggunaan waktu kerja produktif hanya 10-13 jam. Hal ini berakibat besarnya biaya tambahan yang dikeluarkan operator kapal dan terganggunya trayek berikutnya.

Faktor lainnya adalah alat bongkar muat yang sering macet. Operasi pelayanan kapal meliputi kegiatan-kegiatan perencanaan dan pelaksanaan tambatan kapal yang diarahkan agar pemanfaatan lokasi tambatan dapat sesuai dengan jenis dan tipe kapal. Jenis muatan yang akan dibongkar atau dimuat, penggunaan peralatan bongkar muat secara optimal dan pemilihan gudang dan lapangan penumpukan barang yang sesuai dengan kebutuhan serta kelancaran pendistribusian barang dalam rangka menghasilkan ship-dispatch. Untuk dapat merencanakan dan menangani operasional pelayanan kapal dan untuk mencapai ships output yang tinggi, harus terlebih dahulu diketahui data lengkap sebuah kapal yang akan dilayani meliputi antara lain bentuk, jenis dan karakteristik kapal. Data kedatangan kapal, harus selalu data yang terakhir (up to date) dan setiap perubahan jam kedatangan kapal harus dilaporkan secepatnya kepada pihak pengelola pelabuhan, untuk memudahkan penyusunan perencanaan alokasi penggunaan tambatan secara tepat dan berdaya guna.

Bagi sebagian orang,gerbang mempunyai fungsi advertorial,keindahan dan kemudahan aksesnya bisa membujuk orang untuk datang.Namun,tidak demikian dengan pintu gerbang Alur Barito di Banjarmasin,Kalimantan Selatan. Pintu gerbang menuju Pelabuhan Trisakti Banjarmasin yang memasok kebutuhan Kalimantan Selatan dan Kalimantan Tengah makin lama justru makin tertimbun lumpur.Untuk memasuki pelabuhan para pengusaha harus berpikir dua kali karena lamanya antrean dan risiko kandas.Dalam waktu kurang dari enam bulan memang sudah ada 40 kapal yang kandas. Itu baru catatan kapal kandas yang sempat menginap di Alur Barito,belum kapal kandas yang kurang dari 12 jam yang biasanya tidak dilaporkan.Dapat dikatakan, semua kapal kontainer dan kapal penumpang yang memasuki Pelabuhan Trisakti selalu kandas. Hanya saja, ada yang bisa ditarik oleh kapal tugboat dan ada yang tidak bisa. Kapal dikatakan kandas jika tidak bisa ditarik dua tugboat sekalipun air laut sedang pasang.

Menurut Kepala Cabang PT Meratus Banjarmasin Chany Horman jika kapal kandas di Alur Barito diperlukan kapal tongkang untuk memindah muatan kapal. Setelah alur pasang, maka kapal baru bisa ditarik oleh tugboat.Biaya tunggu (delay cost) di Pelabuhan Trisakti untuk kapal kontainer dan kapal niaga mencapai Rp 1 miliar per bulan.Untuk masuk ke pelabuhan, kapal sering menunggu pasang sampai 12 jam. Setelah masuk pelabuhan harus menunggu bongkar dan menunggu air pasang lagi untuk keluar. Dalam kondisi ekstrem, menunggu kapal lain bongkar mencapai 30 jam dan menunggu pasang untuk keluar mencapai 12 jam.Rata-rata kapal dalam sehari menunggu 24jam.


BAB V

PENUTUP

  1. A.    Kesimpulan

Pelabuhan Trisakti berada di belahan kota Banjarmasin ibukota Propinsi Kalimantan Selatan, terletak di tepi Sungai Barito,sekitar 20 mil dari muara Sungai Barito pada posisi 030 20’ 18″ LS, 1140 34″ 48″ BT. Pelabuhan Trisakti memiliki panjang dermaga 510 M, Gudang 8.450 M2 dan lapangan Kontainer 48.836 M2. Pelabuhan Banjarmasin merupakan pendukung utama transportasi laut yang secara langsung maupun tidak langsung berperan aktif dalam pembangunan ekonomi Propinsi Kalimantan Selatan.

Pelabuhan Trisakti jika ditinjau dari aktivitas sandar kapal dari tahun ke tahun menunjukan peningkatan yang sangat signifikan, akan tetapi kondisi ini tidak didukung oleh tingkat pelayanan pelabuhan yang memadai, sehingga sering terjadi keterlambatan bongkar muat barang yang berimbas pada semakin tingginya biaya sandar kapal.

Salah satu penyebab kondisi tersebut adalah kedudukan pelabuhan Trisakti yang berada di alur Sungai Barito yang sangat rentan terhadap pendangkalan akibat sedimentasi, sehingga operasional alur sangat ditentukan oleh kondisi pasang surut air Sungai Barito. Bedasarkan informasi terkini bahwa Alur Barito hanya mampu beroperasi selama lebih kurang 3 (tiga) jam per hari, sehingga tingkat antrian kapal untuk bongkar muat semakin tinggi.

Volume barang dan penumpang melalui pelabuhan ini terus meningkat setiap tahunnya, bahkan angkutan petikemas untuk tujuan ekspor mulai tampak dominan.
Pengembangan Pelabuhan Banjarmasin selalu memperhatikan aspek-aspek Tatanan Kepelabuhanan Nasional, Keamanan dan Keselamatan Pelayaran, Rencana Tata Guna Lahan untuk pengembangan pelabuhan, keselarasan dan keseimbangan dengan kegiatan di lingkungan Pelabuhan Banjarmasin dan tinjauan terhadap aspek lingkungan. Aneka pembangunan fasilitas dan pengadaan peralatan serta pengaturan keperluan kelancaran transportasi laut di kemas dalam suatu ramuan sistem pelayanan terpadu selaras dengan kebutuhan dan permintaan pengguna jasa kepelabuhanan serta perkembangan teknologi dewasa ini.

  1. B.     Saran

Tingkat pencapaian pelayanan kegiatan atau atribut kerja dalam kegiatan operasional pelabuhan dapat diukur dan dijadikan pedoman dalam pemberian pelayanan jasa di pelabuhan. Untuk menggambarkan tingkat pelayanan barang yang telah dicapai oleh pelabuhan secara rata-rata, digunakan satuan pengukur( tolok ukur) yang dijadikan pedoman atau standar dalam menentukan kebijakan pelayanan jasa pelabuhan.Tolok ukur tersebut diperoleh dari hasil yang dicapai di lapangan melalui pengamatan yang cukup lama dan dapat pula diperoleh melalui suatu penelitian di lapangan untuk jangka waktu tertentu.

  1. C.    Rekomendasi

Rekomendasi adalah surat pernyataan bahwa peneliti telah melakukan penelitiannya secara langsung kelapangan,sehingga data-data yang tercantum dalam laporan ini memang benar adanya sesuai kenyataan.Rekomendasi ini akan terlampir setelah halaman berikut ini.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s