Lapisan Tanah

BAB I

PENDAHULUAN

  1. Latar belakang

Lapisan tanah adalah formasi yang dibentuk oleh berbagai lapisan dalam tanah yang secara spesifik dapat dibedakan secara geologi, kimia, dan biologi, termasuk proses pembentukannya. Ketika usia tanah meningkat, lapisan tanah umumnya lebih mudah untuk diamati. Pengidentifikasian dan pendeskripsian lapisan yang ada adalah langkah pertama dalam mengklasifikasikan tanah dalam level yang lebih tinggi, menggunakan berbagai sistem seperti USDA soil taxonomy atau Australian Soil Clasification. Badan dunia World Reference Base for Soil Resources memberikan daftar 40 ciri lapisan tanah: Albic, Andic, Anthraquic, Anthropedogenic, Argic, Calcic, Cambic, Chernic, Cryic, Duric, Ferralic, Ferric, Folic, Fragic, Fluvic, Gypsic, Histic, Hydragric, Hortic, Irragric, Melanic, Mollic, Natric, Nitic, Ochric, Petrocalcic, Petroduric, Petrogypsic, Petroplinthic, Plaggic, Plinthic, Salic, Spodic, Sulfuric, Takyric, Terric, Umbric, Vertic, Vitric, Yermic. Endapan baru dari tanah seperti alluvium, pasir, dan abu vulkanik mungkin tidak memiliki sejarah pembentukan lapisan dan hanya suatu lapisan endapan yang dapat dibedakan dari tanah yang ditutupinya.

Setiap tanah biasanya memiliki tiga atau empat lapisan yang berbeda. Lapisan dibedakan umumnya pada keadaan fisik yang terlihat, warna dan tekstur adalah yang utama. Hal ini membawa pengklasifikasian lebih lanjut dalam hal tekstur tanah yang dipengaruhi ukuran partikel, seperti apakah tanah itu lebih berpasir atau lebih liat dari pada lapisan tanah di atas dan di bawahnya.

  1. Rumusan masalah

Sehubungan dengan latar belakang diatas dan factor-faktor yang berkaitan,maka rumusan masalah ini adalah sebagai berikut :

  • Pengertian tanah
  • Sifat fisik tanah
  • Komponen utama tanah
  • Klasifikasi dan pembentukan tanah
  1. Tujuan

Adapun tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui :

v  Agar mahasiswa dapat mengetahui apa yang dimaksud dengan tanah

v  Agar mahasiswa dapat mengetahui apa saja sifat-sifat fisik tanah seperti tekstur tanah dan warna tanah

v  Agar mahasiswa dapat mengetahui apa saja komponen utama pada tanah

v  Agar mahasiswa dapat mengetahui bagaimana klasifikasi dan pembentukan tanah.

  1. Landasan Teori

Geografi tanah adalah ilmu yang mempelajari persamaan dan perbedaan fenomena geosfer (litosfer, hidrosfer, atmosfer dan biosfer) dengan sudut pandang kelingkungan atau kewilayahan dalam konteks keruangan. Struktur tanah merupakan sifat fisik tanah yang menggambarkan susunan ruangan partikel-partikel tanah yang bergabung satu dengan yang lain membentuk agregat dari hasil proses pedogenesis.

Struktur tanah berhubungan dengan cara di mana, partikel pasir, debu dan liat relatif disusun satu sama lain. Di dalam tanah dengan struktur yang baik, partikel pasir dan debu dipegang bersama pada agregat-agregat (gumpalan kecil) oleh liat humus dan kalsium. Ruang kosong yang besar antara agregat (makropori) membentuk sirkulasi air dan udara juga akar tanaman untuk tumbuh ke bawah pada tanah yang lebih dalam. Sedangkan ruangan kosong yang kecil ( mikropori) memegang air untuk kebutuhan tanaman. Idealnya bahwa struktur disebut granular.

Pengaruh struktur dan tekstur tanah terhadap pertumbuhan tanaman terjadi secara langsugung. Struktur tanah yang remah (ringan) pada umumnya menghasilkan laju pertumbuhan tanaman pakan dan produksi persatuan waktu yang lebih tinggi dibandingkan dengan struktur tanah yang padat. Jumlah dan panjang akar pada tanaman makanan ternak yang tumbuh pada tanah remah umumnya lebih banyak dibandingkan dengan akar tanaman makanan ternak yang tumbuh pada tanah berstruktur berat. Hal ini disebabkan perkembangan akar pada tanah berstruktur ringan/remah lebih cepat per satuan waktu dibandingkan akar tanaman pada tanah kompak, sebagai akibat mudahnya intersepsi akar pada setiap pori-pori tanah yang memang tersedia banyak pada tanah remah. Selain itu akar memiliki kesempatan untuk bernafas secara maksimal pada tanah yang berpori, dibandiangkan pada tanah yang padat. Sebaliknya bagi tanaman makanan ternak yang tumbuh pada tanah yang bertekstur halus seperti tanah berlempung tinggi, sulit mengembangkan akarnya karena sulit bagi akar untuk menyebar akibat rendahnya pori-pori tanah. Akar tanaman akan mengalami kesulitan untuk menembus struktur tanah yang padat, sehingga perakaran tidak berkembang dengan baik. Aktifitas akar tanaman dan organisme tanah merupakan salah satu faktor utama pembentuk agregat tanah.

Kedalaman atau solum, tekstur, dan struktur tanah menentukan besar kecilnya air limpasan permukaan dan laju penjenuhan tanah oleh air. Pada tanah bersolum dalam (>90 cm), struktur gembur, dan penutupan lahan rapat, sebagian besar air hujan terinfiltrasi ke dalam tanah dan hanya sebagian kecil yang menjadi air limpasan permukaan (longsor). Sebaliknya, pada tanah bersolum dangkal, struktur padat, dan penutupan lahan kurang rapat, hanya sebagian kecil air hujan yang terinfiltrasi dan sebagian besar menjadi aliran permukaan (longsor)
Pembentukan Agregat

Menurut Gedroits (1955) ada dua tingkatan pembentuk agregat tanah, yaitu:
1. Kaogulasi koloid tanah (pengaruh Ca2+) kedalam agregat tanah mikro
2. Sementasi (pengikat) agregat mikro kedalam agregat makro.
Teori pembentukan tanh berdasarkan flokulasi dapat terjadi pada tanah yang berada dalam larutan, misal pada tanah yang agregatnya telah dihancurkan oleh air hujan atau pada tanah sawah. Menurut utomo dan Dexter (1982) menyatakan bahwa retakan terjadi karena pembengkakan dan pengerutan sebagai akibat dari pembasahan dan pengeringan yang berperan penting dalam pembentukan agregat.

Dapat diambil kesimpulan bahwa agregat tanah terbentuk sebagai akibat adanya interaksi dari butiran tunggal, liat, oksioda besi/ almunium dan bahan organik. Agregat yang baik terbentuk karena flokuasi maupun oleh terjadinya retakan tanah yang kemudian dimantapkan oleh pengikat (sementasi) yang terjadi secara kimia atau adanya aktifitas biologi.

Faktor yang mempengaruhi pembentukan agregat
1.Bahan Induk

Variasi penyusun tanah tersebut mempengaruhi pembentukan agregat-agregat tanah serta kemantapan yang terbentuk. Kandungan liat menentukan dalam pembentukan agregat, karena liat berfungsi sebagai pengikat yang diabsorbsi pada permukaan butiran pasir dan setelah dihidrasi tingkat reversiblenya sangat lambat. Kandungan liat > 30% akan berpengaruh terhadap agregasi, sedangakan kandungan liat < 30% tidak berpengaruh terhadap agregasi.

2. Bahan organik tanah

Bahan organik tanah merupakan bahan pengikat setelah mengalami pencucian. Pencucian tersebut dipercepat dengan adanya organisme tanah. Sehingga bahan organik dan organisme di dalam tanah saling berhubungan erat.
3. Tanaman

Tanaman pada suatu wilayah dapat membantu pembentukan agregat yang mantap. Akar tanaman dapat menembus tanah dan membentuk celah-celah. Disamping itu dengan adanya tekanan akar, maka butir-butir tanah semakin melekat dan padat. Selain itu celah-celah tersebut dapat terbentuk dari air yang diserp oleh tnaman tesebut.
4. Organisme tanah

Organisme tanah dapat mempercepat terbentuknya agregat. Selain itu juga mampu berperan langsung dengan membuat lubang dan menggemburkna tanaman.Secara tidak langsung merombak sisa-sisa tanaman yang setelah dipergunakan akan dikeluarlan lagi menjadi bahan pengikat tanah.
5. Waktu

Waktu menentukan semua faktor pembentuk tanah berjalan. Semakin lama waktu berjalan, maka agregat yang terbentuk pada tanah tersebut semakin mantap.
6. Iklim

Iklim berpengaruh terhadap proses pengeringan, pembasahan, pembekuan, pencairan. Iklim merupakan faktor yang sangat berpengaruh terhadap pembentukan agregat tanah.

Macam macam struktur tanah

1.      Struktur tanah berbutir (granular): Agregat yang membulat, biasanya diameternya tidak lebih dari 2 cm. Umumnya terdapat pada horizon A yang dalam keadaan lepas disebut “Crumbs” atau Spherical.

2.       Kubus (Bloky): Berbentuk jika sumber horizontal sama dengan sumbu vertikal. Jika sudutnya tajam disebut kubus (angular blocky) dan jika sudutnya membulat maka disebut kubus membulat (sub angular blocky). Ukuranya dapat mencapai 10 cm.

3.       Lempeng (platy): Bentuknya sumbu horizontal lebih panjang dari sumbu vertikalnya. Biasanya terjadi pada tanah liat yang baru terjadi secara deposisi (deposited).

4.      Prisma: Bentuknya jika sumbu vertikal lebih panjang dari pada sumbu horizontal. Jadi agregat terarah pada sumbu vertikal. Seringkali mempunyai 6 sisi dan diameternya mencapai 16 cm. Banyak terdapat pada horizon B tanah berliat. Jika bentuk puncaknya datar disebut prismatik dan membulat disebut kolumne.

BAB II

HASIL PENGAMATAN

Berdasarkan pengamatan yang kami lakukan pada daerah Banjarbaru tepatnya landasan ulin komplek mustika raya permai 1 kelurahan bunting manggis. Pengamatan pada tanah setinggi 3M. Terdapat beberapa lapisan tanah yang menunjukkan adanya perbedaan zat-zat yang terkandung didalamnya,terdapat pula kenampakkan perbedaan pada corak warna dan tekstur pada tanah.

Lapisan 1

Berdasarkan hasil pengamatan pada gambar diatas tanah berwarna coklat tua. Dan masih ditemukan beberapa sisa-sisa bahan organic seperti daun-daun.

Dan berdasarkan pengamatan pada gambar maka dapat disimpulkan bahwa tanah tersebut digolongkan pada lapisan tanah Horison O.

Horison O

Huruf O menujukkan kata “organik“. lapisan ini disebut juga dengan humus. Lapisan ini didominasi oleh keberadaan material organik dalam jumlah besar yang berasal dari berbagai tingkat dekomposisi. Lapisan O ini tidak sama dengan lapisan dedaunan yang berada di atas tanah, yang sesungguhnya bukan bagian dari tanah itu sendiri.

Lapisan 2

Pada lapisan 2, tanah sudah berwarna jingga kecoklatan dengan tekstur yang agak kasar dan masih ditemukannya sisa-sisa bahan organic seperti sisa-sisa daun atau tanaman yang masih terlihat.

Pengamatan pada tanah lapisan 2 menunjukkan bahwa tanah tersebut masih tergolong dalam lapisan horison O1. Yang menunjukkan adanya bentuk asli sisa-sisa tanaman masih terlihat.

Lapisan 3

Berdasarkan hasil pengamatan pada lapisan tanah tersebut menunjukkan adanya perubahan warna menjadi Jingga Kemerahan. Dan masih terdapat organism tanah seperti cacing tanah dan akar tanaman.

Lapisan 3 sudah tergolong pada lapisan horizon O2 dan A1.

Karena lapisan 3 sudah bercampur antara lapisan Horison O2 dan A1. Karena pada tanah lapisan 3 tersebut sudah tidak terlihat bentuk asli sisa-sisa tanaman yang disebut dengan lapisan horizon O2. Dan tanah pada lapisan ini bahan mineral bercampur dengan humus dan berwarna lebih gelap. Serta lebih ringan dan mengandung lebih sedikit tanah liat. Lapisan A dikenal sebagai lapisan yang memiliki banyak aktivitas biologi. Organisme tanah seperti cacing tanah, arthropoda, nematoda, jamur, dan berbagai spesies bakteri dan bakteri archaea terkonsentrasi di sini, dan seringkali berhubungan dengan akar tanaman yang disebut lapisan horizon A1.

Lapisan 4

Pada tanah lapisan 4 ini terdapat kombinasi warna antara warna putih,coklat dan kemerahan. Warna terlihat lebih cerah dibandingkan dengan lapisan-lapisan sebelumnya karena sudah mengalami proses pencucian (eluviasi) maksimum pada liat dan Fe (besi) dan horizon A1.

Dan tanah tersebut sudah tergolong pada lapisan A2 yang telah mengalami pencucian sehingga teksturnya pun berbeda.

BAB III

PEMBAHASAN

 

  1. Pengertian tanah

Menurut beberapa ahli :

J.J. Berzelius (Swedia, 1803). Tanah adalah sebagai laboratorium kimia tempat proses dekomposisi dan reaksi kimia yang berlangsung secara tersembunyi.

Justus Von Liebig (Jerman, 1840), mengajukan teori keseimbangan hara tanaman (theory balanchesheet of plan naturation), yang menganggap tanah sebagai tabung reaksi dimana dapat diketahui jumlah dan jenis hara tanamannya.

Friedrich Fallou (1855). Tanah dianggap sebagai hasil pelapukan oleh waktu yang menggerogoti batuan keras dan lambat laun mengadakan dekomposisi.

Dokuchaiev (Rusia, 1877), pengertian tanah harus dihubungkan dengan iklim dan dapat digambarkan sebagai zone-zone geografi yang luas, yang dalam skala peta dunia tidak hanya dihubungkan dengan iklim, tetapi juga dengan lingkungan tumbuhan.

A.S. Thaer (1909), permukaan planet terdiri atas bahan remah dan lepas yang disebut tanah, yang merupakan akumulasi dan campuran berbagai bahan, seperti unsur-unsur: Si, Al, Ca, Mg, Fe dll.

Humphry Davy (Inggris, 1913). Tanah adalah sebagai laboratorium alam yang menyediakan unsur hara bagi tanaman.

C.F. Marbut (rusia, 1914). Tanah merupakan lapisan paling luar kulit bumi yang biasanya bersifat tak padu dan mempunyai sifat tebal mulai dari selaput tipis sampai lebih dari 3 meter, yang berbeda dari bahan di bawahnya dalam hal: warna, sifat fisik, sifat kimia, dan sifat biologinya.

Ramman (Jerman, 1917). Tanah sebagai bahan batuan yang sudah dirombak menjadi partikel-partikel kecil yang telah berubah secara kimiawi bersama-sama dengan sisa-sisa tumbuhan dan hewan yang hidup di dalam dan di atasnya.

Werner (1918). Tanah adalah hitam tipis yang menutupi bahan padat kering, terdiri atas partikel-partikel kecil yang remah dan sisa-sisa vegetasi dan hewan. Tanah adalah medium bagi tanaman.

Alfred Mistscherlich (1920). Tanah adalah campuran bahan padat berupa partikel-partikel kecil air dan udara yang mengandung hara dan dapat menumbuhkan tumbuh-tumbuhan.

Jacob S. Joffe (1949). Tanah merupakan benda alam yang tersusun atas horison-horison yang terdiri dari bahan-bahan kimia mineral dan bahan organik, biasanya tidak padu dan mempunyai tebal yang dapat dibedakan dalam hal morfologi fisik, kimia dan biologinya.

Thornbury (1957). Tanah adalah bagian dari permukaan bumi yang ditandai oleh lapisan yang sejajar dengan permukaan sebagai hasil modifikasi oleh proses-proses fisis, khemis maupun biologis yang bekerja di bawah kondisi yang bermacam-macam dan bekerja selama periode tertentu.

E. Saifudin Sarief (1986). Tanah adalah benda alami yang terdapat di permukaan bumi yang tersusun dari bahan-bahan mineral sebagai hasil pelapukan batuan dan bahan organik (pelapukan sisa tumbuhan dan hewan), yang merupakan medium pertumbuhan tanaman dengan sifat-sifat tertentu yang terjadi akibat gabungan dari faktor-faktor alami, iklim, bahan induk, jasad hidup, bentuk wilayah dan lamanya waktu pembentukan.

M. Isa Darmawijaya. Tanah merupakan akumulasi alam bebas yang menduduki sebagian planet bumi yang mampu menumbuhkan tumbuhan dan memiliki sifat sebagai akibat pengaruh iklim dan jasad hidup yang bertindak terhadap bahan induknya dalam keadaan relief tertentu selama jangka waktu tertentu.

James (1995). Tanah adalah salah satu sistem bumi, yang bersama dengan sistem bumi lainnya, yaitu air alami dan atmosfer, menjadi inti fungsi, perubahan, dan kemantapan ekosistem.

  1. Sifat Fisik Tanah

? Sifat fisik tanah : tekstur, struktur, kepadatan tanah, porositas, konsistensi, warna, air tanah, temperatur, aerasi.

? Tanah terdiri dari 3 komponen :

Komponen padatan terdiri atas mineral anorganik dan bahan organik.

Komponen cair (liquid) terdiri atas air, ion yang terlarut, molekul, gas yang secara kolektif disebut : cairan tanah (soil solution).

Komponen gas tanah seperti gas atmosfer di atas tanah tetapi berbeda proporsinya.

? Volume tanah = volume pori (air, gas) + volume padatan = konstan; untuk tanah yang tidak mengembang/swelling

? Tanah berswelling tidak konstan tergantung dari kandungan airnya

? Tanah ideal = 50% padatan dan 50% pori (45% bahan anorganik,5% organik)

? Pori = makro berisi udara atmosfer berisi air (air ditahan oleh gaya adhesi  partikel tanah dengan air melawan gaya gravitasi).

? Untuk analisis diperlukan berat tanah kering mutlak. Caranya dengan mengringovenkan pada suhu 105°C selama 48 jam yang dikenal dengan nama oven-dry-weight. Jumlah kalsium, potassium, bahan organik, air tanah dihitung berdasarkan oven-dry-weight.


WARNA TANAH

T  secara langsung mempengaruhi penyerapan sinar matahari dan salah satu faktor penentu suhu tanah

T  secara tidak langsung berhubungan dengan sifat-sifat tanah, misal informasi subsoil drainase, kandungan bahan organik surface horizon, pembeda antar horison

T  diukur dengan menggunakan standar warna (Soil Munsell Color Chart)

T  Interpretasi : Warna tanah disebabkan oleh adanya bahan organik, dan atau status oksidasi senyawa besi dalam tanah.

T  tanah yang dibentuk oleh bahan induk basalt sering berwarna sangat gelap jika tanah tersebut mengandung sedikit atau tidak ada bahan organik

T  Status oksidasi besi terutama di lapisan bawah : tanah yang aerasi dan drainase bagus, senyawa besi berada dalam bentuk oksidasi (Ferri/Fe3+) dan memberikan warna merah atau kuning; tanah yang aerasi dan drainase jelek, senyawa besi tereduksi dalam bentuk ferro (Fe2+) akan memberikan warna abu-abu (gray)

T  Hubungan antara warna tanah dengan kandungan bahan organik di Illinois, USA

 

Notasi Munsell

(kondisi lembab)

Bahan Organik (%)
  Range Average
10 YR 2/1 3,5-7,0 5,0
10YR 3/1 2,5-4,0 3,5
10 YR 3/2 2,0-3,0 2,5
10 YR 4/2 1,5-2,5 2,0
10 YR 5/3 1,0-2,0 1,5

TEKSTUR TANAH

  • Sifat kimia, fisika dan mineralogi partikel tanah tergantung pada ukuran partikelnya.
  • Semakin kecil ukuran partikel maka luas permukaannya semakin besar. Jadi, luas permukaan fraksi liat > fraksi debu > fraksi pasir
  • Sebagai contoh :

Partikel bentuk bola dengan berat 1 gr dengan bulk density 2,65 g/cm3 dipecah menjadi 106 partikel yang lebih kecil berbentuk bola dengan berat masing-masing partikel 10-6 g.

Maka :

Luas permukaan untuk partikel dengan berat 1 gr adalah sbb :

Volume = (1 g)/(2,65 g/cm3) = 0,377 cm3Volume bola = 4/3 p r3 sehingga r3 = (0,377 x 3)/4p = 0,0901

Radius = r = 0,448 cm = 4,48 x 10-3 m

Luas permukaan (Surface area/SA) = 4pr2 = 2,52 x 10-4 m2

Setelah dipecah menjadi partikel yang lebih kecil :

Volume = (10-6)/(2,65 g/cm3) = 3,77 x 10-7 cm3

r3 = 3,77 x 10-7 cm3 x 3 = 9,01 x 10-8 cm

4p

r = 4,48 x 10-5 m

SA dari masing-masing partikel kecil = 4pr2

= 4 x p x (4,48 x 10-5 m)2 = 2,52 x 10-8 m2/partikel

Kolektif SA = 2,52 x 10-8 m2/partikel x 106 = 2,52 x 10-2 m2

  • Dengan kata lain,

Pemecahan partikel seberat 1 gr menjadi 106 partikel kecil dapat meningkatkan luas permukaan 100 kali lipat dari 2,52 x 10-4 m2 menjadi 2,52 x 10-2 m2

  • Klasifikasi Ukuran Partikel
Sumber

Soil  separates

  Kerikil Pasir debu liat
USDA > 2mm 2 mm–50 mm 50 mm-2 mm < 2mm
ISSS > 2mm 2 mm-20 mm 20 mm-2 mm < 2mm
USPRA > 2mm 2 mm-50 mm 50 mm-5 mm < 5mm
BSI, MIT, DIN > 2mm 2 mm-60 mm 60 mm-2 mm < 2mm

 

  • Tekstur tanah diartikan sebagai proporsi pasir, debu dan liat
  • Partikel ukuran lebih dari 2mm, bahan organik dan agen perekat seperti kalsium  karbonate harus dihilangkan sebelum menentukan tekstur
  • Tanah bertekstur sama misal geluh berdebu mempunyai sifat fisika dan kimia yang hampir sama dengan syarat mineralogi liat
  • Tekstur tanah ditentukan di lapangan dengan cara melihat gejala konsistensi dan rasa perabaan menurut bagan alir dan di laboratorium dengan metode pipet atau metode hidrometer
  • Tekstur tanah menentukan tata air, tata udara, kemudahan pengolahan dan struktur tanah

 STRUKTUR TANAH

±  Merupakan gumpalan tanah yang berasal dari partikel-partikel tanah yang saling merekat satu sama lain karena adanya perekat misalnya eksudat akar, hifa jamur, lempung, humus, dll.

±  Ikatan partikel tanah berwujud sebagai agregat tanah yang membentuk dirinya

±  Pengamatan struktur tanah di lapangan (SSS, 1975) terdiri dari :

1.        Pengamatan bentuk dan susunan agregat tanah Þ tipe struktur (lempeng, tiang, gumpal, remah, granuler, butir tunggal, pejal)

2.        Besarnya agregat Þ klas struktur (sangat halus, halus, sedang, kasa, sangat kasar)

3.        Kuat lemahnya bentuk agregat Þ derajad struktur (tidak beragregat, lemah, sedang, kuat)

 

KONSISTENSI TANAH

Y  Adalah derajad kohesi dan adhesi antara partikel-partikel tanah dan ketahanan massa tanah terhadap perubahan bentuk oleh tekanan dan berbagai kekuatan yang mempengaruhi bentuk tanah

Y  Konsistensi ditentukan oleh tekstur tanah dan struktur tanah

Y  Cara penentuan (1) lapangan : memijit tanah dalam kondisi kering, lembab dan basah (2) laboratorium : Angka-angka Atterberg

Y  Penentuan di lapangan :

Kondisi kering : kekerasan (lepas, lunak, keras)

Kondisi lembab keteguhan (lepas, gembur, teguh)

Kondisi basah : kelekatan dan plastisitas

Y  Penentuan di laboratorium : menentukan Batas Cair (BC), Batas Lekat (BL), Batas Gulung (BG) dan Batas Berubah Warna (BBW)

Batas Cair : kadar air yang dapat ditahan oleh tanah

Batas Lekat adalah kadar air dimana tanah tidak melekat ke logam

Batas Berubah Warna adalah batas air dimana air sudah tidak dapat diserap oleh akar tanaman karena terikat kuat oleh tanah

Jangka Olah (JO) : kadar air dimana tanah mudah diolah (BL-BG)

Derajad keteguhan (DT) : BC-BG

Surplus positif : Bl > BC artinya tanah mudah merembeskan air;

Surplus negatif : BL < BC : tanah sukar merembeskan air

Tillage (Pengolahan Tanah)

T  dapat memperbaiki sifat tanah atau dapat juga berpengaruh negatif misal menimbulkan erosi

T  dapat  meningkatkan BD atau kerapatan tanah dan menghancurkan struktur

T  Efek deep tillage (90 cm) terhadap nilai BD tanah

Depth (cm) Nilai BD awal

(gr/cm3)

Nilai BD akhir

(gr/cm3)

0-30 1,45 1,38
30-60 1,59 1,49
60-90 1,62 1,46
90-120 1,54 1,53

 

LENGAS TANAH

þ  Lengas tanah adalah air yang terikat oleh berbagai gaya, misalnya gaya ikat matrik, osmosis dan kapiler

þ  Gaya ikat matrik berasal dari tarikan antar partikel tanah dan meningkat sesuai dengan peningkatan permukaan jenis partikel tanah dan kerapatan muatan elektrostatik partikel tanah

þ  Gaya osmosis dipengaruhi oleh zat terlarut dalam air maka meningkat dengan semakin pekatnya larutan, sedang gaya kapiler dibangkitkan oleh pori-pori tanah berkaitan dengan tegangan permukaan

þ  Jumlah ketiga gaya tersebut disebut potensial lengas tanah atau tegangan lengas tanah, dan menjadi ukuran kemampuan tanah melawan gaya gravitasi

þ  Ukuran lengas tanah adalah cm Hg, bar, dan pF

  • 1 bar = 0,9869 atm = 105 Pascal = 75,007 cm Hg
  • satuan cm air dibagi 1000 menjadi satuan bar
  • pF = log10 cm H2O

 

þ  Klasifikasi lengas tanah berdasar tegangan lengas tanah :

1. Kapasitas menahan air maksimum

Jumlah air yang dikandung tanah dalam keadaan jenuh, semua pori terisi penuh air. Tegangan lengas tanah = 0 cm H2O, 0 bar atau pF 0

2. Kapasitas lapang

Jumlah air yang terkandung tanah setelah air gravitasi hilang. Tegangan lengas = 346 cm H2O; 0,3 bar atau pF 2,54.

3.    Titik layu tetap

Tingkat kelengasan tanah yang menyebabkan tumbuhan mulai memperlihatkan gejala layu. Tegangan lengas tanah = 15,849 cm H2O; 15 bar; pF 4,17

4. Koefisien higroskopik

Jumlah lengas tanah yang dijerap permukaan partikel tanah dari uap air dalam atmosfer yang berkelembaban kira-kira 100%. Tegangan lengas tanah = 31 bar; atau pF 4,5.

5. Kering angin

Kadar air tanah setelah diangin-anginkan di tempat teduh sampai mencapai keseimbangan dengan kelengasan atmosfer. Tegangan lengas  = 106 cm H2O; 1000 bar; pF 6.

6. Kering oven

Kadar air tanah setelah dikeringkan dalam oven pada suhu 105-110 °C sampai tidak ada lagi air yang menguap (timbangan tetap; biasanya membutuhkan waktu 16-18 jam). Tegangan lengas tanah = 107 cm H2O; 10.000 bar; atau pF 7,0.

þ  Klasifikasi fisik :

(1)               air bebas (air gravitasi) : air yang diatus oleh gaya gravitasi. Air dalam kondisi jenuh dan berada diantara pF 0 dan pF 2,54 (diantara jenuh air dan kapasitas lapang)

(2)               air kapiler : air dalam pori-pori tanah dengan tegangan antara pF 2,54 dan 4,5 (kapasitas lapang dan koefisien higroskopis)

(3)               air higroskopis : air di permukaan tanah yang dipegang antara pF 4,5 dan 7,0 (antara koefisien higroskopis dan kering oven)

þ  Klasifikasi biologi :

(1)               air tidak berguna : setara dengan air bebas menurut klasifikasi fisik. Kelas ini tidak berlaku bagi padi di sawah dan hidrofit yang hidup dalam jenuh air

(2)               air tersedia : air yang terdapat diantara kapsitas lapang dan titik layu tetap (pF 2,54 dan 4,17), dan

(3)               air tidak tersedia : air yang berada pada tegangan diatas titik layu tetap (diatas pF 4,17). Air dipegang tanah dengan tegangan lebih kuat dibanding kekuatan akar menyerap air.

 

þ  Kandungan air dalam tanah mempengaruhi sifat tanah seperti plastisitas, kembang dan kerut tanah, konsistensi, kepadatan, dan aerasi

þ  Air tanah juga sangat berperan dalam siklus hidrologi.

KEPADATAN TANAH

J  Kepadatan Tanah (Density) adalah berat padatan suatu obyek dibagi volume padatan.

J  Kepadatan ada 2 : (1) Berat jenis (Partikel Density) (2) Berat Volume (Bulk Density)

Partikel Density (PD) adalah berat padatan tanah (solid,without pore) dibagi dengan volumenya (solid, without pore).

– PD kebanyakan tanah adalah 2,6-2,7 g/cm3.

– Kepadatan padatan (solid) tanah mendekati kepadatan kuarsa (2,6 gr/cm3) karena kebanyakan mineral tanah adalah mineral silikat

– Adanya besi dan mineral berat lainnya (seperti olivin) cenderung meningkatkan PD.

Bulk Density (BD) : berat padatan (pada kering konstan) dibagi total volume (padatan+pori)

– BD tanah yang ideal berkisar antar 1,3 – 1,35 g/cm3.

– BD pada tanah berkisar >1,65 g/cm3 untuk tanah berpasir; 1,0-1,6 g/cm3 pada tanah geluh yang mengandung BO tanah sedang-tinggi

– BD mungkin lebih kecil dari 1 g/cm3 pada tanah dengan kandungan BO tinggi

– BD sangat bervariasi antar horizon tergantung pada tipe dan derajad aggregasi, tekstur dan BO tanah. Bulk Density sangat sensitif terhadap pengolahan tanah. Tillage benar, BD turun dan sebaliknya.

POROSITAS TANAH

T  Distribusi, kontinuitas pori menentukan aliran air dan udara

T  Persen pori 50% merupakan kondisi ideal tanah dimana setengahnya makro pori untuk meneruskan air karena adanya gravitasi dan setengahnya mikropori untuk menahan air dari tarikan gravitasi

T  Tanah mineral normalnya 30-60%

T  Jumlah pori ditentukan oleh tekstur dan tipe lempungnya

T  Porositas (%) = (1-BD/PD) x 100%

komponen utama tanah

Bahan Mineral

  • Berasal dari pelapukan batuan yang susunan mineralnya bervariasi tergantung sumber batuan yang melapuk (beku, sedimen, metamorf).
  • Mineral merupakan kumpulan dari kristal-kristal hasil suatu persenyawaan yang mempunyai bentuk tertentu sebagai hasil reaksi antara dua atau lebih unsur-unsur kimia kulit bumi. Terbagi menjadi:

–        Mineral Primer merupakan sumber utama unsur kimia dan bahan pokok senyawa organik di tanah.

–        Mineral Asesoria merupakan campuran dari bermacam-macam mineral yang terdapat dalam jumlah kecil dalam sistem mineralogi batuan. Mineral ini tahan terhadap pelapukan dan tergabung dalam kuarsa di dalam partikel pasir, seperti: apatit, rutil, magnetit, zirkon, pirit dll.

–        Mineral Sekunder, mineral ini dibentuk dari pelapukan mineral primer yang kurang tahan terhadap pelapukan dan menguasai fraksi halus (liat dengan diameter kurang dari 2μ (mikron), contoh: illit, kaolinit, monmorilonit, mika dll.

Bahan Organik

  • Umumnya terdapat di permukaan tanah,
  • Jumlahnya sekitar 3 – 5%,
  • Sangat berpengaruh terhadap sifat-sifat tanah dan pertumbuhan tanaman, seperti:

–        Sebagai pembentuk butir ( granulator), yaitu memperbaiki struktur tanah sehingga produktif,

–        Sumber unsur hara P, N, K, dan S serta unsur mikro dan lainnya,

–        Menambah kemampuan tanah untuk menahan unsur-unsur hara dan mempertinggi jumlah air yang tersedia bagi kehidupan tanaman.

–        Sumber energi bagi mikroorganisme

Air

  • Air terdapat di dalam tanah karena beberapa hal, yaitu:
    • Ditahan (di serap) oleh masa tanah
    • Tertahan oleh lapisan kedap air
    • Terikat di dalam pori-pori tanah dengan gaya ikat atau keadaan drainase yang kurang baik.
    • Kegunaan air bagi pertumbuhan tanaman, yaitu:

1. Sebagai unsur hara tanaman

Tanaman memerlukan air dari tanah dan CO2 dari udara untuk membentuk gula dan karbohidrat dalam proses fotosynthesis.

2. Sebagai pelarut unsur hara

Unsur-unsur hara yang terlarut dalam air diserap oleh akar-akar tanaman

3. Sebagai bagian dari sel-sel tanaman

Air merupakan bagian dari protoplasma

  • Persediaan air dalam tanah tergantung dari:
    • Banyaknya curah hujan atau air irigasi
    • Kemampuan tanah menahan air
    • Besarnya evapotranspirasi (penguapan langsung melalui  tanah dan melalui vegetasi)
    • Tinggi rendahnya muka air tanah
    • Air dapat meresap atau ditahan oleh tanah karena adanya gaya-gaya adhesi, kohesi, dan gravitasi, sehingga air dalam tanah secara garis besar terbagi dua (Todd, 1959), yaitu:

–        Zona Aerasi (zone of aeration), yaitu zona lapisan batuan yang pori-porinya tidak seluruhnya terisi oleh air.

–        Zona Saturasi (zone of saturation) , yaitu zona lapisan batuan yang jenuh air/dimana air tanah tersedia.

Udara

  • Udara dan air mengisi pori-pori tanah, banyaknya pori-pori tanah kurang lebih 50% dari volume tanah.
  • Susunan udara di dalam tanah adalah sebagai berikut:
  • Kandungan uap air lebih tinggi dibandingkan di udara
  • Tanah yang lembab mempunyai udara dengan kelembaban nisbi (relative humidity = RH) mendekati 100%
  • Kandungan CO2 lebih besar daripada di atmosfer (< 0,03%)
  • Kandungan O2 lebih kecil daripada di atmosfer (di tanah: 10 – 12 %, sedang di atmosfer 20%). Hal ini karena kegiatan dekomposisi bahan organik atau pernafasan organisme hidup dalam tanah dan akar-akar tanaman yang mengambil O2 dan melepaskan CO2.

PROFIL DAN SOLUM TANAH

  • Profil Tanah adalah penampang vertikal dari tanah yang menunjukkan susunan horison tanah.
  • Horison Tanah adalah lapisan-lapisan tanah yang terbentuk karena hasil dari proses pembentukan tanah.
  • Tanah adalah hasil dari proses pembentukan horison-horison tanah.
  • Solum Tanah adalah bagian dari tanah yang tersusun oleh horison A dan B.
  • Pedon adalah satuan individu terkecil dalam tiga dimensi yang masih dapat disebut tanah. Berukuran antara 1 – 10 m2, sehingga cukup luas untuk mempelajari sifat-sifat dan susunan horison tanah yang ada.
  • Polipedon adalah kumpulan dari pedon yang menunjukkan sifat-sifat yang sama. Tanah-tanah yang termasuk dalam satu satuan polipedon mempunyai sifat-sifat yang dimiliki oleh suatu seri tanah tertentu.

Lapisan-lapisan tanah dapat terbentuk oleh 2 hal, yaitu:

  • Pengendapan yang berulang-ulang oleh genangan air.
  • Proses pembentukan tanah.

Dimulai dari proses pelapukan batuan induk menjadi bahan induk tanah, diikuti proses percampuran bahan organik dengan bahan mineral di permukaan tanah, pembentukan struktur tanah, pemindahan bahan-bahan tanah dari bagian atas tanah ke bagian bawah dan berbagai proses lain yang menghasilkan horison-horison tanah.

Horison tanah dapat dibedakan menjadi 5, yaitu:

Horison O

  • Merupakan horison organik yang terbentuk di atas lapisan tanah mineral. Dapat ditemukan pada tanah-tanah hutan yang belum terganggu. Terbagi menjadi 2:
  • O1       : Bentuk asli sisa-sisa tanaman masih terlihat.
  • O2       : Bentuk asli sisa-sisa tanaman tidak terlihat.

Horison A

  • Merupakan horison di permukaan tanah yang terdiri dari campuran bahan organik dan bahan mineral. Sering disebut horison eluviasi yaitu horison yang mengalami pencucian.
  • A1       :Bahan mineral campur dengan humus, berwarna gelap
  • A2       :Horison dimana terdapat pencucian (eluviasi) maksimum terhadap liat, Fe dan horison A1.
  • A3       :Horison peralihan ke B, lebih menyerupai horison A

Horison B

•         Merupakan horison iluviasi (penimbunan) dari bahan-bahan yang tercuci diatasnya (liat, Fe, Al bahan organik).

–        B1       :           Peralihan dari A ke B, lebih menyerupai B

–        B2       :           Penimbunan (iluviasi) maksimum liat, Fe dan Al-oksida, dan kadang-kadang bahan organik.

–        B3       :           Peralihan ke C, lebih menyerupai B

Horison C

•         Bahan induk yang sedikit lapuk

Horison D atau R

•         Merupakan batuan keras yang belum mengalami pelapukan.

BAB IV

PENUTUP

KESIMPULAN

Lapisan tanah adalah formasi yang dibentuk oleh berbagai lapisan dalam tanah]] yang secara spesifik dapat dibedakan secara geologi, kimia, dan biologi, termasuk proses pembentukannya.

Setiap tanah biasanya memiliki tiga atau empat lapisan yang berbeda. Lapisan dibedakan umumnya pada keadaan fisik yang terlihat, warna dan tekstur adalah yang utama. Hal ini membawa pengklasifikasian lebih lanjut dalam hal tekstur tanah yang dipengaruhi ukuran partikel, seperti apakah tanah itu lebih berpasir atau lebih liat dari pada lapisan tanah di atas dan di bawahnya.

Sebagian besar jenis tanah mengacu pada pola utama lapisan tanah yang kadang-kadang disebut dengan lapisan tanah yang ideal. Setiap lapisan ditandai dengan huruf, dengan urutannya sebagai berikut: O-A-B-C-R.

Lapisan O

Huruf O menujukkan kata “organik”. lapisan ini disebut juga dengan humus. Lapisan ini didominasi oleh keberadaan material organik dalam jumlah besar yang berasal dari berbagai tingkat dekomposisi. Lapisan O ini tidak sama dengan lapisan dedaunan yang berada di atas tanah, yang sesungguhnya bukan bagian dari tanah itu sendiri.

Lapisan A

Lapisan A adalah lapisan atas dari tanah, sehingga diberi huruf A. Kondisi teknis dari lapisan A mungkin bervariasi, namun seringkali dijelaskan sebagai lapisan tanah yang relatif lebih dalam dari lapisan O. Lapisan ini memiliki warna yang lebih gelap dari pada lapisan yang berada di bawahnya dan mengandung banyak material organik. Dan mungkin lapisan ini lebih ringan dan mengandung lebih sedikit tanah liat. Lapisan A dikenal sebagai lapisan yang memiliki banyak aktivitas biologi. Organisme tanah seperti cacing tanah, arthropoda, nematoda, jamur, dan berbagai spesies bakteri dan bakteri archaea terkonsentrasi di sini, dan seringkali berhubungan dengan akar tanaman.

Lapisan B

Lapisan B umunya disebut lapisan tanah bawah, dan mengandung lapisan mineral yang mirip dengan lapisan mineral tanah liat seperti besi atau aluminium, atau material organik yang sampai ke lapisan tersebut oleh suatu proses kebocoran. Akar tanaman menembus lapisan tanah ini, namun lapisan ini sangat miskin material organik. Lapisan ini umumnya berwarna kecoklatan, atau kemerahan akibat tanah liat dan besi oksida yang terbilas dari lapisan A.

Lapisan C

Lapisan C dinamakan karena berada di bawah A dan B. lapisan ini sedikit dipengaruhi oleh keberadaan proses pembentukan tanah dari bawah. Lapisan C ini mungkin mengandung bebatuan yang belum mengalami proses pelapukan. Lapisan C juga mengandung material induk.

Lapisan D atau R

Lapisan R didefinisikan sebagai lapisan yang mengalami sebagian pelapukan bebatuan menjadi tanah. Berbeda dengan lapisan di atasnya, lapisan ini sangat padat dan keras dan tidak bisa digali dengan tangan.

Geografi Lingkungan Dan Sumberdaya

  1. Menurut anda apakah DAS merupakan sebuah ekosistem, jelaskan disertai konsepsi dasar manajemen DAS ?

Daerah aliran sungai (DAS) dapat diartikan sebagai kawasan yang dibatasi oleh pemisah topografis yang menampung, menyimpan dan mengalirkan air hujan yang jatuh di atasnya ke sungai yang akhirnya bermuara ke danau/laut (Manan, 1979).

DAS merupakan ekosistem yang terdiri dari unsur utama vegetasi, tanah, air dan manusia dengan segala upaya yang dilakukan di dalamnya (Soeryono, 1979). Sebagai suatu ekosistem, di DAS terjadi interaksi antara faktor biotik dan fisik yang menggambarkan keseimbangan masukan dan keluran berupa erosi dan sedimentasi. Secara singkat dapat disimpulkan bahwa pengertian DAS adalah sebagai berikut :
a) Suatu wilayah daratan yang menampung, menyimpan kemudian mengalirkanair hujan ke laut atau danau melalui satu sungai utama.
b) Suatu daerah aliran sungai yang dipisahkan dengan daerah lain oleh pemisah topografis sehingga dapat dikatakan seluruh wilayah daratan terbagi atas beberapa DAS.
c) Unsur-unsur utama di dalam suatu DAS adalah sumberdaya alam (tanah, vegetasi dan air) yang merupakan sasaran dan manusia yang merupakan pengguna sumberdaya yang ada.
d) Unsur utama (sumberdaya alam dan manusia) di DAS membentuk suatu ekosistem dimana peristiwa yang terjadi pada suatu unsur akan mempengaruhi unsur lainnya.

1. Konsep dasar manajemen bioregional

Gambar-1. Keseimbangan lingkungan hidup

(a). Penelusuran dan mengungkap faktor penyebab utama yang menimbulkan aspek  permasalahan, sebagai akibat tumbuh berkembangnya sosio-teknosistem yang cenderung mendesak keberadaan ekosistem alam suatu DAS.

(b). Sosiosistem, ditelusuri melalui pola  hidup masyarakat, tingkat pengetahuan  dan pendidikan, kesehatan,  pendapatan per kapita, tingkat  kepedulian terhadap potensi sumberdaya alam dan lingkungannya.

(c). Teknosistem, ditelusuri berda  sarkan aspek penggunaan tanah  baik untuk penerapan teknologi budidaya usaha tahi dan teknologi maupun pemanfaatan lain yang erat kaitannya dengan konservasi tanah dan air

(d). Ekosistem alam, ditelusuri berdasarkan tingkat degradasi yang terjadi atas peranan  fungsi jasa bio-eko-hidrologis tutupan vegetasi berdasarkan aspek penggunaan tanah.

(e). Penelusuran dan mengungkap wilayah terpengaruh, sebagai akibat yang ditimbulkan oleh bentuk-bentuk kegiatan di wilayah pengaruhnya.

(f). Membuatan analisis sebab akibat antara wilayah pengaruh dan wilayah yang dipengaruhi, hingga diperoleh gambaran upaya jalan keluarnya.

(g). Dengan demikian jelas bahwa yang ditelusuri dan diungkap permasalahannya adalah  faktor penyebab dan akibat yang muncul sebagai akibat kegiatan-kegiatan yang diolahdayakan oleh manusia.


2. Uraikan langkah penanganan/upaya pengendalian limbah (pilih salah satu dari berbagai jenis limbah)!

 

PENGENDALIAN LIMBAH RUMAH TANGGA

Indonesia merupakan negara dengan sistem sanitasi ( pengelolaan air limbah domestic ) terburuk ketiga di Asia Tenggara setelah Laos dan Myanmar ( ANTARA News, 2006 ). Menurut data Status Lingkungan Hidup Indonesia tahun 2002, tidak kurang dari 400.000 m3 / hari limbah rumah tangga dibuang langsung ke sungai dan tanah, tanpa melalui pengolahan terlebih dahulu. 61,5 % dari jumlah tersebut terdapat di Pulau Jawa. Pembuangan akhir limbah tinja umumnya dibuang menggunakan beberapa cara antara lain dengan menggunakan septic tank, dibuang langsung ke sungai atau danau, dibuang ke tanah , dan ada juga yang dibuang ke kolam atau pantai.

Di beberapa daerah pedesaan di Indonesia, masih banyak dijumpai masyarakat yang berada di bawah garis kemiskinan dengan sanitasi yang sangat minim. Masih sering dijumpai sebagian masyarakat yang membuang hajatnya di sungai karena tidak mempunyai saluran pembuangan khusus untuk pembuangan air limbah rumah tangga maupun air buangan dari kamar mandi. Bahkan terkadang masih dijumpai masyarakat yang membuang hajatnya di pekarangan rumahnya masing-masing. Hal ini terjadi selain disebabkan karena factor ekonomi, faktor kebiasaan yang sulit dirubah dan kualitas pendidikan yang relative rendah dari masyarakat pun memang sangat berpengaruh besar terhadap pola hidup masyarakat.

Berdasarkan perkiraan WHO/ UNICEF, sekitar 60 persen penduduk di kawasan pedesaan di Indonesia kekurangan akses terhadap sarana sanitasi yang pantas. Kegiatan mandi dan mencuci pakaian di sungai serta buang air besar di tempat terbuka membuat orang mudah terpapar penyakit, mengontaminasi air tanah dan permukaan, dan menurunkan kualitas tanah dan tempat tinggal. Perempuan dan anak-anak berada dalam risiko.

1.    PENGERTIAN SANITASI
Sanitasi adalah bagian dari system pembuangan air limbah, yang khususnya menyangkut pembuangan air kotor dari rumah tangga, dapat juga dari sisa-sisa proses industry, pertanian, peternakan dan rumah sakit (sector kesehatan).

Sanitasi juga merupakan suatu usaha untuk memberikan fasilitas di dalam rumah yang dapat menjamin agar rumah selalu bersih dan sehat. Tentunya tang ditunjang penyediaan air bersih yang cukup, dan pembuangan air kotoran yang lancar.

2.      AIR LIMBAH

Air Limbah adalah air buangan yang dihasilkan dari suatu proses pruduksi industri maupun domestik (rumah tangga), yang terkadang kehadirannya pada suatu saat dan tempat tertentu tidak dikehendaki lingkungan karena tidak memiliki nilai ekonomis. Dalam konsentrasi dan kuantitas tertentu, kehadiran limbah dapat berdampak negative terhadap lingkungan tertutama kesehatan manusia sehingga dilakukan penanganan terhadap limbah.

Air kotor adalah air bekas pakai yang sudah tidak memenuhi syarat kesehatan lagi dan harus dibuang agar tidak menimbulkan wabah penyakit
Beberapa hal yang berkaitan dengan pengertian dan kegiatan yang berhubungan dengan limbah cair menurut PP 82 tahun 2001 yaitu :
1. Air adalah semua air yang terdapat diatas dan dibawah permukaan tanah, kecuali air laut dan fosil.
2. Sumber air adalah wadah air yang terdapat diatas dan dibawah permukaan tanah, seperti, mata air, sungai, rawa, danau, waduk, dan muara.
3.    Pengelolaan kualitas air adalah upaya pemeliharaan air sehingga tercapai kualitas air yang diinginkan sesuai peruntukannya untuk menjamin kualitas tetap dalam kondisi alamiahnya.
4. Pengendalian pencemaran air adalah upaya pencegahan dan penanggulangan pencemaran air serta pemulihan kualitas air untuk menjamin kualitas air agar sesuai dengan baku mutu air.
5. Pencemaran air adalah masuknya  makhluk hidup, zat, energy, dan atau komponen lain kedalam air oleh kegiatan manusia sehingga kualitas air turun sampai ketingkat tertentu yang menyebabkan air tidak berfungsi lagi sesuai dengan peruntukannya.
6. Limbah cair adalah sisa dari sutu hasil usaha dan atau kegiatan yang berwujud cair.
7. Baku mutu limbah cair adalah, ukuran batas atau kadar unsure pencemar yang ditenggang keberadaannya dalam limbah cair yang akan dibuang atau dilepas kedalam sumber air dari suatu usaha atau kegiatan.

3. ALAT PEMBUANGAN AIR KOTOR

Alat pembuangan air kotor dapat berupa :
–    Kamar mandi, washtafel, keran cuci
–    WC
–    Dapur

Air dari kamar mandi tidak boleh dibuang bersama sama dengan air dari WC maupun dari dapur. Sehingga harus dibuatkan seluran masing-masing.

Diameter pipa pembuangan dari kamar mandi adalah 3” (7,5 cm), pipa pembuangan dari WC adalah 4”(10 cm), dan dari dapur boleh dipakai diameter 2”(5cm). pipa pembuangan dapat diletakkan pada suatu “shaft”, yaitu lobang menerus yang disediakan untuk tempat pipa air bersih dan pipa air kotor pada bangunan bertingkat untuk memudahkan pengontrolan. Atau dapat dipasang pada kolom-kolom beton dari atas sampai bawah.  Setelah sampai bawah, semua pipa air kotor harus merupakan saluran tertutup di dalam tanah agar tidak menimbulkan wabah penyakit dan bau tak sedap.
Dibawah lantai, semua pipa sanitasi diberi lobang control, yang sewaktu-waktu dapat dibuka bila terjadi kemacetan.

4.    JENIS-JENIS UNIT PENGOLAHAN AIR LIMBAH

a.    SEPTICTANK

Sistem septic tank sebenarnya adalah sumur rembesan atau sumur kotoran. Septic tank merupakan sitem sanitasi yang terdiri dari pipa saluran dari kloset, bak penampungan kotoran cair dan padat, bak resapan, serta pipa pelepasan air bersih dan udara.

Hal-hal yang yang harus diperhatikan saat pembangunan septic tank agar tidak mencemari air dan tanah sekitarnya adalah :

1. jarak minimal dari sumur air bersih sekurangnya 10m.

2. untuk membuang air keluaran dari septic tank perlu dibuat daerah resapan dengan lantai septic tank dibuat miring kearah ruang lumpur.

3. septic tank direncanakan utuk pembuangan kotoran rumah tangga dengan jumlah air limbah antara 70-90 % dari volume penggunaan air bersih.

4. waktu tinggal air limbah didalam tangki diperkirakan minimal 24 jam.

5. besarnya ruang lumpur diperkirakan untuk dapat menampung lumpur yang dihasilkan setiap orang rata-rata 30-40 liter/orang/tahun dan waktu pengambilan lumpur diperhitungkan 2-4 tahun.

6. pipa air masuk kedalam tangki hendaknya selalu lebih tinggi kurang lebh 2.5 cm dari pipa air keluar.

7. septic tank harus dilengkapi dengan lubang pemeriksaan dan lubang penghawaan untuk membuang gas hasil penguraian.

Agar septic tank tidak mudah penuh dan mampat, awet dan tahan lama perlu diperhatikan hal berikut :

1. Kemiringan Pipa
Kemiringan pipa menentukan kelancaran proses pembuangan limbah. Selisih ketinggian kloset dan permukaan air bak penampung kotoran minimal 2 %, artinya setiap 100cm terdapat perbedaan ketinggian 2cm.

2. Pemilihan Pipa yang tepat
Pipa saluran sebaiknya berupa PVC. Ukuran minimal adalah 4 inchi. Rumah yang memiliki jumlah toilet yang banyak sebaiknya menggunakan pipa yang lebih besar. Perancangan saluran diusahakan dibuat lurus  tanpa belokan, karena belokan atau sudut dapat membuat mampat.

3. Sesuaikan Kapasitas Septic tank
Untuk rumah tinggal dengan jumlah penghuni empat orang, cukup dibuat septic tank dengan ukuran (1.5×1.5×2)m. bak endapan dan sumur resapan bias dibuat dengan ukuran (1x1x2)m. semakin banyak penghuni rumah maka semakin besar ukuran yang dibutuhkan.

4. Bak Harus Kuat dan Kedap Air
Septic tank harus terbuat dari bahan yang tahan terhadap korosi, rapat air dan tahan lama. Konstruksi septic tank harus kuat menahan gaya-gaya yang timbul akibat tekanan air, tanah maupun beban lainnya.

SEPTICTANK

PROSES AIR LIMBAH DARI WC SAMPAI KEMBALI KE DALAM TANAH
Limbah dari WC melalui saluran, masuk ke septictank untuk diendapkan dan di saring, kemudian dialirkan ke Drain Field sehingga dapat masuk ke dalam air tanah.

b.    SUMUR RESAPAN
Sumur Resapan Air merupakan rekayasa teknik konversi air yang berupa bangunan yang dibuat sedemikian rupa sehingga menyerupai bentuk sumur gali dengan kedalaman tertentu yang digunakan sebagai tempat penampung air hujan diatas atap rumah dan meresapkannya ke dalam tanah.
Konstruksi Sumur Resapan Air (SRA) merupakan alternatif pilihan dalam mengatasi banjir banjir dan menurunnya permukaan air tanah pada kawasan perumahan, karena dengan pertimbangan :
1.    Pembuatan konstruksi SRA tidak memerlukan biaya besar.
2.    Tidak memerlukan biaya yang besar.
3.    Bentuk konstruksi SRA sederhana

Manfaat pembangunan Sumur Resapan Air antara lain :
1.    Mengurangi aliran permukaan dan mencegah terjadinya genangan air, sehingga mengurangi terjadinya banjir dan erosi.
2.    Mempertahankan tinggi muka air tanah dan menambah persediaan air
3.    mencegah menurunnya lahan sebagai akibat pengambilan air tanah yang berlebihan.


3. Jelaskan konsep, obyek dan pendekatan geografi!

  1. a.      Konsep Esensial Geografi

Konsep merupakan pengertian yang menunjuk pada sesuatu. Konsep esensial suatu bidang ilmu merupakan pengertian-pengertian untuk mengungkapan atau menggambaran corak abstrak fenomena esensial dari obyek material bidang kajian suatu ilmu. Oleh karena itu konsep dasar merupakan elemen yang penting dalam memahami fenomena yang terjadi.

Dalam geografi dikenali sejumlah konsep esensial sebagai berikut.

Menurut Whiple ada lima konsep esensial, yaitu:

  1. bumi sebagai planet
  2. variasi cara hidup
  3. variasi wilayah alamiah
  4. makna wilayah bagi manusia
  5. pentingnya lokasi dalam memahami peristiwa dunia

Dalam mengungkapkan konsep geografi itu harus selalu dihubungkan dengan penyebarannya, relasinya, fungsinya, bentuknya, proses terjadinya, dan lain-lain sebagainya. Sebagai contoh ungkapan konsep “variasi cara hidup” setidaknya harus terabstraksikan mata pencaharian penduduk, proses terbentuknya mata pencaharian itu, penyebaran mata pencaharian itu, jumlah penduduk yang bekerja pada masing-masing mata pencaharian itu, dan dinamika mata pencaharian itu.

Menurut J Warman ada lima belas konsep esensial, yaitu:

  1. wilayah atau regional
  2. lapisan hidup atau biosfer
  3. manusia sebagai faktor ekologi dominan
  4. globalisme atau bumi sebagai planet
  5. interaksi keruangan
  6. hubungan areal
  7. persamaan areal
  8. perbedaan areal
  9. keunikan areal
  10. persebaran areal
  11. lokasi relatif
  12. keunggulan komparatif
  13. perubahan yang terus menerus
  14. sumberdaya dibatasi secara budaya
  15. bumi bundar diatas kertas yang datar atau peta

Dengan menggunakan konsep-konsep tersebut dapat diungkapkan berbagai gejala dan berbagai masalah yang terjadi di lingkungan sekitar kita. Penggunaan konsep itu akan memudahkan pemahaman terhadap sebab akibat, hubungan, fungsi, proses terjadinya gejala dan masalah sehari-hari. Selanjutnya dari kenyataan itu dikembangkan menjadi satu abstraksi, disusun model-model atau teori berkaitan dengan gejala, masalah dan fakta yang dihadapi. Jika ada satu masalah dapat dicoba disusun model alternatif pemecahannya. Sedangkan jika yang dihadapi suatu kenyaan kehidupan yang perlu ditingkatkan tarapnya, maka dapat disusun model dan pola pengembangan kehidupan itu. Dari berbagai konsep itu dapat disusun suatu kaidah yang tingkatnya tinggi dan berlaku secara umum yang disebut generalisasi.

2. Obyek Geografi

Setiap disiplin ilmu memilki obyek yang menjadi bidang kajiannya.

Obyek bidang ilmu tersebut berupa obyek matrial dan obyek formal. Obyek material berkaitan dengan substansi materi yang dikaji, sedangkan obyek formal berkaitan dengan pendekatan (cara pandang) yang digunakan dalam menganalisis substansi (obyek material) tersebut.

Pada obyek material, antara bidang ilmu yang satu dengan bidang ilmu yang lain dapat memiliki substansi obyek yang sama atau hampir sama.Obyek material ilmu geografi adalah fenomena geosfer, yang meliputi litosfer, hidrosfer, atmosfer, biosfer, dan antroposfer. Obyek materal itu juga menjadi bidang kajian bagi disiplin ilmu lain, seperti geologi, hidrologi, biologi, fisika, kimia, dan disiplin ilmu lain. Sebagai contoh obyek material tanah atau batuan. Obyek itu juga menjadi bidang kajian bagi geologi, agronomi, fisika, dan kimia.

Oleh karena itu untuk membedakan disiplin ilmu yang satu dengan disiplin ilmu yang lain dapat dilakukan dengan menelaah obyek formalnya. Obyek formal geografi berupa pendekatan (cara pandang) yang digunakan dalam memahami obyek material. Dalam konteks itu geografi memilki pendekatan spesifik yang membedakan dengan ilmu-ilmu lain. Pendekatan spesifik itu dikenal dengan pendekatan keruangan (spatial approach). Selain pendekatan keruangan tersebut dalam geografi juga dikenali adanya pendekatan kelingkungan (ecological approach), dan pendekatan kompleks wilayah (regional complex approach)


4. Jelaskan konsep lingkungan, pengelolaan lingkungan, pembangunan berkelanjutan (dgn kasus aktual)

PEMBANGUNAN BERKELANJUTAN, LINGKUNGAN HIDUP DAN OTONOMI DAERAH

Manusia dalam memenuhi kebutuhan hidupnya memerlukan sumberdaya alam, yang berupa tanah, air dan udara dan sumberdaya alam yang lain yang termasuk ke dalam sumberdaya alam yang terbarukan maupun yang tak terbarukan. Namun demikian harus disadari bahwa sumberdaya alam yang kita perlukan mempunyai keterbatasan di dalam banyak hal, yaitu keterbatasan tentang ketersediaan menurut kuantitas dan kualitasnya. Sumberdaya alam tertentu juga mempunyai keterbatasan menurut ruang dan waktu. Oleh sebab itu diperlukan pengelolaan sumberdaya alam yang baik dan bijaksana. Antara lingkungan dan manusia saling mempunyai kaitan yang erat. Ada kalanya manusia sangat ditentukan oleh keadaan lingkungan di sekitarnya, sehingga aktivitasnya banyak ditentukan oleh keadaan lingkungan di sekitarnya.
Keberadaan sumberdaya alam, air, tanah dan sumberdaya yang lain menentukan aktivitas manusia sehari-hari. Kita tidak dapat hidup tanpa udara dan air. Sebaliknya ada pula aktivitas manusia yang sangat mempengaruhi keberadaan sumberdaya dan lingkungan di sekitarnya. Kerusakan sumberdaya alam banyak ditentukan oleh aktivitas manusia. Banyak contoh kasus-kasus pencemaran dan kerusakan lingkungan yang diakibatkan oleh aktivitas manusia seperti pencemaran udara, pencemaran air, pencemaran tanah serta kerusakan hutan yang kesemuanya tidak terlepas dari aktivitas manusia, yang pada akhirnya akan merugikan manusia itu sendiri.
Pembangunan yang mempunyai tujuan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat tidak dapat terhindarkan dari penggunaan sumberdaya alam; namun eksploitasi sumberdaya alam yang tidak mengindahkan kemampuan dan daya dukung lingkungan mengakibatkan merosotnya kualitas lingkungan. Banyak faktor yang menyebabkan kemerosotan kualitas lingkungan serta kerusakan lingkungan yang dapat diidentifikasi dari pengamatan di lapangan, oleh sebab itu dalam makalah ini dicoba diungkap secara umum sebagai gambaran potret lingkungan hidup, khususnya dalam hubungannya dengan pengelolaan lingkungan hidup di era otonomi daerah.

PEMBANGUNAN NASIONAL DAN PEMBANGUNAN BERKELANJUTAN

Pembangunan Nasional merupakan rangkaian upaya pembangunan yang berkesinambungan yang meliputi seluruh kehidupan masyarakat, bangsa dan negara untuk melaksanakan tugas mewujudkan tujuan nasional yang termaktub dalam Pembukaan Undangundang Dasar 1945. Dalam melaksanakan pembangunan nasional perlu memperhatikan tiga pilar pembangunan berkelanjutan secara seimbang, hal ini sesuai dengan hasil Konperensi PBB tentang Lingkungan Hidup yang diadakan di Stockholm Tahun 1972 dan suatu Deklarasi Lingkungan Hidup KTT Bumi di Rio de Janeiro Tahun 1992 yang menyepakati prinsip dalam pengambilan keputusan pembangunan harus memperhatikan dimensi lingkungan dan manusia serta KTT Pembangunan Berkelanjutan di Johannesburg Tahun 2002 yang membahas dan mengatasi kemerosotan kualitas lingkungan hidup.
Bagi Indonesia mengingat bahwa kontribusi yang dapat diandalkan dalam menyumbang pertumbuhan ekonomi dan sumber devisa serta modal pembangunan adalah dari sumberdaya alam, dapat dikatakan bahwa sumberdaya alam mempunyai peranan penting dalam perekonomian Indonesia baik pada masa lalu, saat ini maupun masa mendatang sehingga, dalam penerapannya harus memperhatikan apa yang telah disepakati dunia internasional. Namun demikian, selain sumberdaya alam mendatangkan kontribusi besar bagi pembangunan, di lain pihak keberlanjutan atas ketersediaannya sering diabaikan dan begitu juga aturan yang mestinya ditaati sebagai landasan melaksanakan pengelolaan suatu usaha dan atau kegiatan mendukung pembangunan dari sektor ekonomi kurang diperhatikan, sehingga ada kecenderungan terjadi penurunan daya dukung lingkungan dan menipisnya ketersediaan sumberdaya alam yang ada serta penurunan kualitas lingkungan hidup. Pengelolaan sumberdaya alam dan lingkungan hidup yang tidak dilakukan sesuai dengan daya dukungnya dapat menimbulkan adanya krisis pangan, krisis air, krisis energi dan lingkungan. Secara umum dapat dikatakan bahwa hampir seluruh jenis sumberdaya alam dan komponen lingkungan hidup di Indonesia cenderung mengalami penurunan kualitas dan kuantitasnya dari waktu ke waktu.
Dalam pelaksanaan pembangunan di era Otonomi Daerah, pengelolaan lingkungan hidup tetap mengacu pada Undang-undang No 23 tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup dan juga Undang-undang No 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah serta Undang-undang No 33 Tahun 2004 Tentang Perimbangan Keuangan Pusat dan Daerah. Dalam melaksanakan kewenangannya diatur dengan Peraturan Pemerintah No 25 Tahun 2000 tentang Kewenangan Pemerintah dan Kewenangan Propinsi sebagai Daerah Otonom. Dalam pengelolaan lingkungan hidup Pemerintah Propinsi mempunyai 6 kewenangan terutama menangani lintas Kabupaten/Kota, sehingga titik berat penanganan pengelolaan lingkungan hidup ada di Kabupaten/ Kota. Dalam surat edaran Menteri Dalam Negeri No 045/560 tanggal 24 Mei 2002 tentang pengakuan Kewenangan/Positif List terdapat 79 Kewenangan dalam bidang lingkungan hidup.
Sejalan dengan lajunya pembangunan nasional yang dilaksanakan permasalahan lingkungan hidup yang saat ini sering dihadapi adalah kerusakan lingkungan di sekitar areal pertambangan yang berpotensi merusak bentang alam dan adanya tumpang tindih penggunaan lahan untuk pertambangan di hutan lindung. Kasus-kasus pencemaran lingkungan juga cenderung meningkat. Kemajuan transportasi dan industrialisasi yang tidak diiringi dengan penerapan teknologi bersih memberikan dampak negatif terutama pada lingkungan perkotaan.
Sungai-sungai di perkotaan tercemar oleh limbah industri dan rumah tangga. Kondisi tanah semakin tercemar oleh bahan kimia baik dari sampah padat, pupuk maupun pestisida. Masalah pencemaran ini disebabkan masih rendahnya kesadaran para pelaku dunia usaha ataupun kesadaran masyarakat untuk hidup bersih dan sehat dengan kualitas lingkungan yang baik.
Dengan kata lain permasalahan lingkungan tidak semakin ringan namun justru akan semakin berat, apalagi mengingat sumberdaya alam dimanfaatkan untuk melaksanakan pembangunan yang bertujuan memenuhi dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Dengan kondisi tersebut maka pengelolaan sumberdaya alam dan lingkungan hidup yang berkelanjutan ditingkatkan kualitasnya dengan dukungan penegakan hukum lingkungan yang adil dan tegas, sumberdaya manusia yang berkualitas, perluasan penerapan etika lingkungan serta asimilasi sosial budaya yang semakin mantap. Perlu segera didorong terjadinya perubahan cara pandang terhadap lingkungan hidup yang berwawasan etika lingkungan melalui internalisasi kedalam kegiatan/proses produksi dan konsumsi, dan menanamkan nilai dan etika lingkungan dalam kehidupan sehari-hari termasuk proses pembelajaran sosial serta pendidikan formal pada semua tingkatan.
Dalam pelaksanaan pembangunan nasional yang berkelanjutan, sektor Sumberdaya Alam dan Lingkungan Hidup perlu memperhatikan penjabaran lebih lanjut mandat yang terkandung dari Program Pembangunan Nasional, yaitu pada dasarnya merupakan upaya untuk mendayagunakan sumberdaya alam yang dipergunakan sebesar besarnya untuk kemakmuran rakyat dengan memperhatikan kelestarian fungsi dan keseimbangan lingkungan hidup, pembangunan yang berkelanjutan, kepentingan ekonomi dan budaya masyarakat lokal sertapenataan ruang.
Hasil KTT Pembangunan Berkelanjutan (World Summit on Sustainable Development – WSSD) di Johannesburg Tahun 2002, Indonesia aktif dalam membahas dan berupaya mengatasi kemerosotan kualitas lingkungan hidup, maka diputuskan untuk melaksanakan pembangunan berkelanjutan untuk kesejahteraan generasi sekarang dan yang akan datang dengan bersendikan pada pembangunan ekonomi, sosial budaya, lingkungan hidup yang berimbang sebagai pilar-pilar yang saling tergantung dan memperkuat satu sama lain. Pembangunan berkelanjutan dirumuskan sebagai pembangunan yang memenuhi kebutuhan masa kini tanpa mengorbankan hak pemenuhan kebutuhan generasi mendatang. Pembangunan berkelanjutan mengandung makna jaminan mutu kehidupan manusia dan tidak melampaui kemampuan ekosistem untuk mendukungnya. Dengan demikian pengertian pembangunan berkelanjutan adalah pembangunan untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan pada saat ini tanpa mengurangi kemampuan generasi yang akan datang dalam memenuhi kebutuhan-kebutuhan mereka. Konsep ini mengandung dua unsur :

  • Yang pertama adalah kebutuhan, khususnya kebutuhan dasar bagi golongan
    masyarakat yang kurang beruntung, yang amat perlu mendapatkan prioritas tinggi dari semua negara.
  • Yang kedua adalah keterbatasan. Penguasaan teknologi dan organisasi sosial harus
    memperhatikan keterbatasan kemampuan lingkungan untuk memenuhi kebutuhan manusia pada saat ini dan di masa depan.

Hal ini mengingat visi pembangunan berkelanjutan bertolak dari Pembukaan Undang – Undang Dasar 1945 yaitu terlindunginya segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia; tercapainya kesejahteraan umum dan kehidupan bangsa yang cerdas; dan dapat berperannya bangsa Indonesia dalam melaksankan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial. Dengan demikian, visi pembangunan yang kita anut adalah pembangunan yang dapat memenuhi aspirasi dan kebutuhan masyarakat generasi saat ini tanpa mengurangi potensi pemenuhan aspirasi dan kebutuhan generasi mendatang. Oleh karena itu fungsi lingkungan hidup perlu terlestarikan.
Kebijakan pembangunan Nasional menerapkan prinsip pembangunan berkelanjutan yang memadukan ketiga pilar pembangunan yaitu bidang ekonomi, sosial dan lingkungan hidup.
Dalam penerapan prinsip Pembangunan Berkelanjutan tersebut pada Pembangunan Nasional memerlukan kesepakatan semua pihak untuk memadukan tiga pilar pembangunan secara proposional. Sejalan dengan itu telah diupayakan penyusunan Kesepakatan Nasional dan Rencana Tindak Pembangunan Berkelanjutan melalui serangkaian pertemuan yang diikuti oleh berbagai pihak.
Konsep pembangunan berkelanjutan timbul dan berkembang karena timbulnya kesadaran bahwa pembangunan ekonomi dan sosial tidak dapat dilepaskan dari kondisi lingkungan hidup.

KEBIJAKAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP DALAM OTONOMI DAERAH

Pengelolaan lingkungan termasuk pencegahan, penanggulangan kerusakan dan pencemaran serta pemulihan kualitas lingkungan telah menuntut dikembangkannya berbagai perangkat kebijaksanaan dan program serta kegiatan yang didukung oleh sistem pendukung pengelolaan lingkungan lainnya. Sistem tersebut mencakup kemantapan kelembagaan,sumberdaya manusia dan kemitraan lingkungan, disamping perangkat hukum dan perundangan,informasi serta pendanaan. Sifat keterkaitan (interdependensi) dan keseluruhan (holistik) dari esensi lingkungan telah membawa konsekuensi bahwa pengelolaan lingkungan, termasuk sistem pendukungnya tidak dapat berdiri sendiri, akan tetapi terintegrasikan dan menjadi roh dan bersenyawa dengan seluruh pelaksanaan pembangunan sektor dan daerah.

Kebijakan Nasional dan Daerah dalam Pengelolaan Lingkungan Hidup.

Sesuai dengan Undang-undang 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah dan PP No. 25 Tahun 2000 tentang Kewenangan Pemerintah dan Kewenangan Propinsi sebagai Daerah Otonom, dalam bidang lingkungan hidup memberikan pengakuan politis melalui transfer otoritas dari pemerintah pusat kepada daerah:

  • Meletakkan daerah pada posisi penting dalam pengelolaan lingkungan hidup.
  • Memerlukan prakarsa lokal dalam mendesain kebijakan.
  • Membangun hubungan interdependensi antar daerah.
  • Menetapkan pendekatan kewilayahan.

Dapat dikatakan bahwa konsekuensi pelaksanaan UU No. 32 Tahun 2004 dengan PP No. 25 Tahun 2000, Pengelolaan Lingkungan Hidup titik tekannya ada di Daerah, maka kebijakan nasional dalam bidang lingkungan hidup secara eksplisit PROPENAS merumuskan program yang disebut sebagai pembangunan sumberdaya alam dan lingkungan hidup. Program itu mencakup :

  1. Program Pengembangaan dan Peningkatan Akses Informasi Sumber Daya Alam dan Lingkungan Hidup.

Program ini bertujuan untuk memperoleh dan menyebarluaskan informasi yang lengkap mengenai potensi dan produktivitas sumberdaya alam dan lingkungan hidup melalui inventarisasi dan evaluasi, serta penguatan sistem informasi. Sasaran yang ingin dicapai melalui program ini adalah tersedia dan teraksesnya informasi sumberdaya alam dan lingkungan hidup, baik berupa infrastruktur data spasial, nilai dan neraca sumberdaya alam dan lingkungan hidup oleh masyarakat luas di setiap daerah.

  1. Program Peningkatan Efektifitas Pengelolaan, Konservasi dan Rehabilitasi Sumber Daya Alam.

Tujuan dari program ini adalah menjaga keseimbangan pemanfaatan dan pelestarian sumberdaya alam dan lingkungan hidup hutan, laut, air udara dan mineral. Sasaran yang akan dicapai dalam program ini adalah termanfaatkannya, sumber daya alam untuk mendukung kebutuhan bahan baku industri secara efisien dan berkelanjutan. Sasaran lain di program adalah terlindunginya kawasan-kawasan konservasi dari kerusakan akibat pemanfaatan sumberdaya alam yang tidak terkendali dan eksploitatif

  1. Program Pencegahan dan Pengendalian Kerusakan dan Pencemaran Lingkungan Hidup.

Tujuan program ini adalah meningkatkan kualitas lingkungan hidup dalam upaya mencegah kerusakan dan/atau pencemaran lingkungan dan pemulihan kualitas lingkungan yang rusak akibat pemanfaatan sumberdaya alam yang berlebihan, serta kegiatan industri dan transportasi. Sasaran program ini adalah tercapainya kualitas lingkungan hidup yang bersih dan sehat adalah tercapainya kualitas lingkungan hidup yang bersih dan sehat sesuai dengan baku mutu lingkungan yang ditetapkan.

  1. Program Penataan Kelembagaan dan Penegakan Hukum, Pengelolaan Sumber Daya Alam dan Pelestarian Lingkungan Hidup.

Program ini bertujuan untuk mengembangkan kelembagaan, menata sistem hukum, perangkat hukum dan kebijakan, serta menegakkan hukum untuk mewujudkan pengelolaan sumberdaya alam dan pelestarian lingkungan hidup yang efektif dan berkeadilan. Sasaran program ini adalah tersedianya kelembagaan bidang sumber daya alam dan lingkungan hidup yang kuat dengan didukung oleh perangkat hukum dan perundangan serta terlaksannya upaya penegakan hukum secara adil dan konsisten.

  1. Progam Peningkatan Peranan Masyarakat dalam Pengelolaan Sumber Daya alam dan Pelestarian fungsi Lingkungan Hidup.

Tujuan dari program ini adalah untuk meningkatkan peranan dan kepedulian pihak-pihak yang berkepentingan dalam pengelolaan sumberdaya alam dan pelestarian fungsi lingkungan hidup. Sasaran program ini adalah tersediaanya sarana bagi masyarakat dalam pengelolaan sumberdaya alam dan pelestarian fungsi lingkungan hidup sejak proses perumusan kebijakan dan pengambilan keputusan, perencanaan, pelaksanaan sampai pengawasan.

Kebijakan Nasional dan Daerah dalam Penegakan Hukum Lingkungan

Sisi lemah dalam pelaksanaan peraturan perundangan lingkungan hidup yang menonjol adalah penegakan hukum, oleh sebab itu dalam bagian ini akan dikemukakan hal yang terkait dengan penegakan hukum lingkungan. Dengan pesatnya pembangunan nasional ang dilaksanakan yang tujuannya meningkatkan kesejahteraan masyarakat, ada beberapa sisi lemah, yang menonjol antara lain adalah tidak diimbangi ketaatan aturan oleh pelaku pembangunan atau sering mengabaikan landasan aturan yang mestinya sebagai pegangan untuk dipedomani dalam melaksanakan dan mengelola usaha dan atau kegiatannya, khususnya menyangkut bidang sosial dan lingkungan hidup, sehingga menimbulkan permasalahan lingkungan. Oleh karena itu, sesuai dengan rencana Tindak Pembangunan Berkelanjutan dalam Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup dilakukan meningkatkan kualitas lingkungan melalui upaya pengembangan sistem hukum, instrumen hukum, penaatan dan penegakan hukum termasuk instrumen alternatif, serta upaya rehabilitasi lingkungan. Kebijakan daerah dalam mengatasi permasalahan lingkungan hidup khususnya permasalahan kebijakan dan penegakan hukum yang merupakan salah satu permasalahan lingkungan hidup di daerah dapat meliputi :

  • Regulasi Perda tentang Lingkungan.
  • Penguatan Kelembagaan Lingkungan Hidup.
  • Penerapan dokumen pengelolaan lingkungan hidup dalam proses perijinan
  • Sosialisasi/pendidikan tentang peraturan perundangan dan pengetahuan lingkungan hidup.
  • Meningkatkan kualitas dan kuantitas koordinasi dengan instansi terkait dan stakeholders
  • Pengawasan terpadu tentang penegakan hukum lingkungan.
  • Memformulasikan bentuk dan macam sanksi pelanggaran lingkungan hidup. Peningkatan kualitas dan kuantitas sumberdaya manusia.
  • Peningkatan pendanaan dalam pengelolaan lingkungan hidup.

Pengelolaan Lingkungan Hidup adalah upaya terpadu untuk melestarikan fungsi lingkungan hidup yang meliputi kebijakan penataan, pemanfaatan, pengembangan, pemeliharaan, pemulihan, pengawasan dan pengendalian lingkungan hidup, sedangkan yang dimaksud lingkungan hidup adalah kesatuan ruang dengan semua benda, daya, keadaan dan makhluk hidup termasuk manusia dan perilakunya yang mempengaruhi kelangsungan perikehidupan dan kesejahteraan manusia serta makhluk hidup lain. Kondisi lingkungan hidup dari waktu ke waktu ada kecenderungan terjadi penurunan kualitasnya, penyebab utamanya yaitu karena pada tingkat pengambilan keputusan, kepentingan pelestarian sering diabaikan sehingga menimbulkan adanya pencemaran dan kerusakan lingkungan. Dengan terjadinya pencemaran dan kerusakan lingkungan ternyata juga menimbulkan konflik sosial maupun konflik lingkungan.
Dengan berbagai permasalahan tersebut diperlukan perangkat hukum perlindungan terhadap lingkungan hidup, secara umum telah diatur dengan Undang-undang No.4 Tahun 1982.
Namun berdasarkan pengalaman dalam pelaksanaan berbagai ketentuan tentang penegakan hukum sebagaimana tercantum dalam Undang-undang Lingkungan Hidup, maka dalam Undang-Undang Pengelolaan Lingkungan Hidup diadakan berbagai perubahan untuk memudahkan penerapan ketentuan yang berkaitan dengan penegakan hukum lingkungan yaitu Undang-undang No 4 Tahun 1982 diganti dengan Undang-undang No.23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup dan kemudian diatur lebih lanjut dalam peraturan pelaksanaanya.Undang-undang ini merupakan salah satu alat yang kuat dalam melindungi lingkungan hidup. Dalam penerapannya ditunjang dengan peraturan perundang-undangan sektoral. Hal ini mengingat Pengelolaan Lingkungan hidup memerlukan koordinasi dan keterpaduan secara sektoral dilakukan oleh departemen dan lembaga pemerintah non-departemen sesuai dengan bidang tugas dan tanggungjawab masing-masing, seperti Undang-undang No. 22 Th 2001 tentang Gas dan Bumi, UU No. 41 Th 1999 tentang kehutanan, UU No. 24 Th 1992 tentang Penataan Ruang dan diikuti pengaturan lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah, Keputusan Presiden, Keputusan Menteri, Peraturan Daerah maupun Keputusan Gubernur.

  1. A.    Berita tentang pengelolaan lingkungan dan pembangunan berkelanjutan

Membumikan Program Sekolah Hijau

  • Oleh Noer Indah Aprianti

Pembelajaraan atau program sekolah hijau dapat diarahkan agar siswa mampu menempatkan dirinya sebagai generasi penerus bangsa sadar lingkungan

GLOBALISASI tidak selalu membawa dampak positif bagi perkembangan umat manusia. Fakta membuktikan sampai saat ini efek rumah kaca, polusi gas buang, dan perilaku menyimpang dari pengelola pabrik yang tidak menaati aturan baku pembuangan limbah menyebabkan perubahan iklim yang tentunya akan berdampak bagi kondisi fisik lingkungan dan manusia.

Mencermati proses dan hasil pembangunan selama ini, secara umum upaya itu telah berhasil meningkatkan kesejahteraan masyarakat, baik dari segi kualitas maupun kuantitas, meskipun dalam kondisi jumlah penduduk yang makin meningkat.

Namun sebagian dari pelaksanaan pembangunan yang memanfaatkan potensi sumber daya alam ternyata berdampak pada kerusakan atau penurunan kualitas daya dukung lingkungan karena tidak diiikuti dengan upaya pelestarian lingkungan yang memadai.

Upaya mengimbangi kondisi itu selama ini banyak dilakukan oleh pemerintah ataupun korporasi yang punya kegiatan berbentuk kegiatan sosial atau sering disebut corporate social responsibility (CSR), namun pelaksanaan kegiatan tersebut masih berkisar pada aksi mendongkrak popularitas karena sifatnya tidak menyeluruh, responsif, dan berkelanjutan. Kadang hanya dimaknai sebagai upaya pencitraan atau bagian dari pemasaran.

Menyeluruh artinya melibatkan seluruh komponen yang ada bukan hanya pemerintah dan perusahaan tersebut melainkan juga masyarakat sebagai subjeknya.

Responsif artinya mengikuti kebutuhan yang ada, yakni kebutuhan atas berbagai kerusakan yang harus segera dibenahi, dan terakhir berkelanjutan yaitu program kerja yang harus dilakukan secara terus-menerus. Dari sifat-sifat itu, tampak aspek berkelanjutan banyak dikesampingkan. Peningkatan kualitas lingkungan yang dilakukan seyogianya harus memuat keberlanjutan.

Keberlanjutan bukan hanya upaya terus-menerus terkait perilaku pelestarian lingkungan, tetapi keberlanjutan yang dimaksud adalah secara terus-menerus mengubah cara pandang generasi selanjutnya (peserta didik) yang terlibat langsung dalam perilaku pengelolaan lingkungan.
Sadar Lingkungan Semangat perubahan perilaku sebagai salah satu upaya membentuk generasi sadar lingkungan saat ini tampaknya perlu dikampanyekan melalui berbagai cara. Pencapaian target perubahan pola bagi generasi kita nanti dilindungi dengan amanat konstitusi sebagaimana dikatakan oleh Jimly Asyidiqi tentang Green Constitutions yang sangat populer dalam kaitannya terhadap hukum lingkungan.

Konsep konstitusi hijau itu sebenarnya sudah tercermin dalam Pasal 33 UUD 1945 yang dikenal sebagai pasal yang  mengatur pengelolaan ekonomi. Ayat (Ke-4) pasal itu menyebutkan,’’ Perekonomian nasional diselenggarakan berdasarkan demokrasi ekonomi dengan prinsip kebersamaan, efisiensi berkeadilan, berkelanjutan, berwawasan lingkungan, kemandirian, serta dengan menjaga keseimbangan kemajuan dan kesatuan ekonomi nasional’’.
Jika amanat konstitusi menjunjung tinggi pengelolaan lingkungan, sudah sepantasnya dalam setiap generasi saat ini harus punya ’’karakter hijau’’ yang artinya menempatkan upaya sadar lingkungan sebagai prioritas dalam menjalankan setiap aktivitasnya, apapun status mereka.

Tentunya, jika konstitusi kita mengamanatkan demikian, sepantasnya hal ini menjadi tanggung jawab semua elemen untuk merealisasikannya. Salah satu upaya yang sepatutnya dilakukan untuk menindaklanjuti hal itu adalah membangun pola pikir generasi muda melalui fungsi pendidikan.

Fungsi pendidikan lingkungan merupakan penerapan dari pendidikan hijau dengan memasukkan salah satu mata pelajaran dalam mata pelajarannya dengan kurikulum berbasis green school program atau program sekolah hijau. Pembelajaran sekolah hijau dapat diarahkan agar siswa mampu menempatkan dirinya sebagai penerus bangsa sadar lingkungan dan mampu menjalankan fungsinya dengan baik menjaga lingkungan.

Pengupayaan kurikulum berbasis green school program memerlukan partisipasi semua pihak, yaitu masyarakat, perusahaan, pemerintah, LSM, ormas, organisasi wanita dan sebagainya. Dalam konteks ini,  kapasitas pemerintah punya peran penting dalam mengarahkan agar program berbasis sekolah hijau tersebut dapat terealisasi dengan baik, dan menjadi sebuah kesadaran. (10)

— Noer Indah Aprianti, Kepala SMP 1 Mranggen Kabupaten Demak


5. Jelaskan perbedaan antara sikap dan perilaku. Berikan contoh dlm pengelolaan lingkungan!

Sikap adalah pernyataan evaluatif terhadap objek, orang atau peristiwa. Hal ini mencerminkan perasaan seseorang terhadap sesuatu

Perilaku manusia adalah sekumpulan perilaku yang dimiliki oleh manusia dan dipengaruhi oleh adat, sikap, emosi, nilai, etika, kekuasaan, persuasi, dan/atau genetika.

Perilaku seseorang dikelompokkan ke dalam perilaku wajar, perilaku dapat diterima, perilaku aneh, dan perilaku menyimpang. Dalam sosiologi, perilaku dianggap sebagai sesuatu yang tidak ditujukan kepada orang lain dan oleh karenanya merupakan suatu tindakan sosial manusia yang sangat mendasar.Perilaku tidak boleh disalahartikan sebagai perilaku sosial, yang merupakan suatu tindakan dengan tingkat lebih tinggi, karena perilaku sosial adalah perilaku yang secara khusus ditujukan kepada orang lain.Penerimaan terhadap perilaku seseorang diukur relatif terhadap norma sosial dan diatur oleh berbagai kontrol sosial. Dalam kedokteran perilaku seseorang dan keluarganya dipelajari untuk mengidentifikasi faktor penyebab, pencetus atau yang memperberat timbulnya masalah kesehatan. Intervensi terhadap perilaku seringkali dilakukan dalam rangka penatalaksanaan yang holistik dan komprehensif

hubungan yang diterima tentang sikap dan perilaku ditentang oleh sebuah tinjauan dari penelitian. Berdasarkan evaluasi sejumlah penelitian yang menyelidiki hubungan sikap-perilaku, peninjau menyimpulkan bahwa sikap tidak berhubungan dengan perilaku atau, paling banyak, hanya berhubungan sedikit. Penelitian terbaru menunjukkan bahwa sikap memprediksi perilaku masa depan secara signifikan dan memperkuat keyakinan semula dari Festinger bahwa hubungan tersebut bisa ditingkatkan dengan memperhitungkan variabel-variabel pengait.

Pengelolaan lingkungan hidup merupakan upaya terpadu untuk melestarikan fungsi lingkungan hidup yang meliputi kebijaksanaan penataan, pemanfaatan, pengembangan, pemeliharaan, pemulihan, pengawasan dan pengendalian lingkungan hidup.Dasar dan prinsip pengelolaan lingkungan hidup adalah untuk mencapai kelestarian hubungan manusia dengan lingkungan hidup sehingga dapat membangun manusia seutuhnya dan mewujudkan manusia sebagai bagian lingkungan hidup dan tidak akan dapat dipisahkan.Untuk memberikan dasar hukum yang kuat tentang usaha pemerintah dan lembaga swadaya masyarakat dalam melaksanakan pelestarian alam maka di buat peraturan perundang-undangan tentang lingkunngan.
? UU RI No.5 tahun 1990 tentang konservasi sumber daya alam dan ekosistemnya.? UU RI No.51 tahun 1993 tentang analisis mengenai dampak lingkungan.
Untuk memperkecil pencemaran, pada saat ini pemerintah menyusun dokumen AMDAL (Analisis Mengenai Dampak Lingkungan) bagi kegiatan yang diduga menimbulkan pencemaran.“Pemerintah menguasai sumber daya alam dan dipergunakan sebesar-besarnya bagi kemakmuran rakyat, beserta pengaturannya ada di tangan pemerintah” Untuk melaksanakan ketentuan sebagaimana dimaksud maka pemerintah mengatur mengatur beberapa langkah diantaranya:1. mengatur dan mengembangkan kebijakan dalam rangka pengelolaan lingkungan hidup.2. mengatur penyediaan, peruntukan, penggunaan, pengelolaan lingkungan hidup dan pemanfaatan kembali sumber daya alam termasuk sumber daya alam genetika
Wewenang pemerintah daerah sesuai dengan pasal 25 :
5. Gubernur/Kepala Daerah Tingkat 1 berwenang melakukan paksaan pemerintah terhadap penanggungjawab dan atau kegiatan untuk mencegah dan mengakhiri terjadinya pelanggaran serta menanggulangi akibat yang di timbulkan dari suatu pelanggaran. Melakukan tindakan penanggulangan dan pemulihan.6. Wewenang sebagai mana dimaksud dapat diserahkan pada Bupati/Walikotamadya/Kepala Daerah Tingkat II dengan peraturan daerah tingkat I.Dalam proses pengelolaan lingkungan hidup tentu sangat perlu adanya keturut sertaan masyarakat dalam memanfaatkan lingkungan dengan sebaik mungkin. Masyarakat merupakan peranan terpenting dalam hal ini. Karena pengelolaan lingkungan hidup di peruntukkan bagi masyarakat agar tercapai kesejahteraan dan keseimbangan dalam berinteraksi dengan alam. Akan tetapi ada pula masyarakat yang belum mengetahui pentingan bersahabat dengan alam.Banyak kita temui berbagai permasalah alam yang di timbulkan oleh ulah manusia itu sendiri dan berakhir bencana yang mereka tuai sendiri. Misalnya saja akibat polusi yang berasal dari kendaraan-kendaraan bermotor ataupun asap pabrik yang pastinya dapat merusak lingkungan.Masyarakat juga memiliki kewenangan dalam mengelola lingkungan hidup. Beberapa kewenangan pengelolaan lingkungan hidup di lingkungan sekolah diantaranya :1. Menerapkan pendidikan lingkungan hidup 2. Mengajarkan pada siswa untuk lebih peduli pada lingkungan3. Mengajari tentang cara pengelolaan lingkungan hidup secara teori dan praktiknya.Beberapa kewenangan pengelolaan lingkungan hidup di lingkungan sekolah diantaranya :1. Menerapkan pendidikan lingkungan hidup 2. Mengajarkan pada siswa untuk lebih peduli pada lingkungan


6. Jelaskan komponen ekosistem dan keterkaitannya!

 EKOSISTEM

Ekosistem merupakan suatu interaksi yang kompleks dan memiliki penyusun yang beragam. Di bumi ada bermacam-macam ekosistem.

1. Susunan Ekosistem
Dilihat dari susunan dan fungsinya, suatu ekosistem tersusun atas komponen sebagai berikut.

  • Komponen autotrof (Auto = sendiri dan trophikos = menyediakan makan). Autotrof adalah organisme yang mampu menyediakan/mensintesis makanan sendiri yang berupa bahan organik dari bahan anorganik dengan bantuan energi seperti matahari dan kimia. Komponen autotrof berfungsi sebagai produsen, contohnya tumbuh-tumbuhan hijau.
  • Komponen heterotrof (Heteros = berbeda, trophikos = makanan).Heterotrof merupakan organisme yang memanfaatkan bahan-bahan organik sebagai makanannya dan bahan tersebut disediakan oleh organisme lain. Yang tergolong heterotrof adalah manusia, hewan, jamur, dan mikroba.
  • Bahan tak hidup (abiotik). Bahan tak hidup yaitu komponen fisik dan kimia yang terdiri dari tanah, air, udara, sinar matahari. Bahan tak hidup merupakan medium atau substrat tempat berlangsungnya kehidupan, atau lingkungan tempat hidup.
  • Pengurai (dekomposer). Pengurai adalah organisme heterotrof yang menguraikan bahan organik yang berasal dari organisme mati (bahan organik kompleks). Organisme pengurai menyerap sebagian hasil penguraian tersebut dan melepaskan bahan-bahan yang sederhana yang dapat digunakan kembali oleh produsen. Termasuk pengurai ini adalah bakteri dan jamur.

2. Macam-macam Ekosistem
Secara garis besar ekosistem dibedakan menjadi ekosistem darat dan ekosistem perairan. Ekosistem perairan dibedakan atas ekosistem air tawar dan ekosistem air Laut.

a. Ekosistem darat
Ekosistem darat ialah ekosistem yang lingkungan fisiknya berupa daratan. Berdasarkan letak geografisnya (garis lintangnya), ekosistem darat dibedakan menjadi beberapa bioma, yaitu sebagai berikut.

1. Bioma gurun
Beberapa Bioma gurun terdapat di daerah tropika (sepanjang garis balik) yang berbatasan dengan padang rumput.
Ciri-ciri bioma gurun adalah gersang dan curah hujan rendah (25 cm/tahun). Suhu slang hari tinggi (bisa mendapai 45°C) sehingga penguapan juga tinggi, sedangkan malam hari suhu sangat rendah (bisa mencapai 0°C). Perbedaan suhu antara siang dan malam sangat besar. Tumbuhan semusim yang terdapat di gurun berukuran kecil. Selain itu, di gurun dijumpai pula tumbuhan menahun berdaun seperti duri contohnya kaktus, atau tak berdaun dan memiliki akar panjang serta mempunyai jaringan untuk menyimpan air. Hewan yang hidup di gurun antara lain rodentia, ular, kadal, katak, dan kalajengking.

2. Bioma padang rumput
Bioma ini terdapat di daerah yang terbentang dari daerah tropik ke subtropik. Ciri-cirinya adalah curah hujan kurang lebih 25-30 cm per tahun dan hujan turun tidak teratur. Porositas (peresapan air) tinggi dan drainase (aliran air) cepat. Tumbuhan yang ada terdiri atas tumbuhan terna (herbs) dan rumput yang keduanya tergantung pada kelembapan. Hewannya antara lain: bison, zebra, singa, anjing liar, serigala, gajah, jerapah, kangguru, serangga, tikus dan ular

3. Bioma Hutan Basah
Bioma Hutan Basah terdapat di daerah tropika dan subtropik.
Ciri-cirinya adalah, curah hujan 200-225 cm per tahun. Species pepohonan relatif banyak, jenisnya berbeda antara satu dengan yang lainnya tergantung letak geografisnya. Tinggi pohon utama antara 20-40 m, cabang-cabang pohon tinngi dan berdaun lebat hingga membentuk tudung (kanopi). Dalam hutan basah terjadi perubahan iklim mikro (iklim yang langsung terdapat di sekitar organisme). Daerah tudung cukup mendapat sinar matahari. Variasi suhu dan kelembapan tinggi/besar; suhu sepanjang hari sekitar 25°C. Dalam hutan basah tropika sering terdapat tumbuhan khas, yaitu liana (rotan), kaktus, dan anggrek sebagai epifit. Hewannya antara lain, kera, burung, badak, babi hutan, harimau, dan burung hantu.

4. Bioma hutan gugur
Bioma hutan gugur terdapat di daerah beriklim sedang,
Ciri-cirinya adalah curah hujan merata sepanjang tahun. Terdapat di daerah yang mengalami empat musim (dingin, semi, panas, dan gugur). Jenis pohon sedikit (10 s/d 20) dan tidak terlalu rapat. Hewannya antara lain rusa, beruang, rubah, bajing, burung pelatuk, dan rakoon (sebangsa luwak).

5. Bioma taiga
Bioma taiga terdapat di belahan bumi sebelah utara dan di pegunungan daerah tropik. Ciri-cirinya adalah suhu di musim dingin rendah. Biasanya taiga merupakan hutan yang tersusun atas satu spesies seperti konifer, pinus, dap sejenisnya. Semak dan tumbuhan basah sedikit sekali. Hewannya antara lain moose, beruang hitam, ajag, dan burung-burung yang bermigrasi ke selatan pada musim gugur.

6. Bioma tundra
Bioma tundra terdapat di belahan bumi sebelah utara di dalam lingkaran kutub utara dan terdapat di puncak-puncak gunung tinggi. Pertumbuhan tanaman di daerah ini hanya 60 hari. Contoh tumbuhan yang dominan adalah Sphagnum, liken, tumbuhan biji semusim, tumbuhan kayu yang pendek, dan rumput. Pada umumnya, tumbuhannya mampu beradaptasi dengan keadaan yang dingin.
Hewan yang hidup di daerah ini ada yang menetap dan ada yang datang pada musim panas, semuanya berdarah panas. Hewan yang menetap memiliki rambut atau bulu yang tebal, contohnya muscox, rusa kutub, beruang kutub, dan insekta terutama nyamuk dan lalat hitam.

b. Ekosistem Air Tawar
Ciri-ciri ekosistem air tawar antara lain variasi suhu tidak menyolok, penetrasi cahaya kurang, dan terpengaruh oleh iklim dan cuaca. Macam tumbuhan yang terbanyak adalah jenis ganggang, sedangkan lainnya tumbuhan biji. Hampir semua filum hewan terdapat dalam air tawar. Organisme yang hidup di air tawar pada umumnya telah beradaptasi.
Adaptasi organisme air tawar adalah sebagai berikut.
Adaptasi tumbuhan
Tumbuhan yang hidup di air tawar biasanya bersel satu dan dinding selnya kuat seperti beberapa alga biru dan alga hijau. Air masuk ke dalam sel hingga maksimum dan akan berhenti sendiri. Tumbuhan tingkat tinggi, seperti teratai (Nymphaea gigantea), mempunyai akar jangkar (akar sulur). Hewan dan tumbuhan rendah yang hidup di habitat air, tekanan osmosisnya sama dengan tekanan osmosis lingkungan atau isotonis.
Adaptasi hewan
Ekosistem air tawar dihuni oleh nekton. Nekton merupakan hewan yang bergerak aktif dengan menggunakan otot yang kuat. Hewan tingkat tinggi yang hidup di ekosistem air tawar, misalnya ikan, dalam mengatasi perbedaan tekanan osmosis melakukan osmoregulasi untuk memelihara keseimbangan air dalam tubuhnya melalui sistem ekskresi, insang, dan pencernaan.
Habitat air tawar merupakan perantara habitat laut dan habitat darat. Penggolongan organisme dalam air dapat berdasarkan aliran energi dan kebiasaan hidup.

  1. Berdasarkan aliran energi, organisme dibagi menjadi autotrof (tumbuhan), dan fagotrof (makrokonsumen), yaitu karnivora predator, parasit, dan saprotrof atau organisme yang hidup pada substrat sisa-sisa organisme.
  2. Berdasarkan kebiasaan hidup, organisme dibedakan sebagai berikut.
  • Plankton; terdiri alas fitoplankton dan zooplankton; biasanya melayang-layang (bergerak pasif) mengikuti gerak aliran air.
  • Nekton; hewan yang aktif berenang dalam air, misalnya ikan.
  • Neuston organisme yang mengapung atau berenang di permukaan air atau bertempat pada permukaan air, misalnya serangga air.
  • Perifiton; merupakan tumbuhan atau hewan yang melekat/bergantung pada tumbuhan atau benda lain, misalnya keong.
  • Bentos; hewan dan tumbuhan yang hidup di dasar atau hidup pada endapan. Bentos dapat sessil (melekat) atau bergerak bebas, misalnya cacing dan remis Ekosistem air tawar digolongkan menjadi air tenang dan air mengalir. Termasuk ekosistem air tenang adalah danau dan rawa, termasuk ekosistem air mengalir adalah sungai.

1. Danau
Danau merupakan suatu badan air yang menggenang dan luasnya mulai dari beberapa meter persegi hingga ratusan meter persegi.
Di danau terdapat pembagian daerah berdasarkan penetrasi cahaya matahari. Daerah yang dapat ditembus cahaya matahari sehingga terjadi fotosintesis disebut daerah fotik. Daerah yang tidak tertembus cahaya matahari disebut daerah afotik. Di danau juga terdapat daerah perubahan temperatur yang drastis atau termoklin. Termoklin memisahkan daerah yang hangat di atas dengan daerah dingin di dasar.
Komunitas tumbuhan dan hewan tersebar di danau sesuai dengan kedalaman dan jaraknya dari tepi. Berdasarkan hal tersebut danau dibagi menjadi 4 daerah sebagai berikut.

a) Daerah litoral
Daerah ini merupakan daerah dangkal. Cahaya matahari menembus dengan optimal. Air yang hangat berdekatan dengan tepi. Tumbuhannya merupakan tumbuhan air yang berakar dan daunnya ada yang mencuat ke atas permukaan air.
Komunitas organisme sangat beragam termasuk jenis-jenis ganggang yang melekat (khususnya diatom), berbagai siput dan remis, serangga, krustacea, ikan, amfibi, reptilia air dan semi air seperti kura-kura dan ular, itik dan angsa, dan beberapa mamalia yang sering mencari makan di danau.

b. Daerah limnetik
Daerah ini merupakan daerah air bebas yang jauh dari tepi dan masih dapat ditembus sinar matahari. Daerah ini dihuni oleh berbagai fitoplankton, termasuk ganggang dan sianobakteri. Ganggang berfotosintesis dan bereproduksi dengan kecepatan tinggi selama
musim panas dan musim semi. Zooplankton yang sebagian besar termasuk Rotifera dan udang-udangan kecil memangsa fitoplankton. Zooplankton dimakan oleh ikan-ikan kecil. Ikan kecil dimangsa oleh ikan yang lebih besar, kemudian ikan besar dimangsa ular, kura-kura, dan burung pemakan ikan.

c. Daerah profundal
Daerah ini merupakan daerah yang dalam, yaitu daerah afotik danau. Mikroba dan organisme lain menggunakan oksigen untuk respirasi seluler setelah mendekomposisi detritus yang jatuh dari daerah limnetik. Daerah ini dihuni oleh cacing dan mikroba.

d. Daerah bentik
Daerah ini merupakan daerah dasar danau tempat terdapatnya bentos dan sisa-sisa organisme mati.

Danau juga dapat dikelompokkan berdasarkan produksi materi organik-nya, yaitu sebagai berikut :

a. Danau Oligotropik
Oligotropik merupakan sebutan untuk danau yang dalam dan kekurangan makanan, karena fitoplankton di daerah limnetik tidak produktif. Ciricirinya, airnya jernih sekali, dihuni oleh sedikit organisme,dan di dasar air banyak terdapat oksigen sepanjang tahun.

b. Danau Eutropik
Eutropik merupakan sebutan untuk danau yang dangkal dan kaya akan kandungan makanan, karena fitoplankton sangat produktif. Ciri-cirinya adalah airnya keruh, terdapat bermacam-macam organisme, dan oksigen terdapat di daerah profundal. Danau oligotrofik dapat berkembang menjadi danau eutrofik akibat adanya materi-materi organik yang masuk dan endapan. Perubahan ini juga dapat dipercepat oleh aktivitas manusia, misalnya dari sisa-sisa pupuk buatan pertanian dan timbunan sampah kota yang memperkaya danau dengan buangan sejumlah nitrogen dan fosfor. Akibatnya terjadi peledakan populasi ganggang atau blooming, sehingga terjadi produksi detritus yang berlebihan yang akhirnya menghabiskan suplai oksigen di danau tersebut.
Pengkayaan danau seperti ini disebut “eutrofikasi”. Eutrofikasi membuat air tidak dapat digunakan lagi dan mengurangi nilai keindahan danau.

2. Sungai
Sungai adalah suatu badan air yang mengalir ke satu arah. Air sungai dingin dan jernih serta mengandung sedikit sedimen dan makanan. Aliran air dan gelombang secara konstan memberikan oksigen pada air. Suhu air bervariasi sesuai dengan ketinggian dan garis lintang.
Komunitas yang berada di sungai berbeda dengan danau. Air sungai yang mengalir deras tidak mendukung keberadaan komunitas plankton untuk berdiam diri, karena akan terbawa arus. Sebagai gantinya terjadi fotosintesis dari ganggang yang melekat dan tanaman berakar, sehingga dapat mendukung rantai makanan.
Komposisi komunitas hewan juga berbeda antara sungai, anak sungai, dan hilir. Di anak sungai sering dijumpai Man air tawar. Di hilir sering dijumpai ikan kucing dan gurame. Beberapa sungai besar dihuni oleh berbagai kura-kura dan ular. Khusus sungai di daerah tropis, dihuni oleh buaya dan lumba-lumba.
Organisme sungai dapat bertahan tidak terbawa arus karena mengalami adaptasi evolusioner. Misalnya bertubuh tipis dorsoventral dan dapat melekat pada batu.
Beberapa jenis serangga yang hidup di sisi-sisi hilir menghuni habitat kecil yang bebas dari pusaran air.

c. Ekosistem air laut
Ekosistem air laut dibedakan atas lautan, pantai, estuari, dan terumbu karang.
1. Laut
Habitat laut (oseanik) ditandai oleh salinitas (kadar garam) yang tinggi dengan ion CI- mencapai 55% terutama di daerah laut tropik, karena suhunya tinggi dan penguapan besar. Di daerah tropik, suhu laut sekitar 25°C. Perbedaan suhu bagian atas dan bawah tinggi. Batas antara lapisan air yang panas di bagian atas dengan air yang dingin di bagian bawah disebut daerah termoklin.
Di daerah dingin, suhu air laut merata sehingga air dapat bercampur, maka daerah permukaan laut tetap subur dan banyak plankton serta ikan. Gerakan air dari pantai ke tengah menyebabkan air bagian atas turun ke bawah dan sebaliknya, sehingga memungkinkan terbentuknya rantai makanan yang berlangsung balk. Habitat laut dapat dibedakan berdasarkan kedalamannya dan wilayah permukaannya secara horizontal.

1. Menurut kedalamannya, ekosistem air laut dibagi sebagai berikut.

  • Litoral merupakan daerah yang berbatasan dengan darat.
  • Neretik merupakan daerah yang masih dapat ditembus cahaya matahari sampai bagian dasar dalamnya ± 300 meter.
  • Batial merupakan daerah yang dalamnya berkisar antara 200-2500 m
  • Abisal merupakan daerah yang lebih jauh dan lebih dalam dari pantai (1.500-10.000 m).

2. Menurut wilayah permukaannya secara horizontal, berturut-turut dari tepi laut semakin ke tengah, laut dibedakan sebagai berikut.

  • Epipelagik merupakan daerah antara permukaan dengan kedalaman air sekitar 200 m.
  • Mesopelagik merupakan daerah dibawah epipelagik dengan kedalaman 200-1000 m. Hewannya misalnya ikan hiu.
  • Batiopelagik merupakan daerah lereng benua dengan kedalaman 200-2.500 m. Hewan yang hidup di daerah ini misalnya gurita.
  • Abisalpelagik merupakan daerah dengan kedalaman mencapai 4.000m; tidak terdapat tumbuhan tetapi hewan masih ada. Sinar matahari tidak mampu menembus daerah ini.
  • Hadal pelagik merupakan bagian laut terdalam (dasar). Kedalaman lebih dari 6.000 m. Di bagian ini biasanya terdapat lele laut dan ikan Taut yang dapat mengeluarkan cahaya. Sebagai produsen di tempat ini adalah bakteri yang bersimbiosis dengan karang tertentu. Di laut, hewan dan tumbuhan tingkat rendah memiliki tekanan osmosis sel yang hampir sama dengan tekanan osmosis air laut. Hewan tingkat tinggi beradaptasi dengan cara banyak minum air, pengeluaran urin sedikit, dan pengeluaran air dengan cara osmosis melalui insang. Garam yang berlebihan diekskresikan melalui insang secara aktif.

2. Ekosistem pantai
Ekosistem pantai letaknya berbatasan dengan ekosistem darat, laut, dan daerah pasang surut.
Ekosistem pantai dipengaruhi oleh siklus harian pasang surut laut. Organisme yang hidup di pantai memiliki adaptasi struktural sehingga dapat melekat erat di substrat keras.
Daerah paling atas pantai hanya terendam saat pasang naik tinggi. Daerah ini dihuni oleh beberapa jenis ganggang, moluska, dan remis yang menjadi konsumsi bagi kepiting dan burung pantai.
Daerah tengah pantai terendam saat pasang tinggi dan pasang rendah. Daerah ini dihuni oleh ganggang, porifera, anemon laut, remis dan kerang, siput herbivora dan karnivora, kepiting, landak laut, bintang laut, dan ikan-ikan kecil.
Daerah pantai terdalam terendam saat air pasang maupun surut. Daerah ini dihuni oleh beragam invertebrata dan ikan serta rumput laut.
Komunitas tumbuhan berturut-turut dari daerah pasang surut ke arah darat dibedakan sebagai berikut.

1. Formasi pes caprae
Dinamakan demikian karena yang paling banyak tumbuh di gundukan pasir adalah tumbuhan Ipomoea pes caprae yang tahan terhadap hempasan gelombang dan angin; tumbuhan ini menjalar dan berdaun tebal. Tumbuhan lainnya adalah Spinifex littorius (rumput angin), Vigna, Euphorbia atoto, dan Canaualia martina. Lebih ke arah darat lagi ditumbuhi Crinum asiaticum (bakung), Pandanus tectorius (pandan), dan Scaeuola Fruescens (babakoan).

2. Formasi baringtonia
Daerah ini didominasi tumbuhan baringtonia, termasuk di dalamnya Wedelia, Thespesia, Terminalia, Guettarda, dan Erythrina.
Bila tanah di daerah pasang surut berlumpur, maka kawasan ini berupa hutan bakau yang memiliki akar napas. Akar napas merupakan adaptasi tumbuhan di daerah berlumpur yang kurang oksigen. Selain berfungsi untuk mengambil oksigen, akar ini juga dapat digunakan sebagai penahan dari pasang surut gelombang. Yang termasuk tumbuhan di hutan bakau antara lain Nypa, Acathus, Rhizophora, dan Cerbera.
Jika tanah pasang surut tidak terlalu basah, pohon yang sering tumbuh adalah: Heriticra, Lumnitzera, Acgicras, dan Cylocarpus.

3. Estuari
Estuari (muara) merupakan tempat bersatunya sungai dengan laut. Estuari sering dipagari oleh lempengan lumpur intertidal yang luas atau rawa garam.
Salinitas air berubah secara bertahap mulai dari daerah air tawar ke laut. Salinitas ini juga dipengaruhi oleh siklus harian dengan pasang surut aimya. Nutrien dari sungai memperkaya estuari.
Komunitas tumbuhan yang hidup di estuari antara lain rumput rawa garam, ganggang, dan fitoplankton. Komunitas hewannya antara lain berbagai cacing, kerang, kepiting, dan ikan. Bahkan ada beberapa invertebrata laut dan ikan laut yang menjadikan estuari sebagai tempat kawin atau bermigrasi untuk menuju habitat air tawar. Estuari juga merupakan tempat mencari makan bagi vertebrata semi air, yaitu unggas air.

4. Terumbu karang
Di laut tropis, pada daerah neritik, terdapat suatu komunitas yang khusus yang terdiri dari karang batu dan organisme-organisme lainnya. Komunitas ini disebut terumbu karang. Daerah komunitas ini masih dapat ditembus cahaya matahari sehingga fotosintesis dapat berlangsung.
Terumbu karang didominasi oleh karang (koral) yang merupakan kelompok Cnidaria yang mensekresikan kalsium karbonat. Rangka dari kalsium karbonat ini bermacammacam bentuknya dan menyusun substrat tempat hidup karang lain dan ganggang.
Hewan-hewan yang hidup di karang memakan organisme mikroskopis dan sisa organik lain. Berbagai invertebrata, mikro organisme, dan ikan, hidup di antara karang dan ganggang. Herbivora seperti siput, landak laut, ikan, menjadi mangsa bagi gurita, bintang laut, dan ikan karnivora.


7. Apa yg anda ketahui ttg ekosistem darat dan bioma dan pentingnya dipelajari?

 Ekosistem Darat

Ekosistem darat ialah ekosistem yang lingkungan fisiknya berupa daratan. Berdasarkan letak geografisnya (garis lintangnya), ekosistem darat dibedakan menjadi beberapa bioma, Bioma adalah sekelompok hewan dan tumbuhan yang tinggal di suatu lokasi geografis tertentu. Bioma terbagi menjadi beberapa jenis, ditentukan oleh curah hujan dan intensitas cahaya mataharinya yaitu sebagai berikut.
1.Bioma gurun

Beberapa Bioma gurun terdapat di daerah tropika (sepanjang garis balik) yang berbatasan dengan padang rumput. Ciri-ciri bioma gurun adalah gersang dan curah hujan rendah (25 cm/tahun). Suhu slang hari tinggi (bisa mendapai 45°C) sehingga penguapan juga tinggi, sedangkan malam hari suhu sangat rendah (bisa mencapai 0°C). Perbedaan suhu antara siang dan malam sangat besar. Tumbuhan semusim yang terdapat di gurun berukuran kecil. Selain itu, di gurun dijumpai pula tumbuhan menahun berdaun seperti duri contohnya kaktus, atau tak berdaun dan memiliki akar panjang serta mempunyai jaringan untuk menyimpan air. Hewan yang hidup di gurun antara lain rodentia, ular, kadal, katak, dan kalajengking.

2.Bioma padang rumput

Bioma ini terdapat di daerah yang terbentang dari daerah tropik ke subtropik. Ciricirinya adalah curah hujan kurang lebih 25-30 cm per tahun dan hujan turun tidak teratur. Porositas (peresapan air) tinggi dan drainase (aliran air) cepat. Tumbuhan yang ada terdiri atas tumbuhan terna (herbs) dan rumput yang keduanya tergantung pada kelembapan. Hewannya antara lain: bison, zebra, singa, anjing liar, serigala, gajah, jerapah, kangguru, serangga, tikus dan ular.

3.Bioma Hutan Basah

Bioma Hutan Basah terdapat di daerah tropika dan subtropik. Ciri-cirinya adalah, curah hujan 200-225 cm per tahun. Species pepohonan relatif banyak, jenisnya berbeda antara satu dengan yang lainnya tergantung letak geografisnya. Tinggi pohon utama antara 20-40 m, cabang-cabang pohon tinngi dan berdaun lebat hingga membentuk tudung (kanopi). Dalam hutan basah terjadi perubahan iklim mikro (iklim yang langsung terdapat di sekitar organisme). Daerah tudung cukup mendapat sinar matahari. Variasi suhu dan kelembapan tinggi/besar; suhu sepanjang hari sekitar 25°C. Dalam hutan basah tropika sering terdapat tumbuhan khas, yaitu liana (rotan), kaktus, dan anggrek sebagai epifit. Hewannya antara lain, kera, burung, badak, babi hutan, harimau, dan burung hantu.

4.Bioma hutan gugur

Bioma hutan gugur terdapat di daerah beriklim sedang, Ciri-cirinya adalah curah hujan merata sepanjang tahun. Terdapat di daerah yang mengalami empat musim (dingin, semi, panas, dan gugur). Jenis pohon sedikit (10 s/d 20) dan tidak terlalu rapat. Hewannya antara lain rusa, beruang, rubah, bajing, burung pelatuk, dan rakoon (sebangsa luwak).

5.Bioma taiga

Bioma taiga terdapat di belahan bumi sebelah utara dan di pegunungan daerah tropik. Ciri-cirinya adalah suhu di musim dingin rendah. Biasanya taiga merupakan hutan yang tersusun atas satu spesies seperti konifer, pinus, dap sejenisnya. Semak dan tumbuhan basah sedikit sekali. Hewannya antara lain moose, beruang hitam, ajag, dan burung-burung yang bermigrasi ke selatan pada musim gugur.

6.Bioma tundra

Bioma tundra terdapat di belahan bumi sebelah utara di dalam lingkaran kutub utara dan terdapat di puncak-puncak gunung tinggi. Pertumbuhan tanaman di daerah ini hanya 60 hari. Contoh tumbuhan yang dominan adalah Sphagnum, liken, tumbuhan biji semusim, tumbuhan kayu yang pendek, dan rumput. Pada umumnya, tumbuhannya mampu beradaptasi dengan keadaan yang dingin. musim panas, semuanya berdarah panas. Hewan yang menetap memiliki rambut atau bulu yang tebal, contohnya muscox, rusa kutub, beruang kutub, dan insekta terutama nyamuk dan lalat hitam.


8. Sebut dan jelaskan pembagian ekosistem darat berdasarkan biomanya!

Ekosistem darat
Ekosistem darat ialah ekosistem yang lingkungan fisiknya berupa daratan. Berdasarkan letak geografisnya (garis lintangnya), ekosistem darat dibedakan menjadi beberapa bioma, yaitu sebagai berikut.

1. Bioma gurun
Beberapa Bioma gurun terdapat di daerah tropika (sepanjang garis balik) yang berbatasan dengan padang rumput.

Ciri-ciri bioma gurun adalah gersang dan curah hujan rendah (25 cm/tahun). Suhu slang hari tinggi (bisa mendapai 45°C) sehingga penguapan juga tinggi, sedangkan malam hari suhu sangat rendah (bisa mencapai 0°C). Perbedaan suhu antara siang dan malam sangat besar. Tumbuhan semusim yang terdapat di gurun berukuran kecil. Selain itu, di gurun dijumpai pula tumbuhan menahun berdaun seperti duri contohnya kaktus, atau tak berdaun dan memiliki akar panjang serta mempunyai jaringan untuk menyimpan air. Hewan yang hidup di gurun antara lain rodentia, ular, kadal, katak, dan kalajengking.

2. Bioma padang rumput
Bioma ini terdapat di daerah yang terbentang dari daerah tropik ke subtropik. Ciri-cirinya adalah curah hujan kurang lebih 25-30 cm per tahun dan hujan turun tidak teratur. Porositas (peresapan air) tinggi dan drainase (aliran air) cepat. Tumbuhan yang ada terdiri atas tumbuhan terna (herbs) dan rumput yang keduanya tergantung pada kelembapan. Hewannya antara lain: bison, zebra, singa, anjing liar, serigala, gajah, jerapah, kangguru, serangga, tikus dan ular

3. Bioma Hutan Basah
Bioma Hutan Basah terdapat di daerah tropika dan subtropik.
Ciri-cirinya adalah, curah hujan 200-225 cm per tahun. Species pepohonan relatif banyak, jenisnya berbeda antara satu dengan yang lainnya tergantung letak geografisnya. Tinggi pohon utama antara 20-40 m, cabang-cabang pohon tinngi dan berdaun lebat hingga membentuk tudung (kanopi). Dalam hutan basah terjadi perubahan iklim mikro (iklim yang langsung terdapat di sekitar organisme). Daerah tudung cukup mendapat sinar matahari. Variasi suhu dan kelembapan tinggi/besar; suhu sepanjang hari sekitar 25°C. Dalam hutan basah tropika sering terdapat tumbuhan khas, yaitu liana (rotan), kaktus, dan anggrek sebagai epifit. Hewannya antara lain, kera, burung, badak, babi hutan, harimau, dan burung hantu.

4. Bioma hutan gugur
Bioma hutan gugur terdapat di daerah beriklim sedang,
Ciri-cirinya adalah curah hujan merata sepanjang tahun. Terdapat di daerah yang mengalami empat musim (dingin, semi, panas, dan gugur). Jenis pohon sedikit (10 s/d 20) dan tidak terlalu rapat. Hewannya antara lain rusa, beruang, rubah, bajing, burung pelatuk, dan rakoon (sebangsa luwak).

5. Bioma taiga
Bioma taiga terdapat di belahan bumi sebelah utara dan di pegunungan daerah tropik. Ciri-cirinya adalah suhu di musim dingin rendah. Biasanya taiga merupakan hutan yang tersusun atas satu spesies seperti konifer, pinus, dap sejenisnya. Semak dan tumbuhan basah sedikit sekali. Hewannya antara lain moose, beruang hitam, ajag, dan burung-burung yang bermigrasi ke selatan pada musim gugur.

6. Bioma tundra
Bioma tundra terdapat di belahan bumi sebelah utara di dalam lingkaran kutub utara dan terdapat di puncak-puncak gunung tinggi. Pertumbuhan tanaman di daerah ini hanya 60 hari. Contoh tumbuhan yang dominan adalah Sphagnum, liken, tumbuhan biji semusim, tumbuhan kayu yang pendek, dan rumput. Pada umumnya, tumbuhannya mampu beradaptasi dengan keadaan yang dingin.

Hewan yang hidup di daerah ini ada yang menetap dan ada yang datang pada musim panas, semuanya berdarah panas. Hewan yang menetap memiliki rambut atau bulu yang tebal, contohnya muscox, rusa kutub, beruang kutub, dan insekta terutama nyamuk dan lalat hitam.


9. Jelaskan ciri ciri ekosistem air tawar!

  Ciri Habitat Air Tawar :
1. Variasi temperatur atau suhu rendah
2. Kadar garam atau salinitas rendah
3. Penetrasi dari cahaya matahari kurang
4. Terpegaruh iklim dan cuaca alam sekitar
5. Aliran air terjadi setiap waktu terus-menerus pada sungai
6. Secara fisik dan biologi merupakan perantara habitat laut dan darat.
7. Tumbuhan mikroskopis seperti alga dan fitoplankton sebagai produsen utama.


10. Jelaskan klasifikasi ekosistem air tawar ?

Ekosistem Air Tawar
Ciri-ciri ekosistem air tawar antara lain variasi suhu tidak menyolok, penetrasi cahaya kurang, dan terpengaruh oleh iklim dan cuaca. Macam tumbuhan yang terbanyak adalah jenis ganggang, sedangkan lainnya tumbuhan biji. Hampir semua filum hewan terdapat dalam air tawar. Organisme yang hidup di air tawar pada umumnya telah beradaptasi.
Adaptasi organisme air tawar adalah sebagai berikut.

Adaptasi tumbuhan
Tumbuhan yang hidup di air tawar biasanya bersel satu dan dinding selnya kuat seperti beberapa alga biru dan alga hijau. Air masuk ke dalam sel hingga maksimum dan akan berhenti sendiri. Tumbuhan tingkat tinggi, seperti teratai (Nymphaea gigantea), mempunyai akar jangkar (akar sulur). Hewan dan tumbuhan rendah yang hidup di habitat air, tekanan osmosisnya sama dengan tekanan osmosis lingkungan atau isotonis.

Adaptasi hewan
Ekosistem air tawar dihuni oleh nekton. Nekton merupakan hewan yang bergerak aktif dengan menggunakan otot yang kuat. Hewan tingkat tinggi yang hidup di ekosistem air tawar, misalnya ikan, dalam mengatasi perbedaan tekanan osmosis melakukan osmoregulasi untuk memelihara keseimbangan air dalam tubuhnya melalui sistem ekskresi, insang, dan pencernaan.

Habitat air tawar merupakan perantara habitat laut dan habitat darat. Penggolongan organisme dalam air dapat berdasarkan aliran energi dan kebiasaan hidup.

1. Berdasarkan aliran energi, organisme dibagi menjadi autotrof (tumbuhan), dan fagotrof (makrokonsumen), yaitu karnivora predator, parasit, dan saprotrof atau organisme yang hidup pada substrat sisa-sisa organisme.

2. Berdasarkan kebiasaan hidup, organisme dibedakan sebagai berikut.
a. Plankton;
terdiri alas fitoplankton dan zooplankton; biasanya melayang-layang (bergerak pasif) mengikuti gerak aliran air.
b. Nekton;
hewan yang aktif berenang dalam air, misalnya ikan.
c. Neuston;
organisme yang mengapung atau berenang di permukaan air atau bertempat pada permukaan air, misalnya serangga air.
d. Perifiton; merupakan tumbuhan atau hewan yang melekat/bergantung pada tumbuhan atau benda lain, misalnya keong.
e. Bentos; hewan dan tumbuhan yang hidup di dasar atau hidup pada endapan. Bentos dapat sessil (melekat) atau bergerak bebas, misalnya cacing dan remis.

Ekosistem air tawar digolongkan menjadi air tenang dan air mengalir. Termasuk ekosistem air tenang adalah danau dan rawa, termasuk ekosistem air mengalir adalah sungai.

1. Danau
Danau merupakan suatu badan air yang menggenang dan luasnya mulai dari beberapa meter persegi hingga ratusan meter persegi.

Di danau terdapat pembagian daerah berdasarkan penetrasi cahaya matahari. Daerah yang dapat ditembus cahaya matahari sehingga terjadi fotosintesis disebut daerah fotik. Daerah yang tidak tertembus cahaya matahari disebut daerah afotik. Di danau juga terdapat daerah perubahan temperatur yang drastis atau termoklin. Termoklin memisahkan daerah yang hangat di atas dengan daerah dingin di dasar.

Komunitas tumbuhan dan hewan tersebar di danau sesuai dengan kedalaman dan jaraknya dari tepi. Berdasarkan hal tersebut danau dibagi menjadi 4 daerah sebagai berikut.
a) Daerah litoral
Daerah ini merupakan daerah dangkal. Cahaya matahari menembus dengan optimal. Air yang hangat berdekatan dengan tepi. Tumbuhannya merupakan tumbuhan air yang berakar dan daunnya ada yang mencuat ke atas permukaan air.

Komunitas organisme sangat beragam termasuk jenis-jenis ganggang yang melekat (khususnya diatom), berbagai siput dan remis, serangga, krustacea, ikan, amfibi, reptilia air dan semi air seperti kura-kura dan ular, itik dan angsa, dan beberapa mamalia yang sering mencari makan di danau.
b. Daerah limnetik
Daerah ini merupakan daerah air bebas yang jauh dari tepi dan masih
dapat ditembus sinar matahari. Daerah ini dihuni oleh berbagai
fitoplankton, termasuk ganggang dan sianobakteri. Ganggang
berfotosintesis dan bereproduksi dengan kecepatan tinggi selama
musim panas dan musim semi.

Zooplankton yang sebagian besar termasuk Rotifera dan udang-
udangan kecil memangsa fitoplankton. Zooplankton dimakan oleh ikan-
ikan kecil. Ikan kecil dimangsa oleh ikan yang lebih besar, kemudian
ikan besar dimangsa ular, kura-kura, dan burung pemakan ikan.

c. Daerah profundal
Daerah ini merupakan daerah yang dalam, yaitu daerah afotik danau. Mikroba dan organisme lain menggunakan oksigen untuk respirasi seluler setelah mendekomposisi detritus yang jatuh dari daerah limnetik. Daerah ini dihuni oleh cacing dan mikroba.

d. Daerah bentik
Daerah ini merupakan daerah dasar danau tempat terdapatnya bentos dan sisa-sisa organisme mati.

Danau juga dapat dikelompokkan berdasarkan produksi materi organik-nya, yaitu sebagai berikut :

a. Danau Oligotropik
Oligotropik merupakan sebutan untuk danau yang dalam dan kekurangan makanan, karena fitoplankton di daerah limnetik tidak produktif. Ciricirinya, airnya jernih sekali, dihuni oleh sedikit organisme, dan di dasar air banyak terdapat oksigen sepanjang tahun.

b. Danau Eutropik
Eutropik merupakan sebutan untuk danau yang dangkal dan kaya akan kandungan makanan, karena fitoplankton sangat produktif. Ciri-cirinya adalah airnya keruh, terdapat bermacam-macam organisme, dan oksigen terdapat di daerah profundal.
Danau oligotrofik dapat berkembang menjadi danau eutrofik akibat adanya materi-materi organik yang masuk dan endapan. Perubahan ini juga dapat dipercepat oleh aktivitas manusia, misalnya dari sisa-sisa pupuk buatan pertanian dan timbunan sampah kota yang memperkaya danau dengan buangan sejumlah nitrogen dan fosfor. Akibatnya terjadi peledakan populasi ganggang atau blooming, sehingga terjadi produksi detritus yang berlebihan yang akhirnya menghabiskan suplai oksigen di danau tersebut.
Pengkayaan danau seperti ini disebut “eutrofikasi”. Eutrofikasi membuat air tidak dapat digunakan lagi dan mengurangi nilai keindahan danau.
2. Sungai

Sungai adalah suatu badan air yang mengalir ke satu arah. Air sungai dingin dan jernih serta mengandung sedikit sedimen dan makanan. Aliran air dan gelombang secara konstan memberikan oksigen pada air. Suhu air bervariasi sesuai dengan ketinggian dan garis lintang.

Komunitas yang berada di sungai berbeda dengan danau. Air sungai yang mengalir deras tidak mendukung keberadaan komunitas plankton untuk berdiam diri, karena akan terbawa arus. Sebagai gantinya terjadi fotosintesis dari ganggang yang melekat dan tanaman berakar, sehingga dapat mendukung rantai makanan.

Komposisi komunitas hewan juga berbeda antara sungai, anak sungai, dan hilir. Di anak sungai sering dijumpai Man air tawar. Di hilir sering dijumpai ikan kucing dan gurame. Beberapa sungai besar dihuni oleh berbagai kura-kura dan ular. Khusus sungai di daerah tropis, dihuni oleh buaya dan lumba-lumba.

Organisme sungai dapat bertahan tidak terbawa arus karena mengalami adaptasi evolusioner. Misalnya bertubuh tipis dorsoventral dan dapat melekat pada batu.

Beberapa jenis serangga yang hidup di sisi-sisi hilir menghuni habitat kecil yang bebas dari pusaran air.

Afrika Utara

BAB I

PENDAHULUAN

 

  1. A.    Latar Belakang

Afrika adalah benua terbesar kedua dunia dan kedua terbanyak penduduknya setelah Asia. Kata Afrika berasal dari bahasa Latin, Africa terra -“tanah Afri” (bentuk jamak dari “Afer”) untuk menunjukkan bagian utara benua tersebut, saat ini merupakan bagian dari Tunisia, tempat kedudukan provinsi Romawi untuk Afrika. Asal kata Afer mungkin dari bahasa Fenisia, ‘afar berarti debu; atau dari suku Afridi, yang mendiami bagian utara benua dekat Kartago; atau dari bahasa Yunani aphrike berarti tanpa dingin; atau dari bahasa Latin aprica berarti cerah.

Afrika adalah tempat tinggal manusia yang paling awal, dari benua ini manusia kemudian menyebar ke benua-benua lain. Afrika adalah tempat di mana garis evolusi kera menjadi berbeda dari protohuman tujuh juta tahun yang lalu

Daerah Afrika terdiri dari Pegunungan tinggi, Gurun, Lembah, dan daerah depresi. Pegunungan di selatan dan timur, lebih tinggi dari pegunungan yang ada di utara dan barat. Gunung tertinggi adalah G. Kilimanjaro (6.010 m) yang terletak di Tanzania. Di Afrika utara terdapat gurun Sahara, yang merupakan gurun terluas di bumi. Sungai yang terdapat di Afrika antara lain adalah sungai Nil, yang merupakan sungai terpanjang di bumi (6.690 km). Di Afrika terdapat beberapa danau yang besar antara lain danau Victoria, danau Tanganyika, dan danau Malawi.

Pada tahun 1998, penduduk Afrika berjumlah kurang lebih 763.000.000 jiwa. Mayoritas penduduk Afrika adalah bangsa Negro. Bangsa Negro di Afrika dapat dikelompokan menjadi dua golongan yaitu Negro Sudan, yang kulitnya lebih gelap dan Negro Bantu, yang kulitnya lebih terang dari Negro Sudan. Bahasa pemersatu di Benua Afrika adalah bahasa Swahili, sedangkan bahasa lain yang persebarannya lebih luas adalah bahasa Arab.

  1. B.     Rumusan Masalah
    1. Berapa luas wilayah dan batas-batas Negara di bagian Afrika Utara ?
    2. Bagaimana keadaan hubungan politik di Negara-negara  Afrika Utara ?
    3. Bagaimana tingkat pendidikan, ekonomi, dan social budaya yang ada di Negara-negara bagiab Afrika Utara ?

C.    Tujuan

Tujuan penulisan makalah ini adalah agar mahasiswa(i) dapat mengetahui tentang keadaan Negara-negara di bagian Afrika Utara. Baik dari segi pendidikan, ekonomi, sosial budaya, politik, maupun hubungan antar Negara satu dengan Negara lainnya yang berada di sekitar wilayah Afrika Utara.

  1. D.    Metode Penulisan

Dalam penulisan dan penyusunan makalah ini, metode yang saya gunakan adalah metode kepustakaan.

 

BAB II

PEMBAHASAN

  1. A.    Letak dan Luas wilayah Afrika Utara

Afrika Utara adalah daerah di benua Afrika di mana budaya dan penduduknya berbeda dengan daerah di Afrika lainnya. Penduduk Afrika Utara sebagian besar termasuk ras kulit putih dan merupakan penuturbahasa Afro-Asia. Mereka sebagian besar juga beragama Islam.

Di kawasan Afrika Utara kebanyakan di huni oleh suku Bangsa Berber, akan tetapi para ahli masih memperdebatkan bagaimana mengelompokkan bangsa arabdan bangsa Berber di Afrika Utara. Sebagaian ingin memasukkannya kedalam ras Eropa namun masih di pertentang. Jumlah bangsa Arab sekarang sekitar 80 juta. Mereka berdiam di Mesir, Sudan, dan di sepanjang pantai Laut Tengah. Bangsa Berber menghuni daerah Barat Laut Tengah Afrika semenjak jaman prasejarah. Jumlah sekitar 20 juta. Mereka terutama tinggal di negara Aljazair dan Maroko. Bangsa Arab dan Berber merupakan kelompok etnis utama di Afrika Utara.

Sementara ada pula kelompok atau etnis lain yang berdiam di kawasan Afrika Utara antara lain bangsa-bangsa yang berasal dari Eropa. Bangsa Eropa pada waktu itu pernah melakukan kolonialisme antara lain Prancis, Jerman, dan Inggris.

Daerah Afrika Utara telah maju kebudayaannya semenjak beberapa ribu tahun sebelum Masehi , seperti Mesir (sejak sebelum 3.000 SM) yang dipimpin oleh raja-raja Firaun (Farao). Kemudian Mesir dan Afrika Utara di daerah Maghribi mendapat pengaruh dari budaya Yunani, Romawi, dan Islam; khususnya pengaruh Islam sangat kuat di Mesir, Sudan dan daerah Sahara. Orang Romawi mendirikan koloni-koloni di pantai bagian utara, sesudah Kartago jatuh (149 SM). Kemudian orang-orang Arab yang menyerbu Afrika pada abad ketujuh dan keseblas membawa ajaran dan kebudayaan Islam. Suku-suku bangsa yang beragama Islam dan terutama Eropah dalam beberapa gelombang; penyerbuan-penyerbuan ini berhenti dalam abad kelima belas.

Penduduk Afrika juga mengalami perpindahan penduduk teruatama kearah urbanisasi yang begitu cepat bersamaan meningkatnya jumlah penduduk. Walaupun demikian, perpindahan penduduk yang makin mudah ini menimbulkan jenis perkembangan yang makin seragam seperti yang terjadi dalam masalah perumahan. Adanya kota-kota penting Kairo, Iskandariyah, dll.

Penduduk terbagi menjadi dua, yaitu pedesaan dan perkotaan. Kurang lebih separuh penduduk Afrika Utara berdiam di pedesaan. Meraka memelihara ternak atau bertani, kebanyakan pekerjaan dilakukan dengan tangan. Ribuan penduduk tidak mempunyai tanah dan harus menyewa sebidang kecil tanah.

Beberapa kelompok pengembara, seperti Badui, memelihara unta, kambing dan domba di Sahara. Kebanyakan wilayah Afrika Utara pernah dihuni bangsa Badui. Dongeng-dongeng Arab pernah berisi cerita tentang pengembaraannya. Kini mereka menghuni kurang dari 10 persen wilayah tersebut. Mereka mengembara antara musim panas dan dingin sambil menggembala ternak. Kemah tempat tinggalnya di tenun dari bulu binatang.

Hasil-hasil pertanian penduduk Afrika Utara adalah kurma, singkong, ubi rambat, dll. Sementara hasil perkebunannya adalah kopi, kelapa, coklat, kampas. Dan hasil penjualan jenis tanaman ini dipakai untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari, seperti untuk membeli membeli sepeda, makanan kaleng, pakaian, minyak lampu, dan korak api. Upacara-upacara yang sering diadakan diadakan di desa meruapakan satu bagian penting dari kehidupan pedesaaan. Kegiatan ini diadakan berkenaan dengan peristiwa seperti hujan pertama dalam musim hujan, saat menanam, atau saat menuai panenan.

Kemudian penduduk wilayah bagian perkotaan, standar kehidupannya lebih tinggi daripada penduduk desa, terutama kota menjamin fasilitas pendidikan serta fasilitas pengobatan yang lebih baik daripada di pedesaan. Kota juga menawarkan upah yang lebih baik bagi tenaga ahli di bidang pemerintahan, bisnis, industri serta bidang lainnya. Namun pertambahan jumlah penduduk yang cepat mempersulit pemerintah untuk menyediakan perumahan dan transportasi yang memadai. Persediaan air dan listrik kurang mencukupi. Jumlah pengangguran bertambah besar.

Selain itu kehidupan sosial yang ada di kawasan ini adalah mengenai perkawinan dan keluarga. Anggota keluarga Afrika memiliki ikatan yang kuat. Mereka pada umumnya setia terhadap keluarga dan mempunyai mempunyai semangat bekerja sama.

Pihak keluarga membantu menyelesaikan urusan bisnis, pencarian lapangan kerja, serta berbagai masalah keluarga yang lain. Perkawinan menurut kepercayaan Afrika, perkawinan lebih tinggi dari sekedar persetujuan antara kedua orang untuk hidup bersama. Perkawinan juga menyebabkan seseorang memperoleh lebih banyak lagi anggota keluarga, entah karena pertalian darah atau karena keturunan yang dihasilkan.

Kawasan daerah Afrika Utara, di sebelah utara dibatasi oleh laut Mediteran dan Selat Gilbaltar, di selatan dibatasi Gurun Sahara dan Gunung Chad, dan di sebelah barat berbatasan langsung dengan Samudera Atlantik. Berikut ini adalah tabel nama-nama Negara dan luas wilayah yang berada di wolayah Afrika Utara :

 

No Negara Luas
1 Mesir 1.001.450 km2
2 Libya 1.795.540 km2
3 Tunisia 163.610 km2
4 Aljazair 2.381.740 km2
5 Maroko 446.550 km2
  1. B.     Keadaan Politik
  1. C.    Implikasi Sosial
    1. 1.      Ekonomi

Menteri Keuangan Amerika Serikat Timothy Geithner mengatakan, masa depan demokrasi baru di Afrika Utara dan kawasan bergantung pada ekonomi, yang menjadikan generasi muda sebagai prioritas.

Keberhasilan demokrasi baru di Afrika Utara dan kawasan tergantung pada sistem ekonomi yang kuat dan komprehensif sehingga mampu memulihkan kondisi kehidupan rakyat, terutama kehidupan generasi mendatang. Lembaga-lembaga keuangan dunia mampu berperan penting dalam meujudkan hal tersebut,” tambahnya.

Berdasarkan laporkan Bank Dunia, pertumbuhan ekonomi negara-negara Afrika Utara dan kawasan akan melampaui prediksi. Hal itu disebabkan oleh peningkatan pengeluaran publik dan hasil pendapatan minyak. Masih menurut laporan itu, tahun 2011, pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) negara-negara Afrika Utara dan kawasan mencapai lebih dari 4,1 persen. Angka itu lebih tinggi 0,5 persen yang diperkirakan sebelumnya.

Lebih lanjut, Geithner menjelaskan, program memerangi bencana kelaparan di Afrika membutuhkan kerjasama kolektif dunia demi menguatkan keamanan pangan dan pertanian. Ditambahkannya, “Para investor kita di bidang pertanian, dalam jangka panjang harus mampu meningkatkan pemanfaatan pertanian dan hasil pertanian. Kekeringan di Tanduk Afrika menunjukkan parahnya krisis akibat perubahan iklim di sepanjang tahun ini.”

  1. 2.      Kebudayaan

Dalam kebudayaan Afrika, kaum wanita seringkali tidak dapat menanyakan pasangan mereka mengenai skandal asmara, tidak dapat menolak kontak seksual, atau tidak dpat menyarankan kebiasaan seksual yang aman. Kepercayaan budaya seringkali mencerminkan ketidaktahuan dan penyangkalan mengenai AIDS. Misalnya, mempersalahkan ilmu sihir atas penyakit itu, dan pertolongan bisa didapat dari dukun.

Beberapa kebudayaan di benua Afrika terbentuk melalui penjajahan Eropa, seperti kebudayaan Sub-Sahara. Sementara itu, wilayah Afrika Utara lebih banyak terpengaruh oleh kebudayaan Arab dan Islam.

  1. 3.      Agama

Orang Afrika memeluk agama yang berbeda-beda, dengan Kristendan Islam dua yang paling tersebar. Sekitar 40% orang Afrika adalah Kristen dan 40% lainnya Muslim. Kurang lebih 20% orang Afrika memeluk agama asli Afrika. Sejumlah kecil juga memelukYudaisme, seperti suku Beta Israel dan Lemba.

Agama memiliki peranan besar dalam kehidupan di Mesir. Secara tak resmi, adzan yang dikumandangkan lima kali sehari menjadi penentu berbagai kegiatan. Kairo juga dikenal dengan berbagai menara masjid dan gereja. Menurut konstitusi Mesir, semua perundang-undangan harus sesuai dengan hukum Islam. Negara mengakui mazhab Hanafi lewat Kementerian Agama. Imam dilatih di sekolah keahlian untuk imam dan di Universitas Al-Azhar, yang memiliki komite untuk memberikan fatwa untuk masalah agama. 90% dari penduduk Mesir adalah penganut Islam, mayoritas Sunni dan sebagian juga menganut ajaran Sufi lokal. Sekitar 10% penduduk Mesir menganut agama Kristen; 95% dalam denominasi Koptik (Koptik Ortodoks, Katolik Koptik, dan Protestan Koptik.

  1. 4.      Bahasa

Bahasa adalah alat atau perwujudan budaya yang digunakan manusia untuk saling berkomunikasi atau berhubungan, baik lewat tulisan, lisan, ataupun gerakan (bahasa isyarat), dengan tujuan menyampaikan maksud hati atau kemauan kepada lawan bicaranya atau orang lain. Melalui bahasa, manusia dapat menyesuaikan diri dengan adat istiadat, tingkah laku, tata krama masyarakat, dan sekaligus mudah membaurkan dirinya dengan segala bentuk masyarakat.

Bahasa memiliki beberapa fungsi yang dapat dibagi menjadi fungsi umum dan fungsi khusus.

Fungsi secara umum adalah sebagai alat untuk berekspresi, berkomunikasi, dan alat untuk mengadakan integrasi dan adaptasi sosial.

Sedangkan fungsi bahasa secara khusus adalah untuk mengadakan hubungan dalam pergaulan sehari-hari, mewujudkan seni (sastra), mempelajari naskah-naskah kuna, dan untuk mengeksploitasi ilmu pengetahuandan teknologi.

  1. 5.      Pendidikan

Ratusan tahun yang lampau, para tokoh Islam membangun sekolah pertama di pinggir Sahara. Di sekolah ini diajarkan bahasa Arab, Islam dan ilmu pengetahuan. Selain itu juga terdapat universitas terkemuka yang dijumpai di kawasan ini dimana dapat mengembangkan pendidikan masyarakat maupun masyarakat luar  kawasan tersebut


D.    Negara Yang menonjol di Wilayah Afrika Utara

MESIR

Mesir merupakan negara terbesar di wilayah Afrika Utara, tepatnya di antara 22°LU – 32°LU dan 25°BT – 36°BT. Luas negara ini mencapai 997.739 km² dengan jumlah penduduk sekitar 76.117.430 jiwa. Rata – rata kepadatan penduduk di Mesir mencapai 77 jiwa/km². Wilayah Mesir yang luas tersebut kebanyakan didominasi gurun yang tidak layak untuk dijadikan tempat tinggal, sehingga penduduknya memusat di wilayah lembah Sungai Nil dan di pesisir pantainya. Adanya penduduk asli yang tinggal secara nomaden di daerah gurun menyebabkan Mesir mengalami ketimpangan dalam hal penyebaran penduduk dan pendapatannya. Meskipun memiliki banyak devisa, namun pendapatan perkapita penduduknya hanya mencapai 1.350 US dollar.

Pendapatan tersebut didukung oleh beberapa kegiatan perekonomian berikut ini :

Pertanian

Sektor pertanian menyumbangkan 17% perekonomian negara Mesir. Meskipun didominasi wilayah gurun, namun Mesir mendapatkan berkah dari adanya aliran Sungai Nil yang menyuburkan kawasan lembah dan deltanya. Mesir terkenal sebagai penghasil kapas, gandum, kurma, zaitun, dan serat papyrus (bahan baku kertas). Seiring dengan dibangunnya proyek raksasa bendungan Aswan, maka pertanian Mesir semakin maju. Saat ini produk pertaniannya semakin berkembang dengan menghasilkan berbagai jenis buah – buahan, sayuran, padi, tebu, dan rumput-rumputan untuk makanan ternak.

Peternakan dan Perikanan

Selain sebagai petani, masyarakat tradisional Mesir juga banyak yang hidup dari beternak secara nomaden. Jenis hewan ternak yang dikembangkan secara tradisional adalah domba, biri – biri, dan unta. Salah satu dampak pembangunan bendungan Aswan adalah mampu mendukung kegiatan peternakan, sehingga saat ini banyak peternak yang mulai mengembangkan ternaknya dengan cara – cara modern. Adapun perikanan dibedakan atas perikanan laut dan perikanan darat. Perikanan laut banyak diusahakan di perairan Laut Merah dan perairan Laut Tengah, sedangkan perairan darat banyak diusahakan di Sungai Nil dan di kawasan bendungannya.

Pertambangan

Hasil tambang utama Mesir adalah minyak bumi dan gas alam yang terdapat di pantai dan perairan Laut Merah serta di kawasan Gurun Libya dan Semenanjung Sinai. Selain hasil tambang utama tersebut, dikembangkan juga pertambangan fosfat, bijih besi, dan garam.

Perindustrian

Perindustrian termasuk di dalamnya perakitan, pertambangan, dan konstruksi, memberi masukan lebih dari 35% pendapatan nasionalnya.
Hasil industri utama negara ini adalah tekstil, bahan – bahan kimia, besi, dan minyak beserta olahannya. Hubungannya dengan negara – negara maju menyebabkan Mesir juga mulai membangun perindustrian di bidang otomotif, elektronik, barang – barang rumah tangga, dan obat –  obatan. Kawasan industri utama terdapat di Kairo dan Alexandria serta di berbagai zona industri di sepanjang Terusan Suez.

Perdagangan

  1. Ekspor berupa kapas, benang, tekstil dan permadani, minyak mentah, gas dan produk olahannya kopi, teh, cokelat, tebu, dan kurma.
  2. Impor berupa mesin – mesin dan peralatan transportasi, besi dan baja, kertas dan produk olahan makanan, serta bahan – bahan kimia.

Selain memperoleh devisa dari perdagangan, Mesir juga diuntungkan dengan adanya Terusan Suez yang membelah negaranya, yaitu dari pelayanan pelabuhan dan bea masuk terusan.

Kota – Kota Utama Di Mesir

Kairo, merupakan ibukota dan kota terbesar di Benua Afrika. Berfungsi sebagai pusat pemerintahan, pendidikan, dan kebudayaan.

  1. Alexandria, merupakan salah satu kota tertua di dunia, saat ini berfungsi sebagai pusat kebudayaan, filsafat, dan agama.
  2. Suez, merupakan kota pelabuhan yang ramai, terletak di tepi Laut Merah dan berfungsi sebagai pintu masuk Terusan Suez.
  3. Port Said, merupakan kota pelabuhan yang sangat ramai. Terletak di tepi Laut Tengah dan berperan sebagai pintu masuk Terusan Suez. Di kota ini terdapat berbagai jenis industri, seperti industri kimia, pengolahan makanan, perikan.Republik Arab Mesir, lebih dikenal sebagai Mesir, (bahasa Arab, Maṣr) adalah sebuah negara yang sebagian besar wilayahnya terletak di Afrika bagian timur laut. Dengan luas wilayah sekitar 997.739 km² Mesir mencakup Semenanjung Sinai(dianggap sebagai bagian dari Asia Barat Daya), sedangkan sebagian besar wilayahnya terletak di Afrika Utara. Mesir berbatasan dengan Libya di sebelah barat, Sudan di selatan, jalur Gaza dan Israel di utara-timur. Perbatasannya dengan perairan ialah melalui Laut Tengah di utara dan Laut Merah di timur.

Mayoritas penduduk Mesir menetap di pinggir Sungai Nil (sekitar 40.000 km²). Sebagian besar daratan merupakan bagian dari gurun Sahara yang jarang dihuni. Mesir terkenal dengan peradaban kuno dan beberapa monumen kuno termegah di dunia, misalnya Piramid Giza, Kuil Karnak dan Lembah Raja serta Kuil Ramses. DiLuxor, sebuah kota di wilayah selatan, terdapat kira-kira artefak kuno yang mencakup sekitar 65% artefak kuno di seluruh dunia. Kini, Mesir diakui secara luas sebagai pusat budaya dan politikal utama di wilayah Arab dan Timur Tengah.

Mesir berbentuk republik sejak 18 Junimesir adalah negara pertama yang mengakui kedaulatan indonesia 1953. Mohamed Hosni Mubarak telah menjabat sebagai Presiden Mesir selama lima periode, sejak 14 Oktober 1981 setelah pembunuhan Presiden Mohammed Anwar el-Sadat. Selain itu, ia juga pemimpin Partai Demokrat Nasional. Perdana Menteri Mesir, Dr. Ahmed Nazif dilantik pada 9 Juli 2004 untuk menggantikan Dr. Atef Ebeid.

Politik

Kekuasaan di Mesir diatur dengan sistem semipresidensial multipartai. Secara teoritis, kekuasaan eksekutif dibagi antara presiden dan perdana menteri namun dalam prakteknya kekuasaan terpusat pada presiden, yang selama ini dipilih dalam pemilu dengan kandidat tunggal. Mesir juga mengadakan pemilu parlemen multipartai.

Pada akhir Februari 2005, Presiden Mubarak mengumumkan perubahan aturan pemilihan presiden menuju ke pemilu multikandidat. Untuk pertama kalinya sejak 1952, rakyat Mesir mendapat kesempatan untuk memilih pemimpin dari daftar berbagai kandidat. Namun, aturan yang baru juga menerapkan berbagai batasan sehingga berbagai tokoh, seperti Ayman Nour, tidak bisa bersaing dalam pemilihan dan Mubarak pun kembali menang dalam pemilu.

Pada akhir Januari 2011 rakyat Mesir menuntut Presiden yang sekarang Berkuasa Hosni Mubarak untuk meletakan jabatannya. Hingga 18 hari aksi demonstrasi besar-besaran menuntut Presiden Hosni Mubarak Mundur, akhirnya pada tanggal 11 Februari 2011 Hosni Mubarak resmi mengundurkan diri. Pengunduran diri Hosni Mubarak ini disambut baik oleh rakyatnya, dan disambut baik oleh dunia Internasional.

  • Demografi

Mesir merupakan negara Arab paling banyak penduduknya sekitar 74 juta orang. Hampir seluruh populasi terpusat di sepanjang Sungai Nil, terutama Iskandariyah dan Kairo, dan sepanjang Delta Nil dan dekat Terusan Suez. Hampir 90% dari populasinya adalah pemeluk Islam dan sisanya Kristen terutama denominasi Coptic.

Penduduk Mesir hampir homogenous. Pengaruh Mediterania (seperti Arab dan Italia) dan Arab muncul di utara, dan ada beberapa penduduk asli hitam di selatan. Banyak teori telah diusulkan mengenai asal-usul orang Mesir, namun tidak ada yang konklusif, dan yang paling banyak diterima adalah masyarakat Mesir merupakan campuran dari orang Afrika Timur dan Asiatik yang pindah ke lembah Nil setelah zaman es.

LIBYA

Libya atau Libia (bahasa Arab: ‏ليبيا Lībyā) adalah sebuah negara di wilayah Maghrib Afrika Utara. Libya berbatasan dengan Laut Tengah di sebelah utara, Mesir di sebelah timur, Sudan di sebelah tenggara, Chad dan Niger di sebelah selatan, serta Aljazair dan Tunisia di sebelah barat.

Dengan wilayah seluas hampir 1,8 juta square kilometres (700,000 mil²), Libya adalah negara terbesar keempat di Afrika menurut luas wilayah, dan ke-17 terbesar di dunia. Kota terbesarnya, Tripoli, adalah rumah bagi 1,7 juta dari 6,4 juta rakyat Libya. Tiga pembagian wilayah tradisional negara ini adalah Tripolitania, Fezzan dan Cyrenaica.

Pada tahun 2009, Libya memiliki IPM tertinggi di Afrika dan PDB (PPP) per kapita tertinggi keempat di Afrika, setelah Seychelles, Guinea Khatulistiwa, dan Gabon. Libya memiliki cadangan minyak terbesar ke-10 dari negara-negara lain di dunia dan produksi minyak tertinggi ke-17.

Akibat perang saudara yang berlangsung sejak Februari hingga Oktober 2011, pemerintah Libya, yang pada saat itu telah berkuasa selama lebih dari 40 tahun, tumbang dan Libya memasuki periode pemerintahan oleh suatu pemerintahan sementara yang disebut Dewan Transisi Nasional (NTC).

TUNISIA

Republik Tunisia (bahasa Arab: الجمهرية التونسية) adalah sebuah negara Arab Muslim di Afrika Utara, tepatnya di pesisir Laut Tengah. Tunisia berbatasan dengan Aljazair di sebelah barat, dan Libya di selatan dan timur. Di antara negara-negara yang terletak di rangkaian Pegunungan Atlas, wilayah Tunisia termasuk yang paling timur dan terkecil. 40% wilayah Tunisia berupa padang pasir Sahara, sisanya tanah subur.

SUDAN

Sudan (nama resmi: Republic of Sudan ) adalah negara yang terletak di timur laut benua Afrika. Sudan merupakan negara terluas di Afrika dan di daerah Arab, serta terluas kesepuluh di dunia. Negara ini berbatasan dengan Mesir di utara, Laut Merah di timur laut, Kongo dan Afrika Tengah di barat daya, Chad di barat, dan Libya di barat laut. Sungai Nil yang merupakan sungai terpanjang di dunia, memisahkan negara ini menjadi bagian selatan dan utara.

Sebagai anggota dari PBB, Sudan juga anggota dari Arab Union, Liga Arab, OKI, dan Gerakan Non-Blok, dan juga sebagai pengamat di WTO. Ibu kota negara ini adalah Khartoum, yang merupakan pusat politik, kebudayaan, dan perdagangan. Sementara Omdurman sebagai kota terbesarnya. Dengan jumlah populasi sebesar 42 juta jiwa, Islam Sunni merupakan agama resmi dan terbanyak dianut, sementara bahasa Arab dan Inggris merupakan bahasa resmi negara ini.

Pendidikan

Pendidikan di Sudan digratiskan dan diwajibkan bagi seluruh anak-anak usia 6 sampai 13 tahun. Pendidikan dimulai dari pendidikan dasar selama dari delapan tahun, kemudian pendidikan menengah tiga tahun. Jenjang pendidikan diubah menjadi berformat 6 + 3 + 3 pada tahun 1990.

Bahasa pengantar pedidikan yang digunakan di semua tingkatan adalah bahasa Arab. Lokasi sekolah terkonsentrasi di sejumlah daerah perkotaan, yang mana sejumlah sekolah yang terletak di bagian Selatan dan Barat telah rusak bahkan hancur akibat konflik di Negara tersebut.

Pada tahun 2001, Bank Dunia memperkirakan bahwa partisipasi murni siswa Sekolah Dasar adalah 46% dan 21 persen dari pelajar sekolah menengah yang terdiri dari siswa yang memenuhi syarat. Tingkat kelangsungan pendidikan di Sudan sangat bervariasi, di beberapa provinsi bahkan hanya mencapai di bawah 20 persen.

Sudan memiliki 19 universitas berbahasa Arab. Pendidikan di tingkat menengah dan pendidikan tinggi di universitas mengalami masalah penghambat yang serius disebabkan oleh sebagian besar penduduk berjenis kelamin laki-laki melaksanakan dinas militer sebelum dapat menyelesaikan pendidikan mereka.

Menurut perkiraan Bank Dunia, pada tahun 2000 tingkat baca-tulis pada orang dewasa berusia 15 tahun keatas hampir 58% (69% untuk laki-laki, 46 %untuk wanita). Sedangkan pada tahun 2002, tingkat baca-tulis pada orang dewasa berusia 15 tahun keatas mencapai 60 persen dan tingkat buta aksara pemuda (usia 15-24) diperkirakan sebesar 23%.

BAB III

PENUTUP

Kesimpulan

Dengan demikian kawasan Afrika Utara merupakan kawasan yang paling maju dalam keagamaan, industri, pertanian, perkebunan, pendidikan, dan lain-lain.

Kawasan ini juga mengalami peristiwa sejarah semenjak zaman Firaun dimana merupakan peradaban tertua di dunia, hingga masuknya bangsa Berber kemudian masuknya Islam, sehingga kawasan ini juga mampu melahirkan orang-orang yang pandai dalam beberapa hal yaitu agama, politikus, yang kemudian mampu melahirkan negara-negara di kawasan ini seperti Mesir, Libya, Tunisia, Al jazair, Sudan, Maroko, Maroko, dan Mauritania.

Agama Islam adalah agama yang paling banyak di kawasan ini, suku bangsa Berber serta Arab merupakan suku atau etnis yang terbesar di kawasan Afrika Utara.

Sifat Kimia Tanah

BAB I

PENDAHULUAN

  1. Latar belakang

Kata ”tanah” seperti banyak kata umum lainnya, mempunyai beberapa pengertian. Dalam

pengertian tradisional tanah adalah medium alami untuk pertumbuhan tanaman daratan, tanpa memperhitungkan tanah tersebut mempunyai horizon yang keliatan atau tidak. Pengertian ini masih merupakan arti yang paling umum dari kata tersebut, dan perhatian yang terbesar pada tanah terpusat pada pengertian ini. Orang menganggaptanah adalah penting, oleh karena tanah mendukung kehidupan tanam-tanaman yang memaso pangan, serat, obat-obatan, dan berbagai keperluan lain manusia, juga karena mampu menyaring air serta mendaur ulang limbah. Tanah menutupi permukaan bumi sebagai lapisan yang sambung menyambung, terkecuali pada batuan tandus, pada wilayah yang terus menerus membeku, atau tertutup air dalam, atau pada lapisan es terbuka suatu glester. Dalam pengertian ini, tanah memiliki suatu ketebalan yang ditentukan oleh kedalaman akar tanaman.

Tanah merupakan suatu benda alam yang tersusun dari padatan (bahan mineral dan bahan organik), cairan dan gas, yang menempati permukaan daratan, menempati ruang, dan dicirikan oleh salah satu atau kedua berikut: horison-horison, atau lapisan-lapisan, yang dapat dibedakan dari bahan asalnya sebagai hasil dari suatu proses penambahan, kehilangan, pemindahan dan transformasi energi dan materi, atau berkemampuan mendukung tanaman berakar di dalam suatu lingkungan alami (Soil Survey Staff, 1999). Schoeder (1972) mendefinisikan tanah sebagai suatu sistem tiga fase yang mengandung air, udara dan bahan-bahan mineral dan organik serta jasad-jasad hidup, yang karena pengaruh berbagai faktor lingkungan pada permukaan bumi dan kurun waktu, membentuk berbagai hasil perubahan yang memiliki ciri-ciri morfologi yang khas, sehingga berperan sebagai tempat tumbuh bermacam-macam tanaman. Menurut Jooffe dan Marbut (1949), dua orang ahli Ilmu Tanah dari Amerika Serikat, Tanah adalah tubuh alam yang terbentuk dan berkembang sebagai akibat bekerjanya gaya-gaya alam terhadap bahan-bahan alam dipermukaan bumi. Tubuh alam ini dapat berdiferensiasi membentuk horizon-horizon mieneral maupun organik yang kedalamannya beragam dan berbeda-beda sifat-sifatnya dengan bahan induk yang terletak dibawahnya dalam hal morfologi, komposisi kimia, sifat-sifat fisik maupun kehidupan biologinya. Ada tiga hal penting yang dari definisi ini :

  • Tanah itu terbentuk dan berkembang dari proses-proses alami
  • Adanya diferensiasi profil tanah membentuk horizon-horizon
  • Terdapat perbedaan yang menyolok antara sifat-sifat bahan induk dengan horizon-horizon tanah yang terbentuk terutama dalam hal morfologi, kimiafi, fisik dan biologinya. Darmawijaya (1990) mendefinisikan tanah sebagai akumulasi tubuh alam bebas, menduduki sebagain besar permukaan palnet bumi, yang mampu menumbuhkan tanaman, dan memiliki sifat sebagai akibat pengaruh iklim dan jasad hidup yang bertindak terhadap bahan induk dalam keadaan relief tertentu selama jangka waktu tertentu pula. Batas atas dari tanah adalah batas antara tanah dan udara, air dangkal, tumbuhan hidup, atau bahan tumbuhan yang belum mulai terlapuk. Wilayah yang dianggap tidak mempunyai tanah, apabila permukaan secara permanen tertutup oleh air yang terlalui dalam (secara tipikal lebih dari 2.5 m) untuk pertumbuhan tanam-tanaman berakar. Batas horizontal tanah adalah wilayah dimana tanah berangsur beralih kedalam, area-area tandus, batuan atau es. Batas bawah yang memisahkan dari bahan bukan tanah yang terletak dibawahnya, adalah yang paling sulit ditetapkan. Tanah tersusun dari horizon-horizon dekat permukaan bumi yang berbeda kontras tehadap bahan induk di bawahnya, telah mengalamiperubahan interaksi antara iklim, relief dan jasad hidup selama waktu pembentukannya. Bisanya, pada batas bawah tanah.
  1. Rumusan Masalah
    1. Apa yang dimaksud dengan sifat kimia tanah?
    2. Apa saja sifat-sifat dari kimia tanah tersebut?
    3. C.  Tujuan Penulisan

      1. Agar mahasiswa mengetahui apa itu sifat kimia tanah.
      2. Agar mahasiswa mengetahui dan bisa menjelaskan apa saja sifat-sifat kimia tanah.

D. Dasar Teori

Tanah berasal dari pelapukan batuan dengan bantuan organisme, membentuk tubuh unik yang menutupi batuan. Proses pembentukan tanah dikenal sebagai pedogenesis. Proses yang unik ini membentuk tanah sebagai tubuh alam yang terdiri atas lapisan-lapisan atau disebut sebagai horizon tanah. Setiap horizon menceritakan mengenai asal dan proses-proses fisika, kimia, dan biologi yang telah dilalui tubuh tanah tersebut.

Hans Jenny (1899-1992), seorang pakar tanah asal Swiss yang bekerja di Amerika Serikat, menyebutkan bahwa tanah terbentuk dari bahan induk yang telah mengalami modifikasi/pelapukan akibat dinamika faktor iklim, organisme (termasuk manusia), dan relief permukaan bumi (topografi) seiring dengan berjalannya waktu. Berdasarkan dinamika kelima faktor tersebut terbentuklah berbagai jenis tanah dan dapat dilakukan klasifikasi tanah.

Tanah adalah lapisan nisbi tipis pada permukaan kulit. Tanah bervariasi dari satu tempat ke tempat yang lain, karena keaneka ragaman ini, maka tanah dapat dipandang sebagai kumpulan individu-individu tanah. Pementukan tanah dari bongkahan bum mulai dari proses-proses pemecahan atau penghancura dimana bahan induk berkeping-keping secara halus . Tiap tanah berkembang secara baik dan masih dalam  keadaan asli akan mempunyai sifat profil yang khas. Sifat-sifat ini yang dipakai dalam klasifikasi dan penjarangan tanah yang sangat besar manfatnya dalam menentukan pendapat tentang tanah dan sifat-sifat profil.

BAB II

PEMBAHASAN

“SIFAT-SIFAT KIMIA TANAH”

 

 

  1. Pengertian Sifat Kimia Tanah

Komponen kimia tanah berperan terbesar dalam menentukan sifat dan ciri tanah umumnya dan kesuburan tanah pada khususnya. Bahan aktif dari tanah yang berperan dalam menjerap dan mempertukarkan ion adalah bahan yang berada dalam bentuk koloidal, Yaitu :

  • liat
  • Bahan organik

Kedua bahan koloidal ini berperan langsung atau tidak langsung dalam mengatur dan menyediakan hara bagi tanaman.

Dua bahan penting yang diabsorbsi tanaman dan dipindahkan dari tanah adalah air dan unsur hara. Tanaman dapat mengalami defisiensi unsur essensial, bila :

1. Unsur tidak terdapat di dalam tanah

2. Terdapat dalam kuantitas yang besar dalam tanah, tetapi sangat sedikit terlarut atau              tersedia untuk menopang kebutuhan tanaman.

SIFAT-SIFAT KOLOID TANAH

  1. Efek Tyndall

Cara yang paling mudah untuk membedakan suatu campuran merupakan larutan, koloid, atau suspensi adalah menggunakan sifat efek Tyndall . Jika seberkas cahaya dilewatkan melalui suatu sistem koloid, maka berkas cahaya tersebut kelihatan dengan jelas. Hal itu disebabkan penghamburan cahaya oleh partikel-partikel koloid. Gejala seperti itulah yang disebut efek Tyndall koloid.

Gambar 1. Perbedaan (a)larutan, (b)koloid dan (c)suspensi dengan menggunakanefek tyndal

Istilah efek Tyndall didasarkan pada nama penemunya, yaitu John Tyndall (1820-1893) seorang ahli fisika Inggris. John Tyndall berhasil menerangkan bahwa langit berwarna biru disebabkan karena penghamburan cahaya pada daerah panjang gelombang biru oleh partikel-partikel oksigen dan nitrogen di udara. Berbeda jika berkas cahaya dilewatkan melalui larutan, nyatanya berkas cahaya seluruhnya dilewatkan. Akan tetapi, jika berkas cahaya tersebut dilewatkan melalui suspensi, maka berkas cahaya tersebut seluruhnya tertahan dalam suspensi tersebut.

  1. Gerak Brown

Dengan menggunakan mikroskop ultra (mikroskop optik yang digunakan untuk melihat partikel yang sangat kecil) partikel-partikel koloid tampak bergerak terus-menerus, gerakannya patah-patah (zig-zag), dan arahnya tidak menentu. Gerak sembarang seperti ini disebut gerak Brown. Gerak Brown ditemukan oleh seorang ahli biologi berkebangsaan Inggris, Robert Brown ( 1773 – 1858), pada tahun 1827.

Gerak Brown terjadi akibat adanya tumbukan yang tidak seimbang antara partikel-partikel koloid dengan molekul-molekul pendispersinya. Gerak Brown akan makin cepat, jika partikel-partikel koloid makin kecil. Gerak Brown adalah bukti dari teori kinetik molekul.

Gambar 2. Gerak Brown

  1. Elektroforesis

Koloid ada yang netral dan ada yang bermuatan listrik. Bagaimana mengetahui suatu koloid bermuatan listrik atau tidak? Dan mengapa koloid bermuatan listrik?

Jika partikel-partikel koloid dapat bergerak dalam medan listrik, berarti partikel koloid tersebut bermuatan listrik. Jika sepasang elektrode dimasukkan ke dalam sistem koloid, partikel koloid yang bermuaran positif akan menuju elektrode negatif (katode) dan partikel koloid yang bermuatan negatif akan menuju elektrode positif (anode). Pergerakan partikel-partikel koloid dalam medan listrik ke masing-masing elektrode disebut elektroforesis . Dari penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa elektroforesis dapat digunakan untuk menentukan jenis muatan koloid.

Gambar 3. (a) Sel elektroforesis sederhana dan (b) pemaparan pengendap Cottrell

Pada sel elektroforesis, partikel-partikel koloid akan dinetralkan muatannya dan digumpalkan di bawah masing-rnasing elektrode. Di samping untuk menentukan muatan suatu partikel koloid, elektroforesis digunakan pula dalam industri, misalnya pembuatan sarung tangan dengan karet. Pada pembuatan sarung tangan ini, getah karet diendapkan pada cetakan berbentuk tangan secara elektroforesis. Elektroforesis juga digunakan untuk mengurangi pencemaran udara yang dikeluarkan melalui cerobong asap pabrik. Metode ini pertama-tama dikembangkan oleh Frederick Cottrell (1877 – 1948) dari Amerika Serikat. Metode ini dikenal dengan metode Cottrell . Cerobong asap pabrik dilengkapi dengan suatu pengendap listrik (pengendap Cottrell), berupa lempengan logam yang diberi muatan listrik yang akan menggumpalkan partikel-partikel koloid dalam asap buangan.

4. Absorpsi

Suatu partikel koloid akan bermuatan listrik apabila terjadi penyerapan ion pada permukaan partikel koloid tersebut. Contohnya, koloid Fe(OH) 3 dalam air akan menyerap ion H + sehingga bermuatan positif, sedangkan koloid As 2 S 3 akan menyerap ion-ion negatif. Kita tahu bahwa peristiwa ketika permukaan suatu zat dapat menyerap zat lain disebut absorpsi . Berbeda dengan absorpsi pada umumnya, penyerapan yang hanya sampai ke bagian dalam di bawah permukaan suatu zat, suatu koloid mempunyai kemampuan mengabsorpsi ion-ion. Hal itu terjadi karena koloid tersebut mempunyai permukaan yang sangat luas. Sifat absorpsi partikel-partikel koloid ini dapat dimanfaatkan, antara lain sebagai berikut.

a. Pemutihan gula pasir

Gula pasir yang masih kotor (berwarna coklat) diputihkan dengan cara absorpsi. Gula yang masih kotor dilarutkan dalam air panas, lalu dialirkan melalui sistem koloid, berupa mineral halus berpori atau arang tulang. Kotoran gula akan diabsorpsi oleh mineral halus berpori atau arang tulang sehingga diperoleh gula berwarna putih.

b. Pewarnaan serat wol, kapas, atau sutera

Serat yang akan diwarnai dicampurkan dengan garam A1 2 (SO 4 ) 3, lalu dicelupkan dalam larutan zat warna. Koloid Al(OH) 3 yang terbentuk, karena A1 2 (SO 4 ) 3 terhidrolisis, akan mengabsorpsi zat warna.

c. Penjernihan air

Air keruh dapat dijernihkan dengan menggunakan tawas (K 2 SO 4 A1 2 (SO 4 ) 3 ) yang ditambahkan ke dalam air keruh. Koloid Al(OH) 3 yang terbentuk akan mengabsorpsi, menggumpalkan, dan mengendapkan kotoran-kotoran dalam air.

d. Obat

Serbuk karbon (norit), yang dibuat dalam bentuk pil atau tablet, apabila diminum dapat menyembuhkan sakit perut dengan cara absorpsi. Dalam usus, norit dengan air akan membentuk sistem koloid yang mampu mengabsorpsi dan membunuh bakteri-bakteri berbahaya yang menyebabkan sakit perut.

e. Alat Pembersih (sabun)

Membersihkan benda-benda dengan mencuci memakai sabun didasarkan pada prinsip absorpsi. Buih sabun mempunyai permukaan yang luas sehingga mampu mengemulsikan kotoran yang melekat pada benda yang dicuci.

f. Koloid tanah liat mampu menyerap koloid humus

Koloid tanah dapat mengabsorpsi koloid humus yang diperlukan tumbuh-tumbuhan sehingga tidak terbawa oleh air hujan.

5. Koagulasi

Koagulasi adalah proses penggumpalan partikel-partikel koloid. Proses koagulasi ini terjadi akibat tidak stabilnya sistem koloid. Sistem koloid stabil bila koloid tersebut bermuatan positif atau bermuatan negatif. Jika muatan pada sistem koloid tersebut dilucuti dengan cara menetralkan muatannya, maka koloid tersebut menjadi tidak stabil lalu terkoagulasi (menggumpal). Koagulasi dengan cara menetralkan muatan koloid dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu sebagai berikut.

1) Penambahan Zat Elektrolit

Jika pada suatu koloid bermuatan ditambahkan zat elektrolit, maka koloid tersebut akan terkoagulasi. Contohnya, lateks (koloid karet) bila ditambah asam asetat, maka lateks akan menggumpal. Dalam koagulasi ini ada zat elektrolit yang lebih efisien untuk mengoagulasikan koloid bermuatan, yaitu sebagai berikut.

a. Koloid bermuatan positif lebih mudah dikoagulasikan oleh elektrolit yang muatan ion negatifnya lebih besar. Contoh; koloid Fe(OH) 3 adalah koloid bermuatan positif, lebih mudah digumpalkan oleh H 2 SO 4 daripada HC1.

b. Koloid bermuatan negatif lebih mudah dikoagulasikan oleh elektrolit yang muatan ion positifnya lebih besar. Contoh; koloid As 2 S 3 adalah koloid bermuatan negatif, lebih mudah digumpalkan oleh BaCl 2 daripada NaCl

2) Mencampurkan Koloid yang Berbeda Muatan

Bila dua koloid yang berbeda muatan dicampurkan, maka kedua koloid tersebut akan terkoagulasi. Hal itu disebabkan kedua koloid saling menetralkan sehingga terjadi gumpalan. Contoh, campuran koloid Fe(OH) 3 dengan koloid As 2 S 3 .

Selain koagulasi yang disebabkan adanya pelucutan muatan koloid, seperti di atas, ada lagi proses koagulasi dengan cara mekanik, yaitu melakukan pemanasan dan pengadukan terhadap suatu koloid. Contohnya, pembuatan lem kanji, sol kanji dipanaskan sampai membentuk gumpalan yang disebut 1em kanji.

Di bawah ini beberapa contoh koagulasi dalam kehidupan sehari-hari dan dalam industri.

a) Pembentukan delta di muara sungai.

Hal ini terjadi karena koloid tanah liat akan terkoagulasi ketika bercampur dengan elektrolit dalam air laut.

b) Penggumpalan lateks (koloid karet) dengan cara menambahkan asam asetat ke dalam lateks.

c) Sol tanah liat (berbentuk lumpur) dalam air, yang membuat air menjadi keruh, akan menggumpal jika ditambahkan tawas. Ion Al 3+ akan menggumpalkan koloid tanah liat yang bermuatan negatif.

6. Koloid Liofil dan Koloid Liofob

Adanya sifat absorpsi dan zat terdispersi (dengan fase padat) terhadap mediumnya (dengan fase cair), maka kita mengenal dua jenis sol, yaitu sol liofil dan sal liofob. Sol liofil ialah sol yang zat terdispersinya akan menarik dan mengabsorpsi molekul mediumnya. Sol liofob ialah sol yang zat terdispersinya tidak menarik dan tidak mengabsorpsi molekul mediumnya.

Bila sol tersebut menggunakan air sebagai medium, maka kedua jenis koloid tersebut adalah sol hidrofil dan sot hidrofob. Contoh koloid hidrofil adalah kanji, protein, sabun, agar-agar, detergen, dan gelatin. Contoh koloid hidrofob adalah sol-sol sulfida, sol-sol logam, sol belerang, dan sol Fe(OH) 3 .

Sol liofil lebih kental daripada mediumnya dan tidak terkoagulasi jika ditambah sedikit elektrolit. Oleh karena itu, koloid liofil lebih stabil jika dibandingkan dengan koloid liofob. Untuk menggumpalkan koloid liofil diperlukan elektrolit dalam jumlah banyak, sebab selubung molekul-molekul cairan yang berfungsi sebagai pelindung harus dipecahkan terlebih dahulu. Untuk memisahkan mediumnya, pada koloid liofil, dapat kita lakukan dengan cara pengendapan atau penguraian. Akan tetapi, jika zat mediumnya ditambah lagi, maka akan terbentuk koloid liofil lagi. Dengan kata lain, koloid liofil bersifat reversibel . Koloid liofob mempunyai sifat yang berlawanan dengan koloid liofil.

7. Dialisis

Untuk menghilangkan ion-ion pengganggu kestabilan koloid pada proses pembuatan koloid, dilakukan penyaringan ion-ion tersebut dengan menggunakan membran semipermeabel . Proses penghilangan ion-ion pengganggu dengan cara menyaring menggunakan membran/selaput semipermeabel disebut dialisis . Proses dialisis tersebut adalah sebagai berikut. Koloid dimasukkan ke dalam sebuah kantong yang terbuat dari selaput semipermeabel. Selaput ini hanya dapat melewatkan molekul-molekul air dan ion-ion, sedangkan partikel koloid tidak dapat lewat. Jika kantong berisi koloid tersebut dimasukkan ke dalam sebuah tempat berisi air yang mengalir, maka ion-ion pengganggu akan menembus selaput bersama-sama dengan air. Prinsip dialisis ini digunakan dalam proses pencucian darah orang yang ginjalnya (alat dialisis darah dalam tubuh) tidak berfungsi lagi.

8. Koloid Pelindung

Untuk sistem koloid yang kurang stabil, perlu kita tambahkan suatu koloid yang dapat melindungi koloid tersebut agar tidak terkoagulasi. Koloid pelindung ini akan membungkus atau membentuk lapisan di sekeliling partikel koloid yang dilindungi. Koloid pelindung ini sering digunakan pada sistem koloid tinta, cat, es krim, dan sebagainya; agar partikel-partikel koloidnya tidak menggumpal. Koloid pelindung yang berfungsi untuk menstabilkan emulsi disebut emulgator (zat pengemulsi). Contohnya, susu yang merupakan emulsi lemak dalam air, emulgatornya adalah kasein (suatu protein yang dikandung air susu). Sabun dan detergen juga termasuk koloid pehindung dari emulsi antara minyak dengan air.

Salah satu sifat kimia tanah yang penting adalah reaksi atau pH tanah. Reaksi atau pH tanah menunjukkan konsentrasi ion H+ di dalam larutan tanah. Nilai pH didefinisikan sebagai logaritma negative konsentrasi ion H+ dalam larutan. Larutan mempunyai pH disebut netral, lebih kecil dari 7 masam, dan lebih besar dari 7 basis atau alkalis. Pada keadaan netral konsentrasi ion H+ sama besar dengan konsentrasi ion OH- dan pada keadaan alkalis sebaliknya.

Tanah Alfisol di Indonesia secara potensial termasuk tanah yang subur dan sebagian besar telah dimanfaatkan sebagai lahan pertanian. Morfologi yang khas dari Alfisol dicirikan oleh horizon illuviasi dan elluviasi yang jelas. Elluviasi liat dari horizon A dan illuviasi di horizon B merupakan penyebab utama perbedaan liat

Sifat – Sifat Kimia Tanah

Pertumbuhan tanaman dipengaruhi oleh sifat-sifat kesuburan tanahnya yakni kesuburan fisik, kesuburan kimia dan kesuburan biologis. Kalau kesuburan fisik lebih mengutamakan tentang keadaan fisik tanah yang banyak kaitannya drengan penyediaan air dan udara tanah, maka kesuburan kimia berperan dalam menentukan dan menjelaskan reaksi-reaksi kimia yang menyangkut dalam masalah-­masalah ketersediaan unsur hara bagi pertumbuhan tanaman. Untuk mencapai rnaksud tersebut, maka pembahasan mengenai sifat kimia tanah ini kita batasi pada. hal-hal yang berkaitan erat dengan masalah-masalah antara lain : Reaksi tanah (pH), koloid tanah, pertukaran kation, dan kejenuhan basa.

Tekstur tanah tersusun dari tiga komponen, yaitu: pasir, debu dan liat. Ketiga komponen tersebut dibedakan berdasarkan ukurannya yang berbeda. Partikel pasir berukuran antara 200 mikrometer sampai dengan 2000 mikrometer. Partikel debu berukuran antara 2 mikrometer sampai dengan kurang dari 200 mikrometer. Partikel liat berukuran kurang dari 2 mikrometer. Makin halus ukuran partikel penyusun tanah tersebut akan memiliki luas permukaan partikel per satuan bobot makin luas. Partikel tanah yang memiliki permukaan yang lebih luas memberi kesempatan yang lebih banyak terhadap terjadinya reaksi kimia. Partikel liat persatuan bobot memiliki luas permukaan yang lebih luas dibandingkan dengan kedua partikel penyusun tekstur tanah lain (seperti: debu dan pasir). Reaksi-reaksi kimia yang terjadi pada permukaan patikel liat lebih banyak daripada yang terjadi pada permukaan partikel debu dan pasir persatuan bobot yang sama. Dengan demikian, partikel liat adalah komponen tanah yang paling aktif terhadap reaksi kimia, sehingga sangat menentukan sifat kimia tanah dan mempengaruhi kesuburan tanah.Beberapa sifat kimia tanah yang penting untuk diketahui dan dipahami, meliputi:

  1. A.      Reaksi tanah (Ph tanah)

Reaksi tanah menunjukkan sifat keasaman atau alkalinitas tanah yang dinyatakan dengan nilai pH. Nilai pH menunjukkan banyaknya konsentrasi ion hidrogen di dalam tanah. Makin tinggi kadar ion H+ terdapat pula ion OH , yang jumlahnya berbanding terbalik dengan banyaknya ion H+. Pada tanah asam, jumlah ion H+ lebih tinggi daripada ion OH, sedangkan pada tanah basa kandungan OHlebih banyak daripada kandungan H+ . Apabila kandungan H+ sama dengan kandungan OHmaka tanah bereaksi netral yaitu mempunyai pH =7.

Beberapa bakteri membantu tanaman mendapatkan N dengan mengubah N di atmosfer menjadi bentuk N yang dapat digunakan oleh tanaman. Bakteri ini hidup di dalam nodule akar tanaman legume (seperti alfalfa dan kedelai) dan berfungsi secara baik bilamana tanaman dimana bakteri tersebut hidup tumbuh pada tanah dengan kisaran pH yang sesuai.
Sebagai contoh, alfalfa tumbuh dengan baik pada tanah dengan pH 6,2 hingga 7,8; sementara itu kedelai tumbuh dengan baik pada tanah dengan kisaran pH 6,0 hingga 7,0. Kacang tanah tumbh dengan baik pada tanah dengan pH 5,3 hingga 6,6. Banyak tanaman termasuk sayuran, bunga dan semak-semak serta buah-buahan tergantung dengan pH dan ketersediaan tanah yang mengandung nutrisi yang cukup.
Jika larutan tanah terlalu masam, tanaman tidak dapat memanfaatkan N, P, K dan zat hara lain yang mereka butuhkan. Pada tanah masam, tanaman mempunyai kemungkinan yang besar untuk teracuni logam berat yang pada akhirnya dapat mati karena keracunan tersebut.
Herbisida, pestisida, fungsisida dan bahan kimia lainnya yang digunakan untuk memberantas hama dan penyakit tanaman juga dapat meracuni tanaman itu sendiri. Mengetahui pH tanah, apakah masam atau basa adalah sangat penting karena jika tanah terlalu masam oleh karena penggunaan pestisida, herbbisida, dan fungisida tidak akan terabsorbsi dan justru akan meracuni air tanah serta air-air pada aliran permukaan dimana hal ini akan menyebabkan polusi pada sungai, danau, dan air tanah.

1. Ionisasi asam-asam organis. Pada penguraian bahan organis dihasilkan asam-asam organis seperti asam karbonat. Asam karbonat dapat melepaskan ion H+ dengan cara seperti berikut :

H2ZCO3 <============= > HC03 + H+

2. Ion AI yang terjerap : Jika pH tanah masam sekali, maka Al akan sangat larut yang dijumpaidalam bentuk ion Al dan hidroksida Al. Kedua ion Al trsebut lebih mudah terjerap pada koloid liat daripada ion H+ . Aluminum yang terjerap ini berada dalam keadaan seimbang dengan Al dalam larutan tanah. Oleh twena itu Al berada dalam larutan mudah terhidrolisis, maka Al menapakan ptrnyebab kemasaman atau penyumbang ion H+. Kejadian itu dapat dilukiskan dengan reaksi sebagai berikut :

( Misel ) Al+++ ————> Al3+

Ion Al terjerap pada misel Ion Al dalam larutan tanah

Selanjutnya ian Al yang berada di dalam larutan tanah dihidrolisis sebagai berikut :

Al3++ H2O —————–>

Hidrolisis diatas menghasilkan ian H dan mungkin merupakan sumber utama ion H dalam sebagian besar tanah sangat masam.

3. Koloid Liat dan koloid Humus : Koloid liat dan humus di dalam tanah merupakan penyumbang ion H dalam larutan tanah pada tanah yang berkemasan sedang. Dalam hal ini dapat diartikan bahwa ion Ca yang sedikit tidak cukup untuk menetralkan kemasan. Reaksinya adalah sebagai berikut :

Misel H+ + Ca ————-> (Misel) Ca2++ 2H+

H+

Sumber ion OH

Jika misalnya komplek jerapan (adsorpsi) yang semulanya di tempati oleh ion H dan Al digantikan oleh kation-kation seperti kation Ca, K dan Mg, maka konsentrasi ion H pada komplek jerapan tanah akan berkurang, akibatnya konsentrasi ion OH naik. Peristiwa ini dapat dilihat dari reaksi berikut :

H+

Misel Ca2+ + 2 H2 O <=========> (Misel) H++ 2 Ca2++ 2 OH+

Ca2+ H+

H+

Dari reaksi diatas ternyata kation-kation basa mempengaruhi konsentrasi ion OH. Hidrolisis dari misel yang dijenuhi oleh basa-basa menghasilkan ion OH.

Sifat Penyangga Tanah

Reaksi tanah (pH) tidak mudah diturunkan ataupun dinaikkan secara mendadak, karena di dalam tanah ada sifat penyangga pH. Komponen tanah yang mempunyai sifat menyangga ini adaIah gugus asam Iemah seperti karbonat serta komplek koloidai tanah yakni koloid Iiat dan koloid humus. Koloid tanah dikelilingi oleh ion-ion H yang terjerap pada permukaannya dan di pihak lain ada ion-ion H yang tidak dipengaruhi oleh komplek jerapan tanah , yakni ion H yang herada pada larutan tanah. Ion H yang terjerap dan yang berada di dalam larutan tanah berada dalam keseimbangan.

Mekanisme sanggaan dapat dijelaskan berdasarkan sifat dissosiasi ion H dari asam koloidal lemah.

Ion H yang terjerap <==========> Ion H dalam larutan tanah

(Kemasaman cadangan) ( Kemasaman aktif)

Asam Iemah ini mempunyai tingkat disosiasi yang Iemah dan sebagian besar dari ion H masih tetap terjerap pada permukaan koloid. Bila suatu tanah masam ingin dinaikkan pH nya, maka dilakukan pengapuran, dan akibatnya reaksi akan beralih ke kanan dimana ion-ion Ca dari kapur lebih banyak terjerap, tapi ternyata pH tidak banyak berubah. Hal ini terjadi karena ion-ion H masih banyak terjerap pada koloid tanah. Dengan penambahan kapur yang Iebih banyak lagi hingga cukup untuk mebebaskan semua ion H dari kompIek jerapan tanah dan digantikan oleh ion Ca, maka akan terjadilah peningkatan pH tanah yang lebih nyata. Ini berarti kemasaman cadangan telah dinetralkan.

Dengan adanya sifat penyangga di dalam tanah, hai ini dapat menjaga penurunan pH yang drastis akibat bertambahnya ion H oleh suatu poroses biologis ataupun perlakuan pemupukan. Adanya aktifitas jasad jasad hidup di dalam tanah atau perlakuan pemupukan yang bersifat asam akan menyumbangkan banyak ion H, sehingga reaksi beralih ke kiri, namun demikian penurunan pH juga tidak nyata. HaI ini juga disebabkan oleh adanya sifat sanggaan tanah tadi. Dari uraian diatas jelaslah bahwa sifat sanggahan tanah sangat penting artinya dalam menjaga kestabilan reaksi tanah, sehingga gejolak pH yang hebat tidak terjadi yang dapat mengganggu pertumbuhan tanaman.

Pengaruh pH terhadap tanah

Reaksi tanah (pH) mempunyai peranan yang penting terhadap ketersediaan unsur-unsur hara, baik hara makro maupun hara mikro. Meningkatnya kelarutan ion­ion Al, dan Fe dan juga meningkatnya aktifitas jasad-jasad renik tanah sangat dipengaruhi oleh keadaan pH tanah

pH dan ketersediaan unsur-unsur hara

Reaksi tanah berpengaruh terhadap ketersediaan unsur-unsur hara di dalam tanah. Pada umumnya unsur hara makro akan lebih tersedia pada pH agak masam sampai netral, sedangkan unsur hara mikro kebalikannya yakni lebih tersedia pada pH yang lebih rendah.

Tersedianya unsur hara makro, seperrti nitrogen, fosfor, kalium dan magnesium pada pH 6.5. Unsur hara fofor pada pH lebih besar dari 8.0 tidak tersedia karena diikat oleh ion Ca. Sebaliknya jika pH turun menjadi lebih kecil dari 5.0, maka fisfat kembali menjadi tidak tersedia. Hal ini dapat menjadi karena dalam kondisi pH masam, unsur-unsur seperti Al, Fe, dan Mn menjadi sangat larut. Fosfat yang semula tersedia akan diikat oleh logam-logam tadi sehingga, tidak larut dan tidak tersedia untuk tanaman. Beberapa tanaman tertentu dapat kekurangan unsur hara mikro seperti Fe dan Mn. Untuk memperoleh ketersediaan hara yang optimum bagi pertumbuhan tanaman dan kegiatan biologis di dalam tanah, maka pH tanah harus dipertahankan pada pH sekitar 6.0 – 7.0.

Pentingnya  pH tanah :

  • Menentukan mudah tidaknya unsur-unsur hara diserap tanaman. Pada umumnya unsur hara mudah diserap akar tanaman pada pH tanah sekitar netral, karena pada pH tanah tersebut kebanyakan unsur hara mudah larut dalam air. Pada tanah masam unsur P tidak dapat diserap tanaman karena diikat oleh Al, sedang pada tanah alkalis unsure P juga tidak dapat diserap oleh tanaman karena diikat oleh Al, sedang pada tanah alkalis unsur P juga tidak dapat diserap oleh tanaman karena diikat oleh Ca.
  • Menunjukkan kemungkinan adanya unsur-unsur beracun. Pada tanah-tanah masam banyak ditemukan ion-ion Al di dalam tanah, yang kecuali mengikat unsur P yang juga merupakan racun bagi tanaman. Pada tanah-tanah rawa pH terlalu rendah (sangat masam) menunjukkan kandungan sulfat tinggi, yang juga merupakan racun bagi tanaman. Di samping itu, reaksi tanah masam, unsur-unsur mikro juga menjadi mudah larut, sehingga ditemukan unsur mikro yang terlalu banyak. Unsur mikro adalah unsur hara yang diperlukan tanaman dalam jumlah yang sangat kecil, sehingga menjadi racun kalau terdapat dalam tanah dalam jumlah yang terlalu besar. Termasuk unsure mikro dala jenis adalah Fe,Mn,Zn,Cu,Co. unsur mikro yang lain yaitu Mo yang dapat menjadi racun kalau tanah terlalu alkalis. Disamping itu, tanah yang terlalu alkalis juga dapat menjadi racun bagi tanaman.
  • Mempengaruhi perkembangan organisme, bakteri dapat berkembang dengan baik  pada pH 5,5 atau lebih, sedang pada pH kurang dari 5,5 perkembangannya sangat terlambat. Jamur dapat berkembang dengan biak pada segala tingkat kemasaman tanah. Pada pH lebih dari 5,5 jamur harus bersaing dengan bakteri. Bakteri pengikat nitrogen dari udara dan bakteri nitrifikasi hanya dapat berkembang dengan baik pada pH lebih dari 5,5.

Cara mengubah pH tanah yaitu pada tanah-tanah yang terlalu masam dapat dinaikkan pHnya dengan cara penambahan kapur kedalam tanah, sedangkan tanah yang terlalu alkalis di tambahkan belerang.

Proses yang menghasilkan keasaman tanah :

  1. karbon dioksida hasil dari dekomposisi seresah akan terlarut dalam air akan bereaksi dengan molekul air menghasilkan asam karbonat

CO2 (aq)«CO2(gas)  K1 = 10-1,41 « CO2 (aq) + H2O  H2CO3 K2 = 10-2,62
b. asam-asam organik hasil dekomposisi

c. H+ yang dilepas oleh akar tanaman dan organisme yang lain pada waktu pengambilan hara. Prinsip elektroneutrality adalah pengambilan kation oleh akar harus diimbangi dengan pengambilan anion atau dengan pelepasan ion hidrogen atau kation lain
Oksidasi dari substansi tereduksi sepeti mineral sulfida, bahan organik, fertilizer yang mengandung ammonium.

Proses yang menghasilkan kebasaan tanah :

1. Reduksi dari Ferri, mangan, dan oxidized substances membutuhkan H+ atau melepas OH- dan meningkatkan pH (terjadi pada tanah yang aerasinya jelek)

Fe(OH)2 (amorf) + OH-«Misal : Fe(OH)3 (amorf) + e-

2. Pengambilan kation oleh akar tanaman, kemudian setelah tanaman mati maka akan terdeposisi di permukaan tanah PH tanah dikontrol oleh berbagai mekanisme. Sebagian mekanisme adalah sumber langsung H+ dan atau OH- dan sebagian bekerja dengan bereaksi dengan H+ dan atau OH- untuk buffer pada larutan tanah. Mekanisme tersebut adalah :

(1) oksidasi dan reduksi besi, mangan dan senyawa sulfur

(2) dissolution dan presipitasi mineral tanah

(3) Reaksi gas misal CO2 dengan larutan tanah

(4)dissosiasi grup asam lemah pada tepi lempung silikat, hidrous oksida, atau substansi humus

(5) reaksi ion-exchange

Pengelompokan kemasaman tanah adalah sebagai berikut:

a. Sangat masam untuk pH tanah < 4,5

b. Masam untuk pH tanah berkisar antara 4,5 s/d 5,5

c. Agak masam untuk pH tanah berkisar antara 5,6 s/d 6,5

d. Netral untuk pH tanah berkisar antara 6,6 s/d 7,5

e. Agak alkalis untuk pH tanah berkisar antara 7,6 s/d 8,5

f. Alkalis untuk pH tanah > 8,5.

  1. B.     Kapasitas Tukar Kation (KTK)

Kapasitas Tukar Kation (KTK). Pengertian Kapasitas Tukar Kation Salah satu sifat kimia tanah yang terkait erat dengan ketersediaan hara bagi tanaman dan menjadi indikator kesuburan tanah adalah Kapasitas Tukar Kation (KTK) atau Cation Exchangable Cappacity (CEC). KTK merupakan jumlah total kation yang dapat dipertukarkan (cation exchangable) pada permukaan koloid yang bermuatan negatif. Satuan hasil pengukuran KTK adalah milliequivalen kation dalam 100 gram tanah atau me kation per 100 g tanah.
Kapasitas tukar kation (KTK) menunjukkan ukuran kemampuan tanah dalam menjerap dan dan mempertukarkan sejumlah kation. Makin tinggi KTK, makin banyak kation yang dapat ditariknya. Tinggi rendahnya KTK tanah ditentukan oleh kandungan liat dan bahan organik dalam tanah itu. Tanah yang memiliki KTK yang tinggi akan menyebabkan lambatnya perubahan pH tanah. KTK tanah juga mempengaruhi kapan dan berapa banyak pupuk nitrogen dan kalium harus ditambahkan ke dalam tanah Pada KTK tanah yang rendah, misalnya kurang dari 5 cmol(+)/kg, pencucian beberapa kation dapat terjadi. Penambahan ammonium dan kalium pada tanah ini akan menyebabkan sebagian ammonium dan kalium itu mengalami pencucian di bawah zona akar, khususnya pada tanah pasiran dengan KTK tanah bawah (subsoil) yang rendah. Pada KTK tanah yang lebih tinggi, misalnya lebih besar dari 10 cmol(+)/kg, hanya sedikit pencucian kation akan terjadi. Oleh karena itu, penambahan nitrogen dan kalium pada tanah ini memungkinkan untuk dilaksanakan. Menurut Mengel (1993) kation tanah yang paling umum adalah: kalsium (Ca++), magnesium (Mg++), kalium (K+), ammonium (NH4+), hydrogen (H+) dan sodium (Na+). Sedangkan anion tanah yang umum meliputi: khlorin (Cl-), nitrat (NO3-), sulfat (S04=) dan fosfat (PO43-).
Berdasarkan pada jenis permukaan koloid yang bermuatan negatif, KTK dapat dikelompokkan menjadi tiga, yaitu:

  1. KTK Koloid Anorganik atau KTK Liat

KTK liat adalah jumlah kation yang dapat dipertukarkan pada permukaan koloid anorganik (koloid liat) yang bermuatan negatif. Nilai KTK liat tergantung dari jenis liat, sebagai contoh:

a. Liat Kaolinit memiliki nilai KTK = 3 s/d 5 me/100 g.

b. Liat Illit dan Liat Klorit, memiliki nilai KTK = 10 s/d 40 me/100 g.

c. Liat Montmorillonit, memiliki nilai KTK = 80 s/d 150 me/100 g.

d. Liat Vermikullit, memiliki nilai KTK = 100 s/d 150 me/100 g.

2. KTK Koloid Organik

KTK koloid organik sering disebut juga KTK bahan organik tanah adalah jumlah kation yang dapat dipertukarkan pada permukaan koloid organik yang bermuatan negatif.
Nilai KTK koloid organik lebih tinggi dibandingkan dengan nilai KTK koloid anorganik. Nilai KTK koloid organik berkisar antara 200 me/100 g sampai dengan 300 me/100 g.

3. KTK Total atau KTK Tanah

KTK total merupakan nilai KTK dari suatu tanah adalah jumlah total kation yang dapat dipertukarkan dari suatu tanah, baik kation-kation pada permukaan koloid organik (humus) maupun kation-kation pada permukaan koloid anorganik(liat).
Perbedaan KTK Tanah Berdasarkan Sumber Muatan Negatif
Berdasarkan sumber muatan negatif tanah, nilai KTK tanah dibedakan menjadi 2, yaitu:
a. KTK Muatan Permanen

KTK muatan permanen adalah jumlah kation yang dapat dipertukarkan pada permukaan koloid liat dengan sumber muatan negatif berasal dari mekanisme substitusi isomorf. Substitusi isomorf adalah mekanisme pergantian posisi antar kation dengan ukuran atau diameter kation hampir sama tetapi muatan berbeda. Substitusi isomorf ini terjadi dari kation bervalensi tinggi dengan kation bervalensi rendah di dalam struktur lempeng liat, baik lempeng liat Si-tetrahedron maupun Al-oktahedron.

Contoh peristiwa terjadinya muatan negatif diatas adalah:

(a). terjadi substitusi isomorf dari posisi Si dengan muatan 4+ pada struktur lempeng liat Si-tetrahedron oleh Al yang bermuatan 3+, sehingga terjadi kelebihan muatan negatif satu,

(b). terjadinya substitusi isomorf dari posisi Al yang bermuatan 3+ pada struktur liat Al-oktahedron oleh Mg yang bermuatan 2+, juga terjadi muatan negatif satu, dan

(c). terjadi substitusi isomorf dari posisi Al yang bermuatan 3+ dari hasil substitusi isomorf terdahulu pada lempeng liat Si-tetrahedron yang telah bermuatan neatif satu, digantikan oleh Mg yang bermuatan 2+, maka terjadi lagi penambahan muatan negatif satu, sehingga terbentuk muatan negatif dua pada lempeng liat Si-tetrahedron tersebut. Muatan negatif yang terbentuk ini tidak dipengaruhi oleh terjadinya perubahan pH tanah. KTK tanah yang terukur adalah KTK muatan permanen.

b. KTK Muatan Tidak Permanen

KTK muatan tidak permanen atau KTK tergantung pH tanah adalah jumlah kation yang dapat dipertukarkan pada permukaan koloid liat dengan sumber muatan negatif liat bukan berasal dari mekanisme substitusi isomorf tetapi berasal dari mekanisme patahan atau sembulan di permukaan koloid liat, sehingga tergantung pada kadar H+ dan OH- dari larutan tanah.

Hasil Pengukuran KTK Tanah Berdasarkan teknik pengukuran dan perhitungan KTK tanah di laboratorium, maka nilai KTK dikelompokkan menjadi 2, yaitu:

1. KTK Efektif, dan

2. KTK Total.

Kapasitas tukar kation (KTK) merupakan sifat kimia yang sangat erat hubungannya dengan kesuburan tanah. Tanah-tanah dengan kandungan bahan organik atau kadar liat tinggi mempunyai KTK lebih tinggi daripada tanah-tanah dengan kandungan bahan organik rendah atau tanah-tanah berpasir (Hardjowogeno 2003). Nilai KTK tanah sangat beragam dan tergantung pada sifat dan ciri tanah itu sendiri. Besar kecilnya KTK tanah dipengaruhi oleh :
1.Reaksi tanah

2.Tekstur atau jumlah liat

3.Jenis mineral liat

4.Bahan organik dan,

5.Pengapuran serta pemupukan.

Sedangkan Menurut Hakim,et al. (1986) besar KTK tanah dipengaruhi oleh sifat dan ciri tanah yang antara lain: reaksi tanah atau pH; tekstur tanah atau jumlah liat; jenis mineral liat; bahan organik; pengapuran dan pemupukan. Pada pH tanah yang rendah, KTK tanah akan relatif rendah, karena misel liat dan bahan organik banyak menjerap ion-ion H+ atau Al3+. Kation-kation yang terjerap dalam tanah akan dapat dilepaskan dari tanah dan ditukar tempatnya oleh ion-ion H+ yang dilepaskan oleh akar tanaman. Kation-kation yang berupa unsur hara itu kemudian larut dalam air tanah dan diisap oleh tanaman.
Soepardi (1983) mengemukakan kapasitas tukar kation tanah sangat beragam, karena jumlah humus dan liat serta macam liat yang dijumpai dalam tanah berbeda-beda pula.
Nilai KTK tanah (me/100g) dikelompokkan dalam lima kategori berikut:
(1) sangat rendah untuk nilai KTK (me/100 g) < 5,

(2) rendah untuk nilai KTK (me/100 g) berkisar antara 5 s/d 16,

(3) sedang untuk nilai KTK (me/100 g) berkisar antara 17 s/d 24,

(4) tinggi untuk nilai KTK (me/100 g) berkisar antara 25 s/d 40, dan

(5) sangat tinggi untuk nilai KTK (me/100g) > 40.

(3) C-Organik

Kandungan bahan organik dalam tanah merupakan salah satu faktor yang berperan dalam menentukan keberhasilan suatu budidaya pertanian. Hal ini dikarenakan bahan organik dapat meningkatkan kesuburan kimia, fisika maupun biologi tanah. Penetapan kandungan bahan organik dilakukan berdasarkan jumlah C-Organik. Bahan organik tanah sangat menentukan interaksi antara komponen abiotik dan biotik dalam ekosistem tanah. Musthofa (2007) dalam penelitiannya menyatakan bahwa kandungan bahan organik dalam bentuk C-organik di tanah harus dipertahankan tidak kurang dari 2 persen, Agar kandungan bahan organik dalam tanah tidak menurun dengan waktu akibat proses dekomposisi mineralisasi maka sewaktu pengolahan tanah penambahan bahan organik mutlak harus diberikan setiap tahun. Kandungan bahan organik antara lain sangat erat berkaitan dengan KTK (Kapasitas Tukar Kation) dan dapat meningkatkan KTK tanah. Tanpa pemberian bahan organik dapat mengakibatkan degradasi kimia, fisik, dan biologi tanah yang dapat merusak agregat tanah dan menyebabkan terjadinya pemadatan tanah.

Menurut Forster (1995), C-organik penting untuk mikroorganisme, tidak hanya sebagai unsur hara, tetapi juga sebagai pengkondisi sifat fisik tanah yang mempengaruhi karakteristik agregat dan air tanah. Seringkali ada hubungan langsung antara persentase C-organik total dan karbon dari biomassa mikroba yang ditemukan dalam tanah pada zona iklim yang sama. C-organik juga berhubungan dengan aktivitas enzim tanah. Di perkebunan teh Gambung, C-organik tanah juga digunakan untuk menentukan dosis pupuk yang akan diaplikasikan. Menurut Tamhane et al. (1970) dalam Rahardjo et al. (2001), dekomposisi bahan organik menghasilkan asam-asam organik dan apabila ditambahkan ke dalam tanah akan meningkatkan kandungan senyawa organik dalam tanah yang dicirikan dengan meningkatnya kandungan C-organik tanah. Kandungan C-organik pada setiap tanah bervariasi, mulai dari kurang dari 1% pada tanah berpasir sampai lebih dari 20 % pada tanah berlumpur. Warna tanah menunjukkan kandungan C-organik tanah tersebut. Tanah yang berwarna hitam kelam mengandung C-organik yang tinggi. Makin cerah warna tanah kandungan C-organiknya makin rendah. Contohnya tanah yang berwarna merah mengandung kadar besi yang tinggi, tetapi rendah kandungan C-organiknya. (McVay & Rice, 2002). Nilai prosentase karbon atau C-organik Tanah dalam tanah dikelompokkan dalam lima kategori berikut:

(1) sangat rendah untuk C(%) <1,00,

(2) rendah untuk C(%) berkisar antara 1,00 s/d 2,00,

(3) sedang untuk C(%) berkisar antara 2,01 s/d 3,00,

(4) tinggi untuk C(%) berkisar antara 3,01 s/d 5,00 dan(5) sangat tinggi untuk C(%) lebih dari 5,00.

(4) N-Total. Nitrogen merupakan unsur hara makro esensial, menyusun sekitar 1,5 % bobot tanaman dan berfungsi terutama dalam pembentukan protein (Hanafiah 2005).
Menurut Hardjowigeno (2003) Nitrogen dalam tanah berasal dari :

a.Bahan Organik Tanah : Bahan organik halus dan bahan organik kasar
b.Pengikatan oleh mikroorganisme dari N udara

c.Pupuk
d.Air Hujan

Sumber N berasal dari atmosfer sebagai sumber primer, dan lainnya berasal dari aktifitas didalam tanah sebagai sumber sekunder. Fiksasi N secara simbiotik khususnya terdapat pada tanaman jenis leguminoseae sebagai bakteri tertentu. Bahan organik juga membebaskan N dan senyawa lainnya setelah mengalami proses dekomposisi oleh aktifitas jasad renik tanah.
Hilangnya N dari tanah disebabkan karena digunakan oleh tanaman atau mikroorganisme. Kandungan N total umumnya berkisar antara 2000 – 4000 kg/ha pada lapisan 0 – 20 cm tetapi tersedia bagi tanaman hanya kurang 3 % dari jumlah tersebut (Hardjowigeno 2003). Manfaat dari Nitrogen adalah untuk memacu pertumbuhan tanaman pada fase vegetatif, serta berperan dalam pembentukan klorofil, asam amino, lemak, enzim, dan persenyawaan lain (RAM 2007). Nitrogen terdapat di dalam tanah dalam bentuk organik dan anorganik. Bentuk-bentuk organik meliputi NH4, NO3, NO2, N2O dan unsur N. Tanaman menyerap unsur ini terutama dalam bentuk NO3, namun bentuk lain yang juga dapat menyerap adalah NH4, dan urea (CO(N2))2 dalam bentuk NO3. Selanjutnya, dalam siklusnya, nitrogen organik di dalam tanah mengalami mineralisasi sedangkan bahan mineral mengalami imobilisasi. Sebagian N terangkut, sebagian kembali scbagai residu tanaman, hilang ke atmosfer dan kembali lagi, hilang melalui pencucian dan bertambah lagi melalui pemupukan. Ada yang hilang atau bertambah karena pengendapan.

Kriteria Status Hara Nitrogen (N):Nilai prosentase nitrogen dalam tanah dikelompokkan dalam lima kategori berikut:

(1) sangat rendah untuk N(%) <0,10,

(2) rendah untuk N(%) berkisar antara 0,10 s/d 0,20,

(3) sedang untuk N(%) berkisar antara 0,21 s/d 0,50,

(4) tinggi untuk N(%) berkisar antara 0,51 s/d 0,75 dan

(5) sangat tinggi untuk N(%) lebih dari 0,75.

(5) C/N Ratio. Indeks yang sering digunakan untuk menentukan kualitas bahan organik yang berkaitan dengan laju dekomposisi adalah C:N rasio. Nilai C:N rasio tanah relatif konstan pada kisaran 8:1 sampai 15:1 dengan rata-rata 10:1 sampai 12:1 (Prasad dan Power, 1997). Perbandingan C:N sangat menentukan apakah bahan organik akan termineralisasi atau sebaliknya nitrogen yang tersedia akan terimmobilisasi ke dalam struktur sel mikroorganisme. Karena C:N rasio pada tanah relatif konstan maka ketika residu tanaman ditambahkan ke dalam tanah yang memiliki C:N rasio relatif besar, residu tanaman akan terdekomposisi dan meningkatkan evolusi CO2 ke atmosfer, dan sebaliknya akan terjadi depresi pada nitrat tanah karena immobilisasi oleh mikroorganisme.
Pada lahan hutan pada umumnya mempunyai C:N rasio lebih tinggi bila dibanding C:N rasio pada lahan yang diubah menjadi agroekosistem. Tingginya rasio C:N pada lahan hutan ini mencerminkan kualitas substrat yang terurai relatif rendah, karena kualitas substrat yang rendah mencerminkan laju respirasi yang rendah pula. Rendahnya laju pelepasan karbon pada lahan hutan dibanding pada alang-alang ini disebabkan bahwa tingginya rasio C:N pada lahan hutan berkisar 13 – 16, sementara pada lahan alang-alang 5 tahun berkisar 9 – 11, dan alang-alang > 10 tahun berkisar 10 – 13. Hubungan antara C:N rasio dengan laju pelepasan karbon dalam bentuk CO2 melalui persamaan regresi memiliki nilai r2 = 0.78 nyata (Yuniar, 2002).
Nilai C/N dalam tanah dikelompokkan dalam lima kategori berikut:

(1) sangat rendah untuk C/N < 5,

(2) rendah untuk C/N berkisar antara 5 s/d 10,

(3) sedang untuk C/N berkisar antara 11 s/d 15,

(4) tinggi untuk C/N berkisar antara 16 s/d 25 dan

(5) sangat tinggi untuk C/N lebih dari 25.

Adsorpsi (adsorbat, adsorben dan adsorptif)

Adalah akumulasi suatu senyawa atau bahan pada titik singgung antara permukaan padatan dan larutan yang membasahinya. Proses ini sangat penting karena menentukan jumlah unsur hara, logam, pestisida dan senyawa organik lain yang di tahan oleh permukaan tanah. Gaya fisik dan kimia yang terlibat dalam proses penjerapan (adsorpsi): gaya van der Waals, pertukaran ligan (ligan exchange), ikatan kovalen, dan ikatan hidrogen. Kation monovalen terjerap oleh lempung mengikuti deret Liotropik.  Cs > Rb > K > Na > Li  (ke arah kanan makin menurun).

Gugus Fungsional Permukaan.

Komponen penting koloid inorganik dan organik yang berperanan dalam proses pertukaran atau adsorpsi kation/anion adalah:

1.    Permukaan lempung:

a.    Permukaan yang terbentuk terutama oleh rangkaian Si-O-Si (ikatan siloksan) dari tetrahedron silika. Contoh: pada lempung tipe 2:1

b.   Permukaan yang terbentuk oleh rangkaian O-Al-OH dari oktahedron alumina. Contoh: pada senyawa oksi-hidroksida, kaloinit 1:1

c.    Permukaan yang terbentuk oleh rangkaian -Si-OH (gugus silanol) atau –Al-OH (gugus aluminol) dari senyawa amorf. Contoh: pada gel silika amorf dan allofan.

2.    Gugus fungsional asam, netral dan basis dari senyawa-senyawa organik (Karboksil, karbonil, fenolik, aldehid, amin dll).

Gugus fungsional dp terprotonasi atau deprotonasi melalui penjerapan H+ dan OH.

S-OH +  H+                S-OH2+

S-OH                         S-O  +  H+

S = Loka asam Lewis (Lewis acid sites)

OH di permukaan yang kehilangan proton = Basa Lewis

Loka asam Lewis tidak hanya oksida-oksida logam, yang lain yaitu: gibsit, goetit, pinggir mineral kaolinit, gugus OH yang berikatan tunggal pada pinggir mineral lempung.Interaksi antara suatu gugus fungsional permukaan dg suatu ion atau molekul yang ada dalam larutan tanah akan membentuk suatu kesatuan molekul yang stabil yang disebut kompleks permukaan. Ada 2 tipe kompleks permukaan yang terbentuk yaitu outer-sphere dan inner-sphere. Bila diantara gugus fungsional permukaan dan ion atau molekul yang terikat terdapat air, kompleks permukaan ini disebut outer-sphere. Bila tidak ada air maka disebut kompleks inner-sphere. Kompleks inner-sphere ini dp berupa monodentat (logam diikat oleh hanya satu O) dan bidentate (logam diikat oleh 2 O).

Kompleks outer-sphere melibatkan ikatan elektrostatik (coulombic), sehingga lebih lemah dibandingkan kompleks inner-sphere yang mempunyai ikatan kovalen atau ionik. Kompleksasi outer-sphere merupakan proses cepat dan bersifat dp balik (reversible) serta adsorpsi yang terjadi melalui mekanisme ini dipengaruhi oleh kekuatan ion (ionik strength) dari larutannya. Adsorpsi model ini terjadi hanya pada permukaan yang memiliki muatan berlawanan dg adsorbatnya.

Kompleksasi inner-sphere biasanya lebih lambat dan sering tidak dapat balik (not reversible) serta pengaruh ionic strength larutannya relatif lemah. Disamping itu adsorpsi ion melalui kompleksasi inner-sphere dp terjadi tanpa memandang muatan permukaan. Kedua proses ini dp berjalan secara bersama-sama.

Kemampuan suatu tanah untuk menjerap dan menukarkan kation disebut Kapasitas Pertukaran Kation (cation exchange capacity). Satuannya cmol/kg atau meq/100 g atau meq %. Nilai KPK tanah bervariasi menurut tipe dan jumlah koloid (mineral lempung dan organik) yang ada dalam tanah. Fenomena jerapan dan pertukaran kation atau anion ini penting dalam kaitannya dg serapan hara oleh tanaman, kesuburan tanah, retensi hara, dan pemupukan.

 

Macam Koloid Tanah KPK (meq/100 g)
Humus

Vermikulit

Montmorillonit

Illit

Kaolinit

Sesquioksida

200

100-150

70-95

10-40

3-15

2-4

 

Kation yang berbeda memliki kekuatan untuk menukarkan kation lain yang terjerap berbeda pula. Contoh: Ba2+ dan NH4+.

Persamaan Empiris Pertukaran Kation atau Isoterm adsorpsi

Ada 4 tipe umum isoterm adsorpsi yaitu S, L, H dan C.

Kurva S: Jml yang terjerap pada awalnya meningkat dg meningkatnya kadar ion dalam larutan, kemudian turun dan menjadi nol atau landai setelah ruang kosong dalam adsorban sudah terisi.  Tipe ini menunjukkan pd kadar rendah, permukaan memiliki affinitas rendah dan meningkat saat kadar meningkat.

Kurva L: dicirikan oleh slope yang menurun saat kadar meningkat, karena jumlah loka jerapan yang kosong menurun akibat terisi oleh adsorbat. Prilaku jerapan semacam ini berkaitan dg tingginya affinitas adsorben untuk menjerap pd kadar rendah, kemudian mengalami penurunan saat kadar naik.

Kurva H: menunjukkan interaksi yang kuat antara adsorben dan adsorbat yang kuat, misalnya pada kompleksasi innersphere.

Kurva C: menunjukkan adanya mekanisme penyekatan dg cara ion atau molekul yang terjerap didistribusikan atau disekat diantara fase titik singgung (interface) dan fase larutan tanpa ada ikatan tertentu antara adsorben dan adsorbat. Mekanisme penyekatan (partitioning) biasanya dilihat dari isoterm jerapan yang linear, adsorpsi/desorpsi yang dapat balik, suhu berpengaruh kecil pd jerapan, dan tidak ada kompetisi ketika bahan lain ditambahkan. Koefisien partisi (Kp) diperoleh dari persamaan:

q  =  KpC    q = jumlah yang terjerap, mol/kg

C = kadar dalam kondisi setimbang

Kp= Nilai rasio jumlah bahan yang terjerap/jumlah bahan yang ada dalam larutan.

 

1.    Persamaan Freundlich:  x  = kC1/n

x = Jumlah kation yang terjerap per satuan absorben (mol/kg) C= Kadar kation yang ditambahkan pd kondisi setimbang (equilibrium) (mol/lt)

k, n = konstanta

Bila dilogkan persamaan tersebut menjadi log x = 1/n log C + log k.

Nilai 1/n = slop atau kemiringan, log k = intersepsi. Bila 1/n = 1, maka persamaannya menjadi x = kC, dimana k = koefisien partisi.

Kelemahan persamaan ini tidak dapat menduga nilai jerapan maksimum (adsorption maximum). Nilai 1/n dan k sering digunakan untuk membuat kesimpulan tentang mekanisme jerapan, tetapi banyak para ahli meragukan kesohehannya.

Catatan: Persamaan ini ada yang menulis sbb: q =KdC1/n (q=x)

2.    Persamaan Langmuir: x/xo  = (kC)/(1+kC)

x = Jumlah kation yang terjerap per satuan berat penukar (q)

xo= Kapasitas pertukaran total

C= Kadar kation yang ditambahkan dalam mole/lt

k= koefisien affinitas

Persamaan ini ditemukan Irving Langmuir (1918) untuk mendeskripsikan jerapan molekul gas pada permukaan rata (planar). Olsen dan Watanabe (1957) menggunakannya untuk mendeskripsikan jerapan fosfat pd tanah. Asumsi untuk persamaan ini:

(1). Jerapan terjadi pada permukaan yang rata (planar) dan memiliki sejumlah loka penjerap yang mirip dan loka tersebut hanya dp memegang satu molekul saja.

(2). Jerapan bersifat dapat balik (reversible)

(3). Tidak ada gerakan lateral dari molekul pada permukaan.

(4). Energi jerapan sama untuk semua loka dan tidak ada interaksi antar molekul adsorbat (adsorbat berprilaku ideal).

Persamaan di atas ada yang menulis sbb:

q =kCb(1+kC), kalau dibuat linear menjadi C/q =1/kb + C/b. Dengan mengeplotkan antara menjadi C/q vs C diperoleh kemiringan nilai 1/b dan nilai intersepsi 1/kb.

Persamaan Langmuir dapat dipecah menjadi 2 untuk menunjukkan 2 loka (sites) sbb:          b1k1C          b2k2C

q =                   +                 1 + k1C        1  +  k2C

Subscrip 1 dan 2 menunjukkan loka 1 dan 2, masing-masing mengindikasikan adanya jerapan pd loka dg energi tingi dan rendah. Persamaan ini cukup sukses untuk mendeskripsikan jerapan pada tanah dengan sifat fisiko-kimia dan mineralogi yang berbeda.

PERSAMAAN HUKUM AKSI MASSA DARI PERTUKARAN KATION

Persamaan Kerr.

1 Na+     +      Ca-tanah           (Na)2-tanah        +  Ca2+

[Na+]2(Ca2+)                        [Na+](Ca2+)Kesetimbangan dinyatakan sbb:                            =  k =

[Ca2+] (Na+)2               [Ca2+](Na+)

Persamaan Gapon

Tanda [] : ion yang terjerap, ( ) : ion bebas dalam larutan.

 

Persamaan Vanselow.

[Na+]

Proporsi Na yang terjerap =

[Na+  + Ca2+]

[Ca2+]

Proporsi Na yang terjerap =

[Na+  + Ca2+]

 

Persamaan di atas dp disubtitusikan ke persamaan Kerr ! diperoleh persamaan Vanselow:

[Na+]2[Ca2+]

Proporsi Na yang terjerap =                                             =  k

(Ca2+) [Na+  + Ca2+](Na+)2

 

Persamaan berdasarkan Teori Donan

Larutan d                        Larutan l

Na+                                 Na+

Cl                                   Cl

Lempung-Na

Selaput semipermiabel

Pada ekuilibrium reaksi dp dipertahankan sbb: (Na+)d( Cl)d = (Na+)l( Cl)l  atau

(Na+)d      (Cl)l  =

(Na+)l       (Cl)d

Sistem Donnan dijumpai dalam tanah, khususnya penting dalam hubungan tanah-akar tanaman. Prinsip ini sama dg hukum aksi massa, yaitu:

[Na+]2[Ca2+]                                [Na+]

=  1  atau                     =

(Na+)2 [Ca2+]                       (Na+)                 (Ca2+)

Persamaan Erickson menggabungkan Teori Donnan dan Vanselow, yaitu:

[Na+]2(Ca2+)(C)

=                                         =  k

(Na+)2[Ca2+][Na+  + Ca2+]

C = kapasitas pertukaran koloid.

Hukum Rasio Schofield

Diperoleh dg mengatur kembali persamaan Gapoon.

(Na+)                   [Na+]

[Na+](Ca2+)  =  k [Ca2+] (Na+)   atau                  =  1/k

(Ca2+)                [Ca2+]

Persamaan ini menunjukkan pada kondisi kesetimbangan, rasio kation-kation dalam larutan tergantung pada rasio kation-kation yang terjerap pd permukaan koloid. Jika jumlah kation terjerap tidak berubah, rasio kation-kation dalam larutan tetap, (Na+)/(Ca2+).

  1. C.    Koloid tanah

Koloid tanah adalah bahan mineral dan bahan organik tanah yang sangat halus sehingga mempunyai luas permukaan yang sangat tinggi persatuan berat (massa). Termasuk koloid adalah liat (koloid anorganik) dan humus (koloid organik).

Partikel-partikel koloid yang sangat halus yang disebut micelle umumnya bermuatan negatif. Karena itu, ion-ion yang bermuatan positif tertarik pada koloid tersebut membentuk lapisan ganda ion.

Mineral lempung (mineral liat)

Mineral liat adalah mineral yang berukuran kurang dari 2 u. Mineral liat  dalam tanah terbentuk karena :

  • Rekristalisasi dari senyawa-senyawa hasil pelapukan mineral primer.
  • Alterasi ( perubahan) langsung dari mineral primer yang telah ada ( missal mika menjadi ilit).

Mineral liat dalam tanah dapat dibedakan menjadi :

  • Mineral liat Al-silikat
  • Oksida-oksida Fe dan Al
  • Mineral-mineral primer

Mineral liat Al-silikat

  • Mineral liat Al-silikat yang mempunyai bentuk Kristal yang baik ( kristali) misalnya  kaolinit, haloisit, montmorilonit, ilit.
  • Mineral liat Al-silikat amorf, misalnya alofan.

– Koloid organik

   Yang dapat dimasukkan koloid organik di dalam tanah adalah humus. Perbedaan utama dari koloid organik dengan koloid anorganik adalah koloid organik terutama tersusun oleh C,H,dan O sedangkan liat terutama tersususun oleh Al, Si, dan O. Humus bersifat amorf, mempunyai kapasitas tukar kation yang lebih tinggi daripada material liat.

Berdasarkan kelarutannya dalam asam dan alkali, humus diperkirakan disusun oleh 3 bagian utama, yaitu:

  • Asam fulvik, berat molekul yang pling kecil, warna paling terang, larut baikdalam asam maupun dalam alkali. Aktif terhadap reaksi-reaksi kimia.
  • Asam humik, berat molekul sedang, warna tidak terlalu terang, dan tidak terlalu gelap, larut dalam alkali tetapi tidak larut baik dalam asam. Aktif dalam reaksi kimia.
  • Humin, berat molekul paling besar, warna paling gelap, tidak larut baik dalam asam maupun dalam alkal. Tidak aktif dalam reaksi kimia.

–          Koloid anorganik

  • Koloid anorganik terdiri dari mineral liat Al-silikat, oksida-oksida Fe dan Al, mineral-mineral primer.Mineral liat Al-silikat mempunyai bentuk kristal yang baik misalnya kaolinit, haolisit, montmorilonit, ilit. Kaolinit dan haolisit banyak ditemukan pada tanah-tanah merah (coklat) yaitu tanah-tanah yang umumnya berdrainase baik, sedangkan montmorilonit ditemukan pada tanah-tanah yang mudang mengembang dan mengerut serta pecah-pecah pada musim kering misalnya tanah vertisol. Ilit ditemukan pada tanah-tanah berasal dari bahan induk yang banyak mengandung mika dan belum mengalami pelapukan lanjut. Adanya muatan negatif pada mineral liat disebabkan oleh beberapa hal yaitu : (1) Kelebihan muatan negatif pada ujung-ujung patahan kristal baik pada Si-tetrahedron maupun Al-oktahedron, (2) Disosiasi H+ dari gugus OH yang terdapat pada tepi atau ujung kristal, (3) Substitusi isomorfik.
  • Pada mineral liat Kaolinit masing-masing unit melekat dengan unit lain dengan kuat (oleh ikatan H) sehingga mineral ini tidak mudah mengembang dan mengerut bila basah dan kering bergantian. Substitusi isomorfik sedikit atau tidak ada sehingga kandungan muatan negatif atau KTK rendah. Muatan negatif hanya pada patahan-patahan kristal atau akibat disosiasi H bila pH naik. Karena itu, muatan negatif mineral ini meningkat bila pH naik (muatan tergantung pH).
  • Keadaan ini berbeda dengan mineral liat Montmorilonit dimana masing-masing unit dihubungkan dengan unit lain oleh ikatan yang lemah (oksigen ke oksigen) sehingga mudah mengembang (bila basah) dan mengerut (bila kering). Hal ini karena air (dan kation-kation) dan masuk pada ruang-ruang antar unit tersebut. Dalam proses pembentukan montmorilonit banyak Al3+ dalam Al-oktahedron yang disubstitusi oleh Mg2+ sehingga banyak menghasilkan kelebihan muatan negatif. Kecuali itu ruang-ruang antar unit yang mudah dimasuki air internal surface yang aktif disamping sisi-sisi luar (external surace) dan ujung-ujung patahan. Karena itu montmorilonit mempunyai muatan negatif yang tinggi (KTK tinggi). Mineral ini pada pH kurang dari 6,0 hanya mengandung muatan tetap hasil substitusi isomorfik, tetapi bila pH lebih dari 6,0 maka terjadi muatan tergantung pH.
  • Illit umumnya terbentuk langsung dari mika melalui proses alterasi. Mineral ini dapat menfiksasi K yang diberikan atau yang ada dalam larutan tanah. Adanya substitusi Si4+ dari Si-tetrahedron oleh Al3+ menyebabkan muatan negatif mineral ini cukup tinggi.

Koloid tanah adalah bagian paling aktif dari tanah dan sebagian besar menentukan sifat fisik dan kimia dari tanah. Koloid adalah partikel kurang dari 0,001 mm, dan fraksi termasuk partikel tanah liat kurang dari 0,002 mm. Oleh karena itu, semua mineral lempung koloid tidak ketat. Koloid organik lebih reaktif secara kimiawi dan umumnya memiliki pengaruh yang lebih besar pada sifat-sifat tanah per satuan berat daripada koloid anorganik. Salah satu yang paling penting sifat-sifat koloid adalah kemampuan mereka untuk menyerap, tahan, dan melepaskan ion. Koloid umumnya memiliki muatan negatif bersih sebagai hasil dari fisik dan komposisi kimia.
Koloid tanah adalah bahan organik dan bahan mineral tanah yang sangat halus sehingga mempunyai luas permukaan yang sangat tinggi persatuan berat. Koloid tanah terdiri dari liat (koloid anorganik) dan humus (kolod organik). Koloid berukuran kurang dari 1 µ, sehingga tidak semua fraksi liat (kurang dari 2 µ) termasuk koloid.

Koloid anorganik terdiri dari mineral liat Al-silikat, oksida-oksida Fe dan Al, mineral-mineral primer. Mineral liat Al-silikat mempunyai bentuk kristal yang baik misalnya kaolinit, haolisit, montmorilonit, ilit. Kaolinit dan haolisit banyak ditemukan pada tanah-tanah merah (coklat) yaitu tanah-tanah yang umumnya berdrainase baik, sedangkan montmorilonit ditemukan pada tanah-tanah yang mudang mengembang dan mengerut serta pecah-pecah pada musim kering misalnya tanah vertisol. Ilit ditemukan pada tanah-tanah berasal dari bahan induk yang banyak mengandung mika dan belum mengalami pelapukan lanjut.

Adanya muatan negatif pada mineral liat disebabkan oleh beberapa hal yaitu :

(1) Kelebihan muatan negatif pada ujung-ujung patahan kristal baik pada Si-tetrahedron maupun Al-oktahedron,

(2) Disosiasi H+ dari gugus OH yang terdapat pada tepi atau ujung kristal,

(3) Substitusi isomorfik.

Pada mineral liat Kaolinit masing-masing unit melekat dengan unit lain dengan kuat (oleh ikatan H) sehingga mineral ini tidak mudah mengembang dan mengerut bila basah dan kering bergantian. Substitusi isomorfik sedikit atau tidak ada sehingga kandungan muatan negatif atau KTK rendah. Muatan negatif hanya pada patahan-patahan kristal atau akibat disosiasi H bila pH naik. Karena itu, muatan negatif mineral ini meningkat bila pH naik (muatan tergantung pH).

Keadaan ini berbeda dengan mineral liat Montmorilonit dimana masing-masing unit dihubungkan dengan unit lain oleh ikatan yang lemah (oksigen ke oksigen) sehingga mudah mengembang (bila basah) dan mengerut (bila kering). Hal ini karena air (dan kation-kation) dan masuk pada ruang-ruang antar unit tersebut. Dalam proses pembentukan montmorilonit banyak Al3+ dalam Al-oktahedron yang disubstitusi oleh Mg2+ sehingga banyak menghasilkan kelebihan muatan negatif. Kecuali itu ruang-ruang antar unit yang mudah dimasuki air internal surface yang aktif disamping sisi-sisi luar (external surace) dan ujung-ujung patahan. Karena itu montmorilonit mempunyai muatan negatif yang tinggi (KTK tinggi). Mineral ini pada pH kurang dari 6,0 hanya mengandung muatan tetap hasil substitusi isomorfik, tetapi bila pH lebih dari 6,0 maka terjadi muatan tergantung pH. Illit umumnya terbentuk langsung dari mika melalui proses alterasi. Mineral ini dapat menfiksasi K yang diberikan atau yang ada dalam larutan tanah. Adanya substitusi Si4+ dari Si-tetrahedron oleh Al3+ menyebabkan muatan negatif mineral ini cukup tinggi. Koloid organik adalah humus. Perbedaan utama dari koloid organik (humus) dengan koloid anorganik (liat) adalah bahwa koloid organik (humus) terutama tersusun oleh C, H dan O sedangkan liat terutama tersusun oleh Al, Si dan O. Humus bersifat amorf, mempunyai KTK yang lebih tinggi daripada mineral liat (lebih tinggi dari montmorilonit), dan lebih mudah dihancurkan jika dibandingkan dengan liat. Sumber muatan negatif dari humus terutama adalah gugusan karboksil dan gugusan phenol. Muatan dalam humus adalah muatan tergantung pH. Dalam keadaan masam, H+ dipegang kuat dalam gugusan karboksil atau phenol, tetapi iktan tersebut menjadi kurang kekuatannya bila pH menjadi lebih tinggi. Akibatnya disosiasi H+ meningkat dengan naiknya pH, sehingga muatan negatif dalam koloid humus yang dihasilkan juga meningkat. Berdasar atas kelarutannya dalam asam dan alkali, humus diperkirakan disusun oleh tiga jenis bagian utama, yaitu asam fulvik, asam humik dan humin.

  1. D.      Unsur-unsur hara esensial

Unsur-unsur hara esensial adalah unsur hara yang sangat diperlukan bagi tanaman, dan fungsinya dalam tanaman tidak dapat digantikan oleh unsure lain, sehingga apabila tidak terdapat dalam jumlah yang cukup di dalam tanah, tanaman tidak dapat tumbuh dengan nomal. Unsur-unsur esensial ini dapat berasal dari udara, air, atau tanah. Jumlah unsur-unsur esensial ada 17, yaitu:

Unsur makro :C, H, O, N, P, K, Ca, Mg dan S

Unsur mikro :Fe, Mn, B, Mo, Cu, Z, Cl, dan Co

Unsur hara makro adalah unsur hara yang diperlukan dalam jumlah yang banyak. Unsur hara mikro adalah unsure hara yang diperlukan dalam jumlah yang sangat sedikit.

Unsur Co yang diperlukan oleh ternak (sapi) sering tidak dimasukkan sebagai unsure hara esensial bagi tanaman tetapi dapat dimasukkan sebagai unsure hara yang kadang-kadang diperlukan oleh tanaman seperti halnya Na dan Si.

Hewan juga memerlukan unsur-unsur hara tersebut kecuali Boron (B), karena hewan ternak umumnya pemakan tanaman maka unsur-unsur hara yang ada pada tanaman juga merupakan unsur hara tersedia bagi hewan. Walaupun demikian hewan umumnya tidak memerlukan boron tetapi memerlukan unsure tanaman lain misalnya cobalt, natrium, yodium, dan selenium.

  1. E.       Mekanisme penyediaan dan penyerapan unsure hara

Tanaman dapat menyerap hara melalui akar atau melalui daun. Unsur C dan O diambil tanaman dari udara sebagai CO2 melalui stomata daun dalam proses fotosintesis. Unsur H diambil dari air tanah (H2O) oleh akar tanaman. Dalam jumlah sedikit air juga diserap tanaman melalui daun. Penelitian dengan unsur radioaktif menunjukkan bahwa unsur H dari air yang digunakan tanaman, sedang oksigen dalam air tersebut dibebaskan sebagai gas. Unsur-unsur hara yang lain diserap akar tanaman dari tanah. Walaupun demikian banyak unsur hara yang apabila disemprotkan sebagai larutan hara saat diserap tanaman melalui daun. Tanaman menyerap unsur hara dari dalam tanah umumnya dalam bentuk ion.

Unsur-unsur hara tersebut dapat tersedia disekitar akar tanaman dengan cara berikut :

  1. Aliran massa (mass flow)

Aliran massa adalah gerakan unsur hara di dalam tanah menuju pemukaan akar tanaman bersama-sama dengan gerakan massa air. Gerakan massa air dalam tanah menuju ke permukaan akar tanaman berlangsung terus-menerus diserap akar tanaman berlangsung terus-menerus diserap akar dan mengupa melalui proses transpirasi.

  1. Difusi

Air dan unsur hara yang terlarut di dalamnya disebut larutan tanah (soil solution). Pada waktu akar tanaman menyerap unsur hara dari larutan tanah,unsur hara yang lain terlarut dalam air bergerak menuju akar tanaman tanpa aliran air tetapi bergerak sebagai akibat hukum difusi, yaitu hukum yang menyatakan bergeraknya suatu zat (unsur hara) dari bagian yang berkonsentrasi rendah.

  1. Intersepsi akar

Akar-akar tanaman yang terus tumbuh akan terus memanjang menuju tempat-tempat yang lebih jauh didalam tanah sehingga menemukan unsur-unsur hara dalam larutan tanah di tempat-tempat tersebut. Memanjangnya akar-akar tanaman berarti memperpendek jarak yang harus ditempuh unsur-unsur hara untuk mendekati akar tanaman melalui aliran massa ataupun difusi.

Menurut Donahue, et .al (1977) aliran massa merupakan mekanisme penyediaan unsur hara seperti N (98,8%), Ca (71,4%), S(95%), Mo (95,2%). Untuk unsur-unsur hara P dan K penyediaan unsur haranya lebih banyak dilakukan melalui proses difusi yaitu 90,0 % untuk P dan 77,7 % untuk k. penyediaan unsur hara melalui intersepsi akar yang terpenting adalah untuk unsur Ca yang mencapai 28,6 % sedangkan untuk unsur-unsur lainnya hanya berkisar dari 1,2 – 5,0 %. Besarnya proses difusi (berjalan lambat) untuk unsur P dan K disebabkan karena kedua unsur tersebut tersedia dari suatu bentuk mineral dalam tanah yang kelarutannya rendah.

Unsur-unsur hara yang telah tersedia di sekitar perakaran tanaman tersebut selanjutnya melalui suatu proses yang khas dapat diserap ke dalam akar tanaman. Proses ini memerlukan energi metabolik dan proses penyerapan unsur hara merupakan proses selektif.

Akar-akar tanaman yang paling efektif adalah dekat adalah dekat ujung akar yang baru terbentuk atau rambut-ranbut akar, dimana kegiatan respirasi (pernafasan) adalah yang terbesar.

  1. F.       Unsur-unsur mikro

Unsur mikro diperlukan tanaman dalam jumlah yang sangat kecil. Kalau terdapat dalam jumlah yang berlebihan dapat menjadi racun bagi tanaman. Unsur mikro didalam tanah dapat berasal dari:

  1. Mineral-mineral dalam bahan induk tanah
  2. Bahan organik

Tanah-tanah yang kekurangan unsur mikro:

  1. Tanah berpasir yang mengalami pencucian lebih lanjut.
  2. Tanah organik (tanah gambut)

Unsur mikro seperti Cu kadang-kadang diikat kuat oleh bahan organik sehingga tidak dapat diserap oleh tanaman, karena:

  1. Tanah dengan pH yang sangat tinggi.
  2. Tanah yang ditanami sangat intensif dan banyak dipupuk hanya dengan unsur makro.

Faktor utama yang menentukan ketersediaan unsur mikro adalah:

  1. pH tanah

Tanah sangat masam, Mo tidak tersedia, tetapi unsur mikro yang lain menjadi mudah larut sehingga terdapat berlebihan dan dapat menjadi racun bagi tanaman. Tanah alkalis, kebanyakan mikro tidak tersedia kecuali Mo. Ketersediaan Cl tidak dipengaruhi oleh pH. Boron tersedia pada pH 5-7.

  1. Drainase tanah

Unsur mikro seperti Fe dan Mn kalau dalam keadaan tereduksi lebih mudah larut dalam air (tersedia bagi tanaman). Dalam keadaan oksida, unsur-unsur tersebut sukar larut sehingga sukar di serap oleh tanaman.

  1. Jerapan liat dan reaksi kimia

Unsur mikro kation seperti Zn, Mn, Co dan Fe terdapat dalam kompleks jerapan yang mudah diserap oleh tanaman. Tetapi kadang-kadang kation-kation tersebut terikat erat oleh mineral liat 2:1 (illit, montmorilonit) sehingga sulit diserap tanaman.

  1. Ikatan dengan bahan organik

Kompleks organik adalah ikatan antara kation-kation logam dengan bahan organik. Ikatan ini kadang terlalu kuat seperti halnya ikatan Cu atau Zn dengan bahan organik sehingga banyak tanah gambut yang kekurangan unsur tersebut.

 

PENUTUP

  1. Kesimpulan

Unsur-unsur pada sifat-sifat kimia tanah yaitu :

  1. Reaksi tanah (Ph tanah)

Reaksi tanah menunjukkan sifat keasaman atau alkalinitas tanah yang dinyatakan dengan nilai pH. Nilai pH menunjukkan banyaknya konsentrasi ion hidrogen di dalam tanah.

Pentingnya  pH tanah :

– Menentukan mudah tidaknya unsur-unsur hara diserap tanaman.

– Menunjukkan kemungkinan adanya unsur-unsur beracun.

– Mempengaruhi perkembangan organisme,

  1. Koloid tanah

Koloid tanah adalah bahan mineral dan bahan organik tanah yang sangat halus sehingga mempunyai luas permukaan yang sangat tinggi persatuan berat (massa).

  1. Unsur-unsur hara esensial

Unsur-unsur hara esensial adalah unsur hara yang sangat diperlukan bagi tanaman, dan fungsinya dalam tanaman tidak dapat digantikan oleh unsure lain, sehingga apabila tidak terdapat dalam jumlah yang cukup di dalam tanah, tanaman tidak dapat tumbuh dengan nomal.

  1. Mekanisme penyediaan dan penyerapan unsure hara

Tanaman dapat menyerap hara melalui akar atau melalui daun. Unsur C dan O diambil tanaman dari udara sebagai CO2 melalui stomata daun dalam proses fotosintesis.

  1. Unsur-unsur mikro

Unsur mikro diperlukan tanaman dalam jumlah yang sangat kecil. Kalau terdapat dalam jumlah yang berlebihan dapat menjadi racun bagi tanaman. Unsur mikro didalam tanah dapat berasal dari:

  1. Mineral-mineral dalam bahan induk tanah
  2. Bahan organic

MOBILITAS ANGKUTAN BARANG DAN PENUMPANG KAPAL Di PELABUHAN TRISAKTI BANJARMASIN

BAB I

PENDAHULUAN

 

  1. A.    Latar Belakang Masalah

Transportasi merupakan bagian dari kegiatan ekonomi yang berhubungan dengan pemenuhan kebutuhan manusia dengan cara mengubah letak geografis barang atau orang. Selain itu transportasi menjadi salah satu infrastruktur paling penting selain energi dan telekomonikasi. Transportasi perlu untuk mengatasi kesenjangan jarak dan komunikasi antara tempat asal dan tempat tujuan.

Untuk wilayah perkotaan, transportasi memegang peranan yang cukup menentukan. Suatu kota yang baik dapat ditandai, antara lain dengan melihat kondisi transportasinya. Transportasi yang baik, aman, dan lancar selain mencerminkan keteraturan kota, juga memperlihatkan memperlihatkan kelancaran kegiatan perekonomian kota.

Pelabuhan dalam aktifitasnya mempunyai peran penting dan strategis untuk pertumbuhan industri dan perdagangan serta merupakan segmen usaha yang dapat memberikan kontribusi bagi pembangunan nasional. Hal ini membawa konsekuensi terhadap pengelolaan segmen usaha pelabuhan tersebut agar pengoperasiannya dapat dilakukan secara efektif, efisien dan profesional sehingga pelayanan pelabuhan menjadi lancar, aman, dan cepat dengan biaya yang terjangkau.

Provinsi Kalimantan Selatan merupakan salah satu provinsi yang mengandalkan transportasi laut sebagai transportasi utama antar pulau dan antar negara baik untuk melayani lalu lintas penumpang maupun barang. Keberadaan pelabuhan laut menjadi sangat vital bagi pergerakan roda perekonomian wilayah ini, dimana kelancaran arus barang baik antar pulau maupun antar negara sangat ditentukan oleh tingkat pelayanan pelabuhan. Semakin besar tingkat pelayanan suatu pelabuhan, maka tingkat kelancaran arus lalu lintas barang akan semakin baik. Salah satu pelabuhan yang dimiliki Provinsi Kalimantan Selatan adalah Pelabuhan Trisakti Banjarmasin yang merupakan pelabuhan utama di wilayah ini.

Demikian dikemukakan Manager Peti Kemas Perum Pelabuhan III Cabang Banjarmasin, Jumadi kepada Abdi Persada FM kemarin di ruang kerjanya. Upaya yang mereka lakukan selama ini, ternyata dipancang berhasil, karena terbukti dengan masuknya kapal Cargo luar negeri seperti Serasi 3 yang mengangkut kendaraan bermotor langsung dari luar negeri, dan beberapa kapal Cargo barang lainnya yang telah mereka uji coba berandar di pelabuhan Trisakti.

Dijadikannya pelabuhan tri sakti banjarmasin sebagai pelabuhan berstandar internasional, bertujuan meningkatkan sektor perdagangan ekspor dan import barang luar negeri. Demikian dikemukakan Manager Peti Kemas Perum Pelabuhan III Cabang Banjarmasin, Jumadi. Upaya yang mereka lakukan selama ini, ternyata dipancang berhasil, karena terbukti dengan masuknya kapal Cargo luar negeri seperti Serasi 3 yang mengangkut kendaraan bermotor langsung dari luar negeri, dan beberapa kapal Cargo barang lainnya yang telah mereka uji coba berandar di pelabuhan Trisakti.

Pelabuhan Trisakti termasuk strategis, kepadatan aktivitas bongkar muat kontainer sangat tinggi hingga mengakibatkan antrean panjang di pelabuhan. Kondisi itu kian meningkat seiring terbukanya alur baru yang bisa dilayari seluruh jenis kapal selama 24 jam tanpa menunggu air pasang.

Saat ini, perusahaan kontainer di Pelabuhan Trisakti berjumlah sepuluh, namun tiga di antaranya menunggu kesiapan CY. Dalam satu tahun, kontainer yang keluar masuk CY Trisakti rata-rata 240 ribu. Diperlukan lahan sekitar 10 hektar untuk depot agar seimbang.

Diakui saat ini, kegiatan bongkar muat terjadi di area pelabuhan Trisakti sehingga terjadi penumpukan kontainer. Tempat lain seperti di Surabaya, hal tersebut tidak terjadi karena tersedia kawasan khusus. Tanggung jawab pembangunan fasilitas penampungan kontainer pada dasarnya ditujukan kepada pihak pelayaran. Namun karena sampai sekarang belum bisa, pihak Pelindo turut membantu.

Kepala Administrator Pelabuhan (Adpel) Banjarmasin, Sufrisman Djaffar menilai saatnya Pelindo memikirkan penyediaan fasilitas penumpukan khusus karena pertambahan kontainer yang semakin besar. Menurut Djumadi, Pelindo akan terus memaksimalkan pengoperasionalan pelabuhan peti kemas. Menyikapi keinginan pelindo memaksimalkan terminal pelabuhan peti kemas dan kegiatan bongkar muat, Ketua Federasi Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Serikat Pekerja Indonesia (SPI) Kalsel, Hamdani, mengatakan sangat mendukung. Menurut dia, hal itu tidak hanya mengatasi antrean kapal di pelabuhan, tetapi meningkatkan penghasilan tenaga kerja bongkar muat (TKBM) di pelabuhan. Otomatis pasti meningkatkan penghasilan buruh, selain penghasilan pokok tapi jam lembur bertambah. Karena aktivitas pelabuhan meningkat.

Direktur Duta Cargo, Madi, mengatakan rencana ke depan Pelindo memaksimalkan pelayanan di pelabuhan memberikan manfaat besar bagi pengguna pelabuhan. Lebih cepat lebih bagus, karena akan menekan biaya bongkar muat. Sebab kalau antrean terjadi, biaya operasional turut membengkak.

Kegiatan bongkar muat di pelabuhan seperti sekarang menurutnya melanggar aturan, sehingga hal itu tidak bisa terus berlangsung tanpa ada upaya membuat sarana baru yang memadai. Hal ini terkait dengan pelayanan pihak pelabuhan kepada pengguna jasa dan kelancaran arus barang yang masuk atau keluar. Pihak Pelindo dinilai lamban mengantisipasi pertambangan kontainer ini.

Terkait dengan pelayanan, Gubernur Kalsel, Rudy Ariffin meminta Pelindo  meningkatkan pelayanan ini seiring terbukanya alur Ambang Barito 24 jam pasca pengerukan tahun 2008 lalu.

Apabila fasilitas pelabuhan tidak dibenahi, akan terjadi hambatan proses bongkar muat barang yang pada gilirannya akan merugikan pengguna jasa pelabuhan seperti pedagang sayur dan sebagainya. Peningkatan pelayanan saat ini sangat mendesak karena upaya memfungsikan Ambang Alur Barito 24 jam akan percuma bila terkendala dengan kemampuan pelayanan pihak pelabuhan tidak sesuai jumlah kapal yang merapat.

Ke depan pihaknya akan terus berupaya malakukan perpanjangan dermaga sandar, yang dirasakan masih kurang untuk mengantisipasi bertambahnya volume kedatangan kapal Cargo luar negeri. Sedangkan dari segi perlatan bongkar muat, pihaknya sudah dapat menjamin pelabuhan Trisakti memiliki kualitas yang berstandar Internasional. (INDRA AP FM).

Trisakti kebanggaan Kota Banjarmasin mulai dahulu zaman sejarah. Pelabuhan yang ada ini, tinggal dikembangkan saja. Pelabuhan Trisakti, dengan fasilitas terminal container serta fasilitas penunjang lainnya hingga 2013 masih mampu mengatasi cargo flow yang tiba di daerah ini. Selain itu, tidak ada alasan lagi untuk mengalihkan pelabuhan ke lokasi lain. Saat wacana pemindahan muncul, karena alur mengalami pendangkalan sehingga alur tidak optimal dimanfaatkan selama 24 jam.

  1. B.       Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah diatas, maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

  1. Berapa Sebaran Volume angkut barang dan penumpang dari dan ke Banjarmasin (Jiwa/Ton/keberangkatan)?
  2. Apa saja faktor-faktor penggunaan waktu tertentu keberangkatan dari dan ke Banjarmasin?
  3. Bagaimana kondisi umum Pelabuhan Trisakti Banjarmasin?
  1. C.       Tujuan Penelitian

Adapun tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui:

Mobilitas Angkutan Barang dan Penumpang Kapal di Pelabuhan Trisakti Banjarmasin, yang mencakup :

1.      Sebaran Volume angkut barang dan penumpang dari dan ke Banjarmasin (Jiwa/Ton/keberangkatan).

2.      Faktor-faktor penggunaan waktu tertentu keberangkatan dari dan ke Banjarmasin.

3.      Kondisi umum Pelabuhan Trisakti Banjarmasin

 

BAB II

LANDASAN TEORI

  1. 1.      Pengertian Transportasi

Transportasi atau perangkutan adalah perpindahan dari suatu tempat ke tempat lain dengan menggunakan alat pengangkutan, baik yang digerakkan oleh tenaga manusia, hewan, atau mesin (Haryono Sukarto).

Selain itu transportasi juga merupakan pemindahan manusia atau barang dari satu tempat ke tempat lainnya dengan menggunakan sebuah wahana yang digerakkan oleh manusia atau mesin. Transportasi digunakan untuk memudahkan manusia dalam melakukan aktivitas sehari-hari. Di negara maju, mereka biasanya menggunakan kereta bawah tanah (subway) dan taksi. Penduduk disana jarang yang mempunyai kendaraan pribadi karena mereka sebagian besar menggunakan angkutan umum sebagai transportasi mereka. Transportasi sendiri dibagi 3 yaitu, transportasi darat, laut, dan udara. Transportasi udara merupakan transportasi yang membutuhkan banyak uang untuk memakainya. Selain karena memiliki teknologi yang lebih canggih, transportasi udara merupakan alat transportasi tercepat dibandingkan dengan alat transportasi lainnya.

  1. 2.      Moda Transportasi

Moda transportasi terbagi atas tiga jenis moda, yaitu:

  1. Transportasi Darat, meliputi: kendaraan bermotor, kereta api, gerobak yang ditarik oleh hewan atau manusia.

Moda transportasi darat dipilih berdasarkan faktor-faktor:

  • Jenis dan spesifikasi kendaraan.
  • Jarak perjalanan.
  • Tujuan perjalanan.
  • Ketersediaan moda.
  • Ukuran kota dan kerapatan permukiman.
  • Faktor sosial ekonomi.
  1. Transportasi air, meliputi: sungai, danau, laut: kapal, tongkang, perahu, rakit.
  2. Transportasi udara, meliputi: pesawat terbang.
  3. 3.      Peranan Transportasi

Sektor transportasi merupakan salah satu sektor yang sangat berperan dalam penbangunan ekonomi yang menyeluruh. Perkembangan sektor transportasi akan secara langsung mencerminkan pertumbuhan pembangunan ekonomi yang berjalan. Namun demikian sektor ini dikenal pula sebagai salah satu sektor yang dapat memberikan dampak terhadap lingkungan dalam cakupan spasial dan temporal yang besar. Perkotaan sebagai salah satu sektor kegiatan perkotaan, merupakan kegiatan yang potensial mengubah kualitas udara perkotaan.

  1. 4.      Pelabuhan

Pelabuhan merupakan terminal bagi angkutan laut yang mempunyai fungsi utama untuk menaikkan dan menurunkan penumpang, bongkar muat barang dan hewan serta merupakan daerah lingkungan kerja kegiatan ekonomi.

Pelabuhan adalah sebuah fasilitas di ujung samudera, sungai, atau danau untuk menerima kapal dan memindahkan barang kargo maupun penumpang ke dalamnya. Pelabuhan biasanya memiliki alat-alat yang dirancang khusus untuk memuat dan membongkar muatan kapal-kapal yang berlabuh. Crane dan gudang berpendingin juga disediakan oleh pihak pengelola maupun pihak swasta yang berkepentingan. Sering pula disekitarnya dibangun fasilitas penunjang seperti pengalengan dan pemprosesan barang.

Kata pelabuhan laut digunakan untuk pelabuhan yang menangani kapal-kapal laut. Pelabuhan perikanan adalah pelabuhan yang digunakan untuk berlabuhnya kapal-kapal penangkap ikan serta menjadi tempat distribusi maupun pasar ikan.

Klasifikasi pelabuhan perikanan ada 3, yaitu: Pelabuhan Perikanan Pantai, Pelabuhan Perikanan Nusantara, dan Pelabuhan Perikanan Samudera.

Di bawah ini hal-hal yang penting agar pelabuhan dapat berfungsi:

Ø  Adanya kanal-kanal laut yang cukup dalam (minimum 12 meter)

Ø  Perlindungan dari angin, ombak, dan petir

Ø  Akses ke transportasi penghubung seperti kereta api dan truk.

Kinerja pelabuhan dapat ditujukan oleh kualitas pelayanan terhadap kapal maupun barang disuatu pelabuhan. Variabel yang dapat mempengaruhi kualitas pelayanan atau kinerja operasional pelabuhan antara lain produktifitas bongkar muat yang antara lain diukur melalui variabel ship out, sedangkan kinerja operasional antara lain terdiri atas waiting time, berthing time, turn round time.

Ship out (TSHP) sendiri merupakan salah satu indikator yang digunakan untuk mengukur besarnya produktifitas bongkar muat kapal. Peralatan bongkar muat sangat mempengaruhi lamanya kapal di dermaga, apabila alat bongkar muat kurang memadai maka produktifitas bongkar muat rendah, sebaliknya peralatan bongkar muat memadai serta SDM yang profesional maka produktifitas bongkar muat akan tinggi, dengan sendirinya kapal akan cepat meninggalkan dermaga atau berthing time dapat diperkecil.

  1. 5.      Pelabuhan Trisakti

Pelabuhan Trisakti berada di wilayah Banjarmasin, Kalimantan Selatan terbagi atas pelabuhan penumpang dan pelabuhan barang (export, import, dan lokal). Pelabuhan Trisakti ini, mampu hingga 25 tahun ke depan menampung setiap cargo flow atau barang masuk serta keluar dari daerah ini.

Pelabuhan Trisakti Banjarmasin merupakan pintu gerbang ke wilayah Kalimantan Selatan , Kalimantan tengah dan Kalimantan Timur. Berbagai ekspor hasil Kalimantan Selatan antara lain, yaitu kayu, rotan, getah jelatung, kulit gemor, biji tengkawang, batubara dan lain sebagainya, dalam jumlah besar diekspor melalui pelabuhan Banjarmasin, maupun dikirim untuk tujuan ke berbagai daerah guna memenuhi kebutuhan bahan baku industri dalam negeri. Volume barang dan penumpang melalui pelabuhan ini terus meningkat setiap tahunnya, bahkan angkutan petikemas untuk tujuan ekspor mulai tampak dominan.

  1. 6.      Peranan Pelabuhan

Peranan pelabuhan adalah sebagai salah satu mata rantai dari sistem transportasi kelautan dan entitas bisnis kepelabuhanan, maka pelabuhan Banjarmasin akan dikembangkan secara bertahap dengan memperhatikan aspek aspek tatanan kepelabuhanan secara nasional, keamanan dan keselamatan pelayaran serta tata lahan dan tata ruang Provinsi Kalimantan Selatan.

Untuk mengimbangi arus perekonomian dan perdagangan yang semakin pesat dan modern saat ini. Pelabuhan Banjarmasin telah membangun terminal-terminal beserta prasarana prasarana penunjang lainnya dengan tujuan memberikan pelayanan prima kepada para pengguna jasa.

Pelayanan Kapal merupakan jasa yang kegiatan operasional kapal dari mulai masuk sampai dengan keluar, meliputi pelayanan jasa pandu, labuh. Pelayanan Barang merupakan pelayanan bongkar muat sejak dari kapal hingga penyerahan ke pemilik barang meliputi : jasa bongkar muat, penumpukan.

BAB III

METODE PENELITIAN

 

Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif kualitatif yang bertujuan untuk memberikan penjelasan tentang suatu hal sehingga dapat terbentuk suatu gambaran yang jelas mengenai situasi-situasi yang terjadi dilapangan secara apa adanya. Pengolahan data (analisis deskriptif) adalah usaha untuk menyederhanakan sekaligus untuk menjelaskan bagian-bagian keseluruhan data melalui langkah klasifikasi dan kategorisasi sehingga penelitian ini dapat tersusun menjadi suatu rangkaian deskripsi yang sistematis dan matang serta menyeluruh dalam menggambarkan rincian segala sesuatu yang terjadi pada suatu kegiatan atau situasi tertentu.

Data dalam penelitian ini mengacu pada semua materi yang dikumpulkan oleh peneliti di lapangan yang mencakup catatan yang dibuat oleh peneliti melalui wawancara dan observasi, serta dokumen lain yang telah tersedia. Jadi, sumber data dalam penelitian kualitatif dapat digolongkan menjadi tiga macam, yaitu : manusia, suasana yang diamati, dan studi dokumen. Tiga teknik dasar yang bisa digunakan dalam pengumpulan data yaitu :

Ø  Wawancara mendalam

Ø  Observasi berperan serta

Ø  Studi dokumentasi

Wawancara mendalam digunakan dalam penelitian ini dengan melakukan percakapan atau tanya jawab secara mendalam dengan para informan. Tujuan dari wawancara mendalam adalah untuk mendapatkan katerangan atau pernyataan lisan dari karyawan, pekerja, serta petugas yang ada di Pelabuhan Trisakti menyangkut bagaimana sebaran volume barang dan penumpang, bagaimana sektor impor dan ekspornya, serta meneliti bagaimana kondisi dari pelabuhan tersebut. Wawancara mendalam atau wawancara tidak terstruktur ini bercirikan bahwa formatnya tidak terstandar. Pewawancara tidak mencari respon yang bersifat normatif, tetapi lebih memperhatikan keunikan, keistimewaan, dan pandangan meneyeluruh dari setiap informan.

Observasi disini adalah dengan melakukan pengamatan langsung terhadap kegiatan Operasional Pelabuhan Trisakti. Analisis selama pengumpulan data merupakan analisis data yang dilakukan bersamaan dalam mengumpulkan data,setelah itu melakukan pemilahan dan informasi melalui tiga teknik pengumpulan data. Dalam kegiatan ini peneliti memilih informasi dengan memusatkan perhatian pada hal-hal yang ditemukan baik dalam fokus penelitian peneliti maupun yang menjadi temuan di luar hal tersebut. Setelah itu, peneliti menyajikan data tersebut dalam ringkasan penelitian yang merupakan ringkasan catatan lapangan yang berupa hasil wawancara, observasi dan dokumentasi.

Pemilihan daerah penelitian ini didasarkan pada tempat, objek dan subjek penelitian, yaitu sebagai berikut:

Ø  Tempat penelitian

Penelitian ini dilaksanakan di Barito Hilir Trisakti No. 6 Banjarmasin, Kalimantan Selatan.

Ø  Objek penelitian

Objek penelitian ini adalah Mobilitas Angkutan Barang dan Penumpang Kapal di

Pelabuhan Trisakti Banjarmasin, Kalimantan Selatan.

Ø  Subjek penelitian

Subjek penelitiannya adalah Pelabuhan Trisakti Banjarmasin Kalimantan Selatan.

BAB IV

KONDISI DAERAH PENELITIAN

 

Berdasarkan dari hasil penelitian maka dapat diketahui kondisii pelabuhan trisakti Banjarmasin, dalam hal ini seperti sarana dan prasarana. Pelabuhan Trisakti berada di wilayah Banjarmasin, Kalimantan Selatan. Pelabuhan tri sakti terbagi atas pelabuhan penumpang dan pelabuhan barang (export, import, dan lokal). Pelabuhan Trisakti termasuk strategis dan kepadatan aktivitas bongkar muat kontainer sangat tinggi sehingga mengakibatkan antrean panjang di pelabuhan. Kondisi itu kian meningkat seiring terbukanya alur baru yang bisa dilayari seluruh jenis kapal selama 24 jam tanpa menunggu air pasang.

Keadaan jalannya kurang memadai karena terdapat jalan yang sangat berlumpur yang sering digunakan untuk pemindahan barang. Selain itu daerahnya juga sangat berdebu, hal ini dikarenakan oleh keluar masuknya truck pengangkutan atau sejenisnya tiap harinya, sehingga menimbulkan debu dimana-mana. Oleh karena itu diperlukannya masker atau pelindung yang dapat membantu untuk menghindari debu akibat keluar masuknya truck atau sejenisnya.

Pengangkutan dan pemindahan muatan barang menggunakan Forklift dengan berat 28 Ton dari container ke truck untuk kemudian di distribusikan. Forklift digunakan untuk mempermudah pemindahan barang dari container ke truck.

Di area gudang tempat bongkar muat barang para pekerja kebanyakan dilakukan oleh para laki-laki, karena pekerjaan ini sangat beresiko dan berat sehingga  membutuhkan tenaga yang lebih dan teknologi disini sudah canggih dan modern sehingga dapat memudahkan para pekerja untuk melakukan bongkar muat barang dari kapal.

 

BAB V

HASIL DAN PEMBAHASAN

 

  1. A.    Volume/jumlah kapal antarkota dan antar wilayah
  1. B.     Faktor Pengguna Waktu Tertentu Keberangkatan Dari dan Ke Banjarmasin

Pelabuhan dahulu hanya merupakan suatu tepian dari lautan yang sangat luas di mana kapal-kapal dan perahu-perahu bersandar dan membuang jangkar untuk melakukan pekerjaan membongkar dan memuat barang-barang, serta pekerjaan-pekerjaan lainnya. Kemudian sejalan dengan perkembangan sosial ekonomi, pelabuhan yang pada jaman dahulu sederhana berkembang menjadi suatu daerah atau lingkungan yang cukup luas yang perlu perhatian dari pemerintah dimana pelabuhan itu berada. Pelabuhan yang telah dikelola terdapat berbagai fasilitas yang diperlukan guna menyelenggarakan pemuatan dan pembongkaran barang dari dan ke kapal sesuai dengan bentuk atau desain kapal untuk pelayanan kegiatan embarkasi dan debarkasi penumpang, barang dan hewan.

Jalur transportasi yang ada di Pelabuhan Trisakti Banjarmasin yaitu Jakarta-Banjarmasin,Surabaya-Banjarmasin dan Semarang-Banjarmasin.Kebanyakan masyarakat lebih cendrung memilih menggunakan transportasi laut ini karena dari segi biaya yang relatif murah apabila dibandingkan dengan menggunakan jasa transportasi udara untuk bepergian keluar daerah khususnya bagi kalangan menengah.Jalur transportasi ini juga dijadikan sebagai ekspor dan impor barang yang setiap bulannya terus terjadi peningkatan karena banyaknya permintaan.

  1. A.    Kondisi Umum Pelabuhan Trisakti Banjarmasin

Keadaan Pelabuhan Trisakti akhir-akhir ini cenderung menurun dan mengalami banyak hambatan. Sampai saat ini belum ada konsep yang dapat membawa pelabuhanan ke arah pertumbuhan yang lebih baik. Di sektor angkutan laut, operasional kapal dilakukan untuk mengejar keuntungan sesaat tanpa pernah berpikir bagaimana membangun jaringan kapal antar-pelabuhan. Padahal operasionalisasi kapal adalah untuk ketersediaan barang. Target untuk keuntungan sesaat ini berakibat tidak tumbuhnya sentra-sentra produksi di sepanjang alur laut. Semestinya, salah satu peran angkutan laut adalah sebagai pemicu pertumbuhan ekonomi regional, nasional, maupun internasional.

Hal itu diukur berdasarkan tingkat kepuasan pelanggan jasa pelabuhan (port users), yaitu menghitung waktu sejak kapal tiba hingga kapal meninggalkan pelabuhan.
Ada beberapa klasifikasi tingkat kepuasan pelanggan (customer satisfaction), yaitu:

  1. Sangat puas (exelence service), yakni apabila waktu kerja efektif mencapai 90 persen dan penggunaan waktu kerja selama 21 jam dengan waktu istirahat makan 3 jam. Dalam kondisi ini, pelayanan jasa pelabuhan diberikan sesuai jadwal sehingga kapal tidak dibebani biaya tambahan dan jadwal trayek dapat dipenuhi.
  2. Puas (good service), yakni apabila waktu kerja efektif mencapai 80 persen dengan penggunaan waktu kerja produktif 18 jam dan waktu istirahat makan dan pergantian shift 6 jam. Kondisi ini tidak terlalu berpengaruh terhadap extra-cost.
  3. Tidak puas (bad service), yakni apabila waktu kerja efektif mencapai 70 persen, penggunaan waktu kerja produktif hanya 14 jam. Ketidakpuasan pengguna jasa pelabuhan terjadi karena ada biaya tambahan dan jadwal kapal ke pelabuhan lain terganggu.
  4. Sangat tidak puas (poor service), yakni apabila waktu kerja efektif hanya 60 persen dan penggunaan waktu kerja produktif hanya 10-13 jam. Hal ini berakibat besarnya biaya tambahan yang dikeluarkan operator kapal dan terganggunya trayek berikutnya.

Faktor lainnya adalah alat bongkar muat yang sering macet. Operasi pelayanan kapal meliputi kegiatan-kegiatan perencanaan dan pelaksanaan tambatan kapal yang diarahkan agar pemanfaatan lokasi tambatan dapat sesuai dengan jenis dan tipe kapal. Jenis muatan yang akan dibongkar atau dimuat, penggunaan peralatan bongkar muat secara optimal dan pemilihan gudang dan lapangan penumpukan barang yang sesuai dengan kebutuhan serta kelancaran pendistribusian barang dalam rangka menghasilkan ship-dispatch. Untuk dapat merencanakan dan menangani operasional pelayanan kapal dan untuk mencapai ships output yang tinggi, harus terlebih dahulu diketahui data lengkap sebuah kapal yang akan dilayani meliputi antara lain bentuk, jenis dan karakteristik kapal. Data kedatangan kapal, harus selalu data yang terakhir (up to date) dan setiap perubahan jam kedatangan kapal harus dilaporkan secepatnya kepada pihak pengelola pelabuhan, untuk memudahkan penyusunan perencanaan alokasi penggunaan tambatan secara tepat dan berdaya guna.

Bagi sebagian orang,gerbang mempunyai fungsi advertorial,keindahan dan kemudahan aksesnya bisa membujuk orang untuk datang.Namun,tidak demikian dengan pintu gerbang Alur Barito di Banjarmasin,Kalimantan Selatan. Pintu gerbang menuju Pelabuhan Trisakti Banjarmasin yang memasok kebutuhan Kalimantan Selatan dan Kalimantan Tengah makin lama justru makin tertimbun lumpur.Untuk memasuki pelabuhan para pengusaha harus berpikir dua kali karena lamanya antrean dan risiko kandas.Dalam waktu kurang dari enam bulan memang sudah ada 40 kapal yang kandas. Itu baru catatan kapal kandas yang sempat menginap di Alur Barito,belum kapal kandas yang kurang dari 12 jam yang biasanya tidak dilaporkan.Dapat dikatakan, semua kapal kontainer dan kapal penumpang yang memasuki Pelabuhan Trisakti selalu kandas. Hanya saja, ada yang bisa ditarik oleh kapal tugboat dan ada yang tidak bisa. Kapal dikatakan kandas jika tidak bisa ditarik dua tugboat sekalipun air laut sedang pasang.

Menurut Kepala Cabang PT Meratus Banjarmasin Chany Horman jika kapal kandas di Alur Barito diperlukan kapal tongkang untuk memindah muatan kapal. Setelah alur pasang, maka kapal baru bisa ditarik oleh tugboat.Biaya tunggu (delay cost) di Pelabuhan Trisakti untuk kapal kontainer dan kapal niaga mencapai Rp 1 miliar per bulan.Untuk masuk ke pelabuhan, kapal sering menunggu pasang sampai 12 jam. Setelah masuk pelabuhan harus menunggu bongkar dan menunggu air pasang lagi untuk keluar. Dalam kondisi ekstrem, menunggu kapal lain bongkar mencapai 30 jam dan menunggu pasang untuk keluar mencapai 12 jam.Rata-rata kapal dalam sehari menunggu 24jam.


BAB V

PENUTUP

  1. A.    Kesimpulan

Pelabuhan Trisakti berada di belahan kota Banjarmasin ibukota Propinsi Kalimantan Selatan, terletak di tepi Sungai Barito,sekitar 20 mil dari muara Sungai Barito pada posisi 030 20’ 18″ LS, 1140 34″ 48″ BT. Pelabuhan Trisakti memiliki panjang dermaga 510 M, Gudang 8.450 M2 dan lapangan Kontainer 48.836 M2. Pelabuhan Banjarmasin merupakan pendukung utama transportasi laut yang secara langsung maupun tidak langsung berperan aktif dalam pembangunan ekonomi Propinsi Kalimantan Selatan.

Pelabuhan Trisakti jika ditinjau dari aktivitas sandar kapal dari tahun ke tahun menunjukan peningkatan yang sangat signifikan, akan tetapi kondisi ini tidak didukung oleh tingkat pelayanan pelabuhan yang memadai, sehingga sering terjadi keterlambatan bongkar muat barang yang berimbas pada semakin tingginya biaya sandar kapal.

Salah satu penyebab kondisi tersebut adalah kedudukan pelabuhan Trisakti yang berada di alur Sungai Barito yang sangat rentan terhadap pendangkalan akibat sedimentasi, sehingga operasional alur sangat ditentukan oleh kondisi pasang surut air Sungai Barito. Bedasarkan informasi terkini bahwa Alur Barito hanya mampu beroperasi selama lebih kurang 3 (tiga) jam per hari, sehingga tingkat antrian kapal untuk bongkar muat semakin tinggi.

Volume barang dan penumpang melalui pelabuhan ini terus meningkat setiap tahunnya, bahkan angkutan petikemas untuk tujuan ekspor mulai tampak dominan.
Pengembangan Pelabuhan Banjarmasin selalu memperhatikan aspek-aspek Tatanan Kepelabuhanan Nasional, Keamanan dan Keselamatan Pelayaran, Rencana Tata Guna Lahan untuk pengembangan pelabuhan, keselarasan dan keseimbangan dengan kegiatan di lingkungan Pelabuhan Banjarmasin dan tinjauan terhadap aspek lingkungan. Aneka pembangunan fasilitas dan pengadaan peralatan serta pengaturan keperluan kelancaran transportasi laut di kemas dalam suatu ramuan sistem pelayanan terpadu selaras dengan kebutuhan dan permintaan pengguna jasa kepelabuhanan serta perkembangan teknologi dewasa ini.

  1. B.     Saran

Tingkat pencapaian pelayanan kegiatan atau atribut kerja dalam kegiatan operasional pelabuhan dapat diukur dan dijadikan pedoman dalam pemberian pelayanan jasa di pelabuhan. Untuk menggambarkan tingkat pelayanan barang yang telah dicapai oleh pelabuhan secara rata-rata, digunakan satuan pengukur( tolok ukur) yang dijadikan pedoman atau standar dalam menentukan kebijakan pelayanan jasa pelabuhan.Tolok ukur tersebut diperoleh dari hasil yang dicapai di lapangan melalui pengamatan yang cukup lama dan dapat pula diperoleh melalui suatu penelitian di lapangan untuk jangka waktu tertentu.

  1. C.    Rekomendasi

Rekomendasi adalah surat pernyataan bahwa peneliti telah melakukan penelitiannya secara langsung kelapangan,sehingga data-data yang tercantum dalam laporan ini memang benar adanya sesuai kenyataan.Rekomendasi ini akan terlampir setelah halaman berikut ini.

BATUAN METAMORF

BAB I

PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang
Di bumi ini terdapat banyak sekali kandungan sumber daya alamnya, diantaranya yaitu batuan dan bahan tambang. Batuan dan bahan tambang mempunyai manfaat yang sangat penting bagi kehidupan manusia. Batuan merupakan kumpulan dari satu atau lebih mineral, batuan penyusun kerak bumi berdasarkan kejadiannnya (genesis), tekstur, dan komposisi mineralnya dapat dibagi menjadi 3, yaitu : Batuan beku (Igneous Rocks), Batuan sedimen (Sedimentary Rocks), Batuan metamof/malihan (Metamorphic Rocks).
Batuan dan mineral merupakan sumber daya alam yang banyak dibutuhkan dan digunakan untuk kehidupan manusia, dan bahan dasar industri. Batuan terbentuk dari kumpulan magma yang membeku di permukaan bumi dan berakhir menjadi berbagai jenis batuan. Sedangkan mineral terbentuk secara anorganik, mempunyai komposisi kimia pada batas-batas tertentu dan memiliki atom-atom yang tersusun secara teratur, mineral merupakan komponen batuan yang membentuk lapisan kerak bumi. Bahan tambang di Indonesia terdapat di darat dan di laut. Bahan tambang jika diolah memerlukan modal yang banyak, tenaga ahli dan teknologi yang tinggi. Sedangkan untuk memperolehnya,dapat juga dilakukan secara tradisional seperti mendulang emas dan lain-lain.

1.2. Maksud dan Tujuan

Adapun tujuan disusunnya makalah ini adalah:
1. Mengetahui pengertian batuan matamorf.
2.Mangetahui agen-agen, facies-facies, dan jenis-jenis metamorfisme.
3. Mengidentifikasi mineral-mineral penyusun batuan metamorf.

BAB II

LANDASAN TEORI

Batuan metamorf merupakan batuan yang terbentuk dari hasil proses metamorfisme, dimana terjadi perubahan atau alterasi; physical (struktur, tekstur) dan chemical (mineralogical) dari suatu batuan pada temperatur dan tekanan tinggi dalam kerak bumi atau Batuan metamorf adalah batuan yang berasal dari batuan induk yang lain, dapat berupa batuan beku, batuan sedimen, maupun batuan metamorf sendiri yang telah mengalami proses/perubahan mineralogi, tekstur maupun struktur sebagai akibat pengaruh temperatur dan tekanan yang tinggi. Proses metamorfosa terjadi dalam fasa padat, tanpa mengalami fasa cair, dengan temperatur 200oC – 6500C. Menurut Grovi (1931) perubahan dalam batuan metamorf adalah hasil rekristalisasi dan dari rekristalisasi tersebut akan terbentuk kristal-kristal baru, begitupula pada teksturnya.
Menurut H. G. F. Winkler (1967), metamorfisme adealah proses yang mengubah mineral suatu batuan pada fase padat karena pengaruh terhadap kondisi fisika dan kimia dalam kerak bumi, dimana kondisi tersebut berbeda dengan sebelumnya. Proses tersebut tidak termasuk pelapukan dandiagenesa.
Batuan metamorf atau batuan malihan adalah batuan yang terbentuk akibat proses perubahan temperatur dan/atau tekanan dari batuan yang telah ada sebelumnya. Akibat bertambahnya temperatur dan/atau tekanan, batuan sebelumnya akan berubah tektur dan strukturnya sehingga membentuk batuan baru dengan tekstur dan struktur yang baru pula. Contoh batuan tersebut adalah batu sabak atau slate yang merupakan perubahan batu lempung. Batu marmer yang merupakan perubahan dari batu gamping. Batu kuarsit yang merupakan perubahan dari batu pasir.Apabila semua batuan-batuan yang sebelumnya terpanaskan dan meleleh maka akan membentuk magma yang kemudian mengalami proses pendinginan kembali dan menjadi batuan-batuan baru lagi.

Batuan metamorf memiliki beragam karakteristik. Karakteristik ini dipengaruhi oleh beberapa faktor dalam pembentukan batuan tersebut ;

–          Komposisi mineral batuan asal

–          Tekanan dan temperatur saat proses metamorfisme

–          Pengaruh gaya tektonik

–          Pengaruh fluida

Pada pengklasifikasiannya berdasarkan struktur, batuan metamorf diklasifikasikan menjadi dua, yaitu :

–          Foliasi, struktur planar pada batuan metamorf sebagai akibat dari pengaruh tekanan diferensial (berbeda) pada saat proses metamorfisme.

–          Non foliasi, struktur batuan metamorf yang tidak memperlihatkan penjajaran mineral-mineral dalam batuan tersebut.

Jenis-jenis Metamorfisme

  1. Metamorfisme kontak/termal

Metamorfisme oleh temperatur tinggi pada intrusi magma atau ekstrusi lava.

  1. Metamorfisme regional

Metamorfisme oleh kenaikan tekanan dan temperatur yang sedang, dan terjadi pada daerah yang luas.

  1. Metamorfisme Dinamik

Metamorfisme akibat tekanan diferensial yang tinggi akibat pergerakan patahan lempeng.

Facies Metamorfisme

Facies merupakan suatu pengelompokkan mineral-mineral metamorfik berdasarkan tekanan dan temperatur dalam pembentukannya pada batuan metamorf. Setiap facies pada batuan metamorf pada umumnya dinamakan berdasarkan jenis batuan (kumpulan mineral), kesamaan sifat-sifat fisik atau kimia.

Dalam hubungannya, tekstur dan struktur batuan metamorf sangat dipengaruhi oleh tekanan dan temperatur dalam proses metamorfisme. Dan dalam facies metamorfisme, tekanan dan temperatur merupakan faktor dominan, dimana semakin tinggi derajat metamorfisme (facies berkembang), struktur akan semakin berfoliasi dan mineral-mineral metamorfik akan semakin tampak kasar dan besar.

BAB III

PEMBAHASAN

Pengertian Batuan Metamorf
Batuan metamorf adalah batuan yang berasal dari batuan induk yang lain, dapat berupa batuan beku, batuan sedimen, maupun batuan metamorf sendiri yang telah mengalami proses/perubahan mineralogi, tekstur maupun struktur sebagai akibat pengaruh temperatur dan tekanan yang tinggi.
Proses metamorfosa terjadi dalam fasa padat, tanpa mengalami fasa cair, dengan temperatur 200oC – 6500C. Menurut Grovi (1931) perubahan dalam batuan metamorf adalah hasil rekristalisasi dan dari rekristalisasi tersebut akan terbentuk kristal-kristal baru, begitupula pada teksturnya.
Menurut H. G. F. Winkler (1967), metamorfisme adealah proses yang mengubah mineral suatu batuan pada fase padat karena pengaruh terhadap kondisi fisika dan kimia dalam kerak bumi, dimana kondisi tersebut berbeda dengan sebelumnya. Proses tersebut tidak termasuk pelapukan dan diagenesa.
Batuan metamorf atau batuan malihan adalah batuan yang terbentuk akibat proses perubahan temperatur dan/atau tekanan dari batuan yang telah ada sebelumnya. Akibat bertambahnya temperatur dan/atau tekanan, batuan sebelumnya akan berubah tekstur dan strukturnya sehingga membentuk batuan baru dengan tekstur dan struktur yang baru pula. Contoh batuan tersebut adalah batu sabak atau slate yang merupakan perubahan batu lempung. Batu marmer yang merupakan perubahan dari batu gamping. Batu kuarsit yang merupakan perubahan dari batu pasir.Apabila semua batuan-batuan yang sebelumnya terpanaskan dan meleleh maka akan membentuk magma yang kemudian mengalami proses pendinginan kembali dan menjadi batuan-batuan baru lagi.

2.2Agen-agen Metamorfisme
Adapun agen-agen metamorfisme yaitu:
1. Panas (temperatur).

Suhu atau temperatur merupakan agen atau faktor pengontrol yang berperan dalam proses metamorfisme. Kenaikan suhu atau temperatur dapat menyebabkan terjadinya perubahan dan rekristalisasi atau pengkristalan kembali mineral-mineral dalam batuan yang telah ada dengan tidak melalui fase cair. Pada kondisi ini temperatur sekitar 350-1200 derajat celcius.
2. Takanan.

Tekanan atau pressure merupakan faktor pengontrol atau agen dari proses metamorfisme. Kenaikan tekanan dapat menyebabkan terjadi perubahan dan rekristalisasi pada mineral dalam batuan yang telah ada sebelumnya. Pada kondisi ini tekanan sekitar 1-10.000 bar (Jackson).
3. Cairan panas/aktivitas larutan kimia.
Adanya kenaikan temperatur, tekanan dan aktivitas larutan kimia, menyebabkan terjadinya perubahan dan rekristalisasi yaitu proses pengkristalan kembali mineral-mineral dan batuan yang telah ada dengan tidak melalui fase cair. Pada kondisi ini temperatur sekitar 350oC – 1200oC dan tekanan 1 – 10000 bar (Jackson) = (0,9869) atm.

 

BEBERAPA SIFAT BATUAN METAMORFOSA

Metamorfosa adalah proses rekristalisasi di kedalaman kerak bumi (3-20 km) yang keseluruhannya  atau sebagian besar terjadi dalam keadaan padat, yakni tanpa melalui fasa cair. Sehingga terbentuk struktur dan mineralogy baru yang sesuai dengan lingkungan fisik baru pada tekanan (P) dan tempertur (T) tertentu.

Batuan sedimen merupakan jenis yang mineraloginya stabil disekitar permukaan bumi yakni pada tekanan dan temperature rendah, sedangkan batuan beku tersusun oleh mineral yang stabil pada temperature 700 – 1100 dengan tekanan 10.000 atmosfer, selain itu juga jenis batuan yang terjadi disesuaikan dengan kondisi kimia.

Proses metamorfosa suatu proses yang tidak mudah untuk dipahami karena sulitnya menyelidiki kondisi dikedalaman dan panjangnya waktu.

Tekstur dan Struktur Batuan Metamorf Mineral dalam batuan metamorfosa disebut mineral metamorfosa yang terjadi karena kristalnya tumbuh dalam suasana padat, dan bukan mengkristal dalam suasana cair. Karena itu Kristal yang terjadi disebut blastos. Idiomorf untuk mineral metamorfosa adalah idioblastik, sedangkan xenomorf adalah xenoblastik. Kristal yang ukurannya lebih besar daripada massa dasarnya disebut profiroblastik.

Batuan metamorf menyusun sebagian besar dari kerak Bumi dan digolongkan berdasarkan tekstur dan dari susunan kimia dan mineral (fasies metamorf) Mereka terbentuk jauh dibawah permukaan bumi oleh tegasan yang besar dari batuan diatasnya serta tekanan dan suhu tinggi. Mereka juga terbentuk oleh intrusi batu lebur, disebut magma, ke dalam batuan padat dan terbentuk terutama pada kontak antara magma dan batuan yang bersuhu tinggi.Penelitian batuan metamorf (saat ini tersingkap di permukaan bumi akibat erosi dan pengangkatan) memberikan kita informasi yang sangat berharga mengenai suhu dan tekanan yang terjadi jauh di dalam permukaan bumi.Tekstur merupakan kenampakan batuan yang berdasarkan pada ukuran, bentuk dan orientasi butir mineral individual penyusun batuan metamorf (Jackson, 1970).

a.TeksturBatuanMetamorf.
Tekstur Berdasarkan Ketahanan Terhadap Proses Metamorfosa, diantaranya:
• Relict /Palimpset /Sisa; masih  menunjukkan  sisa  tekstur  batuan  asalnya.  Awalan  blasto digunakan  untuk  penamaan  tekstur  batuan metamorf ini. Batuan  yang  mempunyai  kondisi seperti ini sering disebut batuan meta beku atau metasedimen.
• Kristaloblastik; terbentuk oleh sebab proses metamorfosa itu sendiri. Batuan dengan tekstur ini sudah mengalami rekristalisasi sehingga tekstur asalnya tidak tampak. Penamaannya menggunakan akhiran blastik.
Tekstur Berdasarkan Ukuran Butir
• Fanerit; butiran kristal masih dapat dilihat dengan mata.
• Afanit; butiran kristal tidak dapat dilihat dengan mata.
Tekstur Berdasarkan Bentuk Individu Kristal
• Euhedral; bila kristal dibatasi oleh bidang permukaan kristal itu sendiri.
• Subhedral; bila kristal dibatasi sebagian oleh bidang permukaannya sendiri dan sebagian oleh bidang permukaan kristal di sekitarnya.
• Anhedral; bila kristal dibatasi seluruhnya oleh bidang permukaan kristal lain di sekitarnya.
• Idioblastik; bila mineralnya didominasi oleh kristal berbentuk euhedral.
• Hypidioblastik; bila mineralnya didominasi oleh kristal berbentuk subhedral
• Xenoblastik; bila mineralnya didominasi oleh kristal berbentuk anhedral.
Tekstur Berdasarkan Bentuk Mineral
• Lepidoblastik; bila mineral penyusunnya berbentuk tabular.
• Nematoblastik; bila mineral penyusunnya berbentuk prismatik.
• Granoblastik; bila mineral penyusunnya berbentuk granular, equidimensional, batas mineralnya sutured (tidak teratur) dan umumnya berbentuk anhedral.
• Granuloblastik; bila mineral penyusunnya berbentuk granular, equidimensional, batas mineralnya unsutured (lebih teratur) dan umumnya kristalnya berbentuk anhedral.
Tekstur khusus yang umumnya akan tampak pada pengamatan petrografi :
• Porfiroblastik; terdapat beberapa mineral yang ukurannya lebih besar dari mineral lainnya. Kristal yang lebih besar tersebut sering disebut sebagai porphyroblasts.
• Poikiloblastik/sieve texture; tekstur porfiroblastik dengan porphyroblasts tampak melingkupi beberapa kristal yang lebih kecil.
• Mortar texture; fragmen mineral yang lebih besar terdapat pada massa dasar material yang berasal dari kristal yang sama yang terkena pemecahan (crushing).
• Decussate texture; tekstur kristaloblastik batuan polimineralik yang tidak menunjukkan keteraturan orientasi.
• Sacaroidal texture; tekstur yang kenampakannya seperti gula pasir.

Berdasarkan jumlah tekstur yang dimilikinya, tekstur batuan metamorf dibagi menjadi dua, yaitu :
• Homeoblastik; jika batuan metamorf tersebut hanya memiliki satu tekstur batuan.
• Heteroblastik; jika batuan metamorf tersebut memiliki lebih dari satu jenis tekstur batuan.
Berbagai macam proses yang terjadi pada pembentukan batuan metamorf mempengaruhi rupa atau bentuk batuan itu. Salah satunya adalah tekstur. Tekstur pada batuan metamorf disebut dengan mineral metamorf yang terjadi karena kristalnya tumbuh dalam suasana padat oleh karena itu disebut dengan blastos atau blastik/idioblastik. Pada dasarnya tekstur pada batuan metamorf terbagi menjadi karena proses rekristalisasi yaitu perubahan butiran halus menjadi kasar dan proses reorientasi terbagi ke dalam skistositas atau foliansi terjadi oleh karena mineral yang pipih atau membentang tersusun dalam bidang-bidang tertentu yakni bidang sekistsis. Biang ini dapat searah dengan lapisan sedimen asalnya atau searah dengan sumbu lipatannya. Kristal yang ukurannya besar disebut profiroblastik.
Contohnya yaitu dalam golangan metamorf dinamik, tak jarang batuan mengalami hancuran yang fragmental sifatnya.
Penelitian menunjukkan bahwa batuan metamorf (saat ini tersingkap di permukaan bumi akibat erosi dan pengangkatan) memberikan kita informasi yang sangat berharga mengenai suhu dan tekanan yang terjadi jauh di dalam permukaan bumi.Menurut struktur yang terbentuk, batuan metamorf dibagi menjadi 2, yaitu batuan metamorf foliasi dan batuan metamorf non foliasi. telah kita ketahui bahwa batuan metamorf itu terbentuk dari suatu proses penambahan temperatur dan suhu yang terjadi pada suatu batuan.
b. Struktur batuan metamorf.
Struktur FoliasiØ
Struktur foliasi merupakan struktur yang memperlihatkan adanya suatu penjajaran mineral-mineral penyusun batuan metamorf. Struktur ini terdiri atas :
1. Struktur Slatycleavage
2. Struktur Gneissic
3. Struktur Phylitic
4. Struktur Schistosity
Struktur Non FoliasiØ
Struktur non foliasi merupakan struktur yang tidak memperlihatkan adanya penjajaran mineral penyusun batuan metamorf. Struktur ini terdiri atas :
1. Struktur Hornfelsik
2. Struktur Milonitik
3. Struktur Kataklastik
4. Struktur Flaser
5. Struktur Pilonitik
6. Struktur Augen
7. Struktur Granulosa
8. Struktur Liniasi

2.4 Jenis-jenis Metamorfisme
Berdasarkan faktor-faktor yang mempengaruhi, metamorfosa dapat dibedakan menjadi dua:
1. Metamorfosa Lokal
Jenis ini penyebaran metamorfosanya sangat terbatas hanya beberapa kilometer saja. Termasuk dalam tipe metamorfosa ini adalah:
a. Metamorfosa kontak/thermal
Yaitu metamorfosa yang diakibatkan oleh kenaikan temperatur yang tinggi, dan biasanya jenis ini ditemukan pada kontak antara tubuh intrusi magma/ekstrusi dengan batuan di sekitarnya dengan lebar 2 – 3 km. Salah satu contohnya pada zona intrusi yang dapat menyebabkan pertambahan suhu pada daerah disekitar intrusi.

b.Metamorfosadinamo/dislokasi/kataklastik
Yaitu metamorfosa yang diakibatkan oleh kenaikan tekanan. Tekanan yang berpengaruh disini ada dua macam, yaitu: hidrostatis, yang mencakup ke segala arah; dan stress, yang mencakup satu arah saja. Makin dalam ke arah kerak bumi pengaruh tekanan hidrostatika semakin besar. Sedangkan tekanan pada bagian kulit bumi yang dekat dengan permukaan saja, metamorfosa semacam ini biasanya didapatkan di daerah sesar/patahan.

2. Metamorfosa Regional
Tipe metamorfosa ini penyebarannya sangat luas, dapat mencapai beberapa ribu kilometer. Termasuk dalam tipe ini adalah:
a. Metamorfosa regional/dinamothermal
Terjadi pada kulit bumi bagian dala, dimana faktor yang mempengaruhi adalah temperatur dan tekanan yang tinggi. Proses ini akan lebih intensif apabila diikuti oleh orogenesa.

b.Metamorfosa beban/burial
Proses ini tidak ada hubungannya dengan orogenesa dan intrusi, tetapi terjadi pada daerah geosinklin, hingga karena adanya pembebanan sedimen yang tebal di bagian atas, maka lapisan sedimen yang ada di bagian bawah cekungan akan mengalami proses metamorfosa.

2.5 Mineral-mineral Penyusun Batuan Metamorf
1. Amphibole/Hornblende
Amphibole adalah kelompok mineral silikat yang berbentuk prismatik atau kristal yang menyerupai jarum. Mineral amphibole umumnya mengandung besi (Fe), Magnesium (Mg), Kalsium (Ca), dan Alumunium (Al), Silika (Si), dan Oksigen (O). Hornblende tampak pada foto yang berwarna hijau tua kehitaman. Mineral ini banyak dijumpai pada berbagai jenis batuan beku dan batuan metamorf.
2. Biotite
Semua mineral mika berbentuk pipih, bentuk kristal berlembar menyerupai buku dan merupakan bidang belahan (cleavage) dari mineral biotite. Mineral biotite umumnya berwarna gelap, hitam atau coklat sedangkan muscovite berwarna terang, abu-abu terang. Mineral mika mempunyai kekerasan yang lunak dan bisa digores dengan kuku.
3. Plagioclase feldspar
Mineral Plagioclase adalah anggota dari kelompok mineral feldspar. Mineral ini mengandung unsur Calsium atau Natrium. Kristal feldspar berbentuk prismatik, umumnya berwarna putih hingga abu-abu, kilap gelas. Plagioklas yang mengandung Natrium dikenal dengan mineral Albite, sedangkan yang mengandung Ca disebut An-orthite.
4. Potassium feldspar (Orthoclase)
Potassium feldspar adalah anggota dari mineral feldspar. Seperti halnya plagioclase feldspar, potassium feldspars adalah mineral silicate yang mengandung unsur Kalium dan bentuk kristalnya prismatik, umumnya berwarna merah daging hingga putih.
5. Mica
Mica adalah kelompok mineral silicate minerals dengan komposisi yang bervariasi, dari potassium (K), magnesium (Mg), iron (Fe), aluminum (Al) , silicon (Si) dan air (H2O).
6. Quartz
Quartz adalah satu dari mineral yang umum yang banyak dijumpai pada kerak bumi. Mineral ini tersusun dari Silika dioksida (SiO2), berwarna putih, kilap kaca dan belahan (cleavage) tidak teratur (uneven) concoidal.
7. Calcite
Mineral Calcite tersusun dari calcium carbonate (CaCO3). Umumnya berwarna putih transparan dan mudah digores dengan pisau. Kebanyakan dari binatang laut terbuat dari calcite atau mineral yang berhubungan dengan ‘lime’ dari batugamping.

Macam – Macam Batuan Metamorf

1. Slate

Slate merupakan batuan metamorf terbentuk dari proses metamorfosisme batuan sedimen Shale atau Mudstone (batulempung) pada temperatur dan suhu yang rendah. Memiliki struktur foliasi (slaty cleavage) dan tersusun atas butir-butir yang sangat halus (very fine grained).

Asal                             : Metamorfisme Shale dan Mudstone

Warna                          : Abu-abu, hitam, hijau, merah

Ukuran butir                : Very fine grained

Struktur                       : Foliated (Slaty Cleavage)

Komposisi                   : Quartz, Muscovite, Illite

Derajat metamorfisme : Rendah

Ciri k. Filit

Merupakan batuan metamorf yang umumnya tersusun atas kuarsa, sericite mica dan klorit. Terbentuk dari kelanjutan proses metamorfosisme dari Slate.

Asal                             : Metamorfisme Shale

Warna                          : Merah, kehijauan

Ukuran butir                : Halus

Stuktur                        : Foliated (Slaty-Schistose)

Komposisi                   : Mika, kuarsa

Derajat metamorfisme : Rendah – Intermediate

Ciri khas                      : Membelah mengikuti permukaan gelombang

has                      : Mudah membelah menjadi lembaran tipis

2. Filit

Merupakan batuan metamorf yang umumnya tersusun atas kuarsa, sericite mica dan klorit. Terbentuk dari kelanjutan proses metamorfosisme dari Slate.

Asal                             : Metamorfisme Shale

Warna                          : Merah, kehijauan

Ukuran butir                : Halus

Stuktur                        : Foliated (Slaty-Schistose)

Komposisi                   : Mika, kuarsa

Derajat metamorfisme : Rendah – Intermediate

Ciri khas                      : Membelah mengikuti permukaan gelombang

 

3. Gneiss

Merupakan batuan yang terbentuk dari hasil metamorfosisme batuan beku dalam temperatur dan tekanan yang tinggi. Dalam Gneiss dapat diperoleh rekristalisasi dan foliasi dari kuarsa, feldspar, mika dan amphibole.

Asal                                   : Metamorfisme regional siltstone, shale, granit

Warna                                : Abu-abu

Ukuran butir                      : Medium – Coarse grained

Struktur                             : Foliated (Gneissic)

Komposisi                         : Kuarsa, feldspar, amphibole, mika

Derajat metamorfisme       : Tinggi

Ciri khas                            : Kuarsa dan feldspar nampak berselang-seling dengan lapisan tipis kaya amphibole dan mika.

4. Sekis

Schist (sekis) adalah batuan metamorf yang mengandung lapisan mika, grafit, horndlende. Mineral pada batuan ini umumnya terpisah menjadi berkas-berkas bergelombang yang diperlihatkan dengan kristal yang mengkilap.

Asal                             : Metamorfisme siltstone, shale, basalt

Warna                          : Hitam, hijau, ungu

Ukuran butir                : Fine – Medium Coarse

Struktur                       : Foliated (Schistose)

Komposisi                   : Mika, grafit, hornblende

Derajat metamorfisme : Intermediate – Tinggi

Ciri khas                      : Foliasi yang kadang bergelombang, terkadang terdapat kristal garnet

5. Marmer

Terbentuk ketika batu gamping mendapat tekanan dan panas sehingga mengalami perubahan dan rekristalisasi kalsit. Utamanya tersusun dari kalsium karbonat. Marmer bersifat padat, kompak dan tanpa foliasi.

Asal                             : Metamorfisme batu gamping, dolostone

Warna                          : Bervariasi

Ukuran butir                : Medium – Coarse Grained

Struktur                       : Non foliasi

Komposisi                   : Kalsit atau Dolomit

Derajat metamorfisme : Rendah – Tinggi

Ciri khas                      : Tekstur berupa butiran seperti gula, terkadang terdapat fosil, bereaksi dengan HCl.

 

6. Kuarsit

Adalah salah satu batuan metamorf yang keras dan kuat. Terbentuk ketika batupasir (sandstone) mendapat tekanan dan temperatur yang tinggi. Ketika batupasir bermetamorfosis menjadi kuarsit, butir-butir kuarsa mengalami rekristalisasi, dan biasanya tekstur dan struktur asal pada batupasir terhapus oleh proses metamorfosis .

Asal                             : Metamorfisme sandstone (batupasir)

Warna                          : Abu-abu, kekuningan, cokelat, merah

Ukuran butir                : Medium coarse

Struktur                       : Non foliasi

Komposisi                   : Kuarsa

Derajat metamorfisme : Intermediate – Tinggi

Ciri khas                      : Lebih keras dibanding glass

 

7. Milonit

Milonit merupakan batuan metamorf kompak. Terbentuk oleh rekristalisasi dinamis mineral-mineral pokok yang mengakibatkan pengurangan ukuran butir-butir batuan. Butir-butir batuan ini lebih halus dan dapat dibelah seperti schistose.

Asal                             : Metamorfisme dinamik

Warna                          : Abu-abu, kehitaman, coklat, biru

Ukuran butir                : Fine grained

Struktur                       : Non foliasi

Komposisi                   : Kemungkinan berbeda untuk setiap batuan

Derajat metamorfisme : Tinggi

Ciri khas                      : Dapat dibelah-belah

 

8. Filonit

Merupakan batuan metamorf dengan derajat metamorfisme lebih tinggi dari Slate. Umumnya terbentuk dari proses metamorfisme Shale dan Mudstone. Filonit mirip dengan milonit, namun memiliki ukuran butiran yang lebih kasar dibanding milonit dan tidak memiliki orientasi. Selain itu, filonit merupakan milonit yang kaya akan filosilikat (klorit atau mika)

Asal                             : Metamorfisme Shale, Mudstone

Warna                          : Abu-abu, coklat, hijau, biru, kehitaman

Ukuran butir                : Medium – Coarse grained

Struktur                       : Non foliasi

Komposisi                   : Beragam (kuarsa, mika, dll)

Derajat metamorfisme : Tinggi

Ciri khas                      : Permukaan terlihat berkilau

 

9. Serpetinit

Serpentinit, batuan yang terdiri atas satu atau lebih mineral serpentine dimana mineral ini dibentuk oleh proses serpentinisasi (serpentinization). Serpentinisasi adalah proses proses metamorfosis temperatur rendah yang menyertakan tekanan dan air, sedikit silica mafic dan batuan ultramafic teroksidasi dan ter-hidrolize dengan air menjadi serpentinit.

Asal               : Batuan beku basa

Warna            : Hijau terang / gelap

Ukuran butir  : Medium grained

Struktur         : Non foliasi

Komposisi     : Serpentine

Ciri khas        : Kilap berminyak dan lebih keras dibanding kuku jari

10. Hornfels

Hornfels terbentuk ketika shale dan claystone mengalami metamorfosis oleh temperatur dan intrusi beku, terbentuk di dekat dengan sumber panas seperti dapur magma, dike, sil. Hornfels bersifat padat tanpa foliasi.

 

Asal                             : Metamorfisme kontak shale dan claystone

Warna                          : Abu-abu, biru kehitaman, hitam

Ukuran butir                : Fine grained

Struktur                       : Non foliasi

Komposisi                   : Kuarsa, mika

Derajat metamorfisme : Metamorfisme kontak

Ciri khas                      : Lebih keras dari pada glass, tekstur merata

 

BAB IV

PENUNUP

1. Batuan metamorf merupakan batuan yang terbentuk dari hasil proses metam
orfisme, dimana terjadi perubahan atau alterasi; physical (struktur, tekstur) da
n chemical (mineralogical) dari suatu batuan pada temperatur dan tekanan tinggi
dalam kerak bumi.
2. Agen-agen atau faktor-faktor yang mempengaruhi proses metamorfisme melip
uti suhu (temperatur), tekanan (Pressure), dan aktivitas larutan kimia.
3.Secara umum metamorfisme terbagi menjadi 3 yaitu metamorfisme sentuh ata
u kontak, metamorfisme dynamo, dan metamorfisme regional.
4.Secara umum ada beberapa fasies dari batuan metamorf yang meliputi:

• Fasies metamorfisme kontak

• Fasies metamorfisme regional

• Fasies granulit

• Fasies eklogite

5. Mineral penyusun batuan metamorf merupakan mineral-mineral yang ada pada batuan yang telah ada sebelumnya, baik mineral yang berasal dari batuan beku, s edimen, maupun metamorf.

3.2

Saran

Untuk lebih memperdalam pemahaman dan pengetahuan mengenai batuan metamorf sebai knya banyak membaca literatur-literatur yang lebih variatif yang berkaitan denga n batuan metamorf serta mengkajinya secara mendalam dan dibarengi dengan pengama tan batuan di laboratorium dan pengamatan langsung singkapan batuan metamorf di lapangan.

BATUAN SEDIMEN

BAB I

PENDAHULUAN

 

  1. Latar belakang

Semua batuan pada mulanya dari magma. Magma keluar di permukaan bumi antara lain melalui puncak gunung berapi. Gunung berapi ada di daratan ada pula yang di lautan. Magma yang sudah mencapai permukaan bumi akan membeku. Magma yang membeku kemudian menjadi batuan beku. Batuan beku muka bumi selama beribu-ribu tahun lamanya dapat hancur terurai selama terkena panas, hujan, serta aktifitas tumbuhan dan hewan.
Selanjutnya hancuran batuan tersebut tersangkut oleh air, angin atau hewan ke tempat lain untuk diendapkan. Hancuran batuan yang diendapkan disebut batuan endapan atau batuan sedimen. Baik batuan sedimen atau beku dapat berubah bentuk dalam waktu yang sangat lama karena adanya perubahan temperatur dan tekanan. Batuan yang berubah bentuk disebut batuan malihan atau batuan metamorf.

 

  1. Rumusan masalah

Sehubungan dengan latar belakang di atas, maka rumusan masalah dalam makalah  ini  adalah sebagai berikut:

  • Pengertian batuan sedimen
  • Klasifikasi Batuan sedimen

 

  1. Tujuan

Adapun tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui:

v  Agar mahasiswa dapat mengetahui apa yang dimaksud dengan batuan sedimen

v  Agar mahasiswa dapat mengetahui klasifikasi batuan sedimen.

 

BAB II

LANDASAN TEORI

Batuan sedimen adalah batuan yang terbentuk dari pecahan atau hasil abrasi dari sedimen, batuan beku, metamorf yang tertransport dan terendapkan kemudian terlithifikasi.

Batuan Sedimen adalah batuan yang paling banyak tersingkap di permukaan bumi, kurang lebih 75 % dari luas permukaan bumi, sedangkan batuan beku dan metamorf hanya tersingkapsekitar 25 % dari luas permukaan bumi. Oleh karena itu, batuan sediment mempunyai arti yang sangat penting, karena sebagian besar aktivitas manusia terdapat di permukaan bumi. Fosil dapat pula dijumpai pada batua sediment dan mempunyaiarti penting dalam menentukan umur batuan dan lingkungan pengendapan.

Batuan Sedimen adalah batuan yang terbentuk karena proses diagnesis dari material batuan lain yang sudah mengalami sedimentasi. Sedimentasi ini meliputi proses pelapukan, erosi, transportasi, dan deposisi. Proses pelapukan yang terjadi dapat berupa pelapukan fisik maupun kimia. Proses erosidan transportasi dilakukan oleh media air dan angin. Proses deposisi dapat terjadi jika energi transport sudah tidak mampu mengangkut partikel tersebut.

 

II.A. Proses Pembentukkan Batuan Sedimen

Batuan sedimen terbentuk dari batuan-batuan yang telah ada sebelumnya oleh kekuatan-kekuatan yaitu pelapukan, gaya-gaya air, pengikisan-pengikisan angina angina serta proses litifikasi, diagnesis, dan transportasi, maka batuan ini terendapkan di tempat-tempat yang relatif lebih rendah letaknya, misalnya: di laut, samudera, ataupun danau-danau. Mula-mula sediment merupakan batuan-batuan lunak,akan tetapi karean proses diagnosi sehingga batuan-batuan lunak tadi akan menjadi keras.

Proses diagnesis adalah proses yang menyebabkan perubahan pada sediment selama terpendamkan dan terlitifikasikan, sedangkan litifikasi adalah proses perubahan material sediment menjadi batuan sediment yang kompak. Proses diagnesis ini dapat merupakan kompaksi yaitu pemadatan karena tekanan lapisan di atas atau proses sedimentasi yaitu perekatan bahan-bahan lepas tadi menjadi batuan keras oleh larutan-larutan kimia misalnya larutan kapur atau silisium. Sebagian batuan sedimen terbentuk di dalam samudera. Bebrapa zat ini mengendap secara langsung oleh reaksi-reaksi kimia misalnya garam (CaSO4.nH2O). adapula yang diendapkan dengan pertolongan jasad-jasad, baik tumbuhan maupun hewan.

Batuan endapan yang langsung dibentuk secara kimia ataupun organik mempunyai satu sifat yang sama yaitu pembentukkan dari larutan-larutan. Disamping sedimen-sedimen di atas, adapula sejenis batuan sejenis batuan endapan yang sebagian besar mengandung bahan-bahan tidak larut, misalnya endapan puing pada lereng pegunungan-pegunungan sebagai hasil penghancuran batuan-batuan yang diserang oleh pelapukan, penyinaran matahari, ataupun kikisan angin. Batuan yang demikian disebut eluvium dan alluvium jika dihanyutkan oleh air, sifat utama dari batuan sedimen adalah berlapis-lapisdan pada awalnya diendapkan secara mendatar.

Lapisan-lapisan ini tebalnya berbeda-beda dari beberapa centimeter sampai beberapa meter. Di dekat muara sungai endapan-endapan itu pada umunya tebal, sedang semakin maju ke arah laut endapan-endapan ini akan menjadi tipis(membaji) dan akhirnya hilang. Di dekat pantai, endapan-endapan itu biasanya merupakan butir-butir besar sedangkan ke arah laut kita temukan butir yang lebih halus lagi.ternyata lapisan-lapisan dalam sedimen itu disebabkan oleh beda butir batuan yang diendapkan. Biasanya di dekat pantai akan ditemukan batupasir, lebih ke arah laut batupasir ini berganti dengan batulempung, dan lebih dalam lagi terjadi pembentukkan batugamping(Katili dan Marks).

Ada dua tipe sedimen yaitu: detritus dan kimiawi. Detritus terdiri dari partikel-2 padat hasil dari pelapukan mekanis. Sedimen kimiawi terdiri dari mineral sebagai hasil kristalisasi larutan dengan proses inorganik atau aktivitas organisme. Partikel sedimen diklasifikasikan menurut ukuran butir, gravel (termasuk bolder, cobble dan pebble), pasir, lanau, dan lempung. Transportasi dari sedimen menyebabkan pembundaran dengan cara abrasi dan pemilahan (sorting). Nilai kebundaran dan sorting sangat tergantung pada ukuran butir, jarak transportasi dan proses pengendapan. Proses litifikasi dari sedimen menjadi batuan sedimen terjadi melalui kompaksi dan sementasi.

Batuan sedimen dapat dibagi menjadi 3 golongan:

  1. Batuan sedimen klastik à terbentuk dari fragmen batuan lain ataupun mineral
  2. Batuan sedimen kimiawi à terbentuk karena penguapan, evaporasi
  3. Batuan sedimen organic à terbentuk dari sisa-sisa kehidupan hewan/ tumbuhan

Batuan Sedimen Klastik terbentuk akibat pengendapan kembali detritus atau pecahan-pecahan batuan asal, dapat berupa batuan beku, sedimen atau metamorf.

Berbagai macam proses yang terjadi sebelum terbentuknya batuan sedimen klastik, diantaranya :
1. Pelapukan (Weathering) yaitu proses yang merubah ukuran dan komposisi dari batuan dan terjadi dekat permukaan bumi akibat perbedaan temperatur dan iklim.

2. Erosi yaitu proses yang menyebabkan hilangnya partikel (clasts) batuan dari permukaannya oleh tenaga eksogen (air, angin, atau es).
3. Deposisi yaitu proses akhir dari transportasi yang menempatkan partikel (clasts) batuan di atas permukaan bumi, dan membentuk fondasi untuk proses sedimentasi.
4. Kompaksi yaitu proses penyatuan pada material-material sedimen sehingga jarak antar material semakin dekat dan menyebabkan sedimen dapat menjadi kompak.
5. Litifikasi yaitu terjadinya proses sementasi atau perekatan pada material-material yang telah mengalami proses kompaksi membentuk batuan sedimen.

BAB III

HASIL PEMBAHASAN

  1. A.    Klasifikasi Batuan

Batuan sedimen banyak sekali jenisnyadan tersebar sangat luas dengan ketebalan dari beberapa cm – km. Juga ukuran butirnya dari sangat halus sampai sangat besar.

Batuan sedimen yang ada dimuka bumi ini dapat dikelompokkan menjadi lima kelompok besar yang berdasarkan dari cara terbentuknya.

  1. Batuan Sedimen Detritus (Klastik).

Batuan sedimen klastik adalah batuan sedimen yang terbentuk dari pengendapan kembali detritus atau pecahan batuan asal. Fragmentasi batuan asal tersebut dimulai dari pelapukan mekanis maupun secara kimiawi, kemudian tererosi dan tertransportasi (baik oleh angin dan air) menuju suatu cekungan pengendapan. Setelah pengendapan terjadi, sedimen mengalami pembatuan. Pembatuan atau lithifikasi merupakan proses terubahnya materi pembentuk batuan yang lepas (unconsolidated rock forming mineral) menjadi batuan sedimen.

Batuan sedimen ini diendapan dengan proses mekanis, terbagi dalam dua golongan besar berdasarkan ukuran besar butirnya. Cara terbentuknya batuan tersebut berdasarkan proses pengendapan baik yang terbentuk di lingkungan darat atau di lingkungan air (laut). Batuan yang ukuran besar seperti breksi dapat terjadi pengendapan langsung dari ledakan gunungapi dan diendapkan di sekitar gunung tersebutdan dapat juga diendapkan di lingkungan air seperti sungai, danau atau laut. Batuan konglomerat biasanya diendapkan di lingkungan sungai dan batuan batupasir dapat terjadi di lingkungan laut, sungai, danau maupun delta. Semua batuan tersebut merupakan golongan Detritus Kasar.

Sedangkan golongan Detritus Halus terdiri dari batu lanau, serpih, batulempang dan napal. Batuan yang termasuk golongan ini pada umumnya diendapkan di lingkungan laut dari laut dangkal sampai laut dalam.

Gambar struktur batuan sedimen klastik sewaktu pengendapan (struktur sutle hummocky)

Klasifikasi batuan sedimen klastik yang umum digunakan adalah berdasarkan ukuran butirnya (menurut ukuran butir dari Wenworth), namun akan lebih baik lagi ditambahin mengenai hal-hal lain yang dapat memperjelas keterangan mengenai batuan sedimen yang dimaksud seperti komposisi dan strukturalnya. Misalnya batupasir silang siur, batulempung kerikil, batupasir kwarsa.

Ada klasifikasi lain yang juga dapat digunakan yaitu end members classification,klasifikasi ini dibuat berdasarkan komposisi atau ukuran butir. Penyusun batuan sedimen yang sudah ditentukan lebih dahulu.

Batupasir kwarsa

  • Komposisi didominasi oleh pasir kwarsa dengan demikian berarti transportasinya lebih jauh.
  • Sedikit mengandung chert (rijang)
  • Semennya adalh karbonat dan silica.
  • Kemungkinan mengandung fosil kecil sekali (fosil karbonat), jika ada kemungkinan karena semennya karbonat (gamping)
  • Warnanya agak gelap terang, karena kwarsa berwarna putih.

Greywocke

  • Istilah pertama digunakan di pegunungan Harz (Jerman)
  • Merupakan fragmen batuan (rock fragmen)
  • Berumur : devon-karbon atas, juga tersingkap di Skotlandia yang berumur Paleozoikum bawah.
  • Dengan adanya rock fragmen ini menyatakan bahwa sedimentasi tak normal (pendek), terjadi di daerah tektonik (dekat continental). Oleh karena pada daerah yang mantap, maka ia akan bersosiasi dengan lava bantal (di laut), batuan erupsi dan rijang (chert) (di darat). Rijang mencerminkan laut dalam,kemungkinan juga terdapat di continental slope besar sekali, yang disebut arus turbbidit.
  • Warnanya gelap
  • Pemilahannya jelek, karena transportasi pendek.
  • Bentuk agakmenyudut, karena transportasi jelek.
  • Karena arus turbidit maka struktur yang jelas yaitu graded-bedding
  • Pengendapan syngenetis (bersama-sama dengan proses genetika)

Arkone

  • Yang dominan adalah feldspar
  • Oleh karena yang dominant adalah feldspar maka ia tak tahan lapuk atau tidak stabil
  • Ini menunjukkan bahwa batuan ini terjadi pada keadaan transportasi pendek, kesempatan untuk melapuk kecil, iklim erring,relief tajam (pada daerah yang berelief tajam)
  • Warnanya terang kemerah-merahan
  • Sorting jelek, karena transportasi pendek
  • Kebulatan komponen, agak menyudut, karena transportasi pendek.

Konglomerat

Batuan klastik yang mempunyai fragmen batuan dan matrik,dengan batuan fragmen membundar – sangat membundar, kerikil, kerakal, dan bongkah dapat terdiri bermacam batuan tetapi, kebanyakan biasanya kaya akan mineral kwarsa. Biasanya ruang antara kerikil dengan pasir tersementasi dengan silica, lempung, limonite atau kalsit.

Breccia (breksi)

Adalah jenis batuan sedimen klastik yang menyerupai konglomerat, tetapi kebanyakan fragmen batuannya berbentuk angular sampai meruncing-runcing, ukuran umumnya berkisar dari kerakal sampai berangkal, sering diantara fragmen ini dijumpai ukuran yang lebih kecil yang disebut matrik, fragmen dan matrikpenyusun breksi ini terikat dengan semen yang berupa material karbonatan atau lempungan, dari bentuk fragmen yang meruncing, dapat ditafsirkan bahwa breksi ini diendapkan dengan sumbernya, sehingga tidak terpengaruh suara fisik oleh jarak transportasi hingga ingin mencapai cekungan sedimen ukuran material penyusun breksi lebih besar dari 2 mm.

Batupasir

Batuan sediment klastik yang terdiri dari semen berukuran pasir, massa pasir ini umumnya adalah mineral silika, feldspar atau pasir karbonat, sedang material pengikat atau semen berupabesi oksida, silika lempung atau kalsium karbonat. Dengan adanya perubahan yang besar dalam ukuran butirnya, maka dapt dibedakan ukurannya dari batupasir kasar sampai batulanau. Pada beberapa batuan, dijumpai ukuran butir yang beragam; jadi dapat dikatakan batupasir konglomerat atau batulanau pasiran. Warna pada batupasir, terbentuk sebagian besar oleh variasi butirnya.

Arkose

Adalah jenis dari batupasir dengan jumlah butiran feldspar yang lebih banyak. Kalau komposisi batuan ini terdiri dari kwarsa dan feldspar dapat diikatakan granit, jadi kemungkinan adanya kesalahan tentang arkose sangat kecil. Pada arkose butirnya tidak saling mengunci, butiran membulat dan dipisahkan dengan material semen dengan butiran yang halus.

Batulempung (dapat disebut serpih)

Adalah batuan sediment klastik yang terbentuk dari hasil pengompakan lempung dan lanau, ukuran butirnya halus sehingga batuannya terlihat homogen. Batulempung adalah halus dan umumnya terasa lembut, tetapi beberapa pasir halus atau lanau kasar mungkin membuat terasa griity.

Batulempung umumnya dijumpai pelapisan sedimen. Batuan yang komposisinya sama tetapi mempunyai ketebalan dan lapisan yang berbentuk blok dapat disebut batulumpur, warna dari batulempung dan batulumpur antara ungu, hijau,merah,dan cokelat. Beberapalapisan yang banyak mengndung karbon berwarna hitam.

Batugamping

Yang mungkin saja termasuk kedalam batuan sediment klastik atau kimiawi, umumnya terdiri dari kalsit,beberapa mempunyai imparities atau variasi bagus bahkan keduanya dalam penampakkannya. Beberapa betugamping yang berbentuk butiran halus mungkin terbentuk secara presipitasi kimia dengan batuan banyak atu sedikit organisme kecil, beberapa sedimen pada dasar laut kemungkinan tersingkap di lapisan awal pada formasi batugamping ukuran halus.

Dolostone

Seperti batugamping, juga merupakan batuan sedimen klastik ataun kimiawi yang umumnya tersusun oleh mineral dolomite, CuMg(CO3)2. dolomite kelihatan seperti kalsit,oleh karena itu mengapa dolomite dapat dikatakan sebagai batugamping.

Gallery Batuan Sedimen

Siltstone adalah clastic batuan sedimen yang terbentuk dari lumpur-ukuran (antara 1 / 256 dan 1 / 16 milimeter diameter) pelapukan puing-puing. Spesimen yang ditunjukkan di atas adalah sekitar dua inci (lima sentimeter).
Clastic serpih adalah batuan sedimen yang terdiri dari tanah liat-ukuran (kurang dari 1 / 256 milimeter diameter) pelapukan puing-puing. Biasanya pecah menjadi potongan-potongan tipis datar. Spesimen yang ditunjukkan di atas adalah sekitar dua inci (lima sentimeter).
Clastic batu pasir adalah batuan sedimen terdiri terutama dari ukuran pasir (1 / 16-2 milimeter diameter) pelapukan puing-puing. Lingkungan di mana sejumlah besar pasir dapat mengumpulkan meliputi pantai, gurun, dataran banjir dan delta. Spesimen yang ditunjukkan di atas adalah sekitar dua inci (lima sentimeter)
Batu gamping adalah batu yang terutama terdiri dari kalsium karbonat. Ini dapat terbentuk secara organik dari akumulasi kerang, karang, ganggang dan kotoran puing-puing. Juga dapat membentuk presipitasi kimiawi dari kalsium karbonat dari danau atau air laut. Batu kapur yang digunakan dalam banyak cara. Beberapa yang paling umum adalah: produksi semen, batu hancur dan netralisasi asam. Spesimen yang ditunjukkan di atas adalah sekitar dua inci (lima sentimeter)
Bijih besi adalah batuan sedimen kimia yang terbentuk ketika besi dan oksigen (dan kadang-kadang bahan lain) menggabungkan dalam larutan dan deposito sebagai sedimen. Bijih besi (ditampilkan di atas) adalah endapan yang paling umum mineral bijih besi. Spesimen yang ditunjukkan di atas adalah sekitar dua inci (lima sentimeter).
Rock salt/Halite adalah batuan sedimen kimia yang terbentuk dari penguapan garam laut atau air danau. Hal ini juga dikenal dengan nama mineral “garam karang”. Hal ini jarang ditemukan di permukaan bumi, kecuali di daerah-daerah iklim yang sangat kering. Hal ini sering ditambang untuk digunakan dalam industri kimia atau untuk digunakan sebagai perawatan jalan raya musim dingin. Beberapa garam karang diproses untuk digunakan sebagai bumbu untuk makanan. Spesimen yang ditunjukkan di atas adalah sekitar dua inci (lima sentimeter)
Clastic konglomerat adalah batuan sedimen yang berisi besar (lebih besar kemudian dua milimeter diameter) partikel bulat. Ruang antara kerikil umumnya diisi dengan partikel yang lebih kecil dan / atau semen kimia yang mengikat batu bersama-sama. Spesimen yang ditunjukkan di atas adalah sekitar dua inci (lima sentimeter).
Batubara/Coal adalah batuan sedimen organik yang membentuk tanaman terutama dari puing-puing. Puing pabrik biasanya terakumulasi dalam lingkungan rawa-rawa. Batu bara yang mudah terbakar dan sering ditambang untuk digunakan sebagai bahan bakar. Spesimen yang ditunjukkan di atas adalah sekitar dua inci (lima sentimeter).
Rijang/Chert adalah cryptocrystalline mikrokristalin atau bahan batuan sedimen terdiri dari silikon dioksida (SiO2). Terjadi sebagai nodul dan concretionary massa dan kurang sering sebagai deposit yang berlapis. Rusak dengan konkoidal patah tulang, seringkali menghasilkan tepi yang sangat tajam. Awal orang mengambil keuntungan dari bagaimana certa istirahat dan menggunakannya untuk mode alat pemotong dan senjata. Spesimen yang ditunjukkan di atas adalah sekitar dua inci (lima sentimeter)
Clastic breccia adalah batuan sedimen yang terdiri dari besar (lebih dari dua milimeter diameter) sudut fragmen. Ruang antara fragmen besar bisa diisi dengan matriks partikel yang lebih kecil atau semen mineral yang mengikat batu bersama-sama. Spesimen yang ditunjukkan di atas adalah sekitar dua inci (lima sentimeter).

Jenis-jenis Batuan Sedimen antara lain yaitu:

1. BREKSI

Breksi memiliki butiran-butiran yang bersifat coarse yang terbentuk dari sementasi fragmen-fragmen yang bersifat kasar dengan ukuran 2 hingga 256 milimeter. Fragmen-fragmen ini bersifat runcing dan menyudut.  Fragmen-fragmen dari Breksi biasanya merupakan fragmen yang terkumpul pada bagian dasar lereng yang mengalami sedimentasi, selain itu fragmen juga dapat berasal dari hasil longsoran yang mengalami litifikasi.
Komposisi dari breksi terdiri dari sejenis atau campuran dari rijang, kuarsa, granit, kuarsit, batu gamping, dan lain-lain.

2. KONGLOMERAT

Konglomerat hampir sama dengan breksi, yaitu memiliki ukuran butir 2-256 milimeter dan terdiri atas sejenis atau campuran rijang, kuarsa, granit, dan lain-lain, hanya saja fragmen yang menyusun batuan ini umumnya bulat atau agak membulat.
Pada konglomerat, terjadi proses transport pada material-material penyusunnya yang mengakibatkan fragmen-fragmennya memiliki bentuk yang membulat.
3. SANDSTONE

Sandstone atau batu pasir terbentuk dari sementasi dari butiran-butiran pasir yang terbawa oleh aliran sungai, angin, dan ombak dan akhirnya terakumulasi pada suatu tempat. Ukuran butiran dari batu pasir ini 1/16 hingga 2 milimeter. Komposisi batuannya bervariasi, tersusun terutama dari kuarsa, feldspar atau pecahan dari batuan, misalnya basalt, riolit, sabak, serta sedikit klorit dan bijih besi. Batu pasir umumnya digolongkan menjadi tiga kriteria, yaitu Quartz Sandstone, Arkose, dan Graywacke.

  • QUARTZ SANDSTONE

Quartz sandstone adalah batu pasir yang 90% butirannya tersusun dari kuarsa.Butiran kuarsa dalam batu pasir ini memiliki pemilahan yang baik dan ukuran butiran yang bulat karena terangkut hingga jarak yang jauh. Sebagian besar jenis batu pasir ini ditemukan pada pantai dan gumuk pasir.

  • ARKOSE

Arkose adalah batu pasir yang memiliki 25% atau lebih kandungan feldspar. Sedimen yang menjadi asal mula dari Arkose ini biasanya hanya mengalami sedikit perubahan secara kimia. Sebagian arkose juga memiliki sedikit butiran-butiran yang  bersifat coarse karena jarak pengangkutan yang relatif pendek.

  • GRAYWACKE

Graywacke   adalah  salah  satu  tipe   dari    batu  pasir  yang  15%  atau  lebih  komposisinya adalah  matrix  yang  terbuat  dari  lempung,   sehingga   menghasilkan  sortasi   yang   jelek   dan  batuan menjadi berwarna abu-abu gelap atau kehijauan.

4. SHALE
Shale adalah batuan sedimen yang memiliki tekstur yang halus dengan ukuran butir 1/16 hingga 1/256 milimeter. Komposisi mineralnya umumnya tersusun dari mineral-mineral lempung, kuarsa, opal, kalsedon, klorit, dan bijih besi. Shale dibedakan menjadi dua tipe batuan, yaitu batu lanau dan batu lempung atau serpih. Batu lanau memiliki butiran yang berukuran anara batu pasir dan batu serpih, sedangkan batu lempung memiliki chiri khas mudah membelah dan bila dipanasi menjadi plastis.
5. LIMESTONE

Limestone atau batu gamping adalah batuan sedimen yang memiliki komposisi mineral utama dari kalsit (CaCO3). Teksturnya bervariasi antara rapat, afanitis, berbutir kasar,  kristalin atau oolit. Batu gamping dapat terbentuk baik karena hasil dari proses organisme atau karena proses anorganik. Batu gamping dapat dibedakan menjadi batu gamping terumbu, calcilutite, dan calcarenite.

  • CALCARENITE

Calcarenite memiliki ukuran butir 1/16 hingga 2 milimeter, batuan ini terdiri dari 50% atau lebih material carbonate detritus, yaitu  material yang  tersusun terutama atas fosil dan oolit.

  • CALCILUTITE

Calcilutite terbentuk jika ukuran butiran dari calcarenite berubah menjadi lebih kecil hingga kurang dari 1/16 milimeter yang kemudiaan mengalami litifikasi.

  • GAMPING TERUMBU

Batu Gamping terumbu terbentuk karena aktivitas dari coral atau terumbu pada perairan yang hangat dan dangkal
6. SALTSTONE

Saltstone terdiri dari mineral halite (NaCl) yang terbentuk karena adanya penguapan  yang biasanya terjadi pada air laut. Tekstur dari batuan ini berbentuk kristalin.

7. GIPSUM

Gipsum tersusun atas mineral gipsum (CaSO4.H2O). Sama seperti dengan Saltstone, batuan ini terbentuk karena kandungan uap air yang ada menguap. Tekstur dari batuan ini juga berupa kristalin.
8. COAL

Coal atau batu bara adalah batuan sedimen yang terbentuk dari kompaksi material yang berasal dari tumbuhan, baik berupa akar, batang, maupun daun. Teksturnya amorf, berlapis, dan tebal. Komposisinya berupa humus dan karbon. Warna biasanya coklat kehitaman dan pecahannya bersifat prismatik.

  1. Batuan Sedimen Evaporit

Proses terjadinya harus ada air yang memiliki larutan kimia yang cukup pekat. Pada umumnya terbentuk dilingkungan danau atau laut yang tertutup, sehingga sangat memungkinkan selalu terjadi pengayaan unsur-unsur tertentu. Batuan yang termasuk golongan ini adalah gip, anhidrit, batugaram, dll.

Proses terjadinya batuan sedimen ini harus ada air yang memiliki larutan kimia yang cukup pekat. Pada umumnya batuan ini terbentuk di lingkungan danau atau laut yang tertutup, sehingga sangat memungkinkan terjadi pengayaan unsur – unsur tertentu. Dan faktor yang penting juga adalah tingginya penguapan maka akan terbentuk suatu endapan dari larutan tersebut. Batuan – batuan yang termasuk kedalam batuan ini adalah gip, anhidrit, batu garam.

  1. Batuan Sedimen Batubara

Terbentuk dari unsur-unsur organic yaitu dari tumbuh-tumbuhan. Dimana sewaktu tumbuhan tersebut mati dengan cepat tertimbun oleh suatu lapisan yang tebal diatasnya sehingga tidak memungkinkan terjadinya pelapukan.

Batuan sedimen ini terbentuk dari unsur – unsur organik yaitu dari tumbuh – tumbuhan. Dimana sewaktu tumbuhan tersebut mati dengan cepat tertimbun oleh suatu lapisan yang tebsl di atasnya sehingga tidak akan memungkinkan terjadinya pelapukan. Lingkungan terbentuknya batubara adalah khusus sekali, ia harus memiliki banyak sekali tumbuhan sehingga kalau timbunan itu mati tertumpuk menjadi satu di tempat tersebut.
( Danang Endarto, 2005 )

PENYUSUN BATUBARA

Konsep bahwa batubara berasal dari sisa tumbuhan diperkuat dengan ditemukannya cetakan tumbuhan di dalam lapisan batubara. Dalam penyusunannya batubara diperkaya dengan berbagai macam polimer organik yang berasal dari antara lain karbohidrat, lignin, dll. Namun komposisi dari polimer-polimer ini bervariasi tergantung pada spesies dari tumbuhan penyusunnya.

Lignin

Lignin merupakan suatu unsur yang memegang peranan penting dalam merubah susunan sisa tumbuhan menjadi batubara. Sementara ini susunan molekul umum dari lignin belum diketahui dengan pasti, namun susunannya dapat diketahui dari lignin yang terdapat pada berbagai macam jenis tanaman. Sebagai contoh lignin yang terdapat pada rumput mempunyai susunan p-koumaril alkohol yang kompleks. Pada umumnya lignin merupakan polimer dari satu atau beberapa jenis alkohol.

Hingga saat ini, sangat sedikit bukti kuat yang mendukung teori bahwa lignin merupakan unsur organik utama yang menyusun batubara.

Karbohidrat

Gula atau monosakarida merupakan alkohol polihirik yang mengandung antara lima sampai delapan atom karbon. Pada umumnya gula muncul sebagai kombinasi antara gugus karbonil dengan hidroksil yang membentuk siklus hemiketal. Bentuk lainnya mucul sebagai disakarida, trisakarida, ataupun polisakarida. Jenis polisakarida inilah yang umumnya menyusun batubara, karena dalam tumbuhan jenis inilah yang paling banyak mengandung polisakarida (khususnya selulosa) yang kemudian terurai dan membentuk batubara.

Protein

Protein merupakan bahan organik yang mengandung nitrogen yang selalu hadir sebagai protoplasma dalam sel mahluk hidup. Struktur dari protein pada umumnya adalah rantai asam amino yang dihubungkan oleh rantai amida. Protein pada tumbuhan umunya muncul sebagai steroid, lilin.

Material Organik Lain

Resin

Resin merupakan material yang muncul apabila tumbuhan mengalami luka pada batangnya.

Tanin

Tanin umumnya banyak ditemukan pada tumbuhan, khususnya pada bagian batangnya.

Alkaloida

Alkaloida merupakan komponen organik penting terakhir yang menyusun batubara. Alkaloida sendiri terdiri dari molekul nitrogen dasar yang muncul dalam bentuk rantai.

Porphirin

Porphirin merupakan komponen nitrogen yang berdasar atas sistem pyrrole. Porphirin biasanya terdiri atas suatu struktur siklik yang terdiri atas empat cincin pyrolle yang tergabung dengan jembatan methin. Kandungan unsur porphirin dalam batubara ini telah diajukan sebagai marker yang sangat penting untuk mendeterminasi perkembangan dari proses coalifikasi.

Hidrokarbon

Unsur ini terdiri atas bisiklik alkali, hidrokarbon terpentin, dan pigmen kartenoid. Sebagai tambahan, munculnya turunan picene yang mirip dengan sistem aromatik polinuklir dalam ekstrak batubara dijadikan tanda inklusi material sterane-type dalam pembentukan batubara. Ini menandakan bahwa struktur rangka tetap utuh selama proses pematangan, dan tidak adanya perubahan serta penambahan struktur rangka yang baru.

Konstituen Tumbuhan yang Inorganik (Mineral)

Selain material organik yang telah dibahas diatas, juga ditemukan adanya material inorganik yang menyusun batubara. Secara umum mineral ini dapat dibagi menjadi dua jenis, yaitu unsur mineral inheren dan unsur mineral eksternal. Unsur mineral inheren adalah material inorganik yang berasal dari tumbuhan yang menyusun bahan organik yang terdapat dalam lapisan batubara. Sedangkan unsur mineral eksternal merupakan unsur yang dibawa dari luar kedalam lapisan batubara, pada umumya jenis inilah yang menyusun bagian inorganik dalam sebuah lapisan batubara.

PROSES PEMBENTUKAN BATUBARA

Pembentukan batubara pada umumnya dijelaskan dengan asumsi bahwa material tanaman terkumpul dalam suatu periode waktu yang lama, mengalami peluruhan sebagian kemudian hasilnya teralterasi oleh berbagai macam proses kimia dan fisika. Selain itu juga, dinyatakan bahwa proses pembentukan batubara harus ditandai dengan terbentuknya peat.

Pembentukan Lapisan Source

Teori Rawa Peat (Gambut) – Autocthon

Teori ini menjelaskan bahwa pembentukan batubara berasal dari akumulasi sisa-sisa tanaman yang kemudian tertutup oleh sedimen diatasnya dalam suatu area yang sama. Dan dalam pembentukannya harus mempunyai waktu geologi yang cukup, yang kemudian teralterasi menjadi tahapan batubara yang dimulai dengan terbentuknya peat yang kemudian berlanjut dengan berbagai macam kualitas antrasit. Kelemahan dari teori ini adalah tidak mengakomodasi adanya transportasi yang bisa menyebabkan banyaknya kandungan mineral dalam batubara.

Teori Transportasi – Allotocton

Teori ini mengungkapkan bahwa pembentukan batubara bukan berasal dari degradasi/peluruhan sisa-sisa tanaman yang insitu dalam sebuah lingkungan rawa peat, melainkan akumulasi dari transportasi material yang terkumpul didalam lingkungan aqueous seperti danau, laut, delta, hutan bakau. Teori ini menjelaskan bahwa terjadi proses yang berbeda untuk setiap jenis batubara yang berbeda pula.

Proses Geokimia dan Metamorfosis

Setelah terbentuknya lapisan source, maka berlangsunglah berbagai macam proses. Proses pertama adalah diagenesis, berlangsung pada kondisi temperatur dan tekanan yang normal dan juga melibatkan proses biokimia. Hasilnya adalah proses pembentukan batubara akan terjadi, dan bahkan akan terbentuk dalam lapisan itu sendiri. Hasil dari proses awal ini adalah peat, atau material lignit yang lunak. Dalam tahap ini proses biokimia mendominasi, yang mengakibatkan kurangnya kandungan oksigen. Setelah tahap biokimia ini selesai maka berikutnya prosesnya didominasi oleh proses fisik dan kimia yang ditentukan oleh kondisi temperatur dan tekanan. Temperatur dan tekanan berperan penting karena kenaikan temperatur akan mempercepat proses reaksi, dan tekanan memungkinkan reaksi terjadi dan menghasilkan unsur-unsur gas. Proses metamorfisme (temperatur dan tekanan) ini terjadi karena penimbunan material pada suatu kedalaman tertentu atau karena pergerakan bumi secara terus-menerus didalam waktu dalam skala waktu geologi.

HETEROATOM DALAM BATUBARA
Heteroatom dalam batubara bisa berasal dari dalam (sisa-sisa tumbuhan) dan berasal dari luar yang masuk selama terjadinya proses pematangan.

Nitrogen pada batubara pada umumnya ditemukan dengan kisaran 0,5 – 1,5 % w/w yang kemungkinan berasal dari cairan yang terbentuk selama proses pembentukan batubara.

Oksigen pada batubara dengan kandungan 20 – 30 % w/w terdapat pada lignit atau 1,5 – 2,5 % w/w untuk antrasit, berasal dari bermacam-macam material penyusun tumbuhan yang terakumulasi ataupun berasal dari inklusi oksigen yang terjadi pada saat kontak lapisan source dengan oksigen di udara terbuka atau air pada saat terjadinya sedimentasi.

Variasi kandungan sulfur pada batubara berkisar antara 0,5 – 5 % w/w yang muncul dalam bentuk sulfur organik dan sulfur inorganik yang umumnya muncul dalam bentuk pirit. Sumber sulfur dalam batubara berasal dari berbagai sumber. Pada batubara dengan kandungan sulfur rendah, sulfurnya berasal material tumbuhan penyusun batubara. Sedangkan untuk batubara dengan kandungan sulfur menengah-tinggi, sulfurnya berasal dari air laut.

  1. Batuan Sedimen Silika

Terdiri dari rijang (chert), radiolarian dan tanah diatom. Proses terbentuknya adalah gabungan antara proses organic seperti radiolarian atau diatom dan proses kimiawi untuk lebih menyempurnakannya.

Proses terbentuknya batuan ini adalah gabungan antara pross organik dan kimiawi untuk lebih menyempurnakannya. Termasuk golongan ini rijang (chert), radiolarian dan tanah diatom. Batuan golongan ini tersebarnya hanya sedikit dan terbatas sekali.

  1. Batuan Sedimen Karbonat

Terbentuk dari kumpulan cangkang moluska, alga, foraminifera atau lainnya yang bercangkang kapur. Atau oleh proses pengendapan yang merupakan rombakan dari batuanyang terbentuk lebih dahulu dan diendapkan disuatu tempat. Proses pertama biasa terjadi di lingkungan laut litoral sampai neritik, sedangkan proses kedua diendapkan pada laut neritik sampai laut balitial.

Batuan ini umum sekali terbentuk dari kumpulan cangkang moluska, algae dan foraminifera. Atau oleh proses pengendapan yang merupakan rombakan dari batuan yang terbentuk lebih dahulu dan di endpkan disuatu tempat. Proses pertama biasa terjadi di lingkungan laut litoras sampai neritik, sedangkan proses kedua di endapkan pada lingkungan laut neritik sampai bahtial. Jenis batuan karbonat ini banyak sekali macamnya tergantung pada material penyusunnya.

Sedimen dan batuan sedimen karbonat terdiri daripada CaCO3 dan MgCO3. Bahan ini merangkumi sekurang-kurangnya 20 – 30% daripada keseluuhan batuan yang ada. Batuan sedimen karbonat merupakan salah satu daripada batuan takungan utama untuk bahan hidrokarbon (minyal dan gas).

Mineral utama yang membentuk sedimen dan batuan sedimen karbonat ialah;

Kalsit (Calcite) CaCO3
  • Sistem hablur Rhombohedral
  • Banyak ditemui dalam batuan sedimen tua daripada Tertier
  • Low magnesium calcite (<4%) and high magnesium calcite (>4%) still maintain
  • calcite crystal structure
Dolomit (Dolomite) CaMg(CO3)2
  • Sistem hablur Rhombohedral
  • Berasosiasi (associated) dengan mineral kalsit dan evaporit
Araginit (Aragonite) CaCO3
  • Sistem hablur Orthorhombic
  • Banyak ditemui dalam batuan sedimen karbonat recent (Cenozoic)

Dari segi tekstur, batuan karbonat boleh dibahagikan kepada tiga (seperti juga batuan klastik);

BUTIRAN KARBONAT

Butiran karbonat juga dikenali sebagai ALLOKEM. Ianya bersamaan dengan butiran kerangka atau klas untuk batuan klastik. Butiran karbonat ini mempunyai saiz daripada saiz lodak hinggalah kpada saiz yang sangat besar. Terdapat lima jenis butiran karbonat yang utama;

Pecahan cangkang (Skeletal fragments)

  • Boleh terdiri daripada keseluruhan cangkang
  • Merupakan antra allokem yang paling banyak ditemui
  • Boleh ditemui di kesemua sekitaran karbonat

Ooid

  • Merupakan butiran berbentuk bulat, dan mempunyai lingkaran kalsit (internal concentric layers of calcite) mengelilingi nukleus (samada pecahan cangkang, pellet, butiran kuarza dan lain-lain)
  • Mempunyai saiz pasir halis hingga kasar
  • Oncoids – merupakam ooid yang mempunyai garis pusat 1-2 cm
  • Oolit – batu kapur yang mempunyai ooid
  • Selalunya ditemui di sekitaran karbonat yang mempunyai air / gelombang yang berkocak secara berterusan (constantly reworked by waves)

Oolit disimen oleh kalsi

Peloid

  • Allokem yang berbentuk bulat atau membujur, tetapi terdiri daripada kalsit mikrokristallin atau kriptokristallin (microcrystalline or cryptocrystalline calcite) or aragonit
  • Dalam peloid tiada apa-apa struktur
  • Biasanya bersaiz lodak atau pasir halus
  • Kebanyakannya terdiri daripada fecal pellets
  • Pecahan cangkang yang bulat dan ooid yang tidak mempunyai apa-apa struktur juga dikenali sebagai peloid
  • Boleh ditemui di kebanyakan sekitaran pengendapan

Butiran karbonat atau litoklas (Carbonate clasts (lithoclasts))

  • merupakan sedimen atau klas yang berasal daripada batuan karbonat sedia ada (setelah dihakis)
  • mempunyai saiz pasir atau lebih besar
  • selalunya berbentuk bulat
  • litoklas ini tidak sebanyak ooids, peloids or pecahan cangkang (jarang ditemui)
  • Biasanya ditemui dalam endapan akibat ribut (storms deposits), alur, dan juga endapan turbidit
  • Ekstraklas (Extraclasts) – klas berasal daripada luar lembangan
  • Intraklas (Intraclasts) – klas berasal daripada lembangan yang sama

 


KALSIT MIKROKRISTALIN (Microcrystalline calcite)

Kalsit mikrostallin merupakan butiran karbonat (hablur kalsit atau aragonit) yang bersaiz halus (lumpur), dan ianya juga dikenali sebagai mikrit. Secara umumnya, mikrit ini membentuk matrik dalam batuan karbonat. Dalam sekitaran moden, mikrit terdiri daripada mineral aragonit, dan ianya berasal daripada algae berkalka. Secara ummnya, kedadiran mikrit yang banyak mencadangkan sekitaran bertenaga rendah. Walau bagaimanapun, keadaan ini tidak sentiasa benar.

 

Kalsit berbutir halus yang terdapat di celah ooid ini dikenali sebagai mikrit. Mikrit ini bertindak sebagai matrik.


KALSIT SPAR (Sparry calcite)

Kalsit spar merupakan hablur kalsit yang bersaiz besar. Hablur ini membentuk simen, dan boleh ditemui di ruang antara butiran karbonat. Simen ini terbentuk hasil daripada proses diagenesis, iaitu terbentuk selepas sedimen diendapkan. Kehadiran kalsit spar, dan ketiadaan kalsit mikrokristallin mencadangkan persekitaran air yang tertnaga tinggi, sehinggakan butiran halus dibawa keluar ke kawasan lain.

 

Simen kalsit yang mengelilingi allokem krinoid ini merupakan kalsit spar


 

Pemerian Batuan Sedimen

1. Detritus (klastik) kasar

2. Detritus (klastik) halus

3. Karbonat

4. Evaporit

Faktor-Faktor Yang Harus Diperhatikan Dalam Deskripsi Batuan Sedimen

Warna

Secara umum warna pada batuan sedimen akan dipengaruhi oleh beberapa factor, yaitu :

a) Warna mineral pembentukkan batuan sedimen

Contoh jika mineral pembentukkan batuan sedimen didominasi oleh kwarsa maka batuan akan berwarna putih.

b) Warna massa dasar/matrik atau warna semen.

c) Warna material yang menyelubungi (coating material).

Contoh batupasir kwarsa yang diselubungi oleh glaukonit akan berwarna hijau.

d) Derajat kehalusan butir penyusunnya.

Pada batuan dengan komposisi yang sama jika makin halus ukuran butir maka warnanya cenderung akan lebih gelap.

Warna batuan juga dipengaruhi oleh kondisi lingkungan pengendapan, jika kondisi lingkungannya reduksi maka warna batuan menjadi lebih gelap dibandingkan pada lingkungan oksidasi. Batuan sedimen yang banyak kandungan material organic (organic matter) mempunyai warna yang lebih gelap.

  1. B.           Struktur Batuan Sedimen

Struktur sedimen sebenarnya adalah kelainan dari bidang perlapisan yang normal (paralel atau horizontal). Kelainan disebabkan karena proses sedimentasi ataupun sesudah sedimentasi (diagnesa).

Struktur sedimen terbentuk akibat dari proses fisika, kimia maupun proses-proses lainnya.

Definisi :

Roman muka (kenampakkan) sifat-sifat yang mudah diamati/dipelajari pada batuan sedimen (pada singkapan) yang merupakan hasil manifestasi dari proses fisika, kimia dan organis.

Contoh :

Proses fisika seperti angin, air, arus.

Proses kimia seperti kongkresi dll.

Proses organic seperti jejak binatang.

Sifat yang khas yang mudah dan langsung dapat diamati adalah unsure perlapisan. Intensitas arus mempengaruhi pengendapan dalam besar butir, stratifikasi dapat juga menunjukkan proses terbentuknya lapisan tersebut, karena lingkungan pengendapan.

Stratum adalah suatu lapisan yang dapat dibedakan dengan lapisan di atasnya atau dibawahnya, berdasarkan sifat fisik, bidang non sedimentasi,dll.

Cross stratum (lapisan silang siur) adalah lapisan yang membentuk sudut terhadap lapisan yang berada di atas atau dibawahnya dan dipisahkan oleh bidang erosi, bidang non sedimentasi atau sifat fisik lainnya.

Set adalah cross strata atau strata yang dipisahkan dari strata atau cross strata lainnya dengan bidang erosi atau bidang non sedimentasi atau sifat-sifat fisik lainnya.

Coset merupakan gabungan dari beberapa set, sedangkan

Composite set yang merupakan gabungan dari beberapa coset.

Berdasarkan asalnya struktur sedimen yang terbentuk dapat dikelompokkan menjadi 3 :

  1. 1.      Struktur Sedimen Primer

Terbentuknya karena proses sedimentasi dengan demikian dapat merefleksikan mekanisasi pengendapannya.

  1. 2.      Struktur Sedimen Sekunder

Terbetuknya sesudah sedimentasi, sebelum atau pada waktu diagnesa, juga merefleksikan keadaan lingkungan pengendapan, misalnya keadaan dasar, lereng dan lingkungan organisnya.

  1. Struktur Organik

Struktur yang terbentuk oleh kegiatan binatang, seperti moluska, cacing atau binatang lainnya.

Struktur Sedimen Primer:Struktur Sedimen Flaser

Selama pasang tinggi, lumpur umumnya terkumpul di seberang ripple crest dan pada trough. Flaser bedding dihasilkan.. ketika lumpur ini berada pada trough. Struktur ini mengimplikasikan bahwa hadirnya dua sedimen suplai yaitu pasir dan lempung. Pada saat aktivitas arus, pasir tertransportasi dan terendapkan sebagai ripples, lempung masih dalam bentuk suspensi. Pada saat arus berhenti lempung terendapkan pada trough atau menutup ripples tersebut. Saat dimulainya siklus selanjutnya, puncak ripples tererosi dan pasir baru terendapkan dalam bentuk ripples dan mengubur ripple bed pada troughs. Sehingga diperkirakan flaser bedding diperkirakan terbentuk pada lingkungan pasang surut (subtidal zone)dan sangat jarang ditemukan terbentuk pada kondisi fluvial. Struktur ini dapat digunakan dalam penentuan lingkungan pengendapan, dimana diperkirakan berada pada lingkungan pasang-surut(pada energi tinggi).

Struktur Sedimen Sekunder
a. Struktur Erosional : terbentuk oleh karena arus atau materi yang terbawa oleh arus. ex : Flute cast

b. Struktur Deformasi : terbentuk oleh karena adanya gaya. ex : load cast


Struktur Organik : terbentuk akibart aktivitas makhluk hidup.

Tabular cross bedding adalah suatu set yang bidang sentuhnya bukan merupakan bidang erosi, tapi merupakan bidang datar yang merupakan bidang non sedimentasi.

Planar cross bedding adalah suatu set dimana sentuhnya bukan merupakan bidang datar, melainkan bidang miring serta, merupakan bidang non sedimentasi. Sedangkan

Trough cross bedding merupakan struktur yang khas sekali dimana butiran makin keatas makin halus. Graded bedding sangat penting sekali artinya dalam penelitian untuk menentukan yang mana atas (up) dan yang bawah (bottom) dimana yang halus merupakan bagian atasnya sedangkan bagian yang kasar merupakan bawahnya.

Graded bedding yang disebabkan oleh arus turbid, dimana fraksi halus didapatkan dibagian atas juga tersebar diseluruh batuan tersebut. Secara genesa graded bedding oleh arus turbid juga terjadi selain oleh kerja suspensi juga disebabkan oleh pengaruh arus turbulensi.

Struktur flaser terbentuk di daerah laguna (teluk) tidak dipengaruhi oleh laut terbuka, melainkan sangat dipengaruhi oleh pasang surut. Pada waktu surut ia mengendapkan bagian dari darat sedangkan waktu pasang mengendapkan bagian laut. Sehingga mengakibatkan terjadinya pengendapan yang selang seling antara fraksi kasar an fraksi halus, yaitu antara pasir  dan lempung. Jika disayat tegak lurus arus maka akan terlihat penampang lapisan yang berupa lensa-lensa pasir (lenticular), sedangkan lensa-lensa lempung (flaser).

Jenis Dan Penamaan Batuan Sedimen

Batuan sedimen dari golongan klastik terutama klastik halus akan menghasilkan nama batuan yang banyak sekali karena batuan tesebut pada umumnya merupakan hasil pencampuran dari beberapa unsur yang dominan. Unsure-unsur yang penting adalah pasir (sand), lempung (clay), dan danau (silt). Bila dua jenis unsure tersebut bercampur akan menghasilkan nama yang berlainan, juga percampuran tersebut tergantung dari persentase volume masing-masing unsur.

 

BAB IV

PENUTUP

Kesimpulan

Batuan sedimen terbentuk dari batuan-batuan yang telah ada sebelumnya oleh kekuatan-kekuatan yaitu pelapukan, gaya-gaya air, pengikisan-pengikisan angina angina serta proses litifikasi, diagnesis, dan transportasi, maka batuan ini terendapkan di tempat-tempat yang relatif lebih rendah letaknya, misalnya: di laut, samudera, ataupun danau-danau. Mula-mula sediment merupakan batuan-batuan lunak,akan tetapi karean proses diagnosi sehingga batuan-batuan lunak tadi akan menjadi keras.

Proses diagnesis adalah proses yang menyebabkan perubahan pada sediment selama terpendamkan dan terlitifikasikan, sedangkan litifikasi adalah proses perubahan material sediment menjadi batuan sediment yang kompak. Proses diagnesis ini dapat merupakan kompaksi yaitu pemadatan karena tekanan lapisan di atas atau proses sedimentasi yaitu perekatan bahan-bahan lepas tadi menjadi batuan keras oleh larutan-larutan kimia misalnya larutan kapur atau silisium. Sebagian batuan sedimen terbentuk di dalam samudera. Bebrapa zat ini mengendap secara langsung oleh reaksi-reaksi kimia misalnya garam (CaSO4.nH2O). adapula yang diendapkan dengan pertolongan jasad-jasad, baik tumbuhan maupun hewan.

Batuan endapan yang langsung dibentuk secara kimia ataupun organik mempunyai satu sifat yang sama yaitu pembentukkan dari larutan-larutan. Disamping sedimen-sedimen di atas, adapula sejenis batuan sejenis batuan endapan yang sebagian besar mengandung bahan-bahan tidak larut, misalnya endapan puing pada lereng pegunungan-pegunungan sebagai hasil penghancuran batuan-batuan yang diserang oleh pelapukan, penyinaran matahari, ataupun kikisan angin. Batuan yang demikian disebut eluvium dan alluvium jika dihanyutkan oleh air, sifat utama dari batuan sedimen adalah berlapis-lapisdan pada awalnya diendapkan secara mendatar.

Lapisan-lapisan ini tebalnya berbeda-beda dari beberapa centimeter sampai beberapa meter. Di dekat muara sungai endapan-endapan itu pada umunya tebal, sedang semakin maju ke arah laut endapan-endapan ini akan menjadi tipis(membaji) dan akhirnya hilang. Di dekat pantai, endapan-endapan itu biasanya merupakan butir-butir besar sedangkan ke arah laut kita temukan butir yang lebih halus lagi.ternyata lapisan-lapisan dalam sedimen itu disebabkan oleh beda butir batuan yang diendapkan. Biasanya di dekat pantai akan ditemukan batupasir, lebih ke arah laut batupasir ini berganti dengan batulempung, dan lebih dalam lagi terjadi pembentukkan batugamping(Katili dan Marks).