BATUAN SEDIMEN

BAB I

PENDAHULUAN

 

  1. Latar belakang

Semua batuan pada mulanya dari magma. Magma keluar di permukaan bumi antara lain melalui puncak gunung berapi. Gunung berapi ada di daratan ada pula yang di lautan. Magma yang sudah mencapai permukaan bumi akan membeku. Magma yang membeku kemudian menjadi batuan beku. Batuan beku muka bumi selama beribu-ribu tahun lamanya dapat hancur terurai selama terkena panas, hujan, serta aktifitas tumbuhan dan hewan.
Selanjutnya hancuran batuan tersebut tersangkut oleh air, angin atau hewan ke tempat lain untuk diendapkan. Hancuran batuan yang diendapkan disebut batuan endapan atau batuan sedimen. Baik batuan sedimen atau beku dapat berubah bentuk dalam waktu yang sangat lama karena adanya perubahan temperatur dan tekanan. Batuan yang berubah bentuk disebut batuan malihan atau batuan metamorf.

 

  1. Rumusan masalah

Sehubungan dengan latar belakang di atas, maka rumusan masalah dalam makalah  ini  adalah sebagai berikut:

  • Pengertian batuan sedimen
  • Klasifikasi Batuan sedimen

 

  1. Tujuan

Adapun tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui:

v  Agar mahasiswa dapat mengetahui apa yang dimaksud dengan batuan sedimen

v  Agar mahasiswa dapat mengetahui klasifikasi batuan sedimen.

 

BAB II

LANDASAN TEORI

Batuan sedimen adalah batuan yang terbentuk dari pecahan atau hasil abrasi dari sedimen, batuan beku, metamorf yang tertransport dan terendapkan kemudian terlithifikasi.

Batuan Sedimen adalah batuan yang paling banyak tersingkap di permukaan bumi, kurang lebih 75 % dari luas permukaan bumi, sedangkan batuan beku dan metamorf hanya tersingkapsekitar 25 % dari luas permukaan bumi. Oleh karena itu, batuan sediment mempunyai arti yang sangat penting, karena sebagian besar aktivitas manusia terdapat di permukaan bumi. Fosil dapat pula dijumpai pada batua sediment dan mempunyaiarti penting dalam menentukan umur batuan dan lingkungan pengendapan.

Batuan Sedimen adalah batuan yang terbentuk karena proses diagnesis dari material batuan lain yang sudah mengalami sedimentasi. Sedimentasi ini meliputi proses pelapukan, erosi, transportasi, dan deposisi. Proses pelapukan yang terjadi dapat berupa pelapukan fisik maupun kimia. Proses erosidan transportasi dilakukan oleh media air dan angin. Proses deposisi dapat terjadi jika energi transport sudah tidak mampu mengangkut partikel tersebut.

 

II.A. Proses Pembentukkan Batuan Sedimen

Batuan sedimen terbentuk dari batuan-batuan yang telah ada sebelumnya oleh kekuatan-kekuatan yaitu pelapukan, gaya-gaya air, pengikisan-pengikisan angina angina serta proses litifikasi, diagnesis, dan transportasi, maka batuan ini terendapkan di tempat-tempat yang relatif lebih rendah letaknya, misalnya: di laut, samudera, ataupun danau-danau. Mula-mula sediment merupakan batuan-batuan lunak,akan tetapi karean proses diagnosi sehingga batuan-batuan lunak tadi akan menjadi keras.

Proses diagnesis adalah proses yang menyebabkan perubahan pada sediment selama terpendamkan dan terlitifikasikan, sedangkan litifikasi adalah proses perubahan material sediment menjadi batuan sediment yang kompak. Proses diagnesis ini dapat merupakan kompaksi yaitu pemadatan karena tekanan lapisan di atas atau proses sedimentasi yaitu perekatan bahan-bahan lepas tadi menjadi batuan keras oleh larutan-larutan kimia misalnya larutan kapur atau silisium. Sebagian batuan sedimen terbentuk di dalam samudera. Bebrapa zat ini mengendap secara langsung oleh reaksi-reaksi kimia misalnya garam (CaSO4.nH2O). adapula yang diendapkan dengan pertolongan jasad-jasad, baik tumbuhan maupun hewan.

Batuan endapan yang langsung dibentuk secara kimia ataupun organik mempunyai satu sifat yang sama yaitu pembentukkan dari larutan-larutan. Disamping sedimen-sedimen di atas, adapula sejenis batuan sejenis batuan endapan yang sebagian besar mengandung bahan-bahan tidak larut, misalnya endapan puing pada lereng pegunungan-pegunungan sebagai hasil penghancuran batuan-batuan yang diserang oleh pelapukan, penyinaran matahari, ataupun kikisan angin. Batuan yang demikian disebut eluvium dan alluvium jika dihanyutkan oleh air, sifat utama dari batuan sedimen adalah berlapis-lapisdan pada awalnya diendapkan secara mendatar.

Lapisan-lapisan ini tebalnya berbeda-beda dari beberapa centimeter sampai beberapa meter. Di dekat muara sungai endapan-endapan itu pada umunya tebal, sedang semakin maju ke arah laut endapan-endapan ini akan menjadi tipis(membaji) dan akhirnya hilang. Di dekat pantai, endapan-endapan itu biasanya merupakan butir-butir besar sedangkan ke arah laut kita temukan butir yang lebih halus lagi.ternyata lapisan-lapisan dalam sedimen itu disebabkan oleh beda butir batuan yang diendapkan. Biasanya di dekat pantai akan ditemukan batupasir, lebih ke arah laut batupasir ini berganti dengan batulempung, dan lebih dalam lagi terjadi pembentukkan batugamping(Katili dan Marks).

Ada dua tipe sedimen yaitu: detritus dan kimiawi. Detritus terdiri dari partikel-2 padat hasil dari pelapukan mekanis. Sedimen kimiawi terdiri dari mineral sebagai hasil kristalisasi larutan dengan proses inorganik atau aktivitas organisme. Partikel sedimen diklasifikasikan menurut ukuran butir, gravel (termasuk bolder, cobble dan pebble), pasir, lanau, dan lempung. Transportasi dari sedimen menyebabkan pembundaran dengan cara abrasi dan pemilahan (sorting). Nilai kebundaran dan sorting sangat tergantung pada ukuran butir, jarak transportasi dan proses pengendapan. Proses litifikasi dari sedimen menjadi batuan sedimen terjadi melalui kompaksi dan sementasi.

Batuan sedimen dapat dibagi menjadi 3 golongan:

  1. Batuan sedimen klastik à terbentuk dari fragmen batuan lain ataupun mineral
  2. Batuan sedimen kimiawi à terbentuk karena penguapan, evaporasi
  3. Batuan sedimen organic à terbentuk dari sisa-sisa kehidupan hewan/ tumbuhan

Batuan Sedimen Klastik terbentuk akibat pengendapan kembali detritus atau pecahan-pecahan batuan asal, dapat berupa batuan beku, sedimen atau metamorf.

Berbagai macam proses yang terjadi sebelum terbentuknya batuan sedimen klastik, diantaranya :
1. Pelapukan (Weathering) yaitu proses yang merubah ukuran dan komposisi dari batuan dan terjadi dekat permukaan bumi akibat perbedaan temperatur dan iklim.

2. Erosi yaitu proses yang menyebabkan hilangnya partikel (clasts) batuan dari permukaannya oleh tenaga eksogen (air, angin, atau es).
3. Deposisi yaitu proses akhir dari transportasi yang menempatkan partikel (clasts) batuan di atas permukaan bumi, dan membentuk fondasi untuk proses sedimentasi.
4. Kompaksi yaitu proses penyatuan pada material-material sedimen sehingga jarak antar material semakin dekat dan menyebabkan sedimen dapat menjadi kompak.
5. Litifikasi yaitu terjadinya proses sementasi atau perekatan pada material-material yang telah mengalami proses kompaksi membentuk batuan sedimen.

BAB III

HASIL PEMBAHASAN

  1. A.    Klasifikasi Batuan

Batuan sedimen banyak sekali jenisnyadan tersebar sangat luas dengan ketebalan dari beberapa cm – km. Juga ukuran butirnya dari sangat halus sampai sangat besar.

Batuan sedimen yang ada dimuka bumi ini dapat dikelompokkan menjadi lima kelompok besar yang berdasarkan dari cara terbentuknya.

  1. Batuan Sedimen Detritus (Klastik).

Batuan sedimen klastik adalah batuan sedimen yang terbentuk dari pengendapan kembali detritus atau pecahan batuan asal. Fragmentasi batuan asal tersebut dimulai dari pelapukan mekanis maupun secara kimiawi, kemudian tererosi dan tertransportasi (baik oleh angin dan air) menuju suatu cekungan pengendapan. Setelah pengendapan terjadi, sedimen mengalami pembatuan. Pembatuan atau lithifikasi merupakan proses terubahnya materi pembentuk batuan yang lepas (unconsolidated rock forming mineral) menjadi batuan sedimen.

Batuan sedimen ini diendapan dengan proses mekanis, terbagi dalam dua golongan besar berdasarkan ukuran besar butirnya. Cara terbentuknya batuan tersebut berdasarkan proses pengendapan baik yang terbentuk di lingkungan darat atau di lingkungan air (laut). Batuan yang ukuran besar seperti breksi dapat terjadi pengendapan langsung dari ledakan gunungapi dan diendapkan di sekitar gunung tersebutdan dapat juga diendapkan di lingkungan air seperti sungai, danau atau laut. Batuan konglomerat biasanya diendapkan di lingkungan sungai dan batuan batupasir dapat terjadi di lingkungan laut, sungai, danau maupun delta. Semua batuan tersebut merupakan golongan Detritus Kasar.

Sedangkan golongan Detritus Halus terdiri dari batu lanau, serpih, batulempang dan napal. Batuan yang termasuk golongan ini pada umumnya diendapkan di lingkungan laut dari laut dangkal sampai laut dalam.

Gambar struktur batuan sedimen klastik sewaktu pengendapan (struktur sutle hummocky)

Klasifikasi batuan sedimen klastik yang umum digunakan adalah berdasarkan ukuran butirnya (menurut ukuran butir dari Wenworth), namun akan lebih baik lagi ditambahin mengenai hal-hal lain yang dapat memperjelas keterangan mengenai batuan sedimen yang dimaksud seperti komposisi dan strukturalnya. Misalnya batupasir silang siur, batulempung kerikil, batupasir kwarsa.

Ada klasifikasi lain yang juga dapat digunakan yaitu end members classification,klasifikasi ini dibuat berdasarkan komposisi atau ukuran butir. Penyusun batuan sedimen yang sudah ditentukan lebih dahulu.

Batupasir kwarsa

  • Komposisi didominasi oleh pasir kwarsa dengan demikian berarti transportasinya lebih jauh.
  • Sedikit mengandung chert (rijang)
  • Semennya adalh karbonat dan silica.
  • Kemungkinan mengandung fosil kecil sekali (fosil karbonat), jika ada kemungkinan karena semennya karbonat (gamping)
  • Warnanya agak gelap terang, karena kwarsa berwarna putih.

Greywocke

  • Istilah pertama digunakan di pegunungan Harz (Jerman)
  • Merupakan fragmen batuan (rock fragmen)
  • Berumur : devon-karbon atas, juga tersingkap di Skotlandia yang berumur Paleozoikum bawah.
  • Dengan adanya rock fragmen ini menyatakan bahwa sedimentasi tak normal (pendek), terjadi di daerah tektonik (dekat continental). Oleh karena pada daerah yang mantap, maka ia akan bersosiasi dengan lava bantal (di laut), batuan erupsi dan rijang (chert) (di darat). Rijang mencerminkan laut dalam,kemungkinan juga terdapat di continental slope besar sekali, yang disebut arus turbbidit.
  • Warnanya gelap
  • Pemilahannya jelek, karena transportasi pendek.
  • Bentuk agakmenyudut, karena transportasi jelek.
  • Karena arus turbidit maka struktur yang jelas yaitu graded-bedding
  • Pengendapan syngenetis (bersama-sama dengan proses genetika)

Arkone

  • Yang dominan adalah feldspar
  • Oleh karena yang dominant adalah feldspar maka ia tak tahan lapuk atau tidak stabil
  • Ini menunjukkan bahwa batuan ini terjadi pada keadaan transportasi pendek, kesempatan untuk melapuk kecil, iklim erring,relief tajam (pada daerah yang berelief tajam)
  • Warnanya terang kemerah-merahan
  • Sorting jelek, karena transportasi pendek
  • Kebulatan komponen, agak menyudut, karena transportasi pendek.

Konglomerat

Batuan klastik yang mempunyai fragmen batuan dan matrik,dengan batuan fragmen membundar – sangat membundar, kerikil, kerakal, dan bongkah dapat terdiri bermacam batuan tetapi, kebanyakan biasanya kaya akan mineral kwarsa. Biasanya ruang antara kerikil dengan pasir tersementasi dengan silica, lempung, limonite atau kalsit.

Breccia (breksi)

Adalah jenis batuan sedimen klastik yang menyerupai konglomerat, tetapi kebanyakan fragmen batuannya berbentuk angular sampai meruncing-runcing, ukuran umumnya berkisar dari kerakal sampai berangkal, sering diantara fragmen ini dijumpai ukuran yang lebih kecil yang disebut matrik, fragmen dan matrikpenyusun breksi ini terikat dengan semen yang berupa material karbonatan atau lempungan, dari bentuk fragmen yang meruncing, dapat ditafsirkan bahwa breksi ini diendapkan dengan sumbernya, sehingga tidak terpengaruh suara fisik oleh jarak transportasi hingga ingin mencapai cekungan sedimen ukuran material penyusun breksi lebih besar dari 2 mm.

Batupasir

Batuan sediment klastik yang terdiri dari semen berukuran pasir, massa pasir ini umumnya adalah mineral silika, feldspar atau pasir karbonat, sedang material pengikat atau semen berupabesi oksida, silika lempung atau kalsium karbonat. Dengan adanya perubahan yang besar dalam ukuran butirnya, maka dapt dibedakan ukurannya dari batupasir kasar sampai batulanau. Pada beberapa batuan, dijumpai ukuran butir yang beragam; jadi dapat dikatakan batupasir konglomerat atau batulanau pasiran. Warna pada batupasir, terbentuk sebagian besar oleh variasi butirnya.

Arkose

Adalah jenis dari batupasir dengan jumlah butiran feldspar yang lebih banyak. Kalau komposisi batuan ini terdiri dari kwarsa dan feldspar dapat diikatakan granit, jadi kemungkinan adanya kesalahan tentang arkose sangat kecil. Pada arkose butirnya tidak saling mengunci, butiran membulat dan dipisahkan dengan material semen dengan butiran yang halus.

Batulempung (dapat disebut serpih)

Adalah batuan sediment klastik yang terbentuk dari hasil pengompakan lempung dan lanau, ukuran butirnya halus sehingga batuannya terlihat homogen. Batulempung adalah halus dan umumnya terasa lembut, tetapi beberapa pasir halus atau lanau kasar mungkin membuat terasa griity.

Batulempung umumnya dijumpai pelapisan sedimen. Batuan yang komposisinya sama tetapi mempunyai ketebalan dan lapisan yang berbentuk blok dapat disebut batulumpur, warna dari batulempung dan batulumpur antara ungu, hijau,merah,dan cokelat. Beberapalapisan yang banyak mengndung karbon berwarna hitam.

Batugamping

Yang mungkin saja termasuk kedalam batuan sediment klastik atau kimiawi, umumnya terdiri dari kalsit,beberapa mempunyai imparities atau variasi bagus bahkan keduanya dalam penampakkannya. Beberapa betugamping yang berbentuk butiran halus mungkin terbentuk secara presipitasi kimia dengan batuan banyak atu sedikit organisme kecil, beberapa sedimen pada dasar laut kemungkinan tersingkap di lapisan awal pada formasi batugamping ukuran halus.

Dolostone

Seperti batugamping, juga merupakan batuan sedimen klastik ataun kimiawi yang umumnya tersusun oleh mineral dolomite, CuMg(CO3)2. dolomite kelihatan seperti kalsit,oleh karena itu mengapa dolomite dapat dikatakan sebagai batugamping.

Gallery Batuan Sedimen

Siltstone adalah clastic batuan sedimen yang terbentuk dari lumpur-ukuran (antara 1 / 256 dan 1 / 16 milimeter diameter) pelapukan puing-puing. Spesimen yang ditunjukkan di atas adalah sekitar dua inci (lima sentimeter).
Clastic serpih adalah batuan sedimen yang terdiri dari tanah liat-ukuran (kurang dari 1 / 256 milimeter diameter) pelapukan puing-puing. Biasanya pecah menjadi potongan-potongan tipis datar. Spesimen yang ditunjukkan di atas adalah sekitar dua inci (lima sentimeter).
Clastic batu pasir adalah batuan sedimen terdiri terutama dari ukuran pasir (1 / 16-2 milimeter diameter) pelapukan puing-puing. Lingkungan di mana sejumlah besar pasir dapat mengumpulkan meliputi pantai, gurun, dataran banjir dan delta. Spesimen yang ditunjukkan di atas adalah sekitar dua inci (lima sentimeter)
Batu gamping adalah batu yang terutama terdiri dari kalsium karbonat. Ini dapat terbentuk secara organik dari akumulasi kerang, karang, ganggang dan kotoran puing-puing. Juga dapat membentuk presipitasi kimiawi dari kalsium karbonat dari danau atau air laut. Batu kapur yang digunakan dalam banyak cara. Beberapa yang paling umum adalah: produksi semen, batu hancur dan netralisasi asam. Spesimen yang ditunjukkan di atas adalah sekitar dua inci (lima sentimeter)
Bijih besi adalah batuan sedimen kimia yang terbentuk ketika besi dan oksigen (dan kadang-kadang bahan lain) menggabungkan dalam larutan dan deposito sebagai sedimen. Bijih besi (ditampilkan di atas) adalah endapan yang paling umum mineral bijih besi. Spesimen yang ditunjukkan di atas adalah sekitar dua inci (lima sentimeter).
Rock salt/Halite adalah batuan sedimen kimia yang terbentuk dari penguapan garam laut atau air danau. Hal ini juga dikenal dengan nama mineral “garam karang”. Hal ini jarang ditemukan di permukaan bumi, kecuali di daerah-daerah iklim yang sangat kering. Hal ini sering ditambang untuk digunakan dalam industri kimia atau untuk digunakan sebagai perawatan jalan raya musim dingin. Beberapa garam karang diproses untuk digunakan sebagai bumbu untuk makanan. Spesimen yang ditunjukkan di atas adalah sekitar dua inci (lima sentimeter)
Clastic konglomerat adalah batuan sedimen yang berisi besar (lebih besar kemudian dua milimeter diameter) partikel bulat. Ruang antara kerikil umumnya diisi dengan partikel yang lebih kecil dan / atau semen kimia yang mengikat batu bersama-sama. Spesimen yang ditunjukkan di atas adalah sekitar dua inci (lima sentimeter).
Batubara/Coal adalah batuan sedimen organik yang membentuk tanaman terutama dari puing-puing. Puing pabrik biasanya terakumulasi dalam lingkungan rawa-rawa. Batu bara yang mudah terbakar dan sering ditambang untuk digunakan sebagai bahan bakar. Spesimen yang ditunjukkan di atas adalah sekitar dua inci (lima sentimeter).
Rijang/Chert adalah cryptocrystalline mikrokristalin atau bahan batuan sedimen terdiri dari silikon dioksida (SiO2). Terjadi sebagai nodul dan concretionary massa dan kurang sering sebagai deposit yang berlapis. Rusak dengan konkoidal patah tulang, seringkali menghasilkan tepi yang sangat tajam. Awal orang mengambil keuntungan dari bagaimana certa istirahat dan menggunakannya untuk mode alat pemotong dan senjata. Spesimen yang ditunjukkan di atas adalah sekitar dua inci (lima sentimeter)
Clastic breccia adalah batuan sedimen yang terdiri dari besar (lebih dari dua milimeter diameter) sudut fragmen. Ruang antara fragmen besar bisa diisi dengan matriks partikel yang lebih kecil atau semen mineral yang mengikat batu bersama-sama. Spesimen yang ditunjukkan di atas adalah sekitar dua inci (lima sentimeter).

Jenis-jenis Batuan Sedimen antara lain yaitu:

1. BREKSI

Breksi memiliki butiran-butiran yang bersifat coarse yang terbentuk dari sementasi fragmen-fragmen yang bersifat kasar dengan ukuran 2 hingga 256 milimeter. Fragmen-fragmen ini bersifat runcing dan menyudut.  Fragmen-fragmen dari Breksi biasanya merupakan fragmen yang terkumpul pada bagian dasar lereng yang mengalami sedimentasi, selain itu fragmen juga dapat berasal dari hasil longsoran yang mengalami litifikasi.
Komposisi dari breksi terdiri dari sejenis atau campuran dari rijang, kuarsa, granit, kuarsit, batu gamping, dan lain-lain.

2. KONGLOMERAT

Konglomerat hampir sama dengan breksi, yaitu memiliki ukuran butir 2-256 milimeter dan terdiri atas sejenis atau campuran rijang, kuarsa, granit, dan lain-lain, hanya saja fragmen yang menyusun batuan ini umumnya bulat atau agak membulat.
Pada konglomerat, terjadi proses transport pada material-material penyusunnya yang mengakibatkan fragmen-fragmennya memiliki bentuk yang membulat.
3. SANDSTONE

Sandstone atau batu pasir terbentuk dari sementasi dari butiran-butiran pasir yang terbawa oleh aliran sungai, angin, dan ombak dan akhirnya terakumulasi pada suatu tempat. Ukuran butiran dari batu pasir ini 1/16 hingga 2 milimeter. Komposisi batuannya bervariasi, tersusun terutama dari kuarsa, feldspar atau pecahan dari batuan, misalnya basalt, riolit, sabak, serta sedikit klorit dan bijih besi. Batu pasir umumnya digolongkan menjadi tiga kriteria, yaitu Quartz Sandstone, Arkose, dan Graywacke.

  • QUARTZ SANDSTONE

Quartz sandstone adalah batu pasir yang 90% butirannya tersusun dari kuarsa.Butiran kuarsa dalam batu pasir ini memiliki pemilahan yang baik dan ukuran butiran yang bulat karena terangkut hingga jarak yang jauh. Sebagian besar jenis batu pasir ini ditemukan pada pantai dan gumuk pasir.

  • ARKOSE

Arkose adalah batu pasir yang memiliki 25% atau lebih kandungan feldspar. Sedimen yang menjadi asal mula dari Arkose ini biasanya hanya mengalami sedikit perubahan secara kimia. Sebagian arkose juga memiliki sedikit butiran-butiran yang  bersifat coarse karena jarak pengangkutan yang relatif pendek.

  • GRAYWACKE

Graywacke   adalah  salah  satu  tipe   dari    batu  pasir  yang  15%  atau  lebih  komposisinya adalah  matrix  yang  terbuat  dari  lempung,   sehingga   menghasilkan  sortasi   yang   jelek   dan  batuan menjadi berwarna abu-abu gelap atau kehijauan.

4. SHALE
Shale adalah batuan sedimen yang memiliki tekstur yang halus dengan ukuran butir 1/16 hingga 1/256 milimeter. Komposisi mineralnya umumnya tersusun dari mineral-mineral lempung, kuarsa, opal, kalsedon, klorit, dan bijih besi. Shale dibedakan menjadi dua tipe batuan, yaitu batu lanau dan batu lempung atau serpih. Batu lanau memiliki butiran yang berukuran anara batu pasir dan batu serpih, sedangkan batu lempung memiliki chiri khas mudah membelah dan bila dipanasi menjadi plastis.
5. LIMESTONE

Limestone atau batu gamping adalah batuan sedimen yang memiliki komposisi mineral utama dari kalsit (CaCO3). Teksturnya bervariasi antara rapat, afanitis, berbutir kasar,  kristalin atau oolit. Batu gamping dapat terbentuk baik karena hasil dari proses organisme atau karena proses anorganik. Batu gamping dapat dibedakan menjadi batu gamping terumbu, calcilutite, dan calcarenite.

  • CALCARENITE

Calcarenite memiliki ukuran butir 1/16 hingga 2 milimeter, batuan ini terdiri dari 50% atau lebih material carbonate detritus, yaitu  material yang  tersusun terutama atas fosil dan oolit.

  • CALCILUTITE

Calcilutite terbentuk jika ukuran butiran dari calcarenite berubah menjadi lebih kecil hingga kurang dari 1/16 milimeter yang kemudiaan mengalami litifikasi.

  • GAMPING TERUMBU

Batu Gamping terumbu terbentuk karena aktivitas dari coral atau terumbu pada perairan yang hangat dan dangkal
6. SALTSTONE

Saltstone terdiri dari mineral halite (NaCl) yang terbentuk karena adanya penguapan  yang biasanya terjadi pada air laut. Tekstur dari batuan ini berbentuk kristalin.

7. GIPSUM

Gipsum tersusun atas mineral gipsum (CaSO4.H2O). Sama seperti dengan Saltstone, batuan ini terbentuk karena kandungan uap air yang ada menguap. Tekstur dari batuan ini juga berupa kristalin.
8. COAL

Coal atau batu bara adalah batuan sedimen yang terbentuk dari kompaksi material yang berasal dari tumbuhan, baik berupa akar, batang, maupun daun. Teksturnya amorf, berlapis, dan tebal. Komposisinya berupa humus dan karbon. Warna biasanya coklat kehitaman dan pecahannya bersifat prismatik.

  1. Batuan Sedimen Evaporit

Proses terjadinya harus ada air yang memiliki larutan kimia yang cukup pekat. Pada umumnya terbentuk dilingkungan danau atau laut yang tertutup, sehingga sangat memungkinkan selalu terjadi pengayaan unsur-unsur tertentu. Batuan yang termasuk golongan ini adalah gip, anhidrit, batugaram, dll.

Proses terjadinya batuan sedimen ini harus ada air yang memiliki larutan kimia yang cukup pekat. Pada umumnya batuan ini terbentuk di lingkungan danau atau laut yang tertutup, sehingga sangat memungkinkan terjadi pengayaan unsur – unsur tertentu. Dan faktor yang penting juga adalah tingginya penguapan maka akan terbentuk suatu endapan dari larutan tersebut. Batuan – batuan yang termasuk kedalam batuan ini adalah gip, anhidrit, batu garam.

  1. Batuan Sedimen Batubara

Terbentuk dari unsur-unsur organic yaitu dari tumbuh-tumbuhan. Dimana sewaktu tumbuhan tersebut mati dengan cepat tertimbun oleh suatu lapisan yang tebal diatasnya sehingga tidak memungkinkan terjadinya pelapukan.

Batuan sedimen ini terbentuk dari unsur – unsur organik yaitu dari tumbuh – tumbuhan. Dimana sewaktu tumbuhan tersebut mati dengan cepat tertimbun oleh suatu lapisan yang tebsl di atasnya sehingga tidak akan memungkinkan terjadinya pelapukan. Lingkungan terbentuknya batubara adalah khusus sekali, ia harus memiliki banyak sekali tumbuhan sehingga kalau timbunan itu mati tertumpuk menjadi satu di tempat tersebut.
( Danang Endarto, 2005 )

PENYUSUN BATUBARA

Konsep bahwa batubara berasal dari sisa tumbuhan diperkuat dengan ditemukannya cetakan tumbuhan di dalam lapisan batubara. Dalam penyusunannya batubara diperkaya dengan berbagai macam polimer organik yang berasal dari antara lain karbohidrat, lignin, dll. Namun komposisi dari polimer-polimer ini bervariasi tergantung pada spesies dari tumbuhan penyusunnya.

Lignin

Lignin merupakan suatu unsur yang memegang peranan penting dalam merubah susunan sisa tumbuhan menjadi batubara. Sementara ini susunan molekul umum dari lignin belum diketahui dengan pasti, namun susunannya dapat diketahui dari lignin yang terdapat pada berbagai macam jenis tanaman. Sebagai contoh lignin yang terdapat pada rumput mempunyai susunan p-koumaril alkohol yang kompleks. Pada umumnya lignin merupakan polimer dari satu atau beberapa jenis alkohol.

Hingga saat ini, sangat sedikit bukti kuat yang mendukung teori bahwa lignin merupakan unsur organik utama yang menyusun batubara.

Karbohidrat

Gula atau monosakarida merupakan alkohol polihirik yang mengandung antara lima sampai delapan atom karbon. Pada umumnya gula muncul sebagai kombinasi antara gugus karbonil dengan hidroksil yang membentuk siklus hemiketal. Bentuk lainnya mucul sebagai disakarida, trisakarida, ataupun polisakarida. Jenis polisakarida inilah yang umumnya menyusun batubara, karena dalam tumbuhan jenis inilah yang paling banyak mengandung polisakarida (khususnya selulosa) yang kemudian terurai dan membentuk batubara.

Protein

Protein merupakan bahan organik yang mengandung nitrogen yang selalu hadir sebagai protoplasma dalam sel mahluk hidup. Struktur dari protein pada umumnya adalah rantai asam amino yang dihubungkan oleh rantai amida. Protein pada tumbuhan umunya muncul sebagai steroid, lilin.

Material Organik Lain

Resin

Resin merupakan material yang muncul apabila tumbuhan mengalami luka pada batangnya.

Tanin

Tanin umumnya banyak ditemukan pada tumbuhan, khususnya pada bagian batangnya.

Alkaloida

Alkaloida merupakan komponen organik penting terakhir yang menyusun batubara. Alkaloida sendiri terdiri dari molekul nitrogen dasar yang muncul dalam bentuk rantai.

Porphirin

Porphirin merupakan komponen nitrogen yang berdasar atas sistem pyrrole. Porphirin biasanya terdiri atas suatu struktur siklik yang terdiri atas empat cincin pyrolle yang tergabung dengan jembatan methin. Kandungan unsur porphirin dalam batubara ini telah diajukan sebagai marker yang sangat penting untuk mendeterminasi perkembangan dari proses coalifikasi.

Hidrokarbon

Unsur ini terdiri atas bisiklik alkali, hidrokarbon terpentin, dan pigmen kartenoid. Sebagai tambahan, munculnya turunan picene yang mirip dengan sistem aromatik polinuklir dalam ekstrak batubara dijadikan tanda inklusi material sterane-type dalam pembentukan batubara. Ini menandakan bahwa struktur rangka tetap utuh selama proses pematangan, dan tidak adanya perubahan serta penambahan struktur rangka yang baru.

Konstituen Tumbuhan yang Inorganik (Mineral)

Selain material organik yang telah dibahas diatas, juga ditemukan adanya material inorganik yang menyusun batubara. Secara umum mineral ini dapat dibagi menjadi dua jenis, yaitu unsur mineral inheren dan unsur mineral eksternal. Unsur mineral inheren adalah material inorganik yang berasal dari tumbuhan yang menyusun bahan organik yang terdapat dalam lapisan batubara. Sedangkan unsur mineral eksternal merupakan unsur yang dibawa dari luar kedalam lapisan batubara, pada umumya jenis inilah yang menyusun bagian inorganik dalam sebuah lapisan batubara.

PROSES PEMBENTUKAN BATUBARA

Pembentukan batubara pada umumnya dijelaskan dengan asumsi bahwa material tanaman terkumpul dalam suatu periode waktu yang lama, mengalami peluruhan sebagian kemudian hasilnya teralterasi oleh berbagai macam proses kimia dan fisika. Selain itu juga, dinyatakan bahwa proses pembentukan batubara harus ditandai dengan terbentuknya peat.

Pembentukan Lapisan Source

Teori Rawa Peat (Gambut) – Autocthon

Teori ini menjelaskan bahwa pembentukan batubara berasal dari akumulasi sisa-sisa tanaman yang kemudian tertutup oleh sedimen diatasnya dalam suatu area yang sama. Dan dalam pembentukannya harus mempunyai waktu geologi yang cukup, yang kemudian teralterasi menjadi tahapan batubara yang dimulai dengan terbentuknya peat yang kemudian berlanjut dengan berbagai macam kualitas antrasit. Kelemahan dari teori ini adalah tidak mengakomodasi adanya transportasi yang bisa menyebabkan banyaknya kandungan mineral dalam batubara.

Teori Transportasi – Allotocton

Teori ini mengungkapkan bahwa pembentukan batubara bukan berasal dari degradasi/peluruhan sisa-sisa tanaman yang insitu dalam sebuah lingkungan rawa peat, melainkan akumulasi dari transportasi material yang terkumpul didalam lingkungan aqueous seperti danau, laut, delta, hutan bakau. Teori ini menjelaskan bahwa terjadi proses yang berbeda untuk setiap jenis batubara yang berbeda pula.

Proses Geokimia dan Metamorfosis

Setelah terbentuknya lapisan source, maka berlangsunglah berbagai macam proses. Proses pertama adalah diagenesis, berlangsung pada kondisi temperatur dan tekanan yang normal dan juga melibatkan proses biokimia. Hasilnya adalah proses pembentukan batubara akan terjadi, dan bahkan akan terbentuk dalam lapisan itu sendiri. Hasil dari proses awal ini adalah peat, atau material lignit yang lunak. Dalam tahap ini proses biokimia mendominasi, yang mengakibatkan kurangnya kandungan oksigen. Setelah tahap biokimia ini selesai maka berikutnya prosesnya didominasi oleh proses fisik dan kimia yang ditentukan oleh kondisi temperatur dan tekanan. Temperatur dan tekanan berperan penting karena kenaikan temperatur akan mempercepat proses reaksi, dan tekanan memungkinkan reaksi terjadi dan menghasilkan unsur-unsur gas. Proses metamorfisme (temperatur dan tekanan) ini terjadi karena penimbunan material pada suatu kedalaman tertentu atau karena pergerakan bumi secara terus-menerus didalam waktu dalam skala waktu geologi.

HETEROATOM DALAM BATUBARA
Heteroatom dalam batubara bisa berasal dari dalam (sisa-sisa tumbuhan) dan berasal dari luar yang masuk selama terjadinya proses pematangan.

Nitrogen pada batubara pada umumnya ditemukan dengan kisaran 0,5 – 1,5 % w/w yang kemungkinan berasal dari cairan yang terbentuk selama proses pembentukan batubara.

Oksigen pada batubara dengan kandungan 20 – 30 % w/w terdapat pada lignit atau 1,5 – 2,5 % w/w untuk antrasit, berasal dari bermacam-macam material penyusun tumbuhan yang terakumulasi ataupun berasal dari inklusi oksigen yang terjadi pada saat kontak lapisan source dengan oksigen di udara terbuka atau air pada saat terjadinya sedimentasi.

Variasi kandungan sulfur pada batubara berkisar antara 0,5 – 5 % w/w yang muncul dalam bentuk sulfur organik dan sulfur inorganik yang umumnya muncul dalam bentuk pirit. Sumber sulfur dalam batubara berasal dari berbagai sumber. Pada batubara dengan kandungan sulfur rendah, sulfurnya berasal material tumbuhan penyusun batubara. Sedangkan untuk batubara dengan kandungan sulfur menengah-tinggi, sulfurnya berasal dari air laut.

  1. Batuan Sedimen Silika

Terdiri dari rijang (chert), radiolarian dan tanah diatom. Proses terbentuknya adalah gabungan antara proses organic seperti radiolarian atau diatom dan proses kimiawi untuk lebih menyempurnakannya.

Proses terbentuknya batuan ini adalah gabungan antara pross organik dan kimiawi untuk lebih menyempurnakannya. Termasuk golongan ini rijang (chert), radiolarian dan tanah diatom. Batuan golongan ini tersebarnya hanya sedikit dan terbatas sekali.

  1. Batuan Sedimen Karbonat

Terbentuk dari kumpulan cangkang moluska, alga, foraminifera atau lainnya yang bercangkang kapur. Atau oleh proses pengendapan yang merupakan rombakan dari batuanyang terbentuk lebih dahulu dan diendapkan disuatu tempat. Proses pertama biasa terjadi di lingkungan laut litoral sampai neritik, sedangkan proses kedua diendapkan pada laut neritik sampai laut balitial.

Batuan ini umum sekali terbentuk dari kumpulan cangkang moluska, algae dan foraminifera. Atau oleh proses pengendapan yang merupakan rombakan dari batuan yang terbentuk lebih dahulu dan di endpkan disuatu tempat. Proses pertama biasa terjadi di lingkungan laut litoras sampai neritik, sedangkan proses kedua di endapkan pada lingkungan laut neritik sampai bahtial. Jenis batuan karbonat ini banyak sekali macamnya tergantung pada material penyusunnya.

Sedimen dan batuan sedimen karbonat terdiri daripada CaCO3 dan MgCO3. Bahan ini merangkumi sekurang-kurangnya 20 – 30% daripada keseluuhan batuan yang ada. Batuan sedimen karbonat merupakan salah satu daripada batuan takungan utama untuk bahan hidrokarbon (minyal dan gas).

Mineral utama yang membentuk sedimen dan batuan sedimen karbonat ialah;

Kalsit (Calcite) CaCO3
  • Sistem hablur Rhombohedral
  • Banyak ditemui dalam batuan sedimen tua daripada Tertier
  • Low magnesium calcite (<4%) and high magnesium calcite (>4%) still maintain
  • calcite crystal structure
Dolomit (Dolomite) CaMg(CO3)2
  • Sistem hablur Rhombohedral
  • Berasosiasi (associated) dengan mineral kalsit dan evaporit
Araginit (Aragonite) CaCO3
  • Sistem hablur Orthorhombic
  • Banyak ditemui dalam batuan sedimen karbonat recent (Cenozoic)

Dari segi tekstur, batuan karbonat boleh dibahagikan kepada tiga (seperti juga batuan klastik);

BUTIRAN KARBONAT

Butiran karbonat juga dikenali sebagai ALLOKEM. Ianya bersamaan dengan butiran kerangka atau klas untuk batuan klastik. Butiran karbonat ini mempunyai saiz daripada saiz lodak hinggalah kpada saiz yang sangat besar. Terdapat lima jenis butiran karbonat yang utama;

Pecahan cangkang (Skeletal fragments)

  • Boleh terdiri daripada keseluruhan cangkang
  • Merupakan antra allokem yang paling banyak ditemui
  • Boleh ditemui di kesemua sekitaran karbonat

Ooid

  • Merupakan butiran berbentuk bulat, dan mempunyai lingkaran kalsit (internal concentric layers of calcite) mengelilingi nukleus (samada pecahan cangkang, pellet, butiran kuarza dan lain-lain)
  • Mempunyai saiz pasir halis hingga kasar
  • Oncoids – merupakam ooid yang mempunyai garis pusat 1-2 cm
  • Oolit – batu kapur yang mempunyai ooid
  • Selalunya ditemui di sekitaran karbonat yang mempunyai air / gelombang yang berkocak secara berterusan (constantly reworked by waves)

Oolit disimen oleh kalsi

Peloid

  • Allokem yang berbentuk bulat atau membujur, tetapi terdiri daripada kalsit mikrokristallin atau kriptokristallin (microcrystalline or cryptocrystalline calcite) or aragonit
  • Dalam peloid tiada apa-apa struktur
  • Biasanya bersaiz lodak atau pasir halus
  • Kebanyakannya terdiri daripada fecal pellets
  • Pecahan cangkang yang bulat dan ooid yang tidak mempunyai apa-apa struktur juga dikenali sebagai peloid
  • Boleh ditemui di kebanyakan sekitaran pengendapan

Butiran karbonat atau litoklas (Carbonate clasts (lithoclasts))

  • merupakan sedimen atau klas yang berasal daripada batuan karbonat sedia ada (setelah dihakis)
  • mempunyai saiz pasir atau lebih besar
  • selalunya berbentuk bulat
  • litoklas ini tidak sebanyak ooids, peloids or pecahan cangkang (jarang ditemui)
  • Biasanya ditemui dalam endapan akibat ribut (storms deposits), alur, dan juga endapan turbidit
  • Ekstraklas (Extraclasts) – klas berasal daripada luar lembangan
  • Intraklas (Intraclasts) – klas berasal daripada lembangan yang sama

 


KALSIT MIKROKRISTALIN (Microcrystalline calcite)

Kalsit mikrostallin merupakan butiran karbonat (hablur kalsit atau aragonit) yang bersaiz halus (lumpur), dan ianya juga dikenali sebagai mikrit. Secara umumnya, mikrit ini membentuk matrik dalam batuan karbonat. Dalam sekitaran moden, mikrit terdiri daripada mineral aragonit, dan ianya berasal daripada algae berkalka. Secara ummnya, kedadiran mikrit yang banyak mencadangkan sekitaran bertenaga rendah. Walau bagaimanapun, keadaan ini tidak sentiasa benar.

 

Kalsit berbutir halus yang terdapat di celah ooid ini dikenali sebagai mikrit. Mikrit ini bertindak sebagai matrik.


KALSIT SPAR (Sparry calcite)

Kalsit spar merupakan hablur kalsit yang bersaiz besar. Hablur ini membentuk simen, dan boleh ditemui di ruang antara butiran karbonat. Simen ini terbentuk hasil daripada proses diagenesis, iaitu terbentuk selepas sedimen diendapkan. Kehadiran kalsit spar, dan ketiadaan kalsit mikrokristallin mencadangkan persekitaran air yang tertnaga tinggi, sehinggakan butiran halus dibawa keluar ke kawasan lain.

 

Simen kalsit yang mengelilingi allokem krinoid ini merupakan kalsit spar


 

Pemerian Batuan Sedimen

1. Detritus (klastik) kasar

2. Detritus (klastik) halus

3. Karbonat

4. Evaporit

Faktor-Faktor Yang Harus Diperhatikan Dalam Deskripsi Batuan Sedimen

Warna

Secara umum warna pada batuan sedimen akan dipengaruhi oleh beberapa factor, yaitu :

a) Warna mineral pembentukkan batuan sedimen

Contoh jika mineral pembentukkan batuan sedimen didominasi oleh kwarsa maka batuan akan berwarna putih.

b) Warna massa dasar/matrik atau warna semen.

c) Warna material yang menyelubungi (coating material).

Contoh batupasir kwarsa yang diselubungi oleh glaukonit akan berwarna hijau.

d) Derajat kehalusan butir penyusunnya.

Pada batuan dengan komposisi yang sama jika makin halus ukuran butir maka warnanya cenderung akan lebih gelap.

Warna batuan juga dipengaruhi oleh kondisi lingkungan pengendapan, jika kondisi lingkungannya reduksi maka warna batuan menjadi lebih gelap dibandingkan pada lingkungan oksidasi. Batuan sedimen yang banyak kandungan material organic (organic matter) mempunyai warna yang lebih gelap.

  1. B.           Struktur Batuan Sedimen

Struktur sedimen sebenarnya adalah kelainan dari bidang perlapisan yang normal (paralel atau horizontal). Kelainan disebabkan karena proses sedimentasi ataupun sesudah sedimentasi (diagnesa).

Struktur sedimen terbentuk akibat dari proses fisika, kimia maupun proses-proses lainnya.

Definisi :

Roman muka (kenampakkan) sifat-sifat yang mudah diamati/dipelajari pada batuan sedimen (pada singkapan) yang merupakan hasil manifestasi dari proses fisika, kimia dan organis.

Contoh :

Proses fisika seperti angin, air, arus.

Proses kimia seperti kongkresi dll.

Proses organic seperti jejak binatang.

Sifat yang khas yang mudah dan langsung dapat diamati adalah unsure perlapisan. Intensitas arus mempengaruhi pengendapan dalam besar butir, stratifikasi dapat juga menunjukkan proses terbentuknya lapisan tersebut, karena lingkungan pengendapan.

Stratum adalah suatu lapisan yang dapat dibedakan dengan lapisan di atasnya atau dibawahnya, berdasarkan sifat fisik, bidang non sedimentasi,dll.

Cross stratum (lapisan silang siur) adalah lapisan yang membentuk sudut terhadap lapisan yang berada di atas atau dibawahnya dan dipisahkan oleh bidang erosi, bidang non sedimentasi atau sifat fisik lainnya.

Set adalah cross strata atau strata yang dipisahkan dari strata atau cross strata lainnya dengan bidang erosi atau bidang non sedimentasi atau sifat-sifat fisik lainnya.

Coset merupakan gabungan dari beberapa set, sedangkan

Composite set yang merupakan gabungan dari beberapa coset.

Berdasarkan asalnya struktur sedimen yang terbentuk dapat dikelompokkan menjadi 3 :

  1. 1.      Struktur Sedimen Primer

Terbentuknya karena proses sedimentasi dengan demikian dapat merefleksikan mekanisasi pengendapannya.

  1. 2.      Struktur Sedimen Sekunder

Terbetuknya sesudah sedimentasi, sebelum atau pada waktu diagnesa, juga merefleksikan keadaan lingkungan pengendapan, misalnya keadaan dasar, lereng dan lingkungan organisnya.

  1. Struktur Organik

Struktur yang terbentuk oleh kegiatan binatang, seperti moluska, cacing atau binatang lainnya.

Struktur Sedimen Primer:Struktur Sedimen Flaser

Selama pasang tinggi, lumpur umumnya terkumpul di seberang ripple crest dan pada trough. Flaser bedding dihasilkan.. ketika lumpur ini berada pada trough. Struktur ini mengimplikasikan bahwa hadirnya dua sedimen suplai yaitu pasir dan lempung. Pada saat aktivitas arus, pasir tertransportasi dan terendapkan sebagai ripples, lempung masih dalam bentuk suspensi. Pada saat arus berhenti lempung terendapkan pada trough atau menutup ripples tersebut. Saat dimulainya siklus selanjutnya, puncak ripples tererosi dan pasir baru terendapkan dalam bentuk ripples dan mengubur ripple bed pada troughs. Sehingga diperkirakan flaser bedding diperkirakan terbentuk pada lingkungan pasang surut (subtidal zone)dan sangat jarang ditemukan terbentuk pada kondisi fluvial. Struktur ini dapat digunakan dalam penentuan lingkungan pengendapan, dimana diperkirakan berada pada lingkungan pasang-surut(pada energi tinggi).

Struktur Sedimen Sekunder
a. Struktur Erosional : terbentuk oleh karena arus atau materi yang terbawa oleh arus. ex : Flute cast

b. Struktur Deformasi : terbentuk oleh karena adanya gaya. ex : load cast


Struktur Organik : terbentuk akibart aktivitas makhluk hidup.

Tabular cross bedding adalah suatu set yang bidang sentuhnya bukan merupakan bidang erosi, tapi merupakan bidang datar yang merupakan bidang non sedimentasi.

Planar cross bedding adalah suatu set dimana sentuhnya bukan merupakan bidang datar, melainkan bidang miring serta, merupakan bidang non sedimentasi. Sedangkan

Trough cross bedding merupakan struktur yang khas sekali dimana butiran makin keatas makin halus. Graded bedding sangat penting sekali artinya dalam penelitian untuk menentukan yang mana atas (up) dan yang bawah (bottom) dimana yang halus merupakan bagian atasnya sedangkan bagian yang kasar merupakan bawahnya.

Graded bedding yang disebabkan oleh arus turbid, dimana fraksi halus didapatkan dibagian atas juga tersebar diseluruh batuan tersebut. Secara genesa graded bedding oleh arus turbid juga terjadi selain oleh kerja suspensi juga disebabkan oleh pengaruh arus turbulensi.

Struktur flaser terbentuk di daerah laguna (teluk) tidak dipengaruhi oleh laut terbuka, melainkan sangat dipengaruhi oleh pasang surut. Pada waktu surut ia mengendapkan bagian dari darat sedangkan waktu pasang mengendapkan bagian laut. Sehingga mengakibatkan terjadinya pengendapan yang selang seling antara fraksi kasar an fraksi halus, yaitu antara pasir  dan lempung. Jika disayat tegak lurus arus maka akan terlihat penampang lapisan yang berupa lensa-lensa pasir (lenticular), sedangkan lensa-lensa lempung (flaser).

Jenis Dan Penamaan Batuan Sedimen

Batuan sedimen dari golongan klastik terutama klastik halus akan menghasilkan nama batuan yang banyak sekali karena batuan tesebut pada umumnya merupakan hasil pencampuran dari beberapa unsur yang dominan. Unsure-unsur yang penting adalah pasir (sand), lempung (clay), dan danau (silt). Bila dua jenis unsure tersebut bercampur akan menghasilkan nama yang berlainan, juga percampuran tersebut tergantung dari persentase volume masing-masing unsur.

 

BAB IV

PENUTUP

Kesimpulan

Batuan sedimen terbentuk dari batuan-batuan yang telah ada sebelumnya oleh kekuatan-kekuatan yaitu pelapukan, gaya-gaya air, pengikisan-pengikisan angina angina serta proses litifikasi, diagnesis, dan transportasi, maka batuan ini terendapkan di tempat-tempat yang relatif lebih rendah letaknya, misalnya: di laut, samudera, ataupun danau-danau. Mula-mula sediment merupakan batuan-batuan lunak,akan tetapi karean proses diagnosi sehingga batuan-batuan lunak tadi akan menjadi keras.

Proses diagnesis adalah proses yang menyebabkan perubahan pada sediment selama terpendamkan dan terlitifikasikan, sedangkan litifikasi adalah proses perubahan material sediment menjadi batuan sediment yang kompak. Proses diagnesis ini dapat merupakan kompaksi yaitu pemadatan karena tekanan lapisan di atas atau proses sedimentasi yaitu perekatan bahan-bahan lepas tadi menjadi batuan keras oleh larutan-larutan kimia misalnya larutan kapur atau silisium. Sebagian batuan sedimen terbentuk di dalam samudera. Bebrapa zat ini mengendap secara langsung oleh reaksi-reaksi kimia misalnya garam (CaSO4.nH2O). adapula yang diendapkan dengan pertolongan jasad-jasad, baik tumbuhan maupun hewan.

Batuan endapan yang langsung dibentuk secara kimia ataupun organik mempunyai satu sifat yang sama yaitu pembentukkan dari larutan-larutan. Disamping sedimen-sedimen di atas, adapula sejenis batuan sejenis batuan endapan yang sebagian besar mengandung bahan-bahan tidak larut, misalnya endapan puing pada lereng pegunungan-pegunungan sebagai hasil penghancuran batuan-batuan yang diserang oleh pelapukan, penyinaran matahari, ataupun kikisan angin. Batuan yang demikian disebut eluvium dan alluvium jika dihanyutkan oleh air, sifat utama dari batuan sedimen adalah berlapis-lapisdan pada awalnya diendapkan secara mendatar.

Lapisan-lapisan ini tebalnya berbeda-beda dari beberapa centimeter sampai beberapa meter. Di dekat muara sungai endapan-endapan itu pada umunya tebal, sedang semakin maju ke arah laut endapan-endapan ini akan menjadi tipis(membaji) dan akhirnya hilang. Di dekat pantai, endapan-endapan itu biasanya merupakan butir-butir besar sedangkan ke arah laut kita temukan butir yang lebih halus lagi.ternyata lapisan-lapisan dalam sedimen itu disebabkan oleh beda butir batuan yang diendapkan. Biasanya di dekat pantai akan ditemukan batupasir, lebih ke arah laut batupasir ini berganti dengan batulempung, dan lebih dalam lagi terjadi pembentukkan batugamping(Katili dan Marks).

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s